
Suasana mencekam yang bukan bersumber dari hal mistis kini sangat terasa. Perasaan mengerikan yang dirasakan oleh orang yang hadir di ruangan kelas atas di rumah sakit Mount Elizabeth berasal dari perdebatan antara ayah dan anak yakni Sigit Brahmana dengan putranya Janaka Matila.
Bahkan kedatangan ibu dan teman ayahnya tak membuat Naka melonggarkan rasa ketidakpuasan atas keputusan sang ayah. Erika dan Prabu datang menengahi kedua pria yang saat ini masih bersitegang dengan argumentasinya masing-masing. Baik Naka ataupun ayahnya masih belum mengalah satu sama lain. Hingga membuat Prabu harus turun tangan dan meyakinkan Janaka bahwa apa yang diinginkan sang ayah tak lain hanya ingin menyambung hubungan darah yang sempat terputus.
Nyonya Erika juga menyebutkan bahwa sebelum ayah tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit ini, Sigit sang suami sempat bertemu dengan ibu dan anak lelaki yang telah lama ia tinggalkan. Mungkin Sigit Brahmana bersikeras ingin memberikan BMD kepada Adit karena rasa penyesalan yang dalam. Penyesalan itu muncul karena kesalahannya lah yang selama ini telah menjauhkan Hana dari sang putra Janaka dan juga memutuskan hubungan kakak beradik tersebut.
Bukan hanya itu saja, Om Prabu panggilan Naka pada teman ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pengacara tersebut menyebutkan bahwa Sigit akan membagi rata seluruh sahamnya di BBG pada Janaka, Adit serta adik bungsu mereka Aruni.
Dan pernyataan dari Om Prabu barusan ini semakin membuat Janaka kehilangan kesabaran. Pria gagah itu juga semakin kesal karena sang ayah tidak memikirkan ini tanpa sepengetahuan Naka. Bahkan, menurut Naka ayahnya tidak menghargai jerih payah ibunya sama sekali.
"Apa Ayah melupakan ibu? Ibuku yang telah membesarkan aku dan Aruni, dan dia tak mendapatkan sepeserpun!" maki Janaka tak terima dengan keputusan sang ayah.
Pasalnya meski bukan darah daging Erika, Naka sangat menyayangi dan menghormati Erika seperti ibu kandungnya sendiri. Bahkan untuk mengenakan calon istrinya saja Naka sempat meminta ijin pada Erika. Karena Erika telah berjasa besar terhadapnya.
"Ayah telah memikirkan ini Naka, ayah dan ibumu hanya ingin beristirahat di gubuk kita di Lazarus!"
"Ibuku hanya satu, Erika Gayatri!" ucap pria berparas rupawan itu sebelum ia walk out dari ruang sidang. Meski kamar rawat inap ini mewah, bila suasana mencekam seperti saat ini kamar tersebut tak ubahnya seperti ruang rapat pleno tahunan.
Dengan geram dan emosi yang masih tersulut, Naka berjalan keluar tanpa memedulikan reaksi kedua orang tuanya serta tamu ayahnya. Pikirannya kacau, bahkan Gladys yang tadi keluar belum juga kembali. Kekhawatiran Janaka semakin membuncah mana kala Gladys tak menjawab panggilannya.
__ADS_1
Janaka berjalan ke sana kemari guna mencari sang istri di area rumah sakit. Semua masalah yang menimpa keluarganya kini membuat pria bertubuh jangkung itu semakin merasa kesal. Bagaimana tidak, keluarga yang telah lama tak bersua kini kembali padanya dan bahkan akan merebut impiannya.
"Ini tidak boleh terjadi!" gumam Naka berkali-kali.
Untuk sejenak, pria tampan itu mampu menguasai tingkat emosinya. Naka harus berpikir jernih, untung saja suami Gladys Hartono itu tak kekurangan akal. Segera saja Janaka Matila menghubungi Seno yang masih standby di mobil bersama sang supir. Naka memiliki ide untuk mengatasi permasalahannya besar ini. Bukan Janaka namanya bila tak segera bangkit dari keterpurukannya, kekasih hati Gladys ini telah terdaftar menjadi salah satu usahawan muda di majalah Forbes oleh karena itu, Janaka memiliki segudang cara untuk menyelamatkan BMD dari tangan yang salah.
**
Setelah berhasil mendapatkan kopi favorit yang suami, Gladys bergegas menuju kamar rawat inap kedua orang tuanya. Gladys tak menyangka bila sepeninggalan dirinya terjadi gonjang-ganjing pergeseran tahta dari kerajaan bisnis Brahmama Group. Dengan Janaka Matila sebagai putra tertuanya, sudah pasti sang ayah akan memberikan mandat besar padanya. Bukan karena itu saja, pengalaman dan skill Naka dalam mengolah berbagai proyek milyaran BMD membuat Sigit Brahmana yakin akan keputusannya menjadikan putra mahkotanya sebagai penerus tahta kepemimpinan BBG.
"Ayah, ibu, mana Naka? Mengapa ia meninggalkan kalian?" tegur Gladys begitu ia membuka kamar mewah tempat mertuanya dirawat dan tak mendapatkan bayangan sang suami sama sekali.
"Sayang, suamimu sedang menenangkan diri!" ucap Erika mendekati Gladys karena tak ingin sang putri memikirkan hal yang bukan-bukan.
Gladys merasa ada yang aneh dengan keluarga suaminya. Begitu wanita cantik itu membuka ponselnya, telah masuk tujuh kali panggilan dari Janaka untuknya. "Pasti ada yang tak beres!" batin Gladys mulai menerka-nerka.
"Ayah, ibu, Gladys tinggal dulu mencari Mas Naka! sepertinya dia mencariku!" ijin Gladys sebelum wanita cantik itu keluar dari ruangan mewah tersebut.
"Ke mana aku harus mencari kamu Yank?" keluh Gladys karena sedari tadi Janaka tak mengangkat telepon darinya. Bahkan Gladys menyangka bila Naka marah padanya karena tak mengangkat panggilan dari sang suami tadi.
__ADS_1
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi Yank? Kamu di mana?" Wanita itu begitu mengkhawatirkan sang suami yang sejak tak mengindahkan panggilan darinya.
Sudah beberapa kali Gladys berlarian di sekitar rumah sakit hingga parkiran mobil guna mencari sang suami namun tak kunjung menemukannya. Hingga ia lelah dan pasrah pada Naka, bila ia tahu betapa Gladys sangat mengkhawatirkannya pasti Naka akan menghubungi balik dirinya.
Rasa lelah itu membuat Gladys sedih dan memutuskan untuk meninggalkan Mount Elizabeth menuju sebuah bangunan di daerah Kent Vale Blok-F dengan menggunakan kereta bawah tanah atau subway. Bukan tanpa alasan Gladys pergi ke apartemen miliknya selama ia mengenyam pendidikan di NUS dulu. Dan bukan hal aneh bila putri Andung Hartono tak mendapatkan fasilitas yang memadai. Hanya saja, Gladys tak ingin bersikap takabur dengan apa yang telah papanya berikan.
Apartemen itu meski tak semewah rumah Janaka ataupun vila keluarga Brahmana, namun apartemen Gladys ini cukup untuk mengistirahatkan tubuhnya selama di Singapura. Ia sering pulang ke apartemen ini saat Aruni datang untuk menggantikan dirinya menunggui ayah Sigit dan ibu Erika. Dengan waktu singkat itulah, Gladys bisa sekadar mandi atau melakukan aktivitas lainnya di Kent Vale. Dan hal yang paling penting mengapa Gladys memilih tinggal di apartemen ini dahulu adalah karena letaknya cukup dekat dengan National University of Singapore tempat ia kuliah dulu.
"Lihat saja Yank! kalau kamu tak segera mengabari aku, aku berjanji akan memblokir seluruh kontakmu!" ucap Gladys dengan kesal hingga membanting ponsel ke atas ranjang di kamar tidurnya.
...****...
Hai hai, saya bawa kabar gembira nih
Di bulan Desember ini, saya ada sedikit challenge buat kalian pembaca setia novel ini.
Ikutan ya? Caranya mudah kok. Ikuti setiap instruksinya!
__ADS_1
Untuk kartu ucapan bisa pilih salah satu buat siapa, dan bisa di kirim ke salah satu kontak yang tersedia.
Dan untuk best komen pada novel ini, jangan lupa sertakan hastag #Desemberpenuhwarna dan #Desembermeluber. Makanya sok atuh komen sebanyak-banyaknya. Karena banyak komen akan berkesempatan mendapatkan bingkisan menarik dari saya.