
"Aku harus segera membalas dendam dulu pada, Lina. Biar hatiku tenang."
Rocky dengan penampilannya yang sekarang, berpura-pura ke butik Lina untuk memesan pakaian.
"Maaf, mba. Saya bisa ketemu dengan yang punya butik ini nggak? karena saya akan memesan banyak tetapi saya ingin membicarakan langsung dengan bos Anda."
Pelayan tersebut lekas memanggil, Lina. Dan betapa terkejutnya melihat sosok Riky yang sangat mirip dengan, Rocky. Lina terperangah saat berada di hadapan, Riky. Sejenak dia terdiam memandangi wajah, Riky.
"Apa aku nggak salah lihat? kenapa pria ini mirip sekali dengan, almarhum Rocky. Hanya saja penampilannya yang berbeda. Pria ini terlihat culun berkacamata, tetapi wajahnya sangat mirip dengan, Rocky."
"Nona, maaf. Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tegur Riky berlagak membetulkan letak posisi kecamatanya.
"Nggak, Tuan. Hanya saja anda mirip sekali dengan calon suami saya yang telah meninggal dunia."
"Huh, calon suami dari Hongkong? enak saja kalau ngomong!" batin Riky menahan geram.
"Masa sih, Nona. Perkenalkan nama saya, Riky. Bisa kita bicara empat mata karena saya ingin memesan beberapa baju di tempat ini?"
Riky mengulurkan tangan pada, Lina.
"Lina." Dia menjabat tangan Riky.
"Kenapa saat aku berjabat tangan dengannya, serasa aku berjabat tangan dengan Rocky?" batin Lina semakin gelisah.
"Mari kita ke ruang kerjaku supaya lebih nyaman kita ngobrol."
Lina melangkah di ikuti oleh Riky.
"Dudukkah, Tuan Riky."
"Anda ingin memesan apakah, atasan pria atau wanita? di sini tersedia banyak motif. Tetapi semuanya telah jadi, jika anda pesan motif baru kami tidak menyediakan karena kami tidak menjahit sendiri. Jujur saja kami bekerjasama dengan sebuah garmen."
"Hem, masih hebat Nia. Dia bisa membuat rancangan baju sendiri."
Cibir Riky di dalam hati.
"Hem, seperti itu ya Nona. Padahal saya pikir di sini bisa pesan dengan motif yang lain. Saya pikir di butuk ini bisa merancang busana apa pun."
"Maaf, Tuan. Kami belum bisa mempekerjakan seorang perancang. Untuk saat ini kami hanya bisa ambil dari sebuah garmen."
"Ya sudah, jika seperti itu saya cansel saja tak jadi untuk pesan. Saya mohon maaf, Nona Lina."
Riky menyangkupkan kedua tangannya di dada.
"Hem, begini saja Tuan Riky. Saya bantu pesankan padapihak garmen saja ya?"
"Maaf, Nona. Tidak usah terima kasih. Saya permisi dulu."
Riky pun bangkit dari duduknya, pada saat dia akan melangkah pergi. Lina menahannya.
__ADS_1
"Tuan Riky, tunggu. Saya serius kok, ingin bantu, Tuan."
"Iya, nona. Saya tahu, tetapi saya sudah tidak berminat lagi untuk memesan pada anda."
"Begini saja, Tuan Riky. Bagaimana kalau saya minta nomor ponsel anda, siapa tahu suatu saat nanti anda akan berubah pikiran.'
"Hheee, kena dech kamu!" gerutu Riky di dalam hati.
Dia memberikan nomor telepon pada Lina, setelah itu dia berpamitan pulang.
Seperginya Riky, Lina tersenyum sendiri.
"Hem, nggak dapat Rocky toh dapat kembarannya juga nggak apa-apa. Dari pada tidak sama sekali. Lagi pula, ini malah nggak ada saingannya."
Lina mulai kena perangkap Riky.
**********
Setelah pertemuannya tersebut, kini Lina semakin getol mengejar cinta Riky.
"Riky, kita kenal udah lama. Apa kamu nggak ada rasa sama sekali padaku?"
"Lama bagaimana, kita kenal baru seminggu. Aku anggap kamu cuma teman saja."
