Crazy In Love

Crazy In Love
Am Yours Baby


__ADS_3

Akibat menahan perasaan rindunya hingga melupakan istirahat serta jam makan siang yang telah terlewatkan, Bapak Janaka Matila merasa asam lambungnya sedikit meningkat. Hingga pria dewasa itu harus mengkonsumsi obat pereda nyeri di dadanya yang menyebabkan panas atau heartburn akibat stres.


"Grogi mau ketemu musuh?" selidik Agung Brataseno pegawai khusus yang menemani Janaka selama ini.


"Hmmm ... aku mikirin seperti apa bini yang seenaknya aja, bahkan hingga kini Gladys belom menghubungi suaminya ini!" keluh Janaka setelah menenggak pil pereda rasa nyeri dan penyeimbang asam lambungnya.


"Makanya, Pak! aku malas memiliki komitmen dengan menjalin suatu hubungan, ya kaya gini akibatnya!"


"Sudahlah! ayo kita hadiri pertemuan selanjutnya dan pulang secepat mungkin, Sen!"


"Baru berapa jam tak bertemu, udah kangen-kangenan aja sih? Dulu aja Anda tidak pernah memikirkan pulang!"


"Gue ada bini, Nah kamu?" Meski hatinya masih belum tenang. Namun, Naka tak segan mengejek hingga mencibir sang asisten.


Kedua pria tampan dan menawan itu, kini harus menyingkirkan perasaannya karena perlu memikirkan rencana bisnisnya. Tentu saja sebagai seorang bisnisman, Janaka wajib meraup untung yang sebesar-besarnya. Apalagi kini Naka telah memiliki nyonya yang dengan senang hati akan menghabiskan berapapun uangnya.


"Demi bini, ayo kita hasilkan uang sebanyak-banyaknya, Nak!" ajak Janaka pada asisten yang berusia di bawahnya. Setelah membetulkan simpul dasinya, Naka sesekali mengecek ponselnya.


Namun, layar ponsel baru milik Naka itu masih setia dengan keteguhan hatinya. Tak ada pegerakan atau pun peringatan pesan yang masuk di ponsel yang dibelikan Kanaya atas permintaannya.


Untung saja, potret wajah cantik sang istri tiba-tiba muncul di layar ponsel berwarna hitam itu. Senyum menawan gambar diri sang istri mampu menjadi obat penawar asam lambungnya yang telah naik.


"Honey, ke mana aja sih?" Naka tak menaikkan suaranya meski ia masih diliputi rasa khawatir.


"Oh ... aku baru saja bangun tidur, Yank! pulang dari mall tadi aku lelah dan mengantuk sekali, hingga pulang ke rumah dan tidur," jelas Gladys masih dengan suara berat khas bangun tidur.


"Asisten di rumah telah menyiapkan makanan untukmu? Kalau kamu nggak enak badan, jangan ke mana-mana Hon. Tunggu aku pulang!"

__ADS_1


"Emangnya kamu kapan pulang, Mas? Jangan lama-lama ya?" Tanpa diduga istri Naka menyatakan bahwa ia sungguh merindukan sang suami.


Pernyataannya dari Gladysnya Janaka yang tak biasanya ini sungguh di luar dugaan. Rencana pulang yang direncakan besok siang mungkin akan segera dipercepat oleh Janaka karena sang ratu telah menanti agar cepat pulang.


"Secepatnya! anggap saja jarak yang ditempuh untuk pulang nanti dari Grogol ke Lebak bulus!" Candaan dari bos BBG ini sukses membuat sang asisten nyengir, bagaimana tidak? Kondisi Naka saat ini sangat berbanding terbalik ketika komisaris BBG itu meminum obatnya tadi.


"Okay ... jaga kesehatanmu, Yank! aku tunggu kamu pulang,"


"Tentu, tunggu aku pulang ya, Hon?" Kedua suami istri yang telah berkangen-kangen ria itu akhirnya mengakhiri panggilan mereka dengan senyum pada masing-masing wajah mereka.


Dan panggilan dari sang istri tadi menjadi sebuah semangat baru untuk Janaka sebelum ia menghadapi musuh yang pernah mengusik dirinya tempo hari.


Janaka Matila dan sang asisten serta ditemani oleh salah satu karyawan BME tiba di sebuah lounge hotel mewah di kawasan Banjarmasin. Ketiganya telah dipersilakan menempati tempat yang telah direserved oleh Tendy sebelumnya.


