Crazy In Love

Crazy In Love
Tak Tahan Ingin Segera Bertemu


__ADS_3

"Apa yang terjadi Pak? Apa perut Anda bermasalah?" tanya sang asisten kala Naka keluar dari tempat pertempuran solonya guna melepaskan belenggu yang terus-menerus menekan perasaannya.


Dengan wajah cukup lelah, Naka menyudahi kegiatan solo itu, kemudian beristirahat di tempat kerjanya. Sejak tadi Seno cukup berisik hingga membuat masalah ini semakin melilit. Gagalnya rapat pembahasan proyek membuat Naka sedikit kesal, namun bila menelisik sebab musababnya karena Gladys, Naka mengurungkan kekesalannya. Mana mungkin Janaka Matila akan melampiaskan emosi pada wanitanya.


Benda kenyal, padat serta bulat itu cukup mengganggu benak putra mahkota kerajaan BBG. Otak Naka benar-benar telah teracuni oleh ulah Gladys. Dan hal ini harus ia tutup rapat tanpa boleh ada satu orangpun tahu. Karena bisa bahaya bila seorang Janaka Matila kalah dari kemolekan tubuh sang calon nyonya.


"Pak Bos? Anda baik-baik saja?" kembali Seno membuyarkan lamunan menyebalkan Janaka.


"Its okay, buatkan aku minuman Sen!"


"Apa itu Pak?"


"Susu."


"Susu?" 'Baru kali ini bos minta dibuatkan susu, organ pencernaannya pasti bermasalah makanya perlu susu untuk menetralkan!' batin Seno.


"Maksud saya kopi Sen, kamu seperti nggak tahu apa yang kumau saja!" Otak Naka benar-benar korslet hingga tak bisa berpikir dengan jernih. Otak serta mulutnya sangat tidak sinkron.


Begitu Seno keluar dari ruang kerjanya, kembali Naka memikirkan bagian tubuh Gladys tadi yang terpampang di depannya. Bahkan kini tangannya mengepal seolah meraup bagian bulat nan padat itu.


"Sialan, aku tak bisa mengenyahkan benda itu meski sudah kusalurkan!" gerutu Naka mencoba menghilangkan pikiran kotor dalam benaknya. Berusaha mengalihkan konsentrasinya dari benda 36D yang sangat pas dengan ukuran telapak tangannya yang kekar.


Video panggilan tak kurang dari 10 menit itu sudah berhasil menunda rapat penting


Apalagi berdurasi seharian dan tepat di depan mata Naka, mungkin BBG akan diliburkan karena sang komisaris pasti tak akan membiarkan calon nyonya keluar dari genggamannya.


Sedikit demi sedikit pikiran ngeres itupun terbawa detik waktu. Meski belum hilang seluruhnya, tapi kini Naka cukup bisa menguasai kesadarannya kembali dan mulai menjalankan pekerjaannya seperti biasa.


Namun, lagi-lagi konsentrasi Naka kembali terusik oleh ulah calon Nyonyanya. Bila tadi Gladys menelepon dirinya, kini hanya sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Gladys untuknya.


✉️ : Sebentar lagi aku masuk gate, maaf baru ngabarin. Tapi thanks ya Pak sudah dibayarin 😝


"Tanpa rasa bersalah dia bilang baru ngabarin? Pakai emoticon ngejek lagi! dia sudah memporak-porandakan ruang rapat!" gerutu Naka membaca pesan singkat dari sang kekasih.


Belum sempat Naka membalasnya, dalam akun sosial media Gladys terlihat sedang typing. "Wanita itu semangat sekali menggoda suaminya yang sedang cari nafkah?" rasa kesal itu kini berubah menjadi rasa gemas, dan ingin sekali tersalurkan dengan bertemu si calon nyonya.


✉️ : Cepat pulang, aku akan menghukum kamu! balas Janaka untuk pesan Gladys.


Memang benar, Naka sudah tak sabar lagi ingin segera memberi pelajaran untuk sang calon nyonya dan juga mendisiplinkan kebiasaan buruknya.


Gladys typing


Naka penasaran apa yang akan ditulis si calon nyonya, jika Gladys berani mengejeknya lagi. Ia tak segan-segan untuk menahan wanita itu sebelum keluar dari Soekarno-Hatta nanti.

