Crazy In Love

Crazy In Love
When you Tell Me that You Love Me


__ADS_3

Benar saja tak perlu menunggu lama setelah Janaka menutup panggilan telepon untuk wanita pujaannya, segerombolan pegawai yang mengatasnamakan diri mereka dari sebuah restoran super mewah di daerah jalan dr Soetomo mendatangi kediaman Andung Hartono. Tahu seperti apa makanan favorit Gladys, Janaka sengaja mengirim resto bernuansa western karena wanita pujaannya menyukai makanan barat seperti steak atau masakan western lainnya.


La Rucola dipilih oleh Janaka karena rekomendasi langsung dari beberapa manager restoran yang ia kumpulkan dan tanyai satu persatu. Risotto dan steak dari La Rucola adalah terbaik dari resto lainnya. Tempat makan yang banyak dikunjungi oleh crazy rich


Surabayan ini juga menyediakan pasta yang tak kalah enak dari resto lainnya.


Mengusung tema romantic dinner para karyawan La Rucola menyiapkan makan malam penuh cinta tepat di depan rumah orang tua Gladys. Tentu saja rencana dadakan Janaka itu cukup membuat Andung serta Mira melongo. Pasalnya keduanya tak pernah sekalipun memesan sebuah hajat dinner pada malam ini.


Begitu pegawai La Rucola menyebutkan nama Janaka Matila, Mira Khoirudin sang mama dari Gladys langsung bisa menebak bahwa sang putri lah yang merencanakan ini semua bersama pria pujaannya. Oleh karena itu, mama Gladys langsung memanggil sang putri agar bersiap sebab rencana mengejutkan untuk mama dan papanya berhasil.


Mira menyuruh sang putri yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur agar segera turun. Karena tak ada jawaban, mama Gladys berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar putrinya. Istri dari Andung Hartono ini masih yang bisa mengartikan perbuatannya Gladys kala melihat putri bungsunya masih bermalas-malasan di atas ranjang dengan piyama lengkap.


"Dek, kamu merencanakan makan malam dengan pacar kamu?" tanya Mira Khoirudin pada sang putri.


"Enggak Mam, pacar mana?"


"Benarkah? Di halaman ada rombongan pegawai dari restoran Italia. Mereka bilang telah dibooking oleh Janaka! bahkan ada pemain Saxophone juga.


"Mama serius?" tanya Gladys dengan kedua bola mata membulat ingin mencuat karena tak percaya bila Janaka melakukan seperti yang pria itu janjikan padanya.


"Benar Dek, ayo ikut Mama kalau nggak percaya!" Mama Mira menarik tangan sang putri yang masih mengenakan piyama lengkap pertanda perang dengan alam mimpi ini agar keluar dari kamarnya dan menuju halaman rumah yang telah disulap indah seperti candle light dinner.


"Pria itu benar-benar melakukannya!"


Gladys masih tak percaya di halaman rumah orang tuanya telah dihiasi oleh perlengkapan makam malam mewah lengkap dengan dekorasi yang mempercantik suasana. Seumur-umur hidupnya baru kali ini ada pria tak waras yang bersedia melakukan hal nggak penting seperti ini.


"Pacar Gladys?" tebak sang papa ketika melihat anak gadis yang masih single menatap sekeliling halaman rumahnya.


"Papa ih kadhos mboten nate enom mawon!" (Papa kaya nggak pernah muda aja) goda Mira dengan logat Jawa halus asli Jogjanya.


"Lalu di mana pacar Adys?" tanya Andung kembali pada sang putri.


"Dia masih di Banyuwangi Pap, dia bilang ada proyek di sana! Kadang Adys kasihan, dia telah bekerja dengan keras tapi atasannya masih membebani dirinya."


Hingga detik ini, Gladys masih belum mengetahui bahwa Janaka adalah pemilik dari BMD yang sesungguhnya. Wanita cantik itu hanya tahu bila Naka bekerja di perusahaan Brahmana Mega Development saja. Untuk lebih jelasnya Gladys tak pernah menanyakan hal pribadi pada Janaka sendiri. Lagi pula keduanya baru dekat, dan nama Janaka Matila juga baru ia tahu dari mulut lelaki itu sendiri.


