
Hati siapa sih yang tidak luluh bila mendapatkan kucuran perhatian serta kebaikan dari seorang Janaka Matila putra Brahmana? Gladys Hartono satu-satunya wanita yang mampu mengecap indahnya kemuliaan itu. Bukan hal umum lagi, sangatlah jarang dan hampir tak pernah terjadi bagi seorang komisaris utama yang tak pernah mau disebutkan namanya itu untuk mengumbar semua perhatikan lebih darinya untuk seorang gadis. Dan Gladys lah wanita beruntung yang mampu menggerakkan hati seorang CEO namun tak pernah mau disebut CEO. Cukup simple memang, Naka tak pernah sekalipun menanggap dirinya seorang CEO seperti dalam drama-drama romantis dan juga novel kekinian.
Dia lebih senang bila orang mengenalnya dengan sebutan pebisnis ataupun eksekutif saja.
Kurang lebih satu jam diperlukan agar roda-roda burung besi itu pun berhenti dan mendarat sempurna. Kedua putra putri Adam itu akan segera berpisah di kota yang dijuluki kota pahlawan tersebut. Di kota inilah Janaka akan melanjutkan perjalanannya menuju daerah suku Osing.
Rindu yang akan mulai terbentang di antara kedua pelupuk mata Janaka kini semakin terasa kala keduanya berusaha menemukan barang yang dikeluarkan dari bagasi pesawat. Setelah kegiatan ini, bisa dipastikan bahwa pertemuan keduanya akan terasa sulit untuk dilalui karena perbedaan jarak antara Surabaya dan juga Banyuwangi. Bukan hal yang berlebihan untuk hati yang sedang berbunga, akan tetapi bagi hati yang juga sedang dimabuk asmara, jarak yang tak seberapa itu bagi sepasang anak manusia itu akan sangat terasa.
"Ada yang menjemputmu?" tanya pria yang kini juga memeriksa kelengkapan dari penampilannya ini. Setelah melalukan perjalanan jauh seperti ini, sudah seharusnya Janaka memerhatikan kondisi penampilannya. Itu semua ia lakukan demi menunjang kelancaran kegiatan bisnisnya.
"Nyokap, biasalah emak-emak pasti sibuk kalau anaknya mau pulang!" sahut Gladys seenaknya. Usahanya mengibaskan sebagian kecil dari rambutnya yang terurai indah membuat rasa yang selama ini dipendam oleh Janaka muncul ke permukaan. Wanita itu terlihat menggoda kala menyingkap rambut hitamnya dan menampakkan leher putihnya dari belakang. Sungguh pemandangan yang cukup sensual menurut Naka. Nalurinya sebagai seorang lelaki tak bisa ia elakkan begitu saja. Gladys ia lah wanita sensual meski hanya bertindak sepele seperti itu saja.
"Ayo pergi sebelum aku mengurungkan niatku menemui LSM dan ... " ujar Janaka mengingatkan Gladys agar menjaga sikapnya di depan Naka sebelum pria itu membatalkan semua jadwalnya karena kecerobohan Gladys.
"Pergilah, aku bisa pulang sendiri! meski aku telah lama meninggalkan kota ini, tapi aku juga tumbuh dan besar di sini!"
Janaka lalu membawakan koper milik Gladys menuju arrival terminal sebelum dirinya beranjak menaiki pesawat lagi yang akan membawa Naka ke ujung timur pulau Jawa itu. Pria dingin dan otoriter itu cukup perhatian pada Gladys dengan bersedia membawakan koper sang gadis.
__ADS_1
Beberapa kali ponsel yang telah disenyapkan di sakunya bergetar menandakan beberapa panggilan yang ditujukan untuknya. Janaka tak ingin mengangkat panggilan itu karena bisa mengganggu momen indah bersama Gladys. Hal itu cukup membahagiakan bagi Naka.
Pun kebahagiaan juga dirasakan oleh Gladys. Kedua manik indah wanita penyuka warna ungu tersebut menangkap bayangan wanita tengah baya sedang melambaikan tangan serta tak berhenti mengulas senyum untuk putri bungsunya. Dialah Mira Khoirudin seorang dosen yang mengajar mata kuliah pengantar sastra pada Fakultas Ilmu dan Budaya salah satu universitas swasta di kota Surabaya.
