Crazy In Love

Crazy In Love
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Tepat pukul sebelas malam bel apartemen milik Gladys berbunyi dengan nyaring. Berkali-kali ia mencoba mengabaikan siapa tamu yang malam berani mengusiknya. Tapi si tamu juga tanpa ampun, berulangkali pula bunyi itu terdengar memekikkan telinga Gladys. Dari ambisi dan tipenya tanpa Gladys tengok ke Interkom wanita itu telah mampu menebaknya. Siapa lagi kalau bukan lelaki songong kesetanan yang telah ia abaikan seharian ini.


Dan guna menghindari keributan dengan tetangga di unit sebelahnya, mau tak mau Gladys harus keluar dan mengusir pria tak waras itu. Untung saja ia belum sempat memberikan id pass atau password hunian pribadinya itu pada Naka.


Tepat seperti apa yang Gladys pikirkan, masalah yang menghampirinya malam-malam seperti ini tak lain dan tak bukan ialah Janaka Matila. Namun, pemimpin BMD itu tak sendiri. Pria itu dipapah oleh asisten pribadinya menunggu Gladys membukakan pintu untuk mereka. Bahkan yang membuat Gladys tak bisa berkata apa-apa karena Janaka tengah tak sadarkan diri.


"Maaf menganggu waktu istirahat Anda, Bu!" jelas Seno karena Gladys menatap tajam ke arahnya seolah menginginkan jawaban atas apa yang kini wanita itu lihat di depan matanya.


"Lalu kenapa membawanya ke rumah saya? Kamu pikir apartemen saya ini penitipan orang?" Gladys tak mampu menutupi kemarahannya karena Seno dengan berani membawa Janaka yang tak sadarkan diri karena telah mabuk berat.


"Hanya Anda satu-satunya harapan saya Bu, tolonglah tampung bos kami!" pinta Seno dengan suara memohon pada Gladysnya Janaka agar bersedia membantu sang atasan.


Gladys jelas menolak permintaan Seno untuk membantu mengurusi pria keras hati itu. Dara manis itu juga enggan memasuki kehidupan Janaka lagi dan seterusnya. Tapi bila melihat wajah Seno yang tampak frustasi.


"Baiklah ... tapi hanya sampai dia sadar saja ya? Aku tak ingin ikut campur dalam kehidupannya lagi!"


Seno berjingkrak kegirangan dan segera membawa sang atasan masuk ke dalam apartemen kekasihnya. Meski Seno tahu keduanya sedang berselisih paham, tapi tak menyurutkan rasa syukur Seno karena Gladys bersedia menerima Pak Janakanya untuk bermalam di sini. "Ah pria seperti Pak Janaka, meski telah sadar pasti dia enggan meninggalkan rumah kekasihnya. Pasti dia punya seribu cara agar bisa terus tinggal di sini." batin Seno.


"Baiklah, saya tinggal dulu Bu! makasih banyak ya?"


Gladys hanya mampu cengo ketika menghadapi bos dan anak buahnya ini.


Kini di dalam apartemen milik Gladys hanya tertinggal ia dan Naka saja. Meski ini bukan malam keduanya bersama, tapi hati pemilik apartemen yang didatangi oleh Naka itu masih berdebar-debar bila mengingat kejadian malam sebelumnya. Saat itu bos BMD cukup berambisi untuk membelenggunya dan menariknya ke dalam kubangan asmara.


"Dalam keadaan sadar ataupun tidak kenapa kamu masih begitu menyebalkan Tuan!" ucap Gladys kesal pada pria yang telah dibaringkan oleh Seno di sofa ruang tamunya.

__ADS_1


Meski begitu, Gladys tak tega untuk membiarkan pria dewasa itu. Ia segera melepas sepatu pria tersebut. Tampaknya Janaka belum pulang sama sekali ke rumahnya. Semua itu tampak jelas dari kelengkapan pakaian kantornya. Setelan lengkap tanpa cela sedikitpun, mungkin ia baru saja mendapatkan masalah dan menyalurkannya dengan minuman keras.


"Jangan tinggalkan aku Ibu!" pinta Janaka dalam isaknya.


"Lelaki sialan ini tengah mengigau tak jelas, huh!"