"Dia tak di sini, lalu untuk apa kalian menyiapkan ini semua Dys?" tegur sang mama.


Ketika tiga orang orang tua dan anak itu sedang berdiskusi, salah satu di antara karyawan restoran itu menginformasikan bahwa mereka telah ready dan segera mempersilakan mereka bersiap karena sebentar lagi Pak Janaka Matila akan segera sampai.


"Pacar Adys hebat banget!" puji sang mama menepuk pundak putri bungsunya karena bangga ada pria dengan jiwa dan raga yang sehat mau menerima anak gadisnya bahkan dibuatkan surprise seperti ini.


I wanna call the stars down from the sky


I wanna live a day that never dies

__ADS_1


I wanna change the world only for you


All the impossible I wanna do


I wanna hold you close under the rain


I wanna kiss your smile and feel the pain


I know what's beautiful looking at you


In a world of lies you are the truth


And baby, everytime you touch me


I become a hero


I'll make you safe, no matter where you are


And bring you everything you ask for


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark


When you tell me that you love me


Show you the loneliness and what it does


You walked into my life to stop my tears


Everything's easy now I have you here


Alunan suara Saxophone yang dimainkan dengan membawakan lagu lawas dari penyanyi senior Diana Ross mengiringi kedatangan pria gagah dan menawan memasuki kediaman Andung Hartono. Lagu lawas itu memiliki arti yang cukup mendalam, dan dari lagu itu pun Naka ingin mengungkapkan seperti apa isi hatinya saat ini.


And baby, everytime you touch me


I become a hero


I'll make you safe, no matter where you are


And bring you, everything you ask for


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark

__ADS_1


When you tell me that you love me


In a world without you, I would always hunger


All I need is your love to make me stronger


And baby, everytime you touch me


I become a hero


I'll make you safe, no matter where you are


And bring you, everything you ask for


Nothing is above me


I'm shining like a candle in the dark


When you tell me that you love me


You love me


When you tell me that you love me


Janaka ingin mengabulkan apa pun keinginan Gladys meski itu mustahil sekalipun. Pria itu berjanji akan melindungi wanitanya seperti super hero dan selalu berada di samping Gladys apa pun yang terjadi.


Namun, berhadapan langsung dengan orang tua Gladys membuat Naka sedikit nervous. Pertemuan kali pertama ini tak feel-nya tak sebanding dengan pertemuan dengan rival bisnisnya ataupun meeting dengan beberapa investornya. Bahkan seorang Janaka Matila sempat menyeka sedikit keringat yang membasahi keningnya.


"Bukankah kamu sibuk?" tegur Gladys pada pria yang berpakaian rapi seperti biasanya. Bila dilihat dari penampilannya yang cukup formal dengan mengenakan stelan tuxedo


hitam dengan furing abu-abu sebagai pemanis penampilannya, Gladys menyangaka bila Janaka telah merencanakan ini sebelumnya.


"Meski aku sibuk, aku akan meninggalkan pekerjaanku demi kamu!"


Tentu saja kalimat mengejutkan dari Naka itu cukup mampu membuat kedua pipi Gladys bersemu merah muda. Ia tak menyangka bila Janaka akan menggoda hingga seperti ini. 'Dasar pria tak waras!' keluh Gladys dalam hatinya.


Janaka menetralkan perasaan gugupnya dan mengikuti langkah kaki sang wanita yang menuntun untuk segera bertemu dengan calon kedua orang tuanya.


"Selamat malam!" sapa Naka dengan sangat sopan agar memberi kesan yang baik di depan kedua calon orang tuanya. Tak lupa pria matang itu juga mengulurkan tangan kanannya untuk segera menjabat orang tua Gladys.


"Janaka Matila? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu!" Papa Gladys menerima uluran tangan Naka.


"Mama yang menyebutkan tadi Pap! malam juga Nak Naka, kita bertemu lagi bukan?"


...****...

__ADS_1




__ADS_2