Crazy In Love

Crazy In Love
Mrs Brahmana 2


__ADS_3

Sepeninggalan Naka dari kediaman mereka, datanglah adik sepupu Gladys yang bawelnya bisa melebihi istri Janaka tersebut.


Kanaya, adik sepupu Gladys tidak datang dengan tangan hampa. Selain mengatakan ada hal penting yang akan gadis muda itu sampaikan, mantan kekasih Seno itu memberikan sebuah ponsel keluaran terbaru. Kanaya mengatakan bahwa ponsel dengan lambang buah itu adalah untuk Gladys.


"Kakak ipar memintaku membawakan ini untuk Mbak Gladys," jelas Kanaya lalu meminta Gladys memberikan ponsel lamanya untuk gadis itu periksa menyeluruh.


Janaka menugaskan Kanaya untuk memeriksa ponsel pintar milik sepupunya karena Bos dari BBG itu mencurigai ponsel Gladys telah diretas oleh pihak yang tak bertanggung jawab hingga bisa mengetahui setiap jadwal Gladys.


"Tunggu dulu Nay, apa maksudmu?" Gladys masih belum bisa mengerti maksud dari Kanaya, bukan berarti ia membenarkan bahwa ponselnya telah diretas, tapi Gladys masih belum paham bila Kanaya dan Naka telah bekerja sama mulai kini.


"Nih! Mbak Gladys untuk saat ini pakai ini. Kita kembaran loh!" ujar Kanaya lalu mengelus ponsel dengan merek serta tipe terbaru yang sama persis hanya saja beda warna.


"Sejak kapan dia melakukan ini padamu?"


"Kakak ipar menawarkan Kanaya untuk bergabung dengan tim IT guna mengamankan jaringan kerja serta sistem BBG!" Dengan pede-nya Kanaya menjelaskan bahwa kini ia telah resmi bergabung menjadi salah satu pegawai Janaka Matila.


"Elu? Elu berkhianat dari aku? Kanaya ... " Gladys memarahi adik sepupunya karena melakukan hal diluar keputusannya.


"Mbak, Kakak ipar bisa menggajiku 2 hingga tiga kali lipat! apalagi Mbak Gladys tahu sendiri seperti apa tagihan kartu kreditku? Untung aja ada Kakak ipar Janaka."


"Dasar sialan! beraninya kau berkhianat, lagi pula hanya aku yang bisa memanfaatkan Janaka. Jangan ulangi lagi! jangan minta aneh-aneh!" Gladys tak terima bila Kanaya minta yang tidak-tidak dari Janaka.


Sebenarnya Gladys cukup iri, karena dengan mudahnya Kanaya meminta gaji berkali-kali lipat. Sedangkan dirinya harus bersusah payah bergelut semalam demi mendapatkan aliran dana dari Janaka. Meski semua kerja kerasnya terbayar juga dengan deretan angka diluar logika.


"Nah selesai!" Kanaya baru saja memasangkan sistem keamanan di ponsel Gladys. Selain itu sepupu Gladys itu juga menghubungkan ponsel Gladys dengan GPS yang bisa diakses oleh suaminya.


"Ah Kanaya iri dengan Mbak Gladys, Mbak Gladys bisa dapet suami kaya gitu dari mana sih? Pakai pelet apa?"

__ADS_1


"Tutup mulut mu Kanaya! kalau tidak Kakak iparmu yang memaksa, aku juga ogah menikah dengannya."


'Hilih lain di mulut lain pula di hati, buktinya dia juga tak keberatan!' Kanaya mencibir kakak sepupunya itu.


Selain Janaka, kakak ipar Kanaya yang satu lagi tak kalah hebat dan keren. Kakak Zack dengan tampilan tampan, tak jauh berbeda dengan Kakak Naka. Menurut Kanaya kedua kakak perempuannya sungguh hebat bisa menjadi pawang buaya seperti Zack dan Janaka.


"Pokonya Kanaya tunggu ponakan kedua dari kalian ya!"


"Elu makin ngawur saja Nay, mau Lu jadi baby sitternya?" Terang saja perkataan dari Kanaya tadi sedikit menggelitik hati Gladys.


