
Pagi menjelang, Mariam sudah mulai bekerja kembali. Dia tak ingin berdiam diri di rumah, apa lagi rumah yang menurutnya tak aman untuk dirinya.
"Lebih baik aku kerja dari pada aku di rumah saja, aku khawatir ada teror kembali seperti tengah malam."
Mariam bekerja di antar oleh Dika, walaupun sebenarnya dia menginginkan berangkat sendiri dengan naik motor matic kesayangannya.
Namun Dika tak mengizinkannya, Mariam mengemudi sendiri. Mariam masih saja kepikiran dengan kata-kata ancaman yang ada di kertas.
"Sebenarnya kata-kata yang ada di kertas itu di tujukan untuk siapa ya? untukku atau untuk suamiku?"
Mariam menjadi tak tenang di dalam bekerja pun dia tak fokus karena memikirkan ancaman yang ada di kertas tersebut.
"Astaghfirullah alazdim, kenapa aku teringat selalu akan ancaman tersebut? sebenarnya siapa yang mengirim teror tersebut?"
Hal serupa juga di rasakan oleh, Dika. Dia merasa selama ini tak punya musuh sama sekali tetapi kenapa dirinya di teror seperti ini?
"Bagaimana caraku menguak si peneror semalam ya? aku nggak mau istriku jadi ketakutan setiap harinya karena ulah si peneror ini."
"Sungguh aneh, kenapa ada teror seperti ini? padahal ini adalah awal rumah tanggaku bersama, Mariam."
Di dalam kantornya, Dika terus saja memikirkan teror tengah malam yang sempat membuat Mariam ketakutan.
Namun Dika belum menemukan cara yang jitu untuk bisa menguak si peneror tersebut.
*******
Menjelang sore hari, di waktu jam pulang kerja. Dika sengaja menjemput Mariam di rumah sakit.
Dia tak ingin istrinya pulang terlebih dulu dengan mengendarai angkutan umum atau taxi on line.
Dika menunggu cukup lama di parkiran mobil di rumah sakit tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, Mariam telah datang dengan jalannya yang sangat gugup.
"Sayang, tak perlu kamu gugup. Jalan biasa saja kan nggak apa-apa, dari pada nanti kamu tersandung lalu jatuh kan sakit."
"Hhee iya, mas. Aku cuma tak ingin mas menuggu terlalu lama, makanya aku mempercepat langkahku."
"Nggak perlu seperti itu, lain kali kamu jalan saja ya?"
__ADS_1
"Iya, mas."
Dika melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati dan dengan sesekali mengobrol bersama istrinya. Bertukar pikiran tentang masah pekerjaan masing-masing.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tak suka kebersamaan mereka, siapa lagi kalau bukan Ari saudara kembar Almarhum Aris.
Ari telah di penuhi oleh api dendam karena orang tua kandungnya yang telah mengatakan hal buruk tentang, Mariam. Ari sama sekali tak tahu menahu awal mula bagaimana Aris bisa mengalami kecelakaan dan sampai meninggal dunia.
Beberapa puluh tahun yang lalu..
Hidup di sebuah desa terpencil sepasang suami istri yang kehidupannya miskin. Tetapi mereka memiliki sepasang anak kembar.
Karena kemiskinannya tersebut, dengan sangat terpaksa salah satu anaknya dia berikan kepada sahabat baiknya yang kebetulan sudah lama berumah tangga tapi belum juga di karuniai seorang anak.
"Budi, aku titipkan salah satu anakku padamu untuk kamu rawat. Aku minta kamu didik dia seperti layaknya anak kandungmu sendiri ya."
"Iya, Man. Kamu tak perlu khawatir. Aku pasti akan merawatnya seperti anak kandungku sendiri. Dan kelak aku pasti akan memberi tahukan padanya tentang orang tua kandungnya."
"Iya, Budi. Aku percaya padamu kok. Kamu bawa saja Ari tinggal bersamamu, sementara kami membawa Aris."
Saat itu juga Budi membawa Ari ke kota besar untuk di besarkan olehnya dan istrinya. Budi dan istrinya sangatlah kaya raya tetapi sama sekali tak punya anak.
