
Bila dilihat dari senyum menawan pria yang sejak tadi berjalan tergesa menuju tempatnya pulang, pasti bisa ditebak bahwa dialah pemenangan kompetisi basket antara dua menantu keluarga Hartono. Benar sekali, dengan kemenangan tipis akhirnya Naka mampu membungkam mulut serta pergerakan Zack si calon kakak iparnya. Sebagai gantinya, Naka menawarkan sebuah kesepakatan bisnis untuk teman dekatnya itu. Janaka Matila mengijinkan Zack mendekati sumber uangnya, sebagai gantinya komplek pusat olahraga yang Zack rencanakan akan menjadi pelengkap perumahan elit yang akan direalisasikan oleh Naka. Tentunya Zack akan mendapatkan harga sahabat untuk tanah yang akan dibangun kompleks pusat olahraga tersebut.
Sebagai ucapan selamat datang di keluarga Hartono, Zack juga tak menolak kebaikan dari sang sahabat. Meski ia kalah dan harus berinvestasi pada proyek tersebut Naka tersebut, Zack tak keberatan! pasalnya Naka juga akan menjadi salah satu bagian penting keluarga sang istri.
Dari kehangatan keluarga inilah Naka akhirnya bisa merasakan kedekatan yang tak sama dari keluarga Brahmana. Ia tak menampik, papa serta mamanya kini telah menganggap dirinya putra mereka sendiri. Tak lupa ia juga telah membuka beberapa pesan dari pusat kerinduannya, apalagi Gladysnya juga sempat bertanya kabar Naka melalui sang papa Andung Hartono. Oleh karena itu Naka tak segan-segan untuk segera berlari menuju pusat cintanya malam ini juga.
"Apa kamu nggak capek Naka? Istirahat lah di sini malam ini!" bujuk pria tua dengan guratan lembut pertama usianya tak muda lagi.
"Naka malah nggak bisa tidur bila jauh darinya."
"Alah! bilang aja elu mau kelon!" bisik Zack pelan di samping Janaka agar tak terdengar sang mertuanya. Ia tak ingin kesenangan sang sahabat berakhir hanya karena mulut besarnya.
"Kamu sendiri nggak pulang Zack? Grace pasti menunggumu." Zack bahkan lupa bila ia telah lama meninggalkan rumah sejak siang tadi. Apalagi ia tak meminta ijin bila terjadi lembur, alamat Zack tak bisa masuk ke dalam rumah mereka.
"Elu tahu betapa mengerikan makhluk yang bernama wanita? Ia bisa menghancurkan hidup lu!" ejek Zack sebelum ia pergi dan pamit meninggalkan kediaman sang mertua.
"Gue tahu, rapat penting aja bisa kocar-kacir karena wanita," ungkap Naka mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Hanya karena ulah nakal Gladys, Naka sampai menghentikan rapat pentingnya.
Zack dan Naka lalu pamit pada papa dari wanita yang telah mengobrak-abrik hidup mereka. Nggak Gladys, tidak juga Grace sama saja. Hanya saja perangai mereka yang tak sama. Tapi, bila untuk urusan mengalah pada lelaki jangan mimpi! Baik Grace dan Gladys ogah bertekuk lutut pada para prianya.
**
Tubuh Gladys menggelinjang karena sebuah tangan kekar penuh ambisi menariknya malam ini. Karena terpengaruh mimpinya, Gladys enggan untuk membuka kedua maniknya. Barulah ketika sebuah pelukan erat membawanya mendekat ke dalam dekapan pria yang tepat, ia mulai menggerakkan kedua kelopak matanya.
"Udah pulang? Katanya besok?" tanya Gladysnya dengan suara masih setengah sadar atas kehadiran pria yang telah mengusik hidupnya.
"Hmmm ... suami mana yang tahan bila istrinya mengatakan rindu padanya?" Seperti itulah Naka, bukan hanya mulutnya saja yang menggombal. Tapi, tangan serta bibirnya juga tak bisa lepas dari tubuh sang wanita.
"Darimana kamu tahu password rumahku Yank?" Gladys juga tak menjauhkan tubuhnya dari Naka, karena ia memang masih mengantuk dan tak memiliki tenaga untuk bergerak lagi.
"Aku telah merusak sistem keamanan rumahmu Hon, dan saat ini mereka telah memperbaiki sesuai perintahku! lagian kamu sih pelit amat bagi sandi pintu apartemen kamu Yank."
