Crazy In Love

Crazy In Love
Naka Riweuh


__ADS_3

Bisa melarikan diri dari jerat iblis berwujud pria kaya seperti Naka tentu tak mudah dilalui oleh wanita seperti Gladys. Pagi ini ia bersusah payah untuk merayu dan membodohi Naka dengan segala macam cara agar bisa ditaklukkan meski itu tak mudah.


Belum selesai rasa kesal Gladys karena harus memutar otaknya pagi ini, kini ia telah dihadapkan oleh sebuah permintaan dari sang mama yang akan segera pulang ke Surabaya setelah puas menjenguknya. Mama mengatakan akan segera menyiapkan pesta besar untuk mereka berdua. Sejak kapan Mira kini menjadi suka terburu-buru mengambil keputusan? Begitu sang mama melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa sang putri sudah berhubungan lebih intim dari dugaannya, ia dan juga Erika ingin segera menyeret sepasang kekasih itu ke depan penghulu agar gak mencoreng wajah kedua belah keluarga.


"Tapi Mah, Gladys belum ... "


"Nggak ada tapi-tapian! katakan pada dia kalau dia masih mau hidup lebih tenang lagi segera buatkan surat nikah!"


"Mah, Gladys sedang menyiapkan sebuah rencana besar! bisakah kita undur dulu pernikahan ini?"


"No way! mau sampai kapan? Keburu cucu kedua mama lahir?" Karena memang Grace anak pertamanya sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami.


'Ini semua karena si brengsek Janaka Matila! aku bahkan masih memiliki impian besar yang belum terwujud,'


Apalagi dari pihak sang lelaki tak sedikitpun membuka mulutnya untuk memberi Gladys sebuah penjelasan atas permasalahan yang menimpa Naka. Mulai dari hubungan ibu dan anak serta kasus kemarin siang, hingga membutuhkan papa Andung turun tangan.


Wajah sendu milik Gladys semakin tersulut emosinya mana kala sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya. Sebuah pemberitahuan tentang berhasilnya sebuah transaksi ke dalam akun bank miliknya. Gladys, wanita yang tengah gundah itupun lalu mencampakkan smartphone miliknya begitu saja ke dalam tas yang berada di samping kursi ia mengemudi.


Entah apa maksud pria gila itu mengirimi Gladys sejumlah uang yang nominalnya cukup untuk biaya hidup. "Apa dia ingin menyuap aku? Tunggu saja bila aku bertemu dengannya, kupastikan ia nggak bakal bisa hidup tenang!" keluh Gladys lalu memacu mobilnya meninggalkan Bandara setelah mengantar sang mama.


Gladys mempercepat laju kendaraannya menuju sebuah pusat perbedaan meski masih diliputi perasaan kesal pada Naka. Ia akan menghibur perasaannya dengan membelanjakan beberapa uang miliknya. Bukan hanya itu saja, sebelum pergi Naka sempat mengatakan akan mengajaknya untuk menghadiri sebuah jamuan makan malam sebagai peresmian perusahaan cabang baru di kota ini. Pada hari itu adalah kali pertama ia akan menemani Naka sebagai orang yang dekat dengan komisaris PT BMD tersebut secara terbuka.


Dan Gladys kekeuh menolak cara Naka yang seenaknya membelikan gaun serta perlengkapan pesta seperti sebelumnya karena itu nggak pas dengan apa yang ia inginkan. Jangan tanya bila Janaka Matila tak banyak maunya, ia telah mengultimatum Gladysnya agar tak sembarang mengenakan busana yang bisa mengundang syahwat. Sebelum take, Gladys perlu persetujuan dari Naka terlebih dahulu. "Miris sekali pria tua itu!" keluh Gladys dengan menyelenggarakan kepalanya mengingat seperti apa permintaan Naka tadi pagi.


**

__ADS_1


Wanita cantik itu kini tiba di butik yang menjual berbagai kesenangan duniawi dari kaum pemuja kehedonan. Tepat di tengah-tengah pusat perbelanjaan ternama di daerah Senayan, Gladys mulai melenggang masuk ke dalam tempat berkumpulnya penghamba kemewahan.


Kekasih Janaka Matila itu memilih beberapa look yang akan ia coba terlebih dahulu dan mengirimkan gambarnya pada bos BMD yang kini menunggunya di kantor.


Loo pertama adalah gaun berwarna biru laut cerah dengan potongan vshape pada lehernya. Pada penampilan pertama ini wanita pemilik manik indah itu agak underestimate Naka akan mengiyakannya. Pasalnya pria itu pasti akan cerewet begitu menggoda pada bagian depannya.