Gladys cukup bisa bersabar menghadapi sosok pria penguasa itu. Meksi ia begitu membencinya, ia tak kuasa membiarkan Naka begitu saja. Itu terbukti dari Gladys bersedia menerima kedatangan Janaka Matila dengan senang hati.


"Jangan pergi! kumohon ... " pinta Naka lagi dengan menahan kepercayaan Gladysnya.


Pria itu masih terus saja meracau memanggil ibunya. Suara sendu itu menggetarkan hati Gladys, hati siapa yang tak teriris pilu mendengar tangisan pilu dari putra mahkota Sigit Brahmana yang terkenal sombong dan angkuh itu.


"Sebenernya apa yang sedang terjadi?" tanya Gladys dengan penuh perhatian serta mengusap lembut pipi pria yang tengah meringkuk di sofa ruang tamunya.


Sentuhan lembut dari tangan yang Janaka kenali mampu menyembuhkan luka di hati Naka malam ini. Pria yang tengah dirundung duka itu mengucap syukur karena Gladys masih bersedia peduli padanya.


"Kemana saja? Apa kamu juga ingin meninggalkan aku Honey?"


Janaka menggenggam erat tangan lembut Gladys saat wanita itu masih mengusap lembut pipinya. Dengan usapan tangan penuh cinta itulah yang membuat Janaka merasa ada secercah harapan dan ketentraman malam ini.


"Apa yang terjadi? Mengapa kamu seperti ini? Ini bukan Janaka Matila yang ku kenal!"


"Lihatlah Honey, inilah Janaka Matila yang sesungguhnya. Seorang pria malang yang telah dicampakkan oleh orang yang melahirkannya."


Sepuluh menit kemudian Janaka sudah cukup tenang karena berbaring di pangkuan Gladysnya. Iya, Gladys menurunkan egonya demi mendengarkan keluh kesah dan isak tangis bocah lelaki yang ternyata telah mendambakan cinta dari ibu kandungnya.

__ADS_1


Dan baru juga Gladys ketahui bahwa Nyonya Erika Gayatri bukanlah ibu kandung Janaka. Meski beliau sangat menyayangi Naka, dan sangat perhatian padanya namun tak bisa dipungkirinya bahwa jauh di dalam lubuk hati Naka tersimpan kerinduan pada ibu kandungnya.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku Hon, aku bisa lebih gila lagi bila kamu meninggalkan aku!" pinta Naka sedikit memohon. Bila pria itu memohon seperti ini, itu seperti bukan Janaka yang biasanya.


"Istirahatlah, ini sudah malam! aku akan berjaga untukmu." Gladys membelai lembut kepala sang pria yang tengah berlaku manja seperti ini.


Apa yang dilakukan oleh Gladys tak ubahnya seperti sosok wanita yang sangat ia harapkan untuk memperhatikan Janaka. Sosok wanita yang selalu ingin ia temui dan Naka katakan bahwa ia merindukan ibunya.


Barulah ketika Gladys menatap kedua manik yang telah terpejam milik Naka, Gladys berniat untuk mengubah posisinya. Ia ingin pergi mengambil sebuah selimut guna menutupi tubuh lelah yang kini masih berbaring di pahanya.


Namun, belum sempat Gladys memindahkan kelapa Naka ke bantal sofa, pria itu terlebih dahulu menangkap pergerakan sang wanita dan menariknya ke dalam pelukannya. Jujur saja, meski sedang tidur Naka masih bisa merasakan gerak-gerik wanita pujaannya.


"Jangan pergi, temani kau Hon!"


"Hei, aku akan mengambilkan selimut untukmu."


"Akan terasa hangat bila seperti ini!" Dan benar saja, seperti apa yang ada dipikiran Gladys bahwa Naka pasti akan melakukan hal ia sangat takutkan.


Janaka mengunci pergerakan Gladys dengan tak membiarkan wanita itu berani bergerak sedikitpun dari tubuhnya seraya mengancam, "Kalau kamu berani saja bergerak meski itu sedikit, aku pasti akan lepas kendali Hon!" bisik Naka mesra di telinga sang wanita.


...****...



Kunjungi cerita juru ketik yang ini. Karena karya ini sedang diikutkan lomba di Noveltoon atau Mangatoon.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2