Crazy In Love

Crazy In Love
Still With You


__ADS_3

Semburat kebahagian kini tengah di rasakan oleh Janaka Matila. Setidaknya kesenangan kecil seperti ini mampu mengobati rasa gundah di hatinya. Meski ia masih belum bisa menerima alasan sang ibu meninggalkan dirinya, tapi Naka akan menghormati keputusan apa yang telah dipilih ibu kandungnya.


Rona kebahagiaan juga berasal dari sikap Gladys sang istri yang lebih berinisiatif dalam permainan siang menuju sore ini. Tak seperti biasanya, Gladys akan bereaksi mengikuti setiap alur permainan panasnya. Kini wanita yang telah ditanggalkan bajunya oleh Naka sangat gesit serta agresif. Bahkan Janaka sampai menggelontorkan tenaganya guna mengimbangi serangan dari sang istri.


"Honey, ini seperti bukan kamu saja!" puji Naka ketika Gladys mengentikan pagutan panas di area bibir mereka.


Wanita itu masih terengah-engah kala mengatur napasnya kembali dan mulai mengumpulkan tenaga untuk duel yang sesungguhnya.


"Bagaimana kalau kubuat kamu yang tak bisa bangun lagi Yank?" Pertanyaan itu tanpa sadar seperti sebuah dorongan semangat guna bercocok tanam lebih dalam lagi bagi Naka. Banyangkan saja, pria mana yang bisa terima bila ada yang mencoba mengancam seperti Gladys?


Tak tahan dengan ejekan dari sang istri, Janaka lalu mengangkat tubuh Gladysnya menuju tempat tidur yang pernah mereka tiduri beberapa malam yang lalu. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dengan gerakan gesit serta arogan, Naka semakin berna fsu untuk segera melepaskan rasa sesak yang dimiliki Godzila.


Foreplay atau pemanasan yang telah keduanya lakukan siang ini cukup mampu menaikan gairah untuk menciptakan letupan-letupan kenikmatan yang hakiki.


Suara kecupan dari cumbuan keduanya memenuhi kamar bernuansa berwarna metal ini. Hasrat yang berada di ubun-ubun ingin segera di tuntaskan saat ini juga. Tangan sang istri yang kini telah terampil untuk menyingkirkan pakaian yang mereka kenakan seperti sebuah kobaran semangat bagi Naka untuk terus dan terus bercocok tanam. Apalagi ia telah bersumpah pada Zack akan membuat Gladys bergaris dua dalam satu bulan ini. Karena Janaka tak ingin kalah dari sekutunya itu.


Jantung suami istri tersebut terus berpacu dengan kencang seirama dengan ritme peperangan yang didominasi oleh Naka serta Godzila miliknya. Pria itu tak merasa puas meski ini bukan kali pertama bagi keduanya bersama. Bahkan suara rintihan manja dari sang istri semakin menaikan libidonya sebagai seorang pria normal.


Telah 30 menit sudah keduanya saling memanjakan satu sama lain. Bahkan berkali-kali pula sang istri telah dirasuki sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Sedangkan Janaka, begitu ia merasa ingin meledak pria yang memiliki aset di seluruh penjuru negeri itu semakin mempercepat ritme perjuangannya.


"Baby, i cant stop it!" ucap pria matre itu diikuti lenguhan panjang dan juga hembusan napasnya pertanda pria itu telah sampai pada puncaknya. Naka sangat bersyukur kini kegiatan solo karir sialan itu telah dienyahkan dari muka bumi ini.


Karena kini telah tersedia wanita yang bisa melayani dirinya dari berbagai hal termasuk kebutuhan biologisnya. Dan Gladysnya merupakan paket lengkap, sehingga Janaka sangat puas dan bangga pada sang istri yang tak hanya pandai berbisnis juga pandai melayani kebutuhannya.


"I love you more than you know!" ucap Janaka lalu mengecup dahi wanita yang baru saja membuatnya puas lahir batin.


"I Am so tired, so kalau kamu mau pergi bekerja pergi aja. Aku mau tidur!"


"Loh Hon, kalau mau nambah gimana?"


"Sinting!" umpat Gladys lalu mulai memejamkan kedua matanya karena ia ingin beristirahat demi mengumpulkan semua tenaganya yang telah terkuras habis karena ulah Janaka.