"No! kamu ingin menggoda siapa Hon?" kata Naka dalam panggilan videonya. Ketidaksetujuannya seperti seorang penguji naskah skripsi saat sidang berlangsung. Mulut pedasnya tak ada habisnya.


Lalu Gladys mencoba look kedua. Dress kedua yang ia coba adalah salah satu koleksi terbaru brand dengan logo dua huruf yang saling berdekatan tersebut. Gaun dengan nuansa elegan ini pasti sangat pas di tubuh sang wanita Naka. Dengan mengusung keindahan malam, gaun berwarna hitam tanpa lengan itu pasti sangat cantik bila dikenakan oleh Gladys.


"Big NO! kamu ingin masuk angin? Lihat punggungnya! apa nggak kurang bahan?" keluh Naka hingga menepuk jidatnya karena melihat sang kekasih berbusana cukup menggoda iman lelaki dengan pakaian cukup terbuka seperti itu. Memang, bila dilihat dari depan tak ada yang aneh. Tapi bagian belakang gaun itu sangat terbuka hingga Naka ingin memaki siapapun yang merancang baju tersebut.


"Bapak Janaka Matila, tinggal satu lagi! kalau Anda tetap seperti itu, aku pastikan tak 'kan hadir!" ucap Gladys sebal karena sejak tadi Naka selalu mengejek.


Pada look terakhir ini, Gladys sengaja memilih busana yang menurutnya sedikit berani. Berani bukan dalam arti seksi, namun ia lebih berani memilih baju dengan warna yang cukup menantang. Dress berwarna merah menyala dengan potongan lengan sabrina ia pilih karena tak ada yang ia inginkan lagi. Lagipula ia juga sudah lelah dengan ulah Naka yang selalu menolak looknya.


'Jangan lupa kepalamu!' umpat Gladys dalam hati dengan segala tingkah riweuh Naka.


"Just Not bad?" tanya Gladys sengaja memancing amarah Naka.


"Tidak Hon, kamu cantik pakai itu! nggak salah dong aku memilih kamu!"


tut ... tut ... Gladys sengaja memutus panggilan video terakhirnya dengan Janaka Matila. Emosinya telah berada di ubun-ubun menghadapi putra tertua Sigit Brahmana tersebut. Bahkan ia harus menabung kesabarannya bila jadi menikah dengan pria kaku itu.


Setelah memilih look terakhir yang akan ia kenakan, Gladys lalu berjalan menuju kasir untuk membayar dress yang ia pilih. Didampingi oleh salah satu pegawai butik, Gladys yang memang salah satu pelanggan butik ini memiliki servis istimewa dalam berbelanja.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju tempat pembayaran, Gladys melihat seorang wanita tengah sibuk memilih sebuah barang.


"Hi, kamu tampak kebingungan nona! perlu bantuan?" tanya Gladys menawarkan sebuah bantuan memilih barang.


"Oh, iya! aku sedang mencari hadiah untuk pria yang kusukai. Kalau Anda tak keberatan, bisakah Anda membantu saya?"


"Off course!" jawab Gladys ingin membantu wanita yang tampaknya berumur tak jauh darinya.


Gladys menyarankan pilihan sebuah dasi. Karena benda itu sering menemani para pria menuju tangga kesukaan. Dan wanita itu tak keberatan dengan pilihan Gladys. Bahkan sangat berterima kasih karena telah dipilihkan hadiah untuk pria pujaannya.


**


Pukul 19.00 WIB Apartemen Gladys.


Begitu mendengar seseorang memasuki kediamannya, Gladys dengan semangat menemui orang yang kini tak malu mengungsi ke apartemennya. Siapa lagi kalau bukan Janaka Matila? Gladys ingin meminta kejelasan transaksi mencurigakan ke akunnya.


"Aku pulang Hon," ucap Naka begitu memasuki rumah Gladysnya dan segera menukar sepatu menjadi sandal rumahan yang telah disediakan oleh sang kekasih.


"Iya, aku ingin bica ... ra!" Gladys menjeda ucapannya kemudian melanjutkan kembali setelah ia mampu menguasai jiwanya.


Tubuh Gladys untuk sejenak terpaku melihat sang kekasih pulang membawa sebuah paper bag dengan brand yang sama dengan butik yang ia datangi tadi siang.


"Kamu baru belanja Yank?" ucap Gladys dengan tatapan penuh kecurigaan pada Naka.


"Oh ini? Seseorang memberikannya untukku!"

__ADS_1


...****...



__ADS_2