Crazy In Love

Crazy In Love
Marriage Agreement


__ADS_3

Merasa datang pada waktu yang tak tepat, Kanaya sedikit kikuk di depan atasan dari mantan pacarnya. Bila gadis itu tak mendapatkan mandat dari papahnya yang merupakan adik dari Andung Hartono, ia pasti akan berbalik badan dan segera meninggalkan apartemen kakak sepupunya tersebut.


"Masuklah, kami sedang sarapan!" ajak Naka tak seperti yang sedang dipikirkan oleh Kanaya. Gadis itu berpikir bila Naka akan emosi karena kedatangannya, tapi ternyata gadis muda itu salah.


"Baiklah bila aku tak mengganggu waktu kalian."


Kanaya sedikit malu-malu mengikuti ke mana pria yang baru saja menyambut kedatangannya. Pasalnya pagi ini cukup aneh baginya kala mendatangi kediaman Gladys. Karena baru kali ini wanita muda itu melihat ada seorang lelaki yang tinggal di apartemen kakak sepupunya.


"Nah, elu ngapain di sini?" tegur Kanaya dengan manik sedikit melotot menangkap kehadiran pria yang pernah mengisi hari-harinya dahulu.


"Emang lu aja yang bisa di sini?"


Kanaya melihat pada monitor dari MacBook milik Naka yang memperlihatkan sebuah berita dengan tajuk hubungan kakak sepupunya dengan Janaka Matila. Mau bagaimanapun gadis itu menjadi salah satu keluarga terdekat Gladys yang berada di sini. Sehingga, dengan senang hati gadis penyuka milk shake tersebut untuk membantunya.


"Mbak, apa perlu bantuanku untuk membungkam mulut haters? Aku bisa mengerahkan bantuan dari akun robot untuk memberikan komen positif!"


Dan Naka juga mendukung ide dari Kanaya, setidaknya dengan bantuan komen baik akan bisa membalikkan keadaan. 'Kadang anak ini ada benarnya, tak kusangaka idenya cukup brilian!' batin Naka mengiyakan usul dari Kanaya.


"Terserah kalian ah, aku tak ingin ambil pusing! males banget gue ribet," ucap Gladys dan berancang-ancang berdiri karena malas meladeni mereka semua. Keinginan Gladys hanya satu, ia ingin istirahat setalah semalaman bergadang.


"Sip ... Oh ya Mbak! aku sampai lupa, papa menitipkan ini untuk Mbak, katanya dari Om Andung." Kanaya mengambilkan sebuah amplop persegi panjang dari dalam tas yang ia bawa pagi ini.


"Kenapa bokap gue nggak ngirim ke kantor atau ke apartemen ini?"


"Kata papa, Om Andung mengirim ke kantor papa langsung di Senayan agar Mbak Gladys nggak membuangnya bila nanti melihatnya." Kanaya berseru mengikuti logat sang papa yang bekerja di Polda Metro Jaya.


Karena rasa ingin tahu yang tinggi, Gladys mengurungkan niatnya meninggalkan beberapa tamunya. Dan mulai duduk kembali guna membuka dan melihat isi dari paket yang dikirimkan oleh sang papa. Bila Andung Hartono sampai bertuah seperti itu, pasti isi dari paket itu menyangkut kehidupan ke depannya. 'Kenapa papa main rahasia-rahasiaan sih?' batin Gladys sambil menatap serius amplop berwarna coklat yang sedang ia buka saat ini.


Rasa penasaran membuatnya ingin segera melepaskan segel penting yang ada di atas barang tersebut. Begitu bagian atasnya telah terbuka, wanita cantik itu langsung mengintipnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Seketika nyonya BMD itupun terperanjat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bukan surat wasiat seperti yang Kanya tebak, bukan juga warisan dari papanya Gladys tapi dokumen yang bisa mengubah seluruh hidupnya.


"Mampus gue!" seru Gladys meletakkan kembali barang itu dan menutup mulutnya agar tak terus menganga karena tak bisa berkata-kata.


"Apaan isinya Mbak? Surat hutang piutang Mizzu?" Kanaya menjadi khawatir karena wajah Gladys seketika memucat. Ia tak pernah melihat kakak sepupunya seperti ini.


"Jangan ngawur! udah dateng ya Hon surat nikah kita?"


Ekspresi Gladys membuat Kanaya cukup panik. Apalagi kini kakaknya itu menutup kedua telinganya hingga terlihat seperti seorang yang memendam rasa frustasi. Benarkah apa yang dikatakan Janaka Matila bahwa isi dari paket itu adalah akta nikah?


"Kau ... apa yang kamu lakukan pada papaku? Permainan apa lagi ini?" maki Gladys dengan tatapan tajam ke arah Naka. Pasalnya pria itulah satu-satunya alasan kenapa sang papa hingga melakukan hal seperti ini padanya.


"Tenanglah Mbak, ada apa? Nanti Naya bantu bilangin ke Om Andung, atau kita kabur bareng?"


Bukan tak menginginkannya, tapi menurut Gladys belum saatnya ia akan terikat dengan pria itu saat ini. Apalagi dengan cara yang sangat nggak banget seperti ini. Setidaknya mereka bisa meminta pendapat dulu darinya. Gladys merasa tak dihargai sebagai sosok penting dalam hal seperti ini.


"Dan elu juga diam saja? Kalian semua sama aja." Dengan emosi penuh Gladys sempat menuding ke arah Seno. Gladys menduga bila Seno juga salah satu pihak yang mengetahui hal ini. Tentu saja! Apalagi pria itu seolah-olah tak mengerti apa-apa.


Dengan tangan terlipat di dada, wanita yang tampak kesal itu mengeluarkan dua buah akte pernikahan yang dikirim dari papanya. Hal konyol seperti ini sungguh menjadi beban di dalam pikiran wanita itu. Bahkan ia sungguh tak bisa percaya ketika Naka menawarkan untuk saling menandatangani kedua dokumen tersebut.


"Ogah, gue kagak ada pulpen di rumah ini!" ucap Gladys lengkap dengan sikap juteknya.


"Tenang saja, saya selalu membawa pulpen di tas saya!" sahut Seno dengan sibuk mencari benda yang dibutuhkan oleh sang atasan.


"Aduuuhhhhh ... " Seno mengeluh kesakitan karena lututnya mendapat sebuah tendangan dari arah wanita yang masih saja menatapnya dengan dingin.


'Elu pasti tamat Sen,!' Mungkin seperti itulah tatapan tajam dari Gladys bila Seno artikan.


"Kalian semua saksinya, sebelum aku bersedia menandatangani dokumen ini aku perlu list seluruh aset dari Janaka Matila baik itu yang bergerak ataupun yang tak bergerak agar bisa dipisah ketika kami bersama. Dan list tersebut digunakan untuk pembagian harta gono-gini bila kami divorce nanti."

__ADS_1


"Honey! apa maksudmu?"


"Apa maksudmu juga seperti ini Yank?"


Sepