
Warna jingga di ufuk cakrawala kiranya menjadi pertanda bahwa akan berakhirnya siang ini. Peralihan hari ini semakin kerasa karena sang surya semakin beranjak menuju peraduannya. Perlahan tapi pasti, seperti perasaan Janaka yang kian hari kian tak pasti. Kini pria yang selalu mengukur apapun dengan tolak ukur berupa materi menjadi semakin terbuka pikirannya. Hal tersebut atas ketidaksediaan Gladys menerima pemberian ganti rugi darinya.
Mobil miliknya yang dikendarai oleh Pak Parman salah satu supir yang saat ini bertugas mengantarkan dirinya meniti jalanan ibukota. Segala kepadatan ibukota menjadi suguhan yang sering Janaka lihat di kota besar seperti di sini.
Oleh sebab itu, kedua orangtuanya semakin enggan tinggal di kota ini dan lebih memilih tinggal di Lazarus Island. Ketenaran pulau ini tak sebanding dengan Bali ataupun Raja Ampat serta pulau-pulau indah lainnya, baik itu di dalam negeri ataupun luar negeri. Namun, keindahan yang dimiliki oleh Lazarus tak bisa dipandang sebelah mata.
Pulau yang masih berada di wilayah negara Singapura ini dipilih oleh Brahmana family sebagai tempat tinggal dengan membangun hunian mewah di tempat terpencil itu. Tak ingin direcoki oleh hiruk pikuk dunia luar, membuat Erika Gayatri meminta sang suami membangun sebuah vila megah dengan fasilitas super lengkap sebagai tempat tinggal. Karena letaknya sangat strategis yakni bisa ditempuh dengan mengunakan yacht ataupun kendaran udara seperti helikopter milik keluarga Brahmana.
Janaka sesekali mengembuskan napasnya dengan kasar, entah mengapa wajah serta suara wanita yang baru saja menolong Kinan begitu terngiang-ngiang di benaknya. Meski tadi bukan pertemuan pertama kalinya bagi Janaka, tak membuat pria yang keturunan Brahmana itu melupakannya. Buktinya hingga detik ini Naka tak bisa sekalipun menyingkirkan bayangan Gladys di benaknya.
Tak hanya rasa heran saja yang kini bersarang di lubuk hati terdalam Janaka, rasa bersalah tidak membawa Gladys mendapatkan pertolongan untuk lukanya juga masih menghinggapi konglomerat itu.
"Bagaimana keadaannya?" gumam Janaka pelan dan membuat Pak Parman yang sedang mengemudi terperanjat hingga menoleh ke belakang melihat sang bos.
"Keadaan saya Pak?" tanya Pak Parman si sopir yang tak mengetahui isi hati Janaka.
"Bukan!" Suara Janaka menyentak pria paruh baya itu.
Pak Parman cukup mengenal watak putra dari trah Brahmana itu karena telah lama bekerja bersama dengan ayahanda Janaka lebih dari 10 tahun lamanya, sekali mendengar hentakan suara dari Naka sudah membuat Pak Parman mengurungkan niatnya.
Hati dan pikiran Naka begitu tak tenang karena memikirkan seperti apa jadinya luka di tangan Gladys. Coba saja tadi wanita itu tak menolak bantuan dari Aruni serta menolak pertanggungjawaban dari Janaka, pasti hal menyebalkan seperti ini tak 'kan terjadi. Setidaknya Janaka tak perlu memerhatikan serta menerka-nerka apa yang akan terjadi dengan Gladys.
Sesekali Naka mengusap rambutnya, gaya pada rambut yang telah disusun rapi harus ia acak-acak karena rasa kesalnya pada wanita yang telah menolak bantuan dari Brahmana family. Tanpa pikir panjang lagi, Janaka lalu menghubungi salah satu orang kepercayaannya yakni Seno. Hanya dengan Seno lah ia mampu membagi apa pun yang sedang mengganjal di dalam benaknya.
__ADS_1
"Seno, apa kau sudah mengirim biaya ganti rugi spion wanita itu?"
"Oh tentu saja sudah bos, dan seperti yang Anda perintahkan saya juga telah menghapus pesan serta nomor kontak Nona Gladys sesaat setelah pekerjaan ini beres!"
"Kau menghapus pesan itu sesuai dengan perintah dariku?" tanya Janaka mengulang apa yang telah Seno ucapkan padanya.