"Aku ngantuk sekali Naka, baru saja aku pulang dari tempat menginap Mama."
__ADS_1
"Tidurlah Hon, malam ini kamu aku lepaskan! jangan harap besok pagi ada dispensasi."
'Jangan mimpi!' Gladys ngedumel di dalam hatinya. Ia lalu melanjutkan tidur indahnya karena malas meladeni pria tak waras seperti Naka.
**
Siapa yang bisa lolos dari jerat pesona Janaka Matila? Pria kaya raya yang memiliki banyak aset di mana-mana. Mungkin setiap wanita akan berlomba-lomba mendapatkan perhatian darinya. Namun berbeda dengan Gladys Hartono, wanita itu semakin tak tenang hidupnya setelah ada pria yang dengan terang-terangan menerobos masuk ke dalam kehidupannya.
Pagi wanita itu sudah di penuhi berbagai sumpah serapah yang terucap dari mulutnya karena melihat sebuah koper besar dan beberapa barang yang diduga milik pria yang masih tertidur dengan pulas itu. Iya karena rasa was-was, Gladys bangun lebih awal dari biasanya. Apalagi setelah ia mendapatkan ancaman dari pria yang semalam baru saja merusak sistem keamanan apartemen miliknya. Hati Gladys diliputi berbagai kekalutan karena takut Naka akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Dasar sinting!" keluh Gladys lalu berjalan dengan seribu langkah menjauhi kamarnya.
Gladys lalu meninggalkan peraduannya dan memulai aktivitas seperti biasanya. Namun, belum sempat langkahnya lebih jauh meninggalkan Naka yang masih terlelap, dering ponsel milik pria itu menghentikan langkah kalinya. Mau tak mau, Gladys harus mematikan panggilan itu agar tak mengganggu istirahat Naka. Bukan karena ia penuh perhatian, tapi bila pria itu bangun urusannya akan lebih panjang dan mengerikan.
Nama Seno pagi buta seperti ini telah menghubungi atasannya. Karena tak tega mengabaikan panggilan dari orang kepercayaan Naka, akhirnya Gladys dengan berat hati menggeser tombol hijau ke atas.
"Pagi Pak Naka, bisakah hari ini saya cuti? Luka ini perlu penanganan intensif!" kata Seno dengan nada suara ramah seperti biasanya.
"Dia masih tidur Pak Seno, maksud saya Janaka! nanti saya sampaikan padanya."
"Hah? Istirahatlah dengan cukup, get well Seno!"
'Ah pantas saja bos Naka keranjingan nginep di tempat beliau, lha pagi gini masih teler setelah bertempur!' pikir Seno karena ia mengira Naka kelelahan dari olahraga malamnya bersama kakak ipar dan ditambah lagi pulangnya dengan Gladys.
"Hon, kamu di mana?" keluh Naka karena tak mendapati Gladys di samping dirinya.
"Wanita itu sengaja menggodaku dengan mengajak kucing-kucingan! dia pikir mudah menangani kucing garong seperti ini?"
Naka berjalan keluar dari kamar apartemen minimalis yang tak sebesar rumahnya ini untuk mencari wanita yang telah tega kabur darinya.
Pandangan mata Naka lalu jatuh pada sosok wanita yang kini tengah sibuk bersih-bersih sambil menunggu rotinya matang dari alat panggilan.
__ADS_1
"Pagi sekali kamu bangun Hon, aku kira kamu kabur dari aku?" celoteh manja pria yang kini memeluk Gladys dari belakang.
"Stop, pakai bajumu dan kita sarapan! kamu berhutang banyaaaaaak penjelasan untuk aku!" balas Gladys seraya menghukum Naka dengan sebuah tarikan di telinganya seperti seorang guru yang tengah memarahi sang murid bila bolos sekolah.
...****...
Who's that sexy thing I see over there?
That's me, standin' in the mirror
What's that icy thing hanging 'round my neck?
Um, that's gold, show me some respect, oh
I thank God every day
That I woke up feelin' this way
And I can't help loving myself
And I don't need nobody else, no, uh
If I was you, I'd wanna be me too
I'd wanna be me too
I'd wanna be me too
If I was you, I'd wanna be me too
I'd wanna be me too
I'd wanna be me too
__ADS_1