Beberapa tahun kemudian, kehidupan ekonomi Herman mulai ada peningkatan. Dia memutuskan pindah ke kota untuk bisa bertemu dengan Budi.
Herman dan istrinya sudah sangat merindukan Ari, mereka ingin sekali bertemu dengan Ari.
Tetapi pada saat itu mereka sempat hilang komunikasi. Hingga akhirnya tak juga bisa bertemu.
Aris tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan banyak di gandrungi oleh kaum hawa. Tetapi hatinya telah terpaut pada, Mariam.
Akan tetapi kedua orang tua masing-masing tak pernah setuju dengan kebersamaan mereka. Usut punya usut orang tua Mariam dan orang tua Aris adalah saingan bisnis.
Hingga keduanya tidak mengizinkan anaknya saling menjalin kasih. Akan tetapi karena besar rasa cinta Aris pada, Mariam. Dia tetap bersi keras menjalin hubungan dengan, Mariam.
Walaupun Mariam sendiri juga sudah hampir menyerah. Dan pada saat yang terduga kecelakaan itu terjadi. Dimana Aris akan mengajak lari Mariam pergi jauh.
Kematian yang terjadi pada Almarhum Aris murni karena kecelakaan. Tetapi orang tuanya berkata pada, Ari jika itu adalah kesalahan Mariam.
__ADS_1
Hingga Ari bersumpah akan menuntut balas pada, Mariam.
"Mariam, kamu enak-enakan dengan suami barumu! sementara roh Aris menuntut balas untuk apa yang telah kamu lakukan padanya!"
Ari lekas memakai masker dan memakai jaket hitamnya serta topi. Dengan melajukan mobilnya cepat, dia mengejar mobil yang sedang di lakukan oleh Dika.
Beberapa kali, Ari menghantam belakang mobil milik Dika.
"Astaghfirullah alazdim, kenapa mobil di belakang menabrak mobilku?"
Dika langsung mempercepat laju mobilnya, tetapi Ari juga mempercepat laju mobilnya dan kembali lagi menghantam belakang mobil Dika.
"Mas Dika, siapa sih orang yang mengemudi di belakang kita? sepertinya dia sengaja melakukan hal ini pada kita."
"Entahlah, sayang. Aku juga tak tahu siapa dia, karena pakaiannya serba tertutup. Kamu pasang yang benar sabuk pengamannya, karena aku akan mempercepat laju mobilnya."
Dika melaju lebih kencang lagi, tetapi kali ini mobil Ari juga melaju lebih kencang. Ari sengaja menyenggol mobil Dika. Dia sengaja mensejajarkan laju mobilnya dengan mobil Dika.
Terus saja menghimpit mobil Dika hingga akhirnya mobil Dika lepas kendali dan terjungkir masuk ke dalam pinggir pematang sawah.
Sementara mobil Ari mempercepat laju nya hingga tak terlihat sama sekali. Dika langsung menelpon aparat polisi untuk meminta bantuan.
Karena kebetulan dia punya salah satu teman yang bekerja di kepolisian. Hanya beberapa menit saja, sudah banyak aparat polisi tabg yang membantu mobil Dika naik ke daratan lagi.
"Dika-Dika, bagaimana semua ini bisa terjadi? untung kamu dan istrimu selamat. Dan untung jatuhnya cuma ke pesawahan. Coba jika jatuhnya ke jurang alhasil kalian sudah alfal kan?"
Dika menceritakan semuanya pada temannya tersebut secara mendetail bagaimana dia bisa jatuh terperosok dalam sawah.
"Apa kamu sempat melihat nomor mobilnya?"
"Tidaklah, bagaimana aku bisa melihatnya sementara aku juga sedang panik sendiri menghadapi kondisiku yang seperti ini."
"Hem, sayang sekali. Jika kamu bisa sejenak melihat dan menghapal nomor mobilnya, kan aku bisa menangkap pelakunya dengan segera."
"Sudahlwh, biarkan saja. Terpenting aku dan istriku tak apa-apa. Hanya mobilnya yang harus di perbaiki di bengkel."
"Lain kali, harus lebih hati-hati lagi."
__ADS_1
******