Pernyataan dari Seno itu membuat pria berwajah sinis itupun langsung down seketika. Karena ia berniat meminta nomor kontak Gladys pada Seno sang asisten. Tapi dengan entengnya, Seno mengatakan telah menghapus tanpa sisa sedikitpun kontak dengan Gladys. Hal tersebut membuat Naka memijit lembut pelipisnya.
"Hadeh sialan ... !" keluh Naka cukup frustasi.
"Ada masalah apa Pak Naka?"
"Lalu apa kau masih menyimpan kartu nama yang aku berikan padamu tadi?"
"Tidak Pak, sesuai perintah bapak saya telah memutuskan kontak apa pun dengan beliau!"
'Apa salahku? Bukankah aku telah bertindak sesuai perintahnya?'
"Pasti sudah dibuang petugas kebersihan ke tempat sampah utama Pak!" kilah Seno karena ia sadar tak 'kan bisa lari dari amukan singa yang kini tengah mengaum keras.
"Sebaiknya kau segera cari meski itu ke lubang semut sekalipun! kalau sampai aku kembali dan kamu belum mendapatkan nomor kontaknya, siap-siap pindah ke batubara Sen."
Tentu saja, bukan hanya amukan saja yang diterima oleh Seno. Bahkan ancaman akan dipindah tugaskan ke Kalimantan telah ia dapatkan. Begitulah nasib dari pegawai Janaka Matila. Bila tak mendapatkan amukan ya dapat masalah lebih besar lagi. Seperti di buang ke wilayah terpencil contohnya.
__ADS_1
Dengan raut wajah sangat gusar, Janaka memerintahkan supirnya yakni Pak Parman untuk segera menuju kantornya. Meski jam kerja telah lama habis, bukan hanya anak buahnya saja yang masih bekerja melebihi jam kerja. Janaka sebagai pemimpin juga tak kurang-kurang lembur bila masih menyisakan banyak pekerjaan. Dan tentunya pasti akan ada tambahan fee bagi pekerja yang masih berjibaku melebihi waktu kerja.
**
"Sudah ketemu?" tanya Janaka tanpa basa-basi pada sang asisten begitu ia memasuki pelataran kantor BMD.
"Maafkan saya Pak Bos, sepertinya petugas kebersihan telah membawa semua sampah ke Tempat Pembuangan Akhir. Bagaimana kalau saya datangi alamat Nona sebagai pertanggungjawaban atas tindakan bodoh saya?"
"Memangnya tanpa kartu nama itu, kamu bisa menemukan tempat tinggal wanita itu?"
Seno hanya menggeleng pasrah. Ia telah membesarkan hatinya sendiri bila suatu detik nanti Janaka akan mengeluarkan titahnya untuk memindahkan tempat kerjanya ke Batulicin. Sudah pasti cukup berat karena ia harus berpisah dengan pacarnya.
"Maafkan saya Pak!" Seno tak berani menatap kedua netra milik Janaka. Kini pemuda 28 tahun itupun telah pasrah dan berserah pada Tuhan bila Naka akan memisahkan dirinya dengan sang wanita.
Janaka juga merasakan hal yang sama. Pemimpin BMD itu cukup kecewa, kesal dan sakit hati pada dirinya sendiri, Seno serta pada Gladys juga tentunya. Bahkan hingga detik ini Naka belum bisa mengartikan tindakannya yang berlebihan mengenai Gladys.
"Kelihatannya Anda sangat sedih Pak?" Seni mencoba memberanikan diri bertanya pada Janaka. Pasalnya besok atasannya itu akan bertolak ke teluk Ijo, dan jangan sampai ada masalah lain yang bisa mengganggu konsentrasi Janaka.
"Aku tak tahu mengapa aku memikirkan wanita itu!"
Seno tak mendengarkan keluh kesah dari Naka karena ia tengah sibuk mengamati ponsel yang sedari tadi talah berdering di dalam saku baju. Bagai mendapatkan sebuah kupon undian uang bermiliar-miliar atau bisa jadi mendapatkan sebuah puluhan keping logam mulia, Seno berteriak histeris sambil melihat foto wanita yang menjadi pemanggil di ponselnya.
"Bos ... keajaiban! Nona Gladys menelpon!" seru Seno membuyarkan semua lamunan Janaka saat ini juga.
__ADS_1
...****...