CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Berbaikan Lagi


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Nia, kini Mariam sering curhat dengannya lewat ponsel maupun kadang suka bertemu di luar janjian.


Mariam sangat cocok bersahabat dengan Nia. Begitu pula Nia sebaliknya dia juga merasakan hal yang sama. Apa lagi sejak Rocky berubah dingin padanya dan sudah tak ada lagi komunikasi diantara keduanya. Nia hanya curhat pada Mariam.


"Jadi sampai hari ini, suamimu belum juga bersikap baik padamu?"


"Iya, ntah sampai kapan dia akan selalu bersikap dingin padaku. Jika aku mengajaknya berbicara, dia sama sekali tak menghiraukan aku. Malah dia berlalu pergi begitu saja."


"Ya ampun, kok sampai seperti itu ya? maafkan aku girl, aku tak bisa membantumu untuk masalah rumah tanggamu yang pelik ini. Aku hanya bisa mendoakan saja semoga segera ketemu jalan keluar untuk permasalahanmu ini."


"Ya, jenk. Terima kasih. Untung ada dirimu, sehingga aku sedikit lega karena ada tempat untuk curhat. Aku nggak mungkin pula cerita pada mamah atau mantan pacarku tentang kehidupan rumah tanggaku ini."


"Nia, memangnya kenapa jika kamu cerita pada mantan pacarmu? toh kamu hanya sekedar cerita kan?"


"Secara dia kan sudah jadi mantan karena dia sudah punya istri. Dan aku nggak mau kah terlalu dekat dengannya, makanya. aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu."


"Iya juga sih, tapi sebenarnya tak masalah juga jika kalian saling bertemu hanya sebagai sahabat."


"Jujur, dia kerap kali juga ajak ketemu walaupun hanya sekedar ajak makan siang saja. Tetapi aku merasa tak enak juga, aku nggak ingin menjadi suatu kesalah pahaman jika suatu saat istri dia tahu kalau dia sering bertemu denganku."


"Nia, kamu memang baik. Kebaikan kamu seperti suamiku. Dia juga sangat baik sekali, tetapi aku sampai sekarang malah ingin bertemu dengan sosok pria yang sangat mirip almarhum pacarku."


"Astaghfirullah alazdim, Mariam. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari loh. Sudah berapa kali aku nasehati kamu, supaya melupakan sosok pria yang mirip almarhum pacarmu itu. Karena kini dia juga telah tenang di alamnya. Aku khawatir kamu kelak menyesal loh."


"Iya, Nia. Aku juga kadang sadar akan hal itu, tetapi rasa ini entah bagaimana. Kadang aku merasa sangat cinta pada suamiku, tetapi kadang aku juga ingin sekali bertemu dia."


"Memangnya aku salah, Nia? jika hanya sekedar ingin bertemu?"


"Hem kalau menurutku sih, bagaimana ya? bingung juga aku mengatakannya. Karena aku sendiri ya, masih selalu berhubungan dengan mantan walaupun hanya sekedar tanya kabar lewat ponsel."


'Hati manusia tidak ada yang tahu, Mariam. Dulu aku berpikir akan selalu merasa bahagia bersama dengan suamiku. Tapi kenyataannya tak seindah yang aku harapkan."


"Nia, aku punya saran untukmu. Siapa tahu saja ini berhat membuat suamimu kembali seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Apa sarannya?"


"Apa nggak sebaiknya kamu hamil lagi saja? supaya suamimu berubah sayang lagi padamu. Cuba kamu bicarakan lagi padanya tentang hal ini."


"Wah, ide yang sangat bagus. Kenapa aku tak terpikirkan sari dulu ya? jika aku hamil lagi kan ada kemungkinan, suamiku berpengharapan lagi. Dan perlahan bisa melupakan hal buruk yang lalu."


"Hem, semoga saranku ini bermanfaat bagi rumah tangga mu ya, Nia. Dan semoga pula hubungan kalian harmonis kembali.'


"Amin, terimakasih Mariam atas saran yang bagus ini. Nanti aku akan bicarakan hal ini pada suamiku."


"Selalu semangat ya, Nia. Jangan putus asa dan teruslah maju."


"Pasti, Mariam. Sekali lagi terima kasih."


Demikian hubungan persahabatan yang terjalin antara Mariam dan Nia. Mereka sangat klop dan akrab tanpa saling mengerti jika Nia adalah mantan pacar Dika. Dan Mariam adalah istri Dika.


