CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Identitas Baru


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah Nia, Rudi dan Rocky yang kini berganti identitas menjadi Riky keluar dari mobil.


Nia yang kebetulan sedang bersantai di teras bersama, Ronald dan Mama Nani. Sempat terperangah melihatnya.


"Apakah ini yang di maksud Rudi waktu itu, kembaran dari Mas Rocky? memang wajahnya sangat mirip tak ada bedanya sama sekali," batin Nia.


"Apakah ini, Rocky? bukankah dia sudah meninggal, tapi bagaimana bisa hidup lagi?" batin Nani.


Nia sama sekali tak memberi tahu jika Rocky punya saudara kembar.


"Nayla, perkenalkan ini saudara kembar almarhumah Rocky. Dia bernama Riky. Maaf, aku baru menemukannya."


"Iya, nggak apa-apa."


"Saya, Nayla atau Nia. Istri almarhumah Mas Rocky."


Nia menyangkupkan kedua tangannya di dada seraya tersenyum.


Hal ini juga di lakukan oleh, Riky.


"Bu, saya Riky saudara kembar Almarhum Rocky. Saya sudah lama sekali mencari keberadaan saudara kembar saya. Tetapi saya sedih, karena begitu bertemu malah dia sudah meninggal."


Riky sengaja berpenampilan culun, dengan memakai kaca mata tebal. Supaya tidak terlihat sekali kemiripannya dengan Rocky.


"Beberapa hari sebelum Rocky meninggal, dia sempat bertemu denganku. Dia sempat mengatakan jika terjadi apa-apa pada dirinya, dia menitipkan istri dan anaknya padaku."


"Waktu itu aku tak punya firasat apapun. Pikiran aku itu cuma dia bercanda saja. Aku juga nggak tahu apa maksud dari ucapannya itu."


"Mari masuk, kita bicarakan di dalam saja." Nia menyela perkataan Riky.


Riky dan Rudi duduk di ruang tamu bersama Nia. Sedangkan Nani membawa Ronald masuk serta meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman.


"Hoek hoek hoek"


"Maaf, saya tinggal dulu sebentar."


Nia berlari masuk menuju ke kamarnya.


"Rudi, jangan-jangan istriku sedang hamil?" bisik Riky.


"Memangnya kenapa kalau dia sedang hamil, toh ada papahnya?" ucap Rudi lirih.


"Kasihan juga jika tidak ada aku, pasti dia akan sangat repot sendirian."

__ADS_1


"Ya sudah kamu langsung nikahi saja, supaya tak jadi beban pikiranmu."


Saran Rudi.


"Pasti Nia nggak akan mau lah, soalnya dia kan belum kenal banget dengan Riky."


Tak berapa lama, datanglah Nia kembali.


"Nay, apa kamu sedang hamil? maaf jika aku bertanya?"


"Iya, Rud. Saat ini aku sedang hamil satu bulan. Aku senang tapi juga sedih, karena di saat aku hamil malah nggak ada Mas Rocky. Padahal dia yang sangat menginginkan anak lagi."


Nia menghela napas panjang secara tersenyum kecut.


"Ya ampun kasihan sekali istriku. Maafkan aku, Nia. Gara-gara kecerobohan aku, hingga aku terjebak oleh Lina. Tapi aku yakin, jika aku sama sekali tak melakukan tindakan tak terpuji itu. Lina telah menjebak aku," batin Riky.


"Hem, bisa di lanjutkan lagi cerita kamu Mas Riky?" tiba-tiba Nia berkata untuk memecah keheningan.


"Hem, iya. Aku nggak mengerti apa ucapan Rocky waktu itu. Jika kamu tak percaya aku masih menyimpan pesan video darinya sebelum dia meninggal beberapa hari sebelumnya."


Riky menunjukkan sebuah video rekayasanya sendiri pada Nia. Dan Nia dengan seksama melihatnya, tiba-tiba air matanya berderai.


"Apa maksud almarhum, Mas Rocky aku harus turun ranjang dengan Riky?" batin Nia bertanya.


"katakan saja apa yang ingin kamu katakan, Rudi. Tak perlu meminta izin seperti ini."