__ADS_1


✉️ : 🤣


Gladys tak menjawab apa pun. Sebelum ia menonaktifkan ponselnya, ia terlebih dahulu sempat mengirim emoticon tertawa lepas mengejek Janaka.


"Sial!" seru Naka seakan menahan tawa karena ulah sang pemilik hati. Tepat saat itu juga, Seno datang membawakan secangkir kopi yang biasa diminum bosnya. Karena melihat raut wajah atasannya yang lain tak seperti biasanya, Seno benar-benar penasaran.


"Kamu ada waktu Seno?" Tiba-tiba Naka spontan bertanya padanya.


"Selalu ready Pak, Anda perlu apa?"


"Jemput calon nyonya! seret dia begitu menginjakkan kaki di Bandara, bawa ia menemui aku!"


Seno : ???


Hening ... sikap bos Seno hari ini sungguh tak biasa. Sebagai orang kepercayaan Janaka, Seno tak pernah sekalipun melihat Naka sepanik tadi di ruang rapat. Apalagi ini, dengan anarkis memintanya membawa Gladys ke hadapannya.Tak berani bertanya lebih dalam lagi, Seno hanya bisa berkata ia dan tak ingin sifat ingin tahunya bisa mencelakai posisi strategis miliknya.


"Seno ... !"


"Iya bos?"


"Ah sudahlah! malas aku bahas ini sama kamu, pasti kamu akan menertawakan aku."


"Ada masalah apa bos? Mana mungkin saya berani menertawakan Anda? Bisa terancam nyawa saya?"


"Ya sudah kalau Anda tak bersedia!"


"Menurut kamu, apa artinya bila wanita menggodamu dengan cara berpakaian seksi?" Janaka tak abis pikir, bagaimana bisa ia membagi masalah ini dengan Seno yang notabenenya berumur jauh di bawah dirinya. Dengan kata lain, Seno belum sedewasa dirinya.


"Berarti wanita itu ingin segera disentuh Bos! Apa Bu Gladys menggoda Anda?"


Janaka hanya mengangguk guna membalas pertanyaan dari rasa ingin tahu Seno. Entah ini benar atau salah? Setidaknya ia tak menanggung beban ini seorang diri.


"Jangan katakan waktu rapat tadi Bos? Karena nggak tahan h-o-r-n-y, bapak buru-buru ke kamar mandi?" Sebenarnya ini cukup lucu bagi Seno. Karena Janaka bisa memiliki sisi yang bisa dikalahkan oleh sang calon nyonya muda. Tapi juga ia tak menampik rasa kasihan pada atasannya, bagaimanapun untuk menghilangkan rasa seperti itu cukup menyakitkan. Sebagai seorang lelaki, Seno pasti tahu bagaimana rasanya. Wanita tak peduli pada kaum Adam seperti mereka.


"Kalau kamu, apa yang biasanya kamu lalukan?" tanya Janaka meminta saran dari Seno untuknya.


"Solo karir Bos! mau bagaimana lagi? Saya belum menikah."


Jawaban dari Seno cukup mewakili para kaum menyedihkan seperti keduanya yang tak mampu berbuat apa-apa karena masih adanya tabir norma dan hukum. Sebagai lelaki dewasa seperti mereka, sangat mudah untuk melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh suami istri, tapi mereka juga memikirkan perasaan para kaum perempuan. Jadi metode yang paling tepat hanya memadamkan api lewat gaya solo saja.


"Anda ingin saya bawa ke mana Bu Gladys pak? Rumah? Kantor? Atau hotel?"


"Sialan kamu pikir aku mesum kaya kamu Seno?"

__ADS_1


...****...


Si seulement je savais comment faire


Pour enfin vous revoir


Je demanderais à tout l'univers d'aller vous chercher


De vous ramener à moi


Si seulement vous étiez à ma place


Pour ressentir ce que je ressens


Si seulement il y avait un endroit


Pour contenir tout l'amour que j'ai pour vous


L'univers ne suffirait pas


Tant vous me manquez


Kalau saja saya tahu bagaimana melakukannya


Akhirnya ketemu lagi


Aku akan meminta seluruh alam semesta untuk menjemputmu


Untuk membawamu kembali padaku


Andai saja kau ada di tempatku


Untuk merasakan apa yang aku rasakan


Andai saja ada tempat


Untuk menampung semua cinta yang kumiliki untukmu


Alam semesta tidak akan cukup


aku sangat merindukanmu


__ADS_1


__ADS_2