Tapi, tanpa Naka sadari Seno sejak tadi telah berkali-kali menghubungi dirinya. Namun Janaka tak kunjung menjawab panggilan dari asisten pribadinya karena Naka telah menyeting ponselnya dalam mode senyap. Hal tersebut sengaja Naka lakukan agar tak ada seorangpun yang akan mengganggu aktivitas mengasyikkan yang telah Naka lakukan.

__ADS_1


Hingga Gladys merasa tak nyaman dengan getaran di ponsel yang tergeletak bersama dengan jas milik Naka. Ponsel tersebut berada di dalam saku jas kerja Janaka yang kini berserakan di bawah kaki ranjang tepat di dekat Gladys.


"Yank, bunyi terus tuh! ganggu orang mau tidur!"


"Baiklah, baiklah Bu bos! siap laksanakan!"


Naka lalu beranjak dari tempat bergumul dengan Gladysnya tadi. Tanpa mengenakan selembar busana apa pun, pemimpin dari PT BMD itupun berjalan memungut jas yang menyimpan ponselnya.


Gladys tersenyum lalu menepuk jidatnya, "Atuh di kandangin dulu baby monsternya Pak?" ejeknya karena Naka dengan pede sekali berjalan di dekat tempatnya berbaring.


"Biar pawangnya aja yang ngandangin gimana?" jawab sang suami dengan tawa renyahnya kala melihat rona merah di wajah sang istri yang menandakan wanita itu tersipu malu.


**


Bila Naka dan Gladysnya sedang dipenuhi rasa kebahagian yang luar biasa lain halnya dengan Aditya Darmanto sang adik Janaka Matila. Pria muda itu bersumpah akan membalas semua perbuatan keluarga Brahmana padanya dan juga Hana Darmanto. Bahkan dalam benaknya telah tertanam suatu kebencian yang luar biasa besar pada Brahmana family.


"Aku akan merebut semua yang kau punya Mas, BMD yang telah kau besarkan juga BBG yang dimiliki lelaki jahat itu. Bila perlu aku akan merampas wanita yang kau cintai!" Sumpah yang terucap dari hati Adit itu lantaran duri yang telah terpatri lama dan juga karena melihat semua kesedihan dari sang Ibu.


Selain itu, ibunya dan Gladys sangat menyayangi Janaka. Hal itulah yang membuat Adit berambisi untuk menghancurkan Naka dengan segala macam cara. Itu adalah tujuan besar Adit.


**


"Sepuluh menit lagi, kita akan rapat online Sen! kau koordinasikan pada yang lain untuk segera online dalam sepuluh menit setelah aku mengakhiri telepon ini!" titah Naka memutuskan akan memimpin rapat secara virtual bersama para karyawan pada masing-masing bagiannya.


Bukan tanpa alasan Naka memilih rapat jarak jauh, itu semua ia lakukan karena tak bisa menahan hasrat menggebunya lagi. Meski sang istri telah menyuruhnya membersihkannya diri dan bersiap ke kantor, dengan sikap manjanya Naka meminta Gladys menemani di kamar mandi dan berakhir pada ronde kedua pada siang menjelang sore ini. Bahkan saking kelelahannya, Gladys tak sanggup bangun serta berjalan menuju tempat tidur mereka. Hingga mau tak mau Naka enggan meninggalkan sang istri yang kelelahan dan lagi, waktu istirahatnya telah habis dan tak sempat ke kantor lagi.


Segera saja Naka mengenakan busananya tadi, kemeja putih tanpa dasi yang telah kusut tak karuan akibat perbuatan mereka. Dengan bersandar pada headboard, Naka akan memulai menghadap MacBook miliknya setelah sebelumnya menyelimuti tubuh polos sang istri yang telah berbaring di sampingnya. Itu ia lakukan karena tak ingin mengambil resiko bila Gladysnya nyempil pada zoom meeting yang akan ia pimpin.


"Jangan banyak gerak ya Hon, suamimu lagi meeting online!"


"Bodo amat!"


...****...

__ADS_1


Untuk itu 'kan kupersembahkan, Himalaya


Bahkan akan aku taklukkan


Tanpa cahaya di kegelapan


Berbalutkan pelita hatimu


Di aku, di aku, dan kamu


Pasti kan kau melihat aku


Saat ku gapai puncak tertinggi


Bersama tujuh warna pelangi


Misalkan semua terjadi


Meski belum terjadi sekarang


Kita renungkan sejenak


Cara agar semua bisa terjadi


Walau kutahu tak semudah itu


Tapi coba sekali lagi bayangkan aku


Himalaya - Maliq D'essentials



__ADS_1


__ADS_2