"Riky, apa kamu nggak bisa buka hatimu untuk diriku?"
Lina mulai pasang wajah memelas.
"Memangnya kamu mau minta apa dariku, Riky?"
"Aku tak ingin menyebutkan apa, tetapi aku hanya ingin tahu kepastiannya saja. Sebelumnya kamu kenal aku, adakah kamu kenal dengan pria lain?"
"Hem, sejujurnya sudah. Apa kamu lupa tentang pria yang pernah aku ceritakan padamu. Pria itu yang wajahnya mirip denganmu."
'Oh, iya aku lupa."
"Hem, maaf sebelumnya. Berarti kamu sudah pernah berhubungan badan dengan pria yang mirip denganku yang waktu itu kamu katakan telah meninggal dunia?"
"Riky, kenapa kamu tanyakan hal itu?"
"Karena aku nggak akan menjalin hubungan dengan wanita yang sudah di jamah pria lain."
"Riky, kamu salah. Kamu belum pernah melakukan hubungan badan sama sekali. Berciuman saja nggak pernah."
"Ah masa sih, katanya dia calon suamimu?'
"Iya, Riky. Tapi kami ta'aruf, jadi kamu hanya kenal sekilas saja."
"Jadi, kamu benar-benar masih gadis? atau gadis bukan perawan?"
__ADS_1
Riky sengaja memancing supaya Lina mengatakan segalanya tentang dirinya. Karena dia saat ini juga sedang merekam semua ucapan Lina.
Bahkan Riky menyewa orang pula untuk merekam semua pembicaraab dirinya dengan Lina.
"Aku serius, Riky. Aku masih gadis, jika kamu mau aku rela kegadisan aku untukmu asal kamu mau denganku."
Lina tiba-tiba berkata hal yang membuat Riky tercengang.
"Lina, aku bukan pria yang memanfaatkan situasi. Hem, kita jalani dulu sebagai sahabat, karena kita baru beberapa hari kenal."
"Oh iya, aku pamit dulu. Aku tak bisa berlama-lama karena ada hal yang harus aku selesaikan."
Riky pergi begitu saja, seraya matanya memberi kode pada orang sewaannya.
"Riky, tunggu! aku masih ingin ngobrol denganmu!"
"Lain kali saja, Lina. Aku sudah tak ada waktu lagi."
Riky berlari kecil menuju ke mobilnya, dan orang sewaannya juga berlari kecil mengikuti dirinya. Orang sewaan tersebut masuk ke dalam mobil, Riky.
"Bos, ini rekamannya. Bos, bisa periksa dulu hasilnya."
Riky memeriksa rekaman tersebut, dia tersenyum lebar.
"Kerja yang sangat bagus, ini bayaran untukmu. Dan cepatlah kamu pergi."
Riky memberikan sejumlah uang pada orang tersebut.
Setelah orang tersebut menerima bayarannya, dia pun lekas keluar dari mobil Riky.
"Sialan, ternyata Lina waktu itu cuma menjebakku! kami sama sekali tak melakukan apa pun!"
"Aku akan ke rumah Rudi untuk bertanya sebaiknya aku harus bagaimana?'
Riky melajukan mobilnya menuju ke rumah Rudi yang letaknya hanya beberapa menit perjalanan.
"Kenapa datang-datang wajahmu murung?"
Rikky tak menjawab pertanyaan dari Rudi, tetapi dia menunjukkan video percakapan dirinya dengan Lina.
"Jadi waktu itu Lina sama sekali tak berhubungan badan denganmu? berani sekali dia mengaku hamil olehmu?"
"Makanya itu, aku minta saran yang tepat. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan?"
"Apa aku harus jujur pada, Nayla. Jika aku ini adalah, Rocky? atau bagaimana?"
Sejenak Rudi terdiam, seolah sedang berpikir. Dia pun ikut bingung dengan permasalahan yang sedang di hadapi oleh sahabatnya tersebut.
"Woi, Rudi! kok kamu malah bengong saja sih?" Riky menepuk bahu sobatnya tersebut.
__ADS_1
"Maaf, aku bukan bengong tetapi sedang berpikir tentang masalahmu ini. Karena lama-lama menjadi rumit."
Rudi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.