
Sementara saat ini, Ari sudah memutuskan untuk pulang saja ke kota J. Dia sudah tak bersemangat untuk membantu orang tuanya membalaskan dendam pada, Mariam.
"Mah, aku minta maaf karena kembali ke kota J tak pamit pada mamah. Aku malas jika bertemu dengan papah. Percuma saja aku bantu balas dendam tapi sama sekali tak dihiraukan."
"Lebih baik aku gunakan waktuku untuk hal yang berguna saja. Di kota J aku banyak usaha yang bisa aku kembangkan dan aku bisa bertemu banyak sahabat serta saudara dari orang tua angkatku yang selalu bisa menghargai aku."
Saat itu juga, Ari mengemasi semua barang-barangnya dan pergi melajukan mobilnya ke arah kota J.
Perjalanan hanya memakan waktu empat jam. Ari menempati rumah peninggalan almarhum orang tua angkatnya yang dulu telah membesarkannya.
"Mah-pah, hanya kalian berdua yang benar-benar tulus sayang padaku walaupun bukan orang tua kandungku."
"Aku sangat menyayangkan kenapa pula kalian harus pergi secepat ini? padahal aku masih butuh kalian berdua."
"Aku minta maaf karena tak menepati permintaan terakhir kalian untuk tinggal bersama orang tua kandungku."
"Ternyata aku lebih nyaman tinggal di sini bersama kenangan kita, mah-pah."
"Aku baru sadar jika selama ini papah kandungku hanya sayang pada almarhum, Aris. Makanya dulu aku yang diberikan pada kalian untuk di angkat menjadi anak."
Sementara, mamah almarhum Aris merasa rindu dengan Ari. Tanpa sepengetahuan suaminya, dia pun menyambangi rumah Ari yang kebetulan rumahnya di seberang rumah, Mariam.
"Kenapa rumah, Ari terlihat sepi?"
Dia pun menyambangi rumah tetangga di samping rumahnya Ari. Dan menanyakan keberadaan, Ari.
"Maaf, ibu. Saya mengganggu waktunya sebentar."
"Oh iya, ibu. Ada apa ya, apa sekiranya yang bisa saya bantu?"
"Apakah ibu tahu dimanakah saat ini, Ari berada?"
"Memangnya Ari tak memberi tahu pada ibu? Ari tadi siang sempat berpamitan pada saya, jika dia pulang ke kota J."
"Oalah, jadi dia kembali ke kota J. Terima kasih ya, Bu. Atas informasinya."
"Sama-sama, Bu."
__ADS_1
"Ari, kenapa kamu tega sama mamah? padahal sudah tak ada Aris, kamu bisa buat ganti Aris. Tetapi kenapa kamu malah pergi, nak?"
"Sama sekali kamu tak pamit pula. Katanya kamu akan. membalaskan dendam kami pada, Mariam. Tetapi malah seperti ini?"
"Apa karena kejadian kemarin ya? sikap papah yang dingin padanya, yang membuat Ari merasa tak di akui."
Dalam hati mamah Ari penuh sekali dengan tanya. Dia sangat menyayangkan kepergian Ari. Dia pulang dengan hati hampa dan penuh kesedihan.
"Mah, kamu dari mana? tumben sore-sore pergi?"
"Aku dari rumah, Ari."
"Manja amat dia, kenapa nggak dia saja yang suruh kemari, mah. Masa orang tua suruh datang menyambangi anak muda?"
"Puas, papah! sikap papah yang seperti ini yang membuat Ari pergi lagi! dia sudah tak ada di kota ini! dia pergi kembali ke kota J!"
"Hah, masa? kenapa pergi begitu saja? nggak ada sopan santunnya sama sekali! pergi kok nggak pamit. Mana janjinya ingin bantu membalaskan dendam pada Mariam."
"Papah masih nggak sadar juga, dengan apa yang telah papah lakukan pada, Ari. Selama ini papah sama sekali tak menghargai usaha Ari dalam membantu kita membalaskan dendam pada, Mariam."
"Mungkin karena itu, dia pergi begitu saja!'