"Nay, menurutku apa yang dikatakan oleh almarhum Rocky waktu itu adalah turun ranjang. Yakni jika terjadi sesuatu padanya, secara tidak langsung kamu menikah kembali dengan saudara kembarnya yaitu, Riky."


"Turun ranjang? aku belum berpikir untuk menikah lagi setelah meninggalnya Mas Rocky."


"Nay, jika memang itu adalah pesan dari Rocky aku bersedia kok untuk menikah denganmu."


Nia, mengernyitkan alisnya. Dia begitu heran dengan apa yang barusan dikatakan oleh Ricky. Mengapa sebegitu mudahnya dia bisa mengatakan hal itu padahal sudah jelas-jelas dia dan dirinya belum saling mengenal satu sama lain.


"Pernikahan adalah sakral bukan suatu permainan, Riky. Tidak segampang itu kamu mengatakan bersedia menikah denganku. Apalagi kita sama-sama belum mengetahui sifat baik buruknya kita masing-masing."


Nia sama sekali tak setuju dengan ide turun ranjang tersebut.


"Aku tahu, Nay. Tetapi aku benar-benar tulus ikhlas mewujudkan keinginan terakhir almarhum Rocky supaya arwahnya tenang di alam sana."


"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sama sekali tak memikirkan untuk menikah lagi. Aku belum siap untuk menerima saran dari kalian berdua."


"Baiklah,Nay. AKU bisa mengerti akan apa yang saat ini sedang kamu rasakan, lagi pula Rocky baru meninggal empat puluh hari yang lalu. Pasti saat ini kamu masih merasakan kesedihan atas meninggalnya suamimu."

__ADS_1


Riky menghela napas panjang.


"Ya, seperti itulah. Tetapi kamu jangan terlalu berharap akan menikah denganku. Karena aku juga belum tentu akan menikah lagi."


Perkataan Nia membuat Riky semakin putus asa.


"Aduh, bagaimana ini? jika Nia benar-benar tak mau menikah denganku, selamanya aku akan kehilangan anak dan istriku! ini semua gara-gara Lina, aku akan menuntut balas padanya!"


Riky sudah sangat putus asa.


"Baiklah, Nay. Kalau begitu kami permisi dulu. Tetapi aku akan sering-sering kemari untuk jenguk kamu dan anakmu, nggak apa-apa kan?" tukas Riky.


"Iya, nggak apa-apa."


Saat itu juga Riky dan Rudi berpamitan pulang. Dalam perjalanan pulang, Riky berkata banyak hal pada Rudi.


"Rud, bagaimana ini jika Nayla tak mau menikah denganku. Sedangkan di mata umum Rocky itu telah mati?"


"Woles, bro. Kenapa kamu panik seperti itu? Batu saja bisa meleleh jika di tetesi dengan air setiap harinya."


"Kamu hanya tinggal usaha setiap hari dekati istrimu. Pasti lama-lama dia akan luluh olehmu."


"Hem, baiklah aku akan turuti saran darimu. Semoga saja berhasil. Ini semua gara-gara Lina aku jadi harus repot seperti ini."


Riky alias Rocky sangat emosi.


"Lantas kamu mau apa? mau balas dendam padanya?"


"Iya, Rudi. Aku akan balas dendam padanya!"


"Dengarkan aku, jika kamu lakukan hal itu tak akan menyelesaikan masalah. Yang ada justru menambah masalah. Intinya tidak akan ada ujung pangkalnya."


Rudi mencoba menasehati Rocky.


"Tapi karena dia aku jadi repot seperti ini! dia harus membayar mahal dengan apa yang dia lakukan padaku!"


"Ya sudah terserah kamu saja, tetapi jika suatu saat ada masalah lagi, aku tidak mau membantumu lagi."


"Hem, baiklah aku tak takut."


Rocky sangat keras kepala, dia sama sekali tak mendengarkan apa yang di nasehatkan padanya oleh, Rudi.


Dia tetap bersikeras untuk membalas dendam pada Lina, atas apa yang tela Lina lakukan padanya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Rudi, Rocky sedang menyusun siasat untuk membalas sakit hatinya pada, Lina.


__ADS_2