Bahkan Gladys langsung teringat betapa marahnya Janaka malam itu ketika lelaki penuh pesona tersebut menemukan pil penunda kehamilan di tas Gladys. Malam itu juga Naka tak memberinya jeda sama sekali demi menghukumi Gladys.


"Aku nggak mau liat lagi ada hal semacam ini Hon!" tutur Janaka malam itu sebelum memberikan ijin bagi Gladys untuk istirahat.


Sejak saat itu juga, Gladys tak berani mengkonsumsi obat apa pun untuk menunda kehamilannya. Karena sang suami tak ingin Gladys menunda kehamilannya.


"Ah paling bentar lagi, aku sering seperti itu kok!" sergah Gladys membantah kesimpulan Kanaya.


"Udah digempur siang malam masa masih belum jadi-jadi?"


"Sialan elu! Lu pikir gue apaan hah?" Gladys kesal karena secara tidak langsung Kanaya telah mengingatkan masalah sensitif seperti itu.


**


Gladys lalu pergi ke Brahmana Foundation ditemani oleh Kanaya. Selain masuk menjadi tim IT BBG, Kanaya juga ditugaskan menemani istri bos Naka. Pekerjaan Kanaya memang fleksibel, tak perlu datang setiap hari ke kantor. Tapi gadis itu bertanggung jawab mengamankan sistem keamanan perusahaan. Jadi, bila Naka membayar mahal Kanaya itu semua ada timbal baliknya.


"Hape baru, jalan-jalan dibayarin, nonton tour BTS ditraktir. Duh senangnya hidup ini!" Kanaya sangatlah bersyukur memiliki saudara seperti Gladys dan Grace karena tanpa mereka berdua, Kakak Zack dan Kakak Janaka tidak akan memberikan kemudahan seperti ini.

__ADS_1


"Terus aja disanjung bos barunya! bos yang bisa bayar mahal elu," sindir Gladys karena kesal Kanaya selalu membahas Janaka sejak tadi.


"Jadi anak bungsu emang paling menyenangkan!" balas Kanaya menggoda Gladys.


Hingga Gladys harus menutup mulut Kanaya dengan mentraktirnya dengan cemilan manis sebelum tiba di Brahmana Foundation.


Melihat betapa rakusnya Kanaya menyantap cupcake dengan topping berwarna-warni membuat Gladys langsung bengah. Bahkan napsu yang menggebu-gebu ingin menyantap makanan manis itu langsung lenyap melihat kerakusan Kanaya.


"Mbak Gladys yakin nggak mau?"


"Aku pengen makan gado-gado pedas Kanaya!"


Sehingga Gladys meminta Pak Parman sang supir Janaka untuk mencari penjual gado-gado sebelum tiba di Brahmana Foundation.


Lama mobil Gladys yang dikendarai oleh Pak Parman berkeliling Jakarta mencari penjual Gado-gado yang Gladys mau. Harus yang higienis, gerobakan rapi dan berwarna biru lalu payungnya berwarna kuning.


Permintaan nyeleneh dari Nyonya muda Brahmana ini cukup membuat sopir yang telah lama bekerja dengan Naka geleng kepala. Bukan hanya Pak Parman saja, Kanaya bahkan ikut melotot setiap kali melihat penjual gado-gado yang mereka lewati. Harus higienis, gerobak rapi berwarna biru dan payung berwarna kuning. Selain itu Gladys tidak mau.


"Aduh Mbak, drive true aja deh mau makanan apa sih? Nanti Kanaya traktir mumpung banyak duit nih!"


"Aku maunya Gado-gado dengan sambal kacang pedas diulek 60 kali tanpa jeda dengan telor ayam arab setengah matang!"


Kanaya serta Pak Parman saling pandang mendengar permintaan nyeleneh dari Gladys. Sempat Kanaya berpikir bila kakaknya itu sedang bercanda karena ingin membalas dendam. Tapi melihat seperti apa tampang menyedihkan Gladys, Kanaya tak sampai hati bila tak menurut kemauan istri bosnya.


...****...


__ADS_1


__ADS_2