Mira lalu memeluk sang putri ketika anak bungsunya itu berada tepat di depan matanya. Kerinduan yang selama ini ia tahan tak bisa lagi terbendung. Gladys merupakan putri keduanya, putri kecilnya itu menang telah terbiasa hidup jauh dari belaian kasih sayangnya.
"Wah Adys pulang bawa pacarnya ya? Kenapa nggak bilang sama mama?" tegur Mira kala mendapati seorang lelaki berbadan tegap yang sedari tadi tersenyum karena menunggu diperkenalkan oleh sang putri.
"Bukan Ma, jangan ngaco ih! kasihan loh pacarnya yang asli kalau dengar mama ngomong seperti itu," sergah Gladys merasa tak enak pada pria yang telah begitu baik menemaninya.
"Makasih loh udah menemani anak saya, Nak ..." Mira Khoirudin ragu untuk memanggil nama pria misterius yang sejak tadi berdiri di samping sang putri karena Adys tak jua mengenalkan sang pria padanya.
Bisa dibayangkan seperti apa ekspresi Gladys saat ini? Sepasang kelopak matanya membuka lebar-lebar karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sedetik sebelumnya. Nama itu bagai sebuah petir yang menyambar tanpa adanya badai, nama itu bak sebuah meriam yang ditembakkan tepat mengenai sasaran di ulu hatinya. Tepat dan tak meleset semili pun.
Wanita itu tak tahan untuk tak berniat memaki serta mengumpat Janaka. Namun, ia harus menjaga sikapnya di depan sang mama tentunya. Karena Gladys tak ingin mamanya berpikiran bahwa hidup jauh dari orang tua membuatnya memiliki sikap anarkis.
"Karena kalian telah melepas rindu, aku pamit dulu. Lega rasanya melihatmu pulang ada yang jemput!" Janaka lalu berpamitan dengan ibunda Gladys dan tak lupa juga mengatakan say goodbye untuk waktu yang tak cukup lama ini pada Gladys tentunya.
__ADS_1
"Awas saja, setelah ini kau pasti mati!" bisik Gladys tepat di telinga Naka. Dan hal itu tampak manis di mata sang mama.
"Hati-hati ya, jangan lupa 29 jutanya!" tak lupa Gladys juga mengingatkan sisa pembayaran ganti rugi yang telah ia terima dari akun Janaka Matila.
**
Barulah setelah menghilang di balik kerumunan lautan manusia yang lalu lalang, Naka mengambil ponselnya yang berada di saku jasnya. 5 panggilan dari Seno dan juga beberapa panggilan dari nomor yang ia yakini kru dari armada moda transportasi milik keluarga Brahmana.
Naka mempercepat langkah kakinya menuju apron pesawat miliknya. Kebetulan salah satu armada miliknya terparkir manja di apron Bandara Internasional Juanda. Meski sempat enggan menggunakan moda pesawat pribadi, Janaka mengurungkan niatnya karena pertemuan ini begitu penting dan jangan sampai ada penghalang apa pun. Karena menggunakan pesawat jet pribadi memang memberikan keuntungan tersendiri. Mobilitas menjadi lebih cepat, tidak perlu membeli tiket maupun menunggu atau mengantre di bandara jika ingin bepergian, privasi lebih terjaga, hingga bisa liburan bersama keluarga dengan lebih mudah. Bukan hanya itu, pesawat jet pribadi juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah yang dapat memberikan kenyamanan tersendiri.
Jet Pribadi milik Janaka berjenis Cessna Citation Longitude. Harga pesawat jet pribadi ini dibanderol 338 miliar rupiah. Pesawat ini dapat menampung 12 orang, sehingga sangat pas bagi Anda yang memiliki keluarga besar tidak terlalu banyak. Dengan kursi penumpang sebanyak 12, ruang kabin pesawat ini mempunyai ruang yang cukup luas.
Bukan hanya kabin, ruang kamar mandi juga memiliki ruang yang cukup luas tidak kalah dengan fasilitas yang terdapat di hotel bintang lima. Selain itu, pesawat jet ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas lain. Seperti mesin pembuat kopi hingga oven untuk membuat berbagai hidangan kue. Dengan pesawat jet ini, Naka atau keluarga Brahmana yang lain terasa bisa berlibur bersama keluarga dengan lebih mudah dan nyaman.
...****...
Jadi kalian jangan berkecil hati bila Naka tak ingin uangnya dikembalikan Dys, dia cukup kaya kok. Tenang aja!
__ADS_1