"Apa mungkin memang didikan dari kedua orang tua angkatnya sehingga dia mempunyai sifat lembek."
Mamahnya Ari sudah tak bersuara lagi, dia memutuskan untuk balik ke kamar. Karena percuma saja melayani omongan suaminya yang tak ada ujung pangkalnya.
Papahnya Ari sama sekali tak merasa kehilangan atas kepergian Ari. Dia bersikap seperti biasa saja, seolah tak ada hal yang istimewa.
******
Waktu berjalan begitu cepat, sejak tidak ada Ari. Sudah tidak ada teror lagi di rumah, Mariam.
"Mas Dika, kita sudah tak di teror lagi. Apa karena sang peneror telah merasa lelah ya?"
"Seharusnya kamu mengucapkan syukur Alhamdulillah, apa kamu malah rindu ingin di teror lagi?" canda Dikka terkekeh.
"Ist, nggak lah. Aku nyaman tenang seperti ini, mas. Tak ada rasa ketakutan lagi seperti pada waktu itu."
__ADS_1
Dika juga merasa aneh, kenapa si peneror tak meneror lagi. Lebih Ange lagi, pada saat sudah tak ada teror. Ari pun tak ada.
"Heran Ari pergi, si peneror juga pergi?" batin Mariam.
Sejenak dia merasa curiga pada, Ari.
"Apakah Ari yang selama ini telah meneror aku dan suamiku? ah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia dan berburuk sangka padanya," batin Mariam.
Kini mereka berdua sudah bisa hidup dengan tenang. Apa lagi Mariam sudah tak mengalami mimpi buruk dan bisa tidur dengan nyenyak.
Rasa syukur mereka ucapkan dengan sholat tahajud pada sepertiga malam secara berjamaah. Dan mereka tak lupa juga berdoa supaya lekas di beri momongan agar rumah mereka tak sepi lagi.
Kini Mariam sudah berani berangkat bekerja sendiri tanpa perlu diantar lagi oleh, Dika.
Rasa aman dan nyaman di rasakan sepasang suami istri ini.
********
Berlalunya waktu cepat sekali, sudah satu bulan kepergian Ari. Ini membuat mamahnya merasa sangat kehilangan.
Rasa kangen pada anaknya tersebut membuat dirinya menjadi sakit-sakitan. Badannya kini kurus karena tak mau makan.
"Mah, untuk apa kamu menyiksa dirimu hanya demi anak durhaka seperti, Ari?"
"Apa kamu nggak kasihan dengan dirimu sendiri. Badanmu kurus dan kamu sakit-sakitan. Kamu juga nggak kasihan padaku juga?"
Akan tetapi sang istri tak berkata apa pun. Dia hanya diam saja, dengan tertesan air mata.
"Kamu terlalu kejam, pah. Seharusnya kamu bahagia karena Ari masih bersedia mengakui kita sebagai orang tuanya dan mau kembali pada kita. Jika anak lain, pasti sudah tak mau menemui orang tua kandungnya, setelah apa yang di lakukan oleh kami pada Ari. Kasihan Ari, dulu harus di buang dan di asuh orang lain. Kamu tak merasa bersalah tetapi malah bertindak semena-mena pada, Ari."
Mamah Ari terus saja merutuki tindakan suaminya di dalam hati. Dia malas mengatakan secara langsung pada suaminya, karena yang ada suaminya akan merasa dirinya selalu benar.
Hingga dia memutuskan untuk berdiam diri memendam rasa kecewa pada suaminya. Hingga membuatnya sakit seperti sekarang ini.
Dirinya sudah tak bersemangat untuk hidup, karena baginya semanfat hidupnya hanyalah Ari. Tetapi kini Ari telah pergi dan tak akan kembali lagi.
Sikap diam istrinya, membuat sang papah serba salah. Dia merasa kehilangan juga dengan keceriaan sang istri.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, mah. Diam dan tak mau berkata sepatah kata pun padaku."
Namun kembali lagi istrinya tak berkata apa pun. Hanya matanya saja yang merespon dengan lirikan sinis.