Keduanya sama sekali tak pernah saling bertukar foto atau memperlihatkan foto suami masing-masing. Bahkan tak pernah menyebut nama suami masing-masing.


Setelah cukup lama berada di cafe berdua. Keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Dari mana saja kamu! suami di rumah kamu malah kelayaban nggak jelas!"


"Maaf, Mas Rocky. Tadi aku keluar sebentar bertemu temanku. Tadi saat aku pergi mas masuh tidur."


Nia mengulurkan tangannya ingin mencium tangan suaminya tapi Rocky hanya acuh tak acuh.


Nia memanfaatkan kesempatan ini untuk merayu Rocky.


"Mas, apa kamu tak kangen padaku? sudah beberapa bulan loh, kita tak bercinta."


Nia sengaja duduk di lengan kursi yang sedang di duduki oleh Rocky.


"Mas, apa nggak sebaiknya kita punya anak lagi. Aku janji jika aku hamil lagi, nggak akan kerja."

__ADS_1


Nia mulai meraba dada Rocky dan menengadahkan wajah Rocky supaya menatap dirinya.


"Mas Rocky, apa sebegitu besarnya rasa salahku padamu. Sehingga berbulan-bulan kamu bahkan tak memberiku nafkah batin?"


Rocky menatap iba wajah cantik istrinya. Dia mulai luluh dengan kata-kata, Nia.


"Ya Allah, aku memang keterlaluan padanya. Sebenarnya ini memang bukan salah, Nia. Ini sudah takdir dariMu. Tetapi aku malah menyalahkan dirinya. Kasihan juga istriku selama ini selalu meminta maaf padaku untuk kesalahan yang tak dia lakukan padaku."


Batin Rocky mulai luluh lantak.


Keduanya saling berpandangan mesra, dan tak terasa saling berpagut bibir. Nia sengaja bersikap agresif supaya bisa membuat Rocky luluh.


Tangan Nia tak diam saja, dia pun meraba ke adik kecil Rocky yang ternyata susah tersengat aliran cinta yang Nia salurkan lewat ciuman panasnya. Adik Rocky sudah tak sabar ingin keluar dari sangkarnya. Apa lagi sudah berbulan-bulan dikurung terus.


Nia telah berhasil meluluh lantakkan Rocky. Kini mereka berhasil melakukan penyatuan cinta mereka. Bahkan tak sungkan Rocky meminta lagi dan lagi.


Nia sangat bahagia karena saran dari Mariam berhasil juga. Kini Rocky merespon dirinya lagi.


Setelah melakukan penyatuan cinta yang terjadi nggak cuma sekali, Nia akan bangkit dari ranjang tetapi Rocky menarik tangannya sehingga Nia terjatuh di dada bidang miliknya.


Rocky memeluk erat Nia, mengecup pucuk rambutnya dan mengusapnya penuh cinta.


"Sayang, aku minta maaf atas sikapku beberapa bulan ini padamu. Aku sungguh keterlaluan dengan tak menghiraukan dirimu akhir-akhir ini."


"Sudahlah, Mas. Tak usah di bahas lagi. Sudah wajar di dalam rumah tangga ada kerikil-kerikil tajam yang yang harus kita pijaki. Tingga seberapa kuat kita melangkah untuk tetap maju ke depan atau mundur menghindari supaya tidak menginjak kembali kerikil tersebut."


"Terima kasih, sayang. Kamu memang istri yang luar biasa. Walaupun aku marah padamu bukan hanya sehari dua hari, tetapi berbulan-bulan. Tetapi kamu selalu saja mencoba meluluhkan aku. Kamu tidak menyerah begitu saja atau ikut melakukan hal yang sama seperti umya yang aku lakukan padamu."


"Mas, jika di dalam berumah tangga yang satu itu api dan yang satunya lagi juga ikut jadi api. Itu berbahaya dong, yang ada nanti malah kebakaran."


"Sudahlah, mas. Kita harus permasalahan yang lalu ya. Kamu mau kan memaafkan aku jika aku belum bisa membahagiakan dirimu?"


"Seharusnya aku yang minta maaf padamu, sayang."

__ADS_1


Rasa bahagia kini terpancar kembali pada sepasang suami istri ini. Mereka bagaikan pengantin baru lagi.


__ADS_2