"Selamat sore, Pak Janaka Matila dari Brahmana kingdom!" sapa pria berkumis tipis yang telah lama mengincar kejatuhan Janaka.


Hingga mantan model yang pernah dihabisi karirnya oleh Naka itu menyebut bahwa ia adalah istri dari Tendy Wiguna.


"Dunia ini begitu sempit!" ucap Janaka dengan senyum mengejek pada kedua pria wanita yang memiliki watak tak jauh berbeda.


"Betul! mari kita jangan terlalu berbelit-belit, Pak! jujur saja alasan saya mengundang Anda ke mari adalah ingin menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama," Sekretaris Tendy membagikan proposal bisnis berupa dokumen dan juga softcopy.


Janaka dan juga timnya lalu mempelajari penawaran dari pihak Tendy itu dengan saksama. Tak ingin terlewatkan begitu saja, Naka dan juga dua orang yang telah bekerja lebih dari 3 tahun dengan keluarga Brahma tahu betul seluk-beluk kesepakatan seperti ini.


Besar pembagian keuntungan yang dinilai Janaka lebih menguntungkan pihak Tendy membuat Naka tersenyum licik. Pria itu sungguh bisa menebak seperti apa usaha Tendy untuk membodohi dirinya. Keuntungan 60:40 bagi BME, Naka nilai sangat minim. Apalagi dengan membawa bendera BBG sebagai penanggungjawab projek ini, sungguh bukan nilai yang sesuai.


"Saya mau pembagian keuntungannya 75:25 untuk BME," tawar Janaka karena merasa ia dirugikan, apalagi selain penanggungjawab BME juga harus mengirimkan tenaga ahli untuk mengawasi setiap langkah perusahaan tambang milik Tendy tersebut.

__ADS_1


"Wah, Anda sungguh mampu memperhitungkan dengan teliti Pak! 75:25 saya kurang setuju, bagaimana bila saya tambah bonus lagi?" Tendy menawarkan bonus menarik untuk Naka agar mengambil penawaran darinya.


"Silakan Anda jelaskan! bila itu menarik, mungkin bisa saya pertimbangkan," imbuh Naka tak ingin mengecewakan pihak lawan.


"70:30 ini harga nett dari saya, dan saya tambah Anda bisa mendapatkan adik saya, Maria!"


Tangan Janaka mengepal keras di bawah meja. Suami Gladys Hartono itu menahan amarahnya yang hampir meledak. Bisa-bisanya Tendy melemparkan adiknya untuk Naka. Selain telah beristri, Janaka juga tak tertarik sama sekali dengan wanita yang pernah menghadiahi dirinya sebuah dasi dulu. Hingga hadiah itu menjadi penyebab Gladys marah besar padanya.


Naka sengaja menutupi kekesalan dengan tertawa lepas. Pasalnya pria mana yang bisa menahan amarahnya seperti ini?


"Apa Anda lupa saya telah memiliki istri?" Tawa dari Naka itu masih belum terhenti. Hingga Seno paham maksud dan tujuan sang atasan.


Belum pernah Seno menemukan pebisnis yang menawarkan adiknya atau keluarga yang lain untuk dijadikan umpan buat Janaka. Selain itu tak etis, hal seperti itu sungguh mengejek Janaka karena pria itu sudah tak lajang lagi.


"Apa salahnya memiliki istri lebih dari satu? Bahkan ayah Anda juga seperti itu bukan?" Tendy mulai membujuk Naka dengan imingi adiknya yang molek itu.


"Satu istri saja sudah membuat asam lambung saya naik, apalagi dua istri? lagipula saya tak berencana menduakan istri saya!" Skakmat, Janaka menolak dengan cukup jelas.


"Kurasa penawaran ini cukup menarik, bagaimana kalau Anda pikirkan baik-baik?" Tendy masih terus merayu sumber dana agar tak lari lagi.


"Lupakan saja, jangan bercanda dengan saya! lelucon menggelikan ini seperti sampah buat saya," Selain menolaknya, Janaka juga mengumpat di depan karyawan serta calon rekan bisnisnya.


Emosinya telah ia salurkan dengan mematangkan angan-angan Tendy, tak perlu mengintimidasi atau semacamnya. Seharusnya sindiran dari Naka tadi cukup membuat Tendy dan madona kehilangan urat malunya.


...****...


__ADS_1


__ADS_2