
Pahitnya kekecewaan harus Janaka Matila telan bulat-bulat lagi malam ini. Pasalnya rencana dan gairah dari l-i-b-i-d-o yang ia rasakan harus pupus sudah mana kala ia mendapati sang wanita tengah pulas dalam buaian mimpi indahnya. Iya Gladys Hartono yang ia tinggal mengangkat telepon penting dari Mike telah meninggal dirinya lengkap dengan bara asmara yang masih berkobar dan perlu dipadamkan.
"S**ith, kalau saja telepon sialan itu tak datang tiba-tiba pasti saat ini aku telah menyelami dirinya!" keluh Naka lengkap dengan segala pikiran yang bergelayut manja di benaknya.
Melihat sang wanita tengah tidur dengan nyenyak, ia pun tak tega untuk membangunnya lagi. Alhasil, salah satu cara yang sering ia pakailah yang menjadi jalan keluarnya malam ini. Pria gagah itu kembali ke kamar mandi dan berendam guna mengenyahkan bara api yang belum padam dalam tubuhnya. Selain berendam, Naka juga akan melakukan kegiatan sialan yang selalu ia lakukan karena ulah Gladys.
Baru setelah lima belas menit kemudian, pria yang tampak tak puas itu keluar dari kamar mandi gadisnya. Apartemen bertipe studio dengan 1 BR itu menjadi saksi di mana seorang Tuan muda tengah menahan hasratnya. Naka pun berjalan dan duduk menghadap teh yang sempat dibuatkan oleh sang wanita. Mungkin dengan meminum teh hangat itu mampu menghilangkan rasa yang berkecamuk di dadanya. Selain meminum tehnya, Naka juga mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya.
Mata pria gagah itu tiba-tiba menatap nanar di hadapannya. Ingatan lamanya kembali muncul ketika seorang wanita meninggalkan dirinya. Wanita itu lebih memilih pergi dengan meninggalkan ia dan sang ayah dengan begitu saja. Janaka Matila kecil hanyalah seorang bocah lelaki yang telah kehilangan separuh jiwanya. Dan kini masa lalu itu sepertinya ingin kembali menyapanya.
"Kembali ke Indonesia? Dia pikir dia siapa? Indonesia ada di bawah kendaliku!" ucapnya geram sambil mengesap teh buatan Gladysnya.
Naka lalu melirik jam di ponselnya, "Sudah hampir pagi!" Pria dingin itu lalu pergi menyusul sang wanita di dalam kamarnya lalu berusaha merebahkan tubuh letihnya akibat bersolo karir tadi. Setidaknya dengan bersama Gladysnya, ia mampu mendapatkan ketenangan batin dan raganya.
"Jangan tinggalkan aku lagi! aku takut kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya," ucap Naka sambil mengelus lembut pipi Gladys dan mencium keningnya.
Wanita itu hanya menggeliat tanda ia bereaksi dari perlakuan Janaka. Melihat ekspresi tidur Gladys yang unik dan lucu, mampu mengobati luka di masa lalu Naka. Lelaki kesepian itu lalu menarik tubuh sang kekasih kemudian memeluknya dengan erat. Ia berjanji tak 'kan membuat Gladys menderita. "Aku bersumpah akan membahagiakan kamu Honey!"
***
Tepat pada pukul setengah sembilan pagi ponsel Gladys berbunyi seperti yang ia inginkan. Ponsel itu telah disetel dengan alarm seperti yang ia kehendaki. Namun, ada sesuatu yang begitu mendesak dadanya pagi ini. Meski kesadarannya belum sepenuhnya ada, Gladys merasa ada sebuah lengan yang melingkar pada tubuhnya.
Gladys lalu membuka kedua maniknya, dan mendapati seorang pria yang semalam bersamanya tengah tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Meski semalam ia berhasil menghindar dari terkaman serigala berbulu domba ini. Mumpung pria itu masih tidur dengan pulas, dara cantik itu berencana bangun dengan pelan-pelan agar tak membangunkan singa yang lapar itu.
"Mau ke mana? Jangan lari dari pesonaku!"
"Lari? Aku mau mandi karena mau menemui orang penting!"
"Orang penting? Apa aku tak penting buatmu Baby? Aku bahkan telah mengosongkan jadwalku pagi ini demi kita!"
Gladys menepuk jidatnya karena Naka dengan seenaknya berlaku seperti itu. Dia kira mengosongkan jadwal seperti nyari cabe-cabean di Blok M. Dengan mudahnya ia mengcancel semua jadwal.
"Apa kamu tidak memikirkan berapa orang yang harus rela gagal bertemu denganmu? Bila ada hal penting bagaimana?" Gladys lalu duduk di kasurnya dan mulai meneriaki Janaka seperti ibu-ibu yang memarahi anak lelakinya.
"Tak ada yang lebih penting daripada bersenang-senang dengan istri!" sahut Naka singkat lengkap dengan sikap narsisnya.
"Honey, apa orang itu lebih penting daripada aku?" Sikap kekanak-kanakan Naka kembali timbul di depan Gladysnya. Dan sikap sok imutnya itu membuat Gladys benci karena ia seperti anak kecil.
"Kamu juga penting, beliau juga penting! karena kalian berhubungan dengan masa depanku!" ucap Gladys penuh dengan penekanan lalu memberikan hadiah pada Naka sebuah kecupan pagi di pipi kanannya.
"Tapi janji ya, selalu berikan kabar padaku meski kita sama-sama sibuk."
Dan bujukan dari Gladysnya berhasil merubah keputusan Naka untuk terus bermalas-malasan di atas tempat tidur. Sebagai lelaki dan juga calon kepala keluarga, sudah seharusnya Naka bekerja guna mencari nafkah yang akan digunakan untuk menghidupi Gladys dan anaknya kelak.
"Baiklah." jawab Gladys lalu beranjak bangun dan mulai bersiap serta membuat sarapan cepat saji untuk ia dan tamu tak diundangnya.
__ADS_1
...****...
"Woh, pukul sepuluh? Apa Anda sedang tak enak badan Pak?" tanya Seno selaku asistennya Naka. Pria muda itu baru pertama kali ini melihat Naka sampai ijin masuk siang dan meminta ketiga sekretarisnya untuk membatalkan setiap urusan pagi tadi.
"Tidak, tidurku cukup nyenyak di apartemen Gladys!" sahut Naka ketika keduanya yakni ia dan Seno saat masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai 12.
"Kalian sudah sejauh itu Bos? Segeralah menikah sebelum bos kecil hadir di dunia ini!" Ucapan dari Seno ini semakin membuat Naka bersemangat untuk terus menggempur sang wanita. Tak ada salahnya bila ia menciptakan dua atau tiga makhluk kecil penerusnya kelak. 'Bukankah Gladys juga sudah cukup umur untuk hamil dan menjadi seorang ibu?' batin Naka.
"Hahaha .. kau yang akan menjadi pengasuhnya!" celetuk Naka menggoda Seno.
Bila Naka tengah memikirkan rencana indah untuk kelanjutan hubungannya dengan Gladys. Lain lagi dengan Gladys, wanita Janaka itu kini sedang duduk dalam sebuah restoran yang telah ia jadwalkan untuk bertemu dengan mantan dosennya selama kuliah dulu.
"Hi Gladys ... long time no see!" sapa seorang wanita yang baru saja tiba di salah satu restoran sushi di bilangan Gandaria ini.
Kedua mata Gladys berbinar, seakan ini adalah mimpi. Baginya untuk bertemu seorang Hana Darmanto sang interior designer sangat lah mustahil. Apalagi kesibukannya dengan sebuah studio design miliknya cukup menyita waktu sang ahli gambar itu untuk sekadar bertegur sapa dengan mantan mahasiswinya dulu.
"How are you Mom? I little miss you."
"Anak nakal, kamu sedikit merindukan aku karena sibuk pacaran ya?" tanya Hana dengan bahasa Indonesia karena ia memang asli Indonesia dan lebih memilih melepaskan kewarganegaraannya beberapa tahun terakhir dan lebih memilih tinggal di Leiden untuk membesarkan studio miliknya.
...****...
__ADS_1