
Menjadi istri pengusaha sekaligus pemimpin sebuah perusahaan besar seperti BBG, membuat semua keinginan Gladys yang ia katakan maupun yang terlintas di benaknya akan dipenuhi oleh sang suami.
Buktinya? Saat ini juga driver membawa pasangan suami istri itu menuju arah yang bukan jalan pulang ke kediaman mereka.
"Mau ke mana Yank? Apa kamu masih ada schedule lagi?" telisik Gladys kala driver pribadi mereka tak membawanya pulang ke rumah.
"He? Schedule-nya menyenangkan hati istri!"
"Aduh Yank! stop joking to me! aku kesal sekali ingin segera pulang,"
"Loh tadi bilangnya pengen makan nasi Padang? Ini udah mau ke HPK, Hon!"
Gladys sangat menyesali perbuatannya, pasalnya ketika ia mengatakan ingin makan masakan Padang tadi hanya sebuah luapan dari rasa kesal yang ia alami saja. Bukan semata-mata niat yang keluar dari lubuk hatinya.
"Yank, listen to me! nggak semua yang aku mau itu benar-benar kumau! aduuh gimana ya jelasinnya?" Gladys semakin belibet sendiri karena semua itu murni bukan dari lubuk hatinya. Entah apa yang membuat wanita cantik itu kini tak memiliki keinginan yang menggebu-gebu lagi perihal masakan Padang.
"Aduh Hon, aku nggak ngerti nih kamu bilang apaan?"
Pun sama halnya dengan Seno yang sejak tadi duduk di depan pasutri aneh yang sedang berselisih paham itu. Baru kali ini juga Seno menyaksikan sepasang suami istri yang lain dari yang lain.
"Jadi Anda ingin kita ke Padang nggak Pak? Atau ke kota lain? Mumpung ada armada di Halim nih!" jelas Seno make sure pada bosnya. Pria lajang itu tak ingin menjadi bulan-bulanan sang atasan bila tak menuruti perintahnya.
__ADS_1
"Yank, tahukah kamu berapa kalori di dalam rendang? Gulai kepala ikan? Dendeng Padang? Kamu mau aku gendut agar bisa mendekati model itu?" Dengan wajah sinis, Gladys menyesal telah mengatakan hal menjadi keinginannya tadi.
"Kok jadi bahas gosip sih Hon? Sejak kapan aku mengatakan pernah dekat dengan salah satu model? Coba saja tanya Seno yang telah bekerja bersamaku sejak lama!"
Namun, Gladys membuang wajahnya ke arah jendela karena sejak tadi sore emosinya dibuat naik turun. Berhubung ia belum melampiaskan kekesalannya, emosi itu akan terus berlanjut.
Sedangkan Janaka, suami dari Gladys itu begitu bingung harus mengahadapi emosi Gladysnya. Hingga ia harus berkoalisi dengan sang asisten lewat pesan agar Gladys tak bisa mendengar percakapan kedua lelaki itu.
"Biasanya wanita akan seperti itu bila sedang datang bulan Bos! PMS kali nyonya?" tulis Seno dalam pesan yang ia kirim pada Janaka.
"Benar juga apa yang kamu katakan!" balas Naka dengan mengumpat dalam hatinya karena misinya untuk terus bergerilya setiap malam akan gagal malam ini.
Hingga tiba di kediamannya, Gladys masih menunjukkan wajah murungnya. Wanita itu tak mengatakan sepatah katapun pada sang suami dan memilih untuk mengurung diri di dalam kamar.
Sebenarnya bukan lantaran merajuk atau semacamnya hingga membuat Gladys enggan keluar dari kamar. Wanita yang kini didaulat menjadi ketua yayasan amal tersebut sedang menyusun sebuah rencana kerja yang akan ia terapkan selama menjabat sebagai nyonya Brahmana yang baru. Bukan Gladys namanya bila ia akan berpangku tangan dalam masa kerjanya. Gladys tak ingin menjadi ketua yang tak bisa melakukan apa-apa.
Sedangkan Janaka? Di sebuah ruangan terpisah, pria itu mengamati rekaman kerumunan wartawan yang dikirimkan oleh para anak buah yang ia tugaskan mengawal Gladys. Menurut Janaka kedatangan wartawan ke kantor Brahmana Foundation bukan hal yang kebetulan, dari kelengkapan serta banyaknya jurnalis, sudah bisa dipastikan bahwa semua itu telah direncanakan.
Kini yang menjadi buah pikirnya adalah siapa dalang yang merancang semua ini. Tentu saja masalah ini ada kaitannya dengan orang terdekat mereka. Siapa lagi yang bisa mengetahui jadwal Gladys bila bukan orang terdekat. Bahkan kejadian yang menimpa Gladysnya kali ini secara tidak sengaja ditujukan untuk mempermalukan keluarga kecilnya.
"Untung saja itu Gladys! wanita itu bisa tenang dan tak termakan emosi, bila Aruni pasti akan lebih parah dari ini." Naka memijit pelipisnya karena hingga detik ini masih belum bisa menemukan siapa aktor di balik masalah sore ini. Hanya saja, kini suami Gladys itu harus menambah lebih banyak lagi personil untuk menjaga keamanan Gladys bila berada jauh darinya.
__ADS_1
Selain memikirkan kejadian sore itu, Janaka juga merasa Gladys telah mendiamkan dirinya. Pasalnya sejak pulang hingga makan malam ini Gladysnya belum menampakkan batang hidungnya. Wanita itu lebih memilih berdiam diri dan mengunci kamar mereka dari dalam.
Dan untuk mengisi waktu luangnya karena dicuekin Gladys, Naka membuka kembali file-file yang berisi laporan bulanan perusahaan yang baru saja ia pimpin hari ini. Selain mempelajari file tersebut, Janaka juga harus bisa mengambil langkah yang tepat dan efektif untuk kemajuan BBG ke depannya.
Selain memikirkan masalah BBG, Janaka juga tak bisa mengindahkan BME dan Juga BMD kedua perusahaan itu kini berada di bawah kendalinya juga. Apalagi beberapa saat yang lalu Seno mengabarkan bahwa ketersediaan batubara mereka lebih sedikit dari pada permintaan pasar. Karena kini, beberapa perusahaan baik itu dalam maupun luar negeri menginginkan emas hitam mereka sebagi sumber energi. Seperti perusahaan listrik swasta yang akhir-akhir ini menjadi pelanggan setia BME.
Mau tak mau, semua masalah ini harus Naka selesaikan. Suami Gladys itu tak bisa membiarkan BBG serta anak perusahaannya begitu saja. Itu semua telah menjadi resiko yang didapat saat ia bersedia menjadi pemimpin BBG yang baru.
Ketika Janaka sedang memutar otaknya, sebuah ketukan dari balik pintu ruang kerjanya menyadarkan pria itu sejenak. Tampak sang istri yang baru saja mandi tengah masuk ke dalam tempat semedi Janaka.
Gladys beru saja mandi, analisis Naka bukan semata-mata hanya tebakan saja. Karena Gladys masih mengenakan jubah mandinya dan tak sempat mengeringkan mahkota indahnya demi menemuinya. Pria itu sudah pasti sangat senang seperti kejatuhan durian.
"Hon, kamu udah nggak marah? Jadi sekarang merindukan aku?" goda Janaka kala melihat Gladys langsung duduk di depannya.
"Ih apaan sih? Aku perlu saran dari kamu Yank! coba deh liat proposal yang kubuat!" tanpa memedulikan isi pikiran Janaka, Gladys menyerahkan sebuah Pad dari tangannya dan menunjukkan rencana kerjanya pada sang suami.
Bagaimanapun juga bila menelisik dari sisi pekerjaan, Janaka tentu saja menjadi seniornya Gladys. Suaminya itu telah lama berkecimpung di dunia bisnis. Oleh karena itu, Gladys tak sungkan lagi untuk sekadar meminta perbandingan ataupun nasehat untuk kemajuan ilmunya.
"Kirain minta ditiduri Hon, udah semangat banget nih padahal!"
Bukan salah Janaka bila suami Gladys itu mengira istri tercintanya sedang menarik perhatian untuk mengajak Naka memadu kasih. Pria dewasa mana yang tak berpikir lebih bila melihat wanita cantik berbalut handuk seperti Gladys. Apalagi, kerah handuk mandi yang berbentuk V itu sedikit turun ke bawah. Mungkin hanya satu kali sentakan pada tali handuk itu, Naka bila menanggalkan semua pertahanan Gladys.
__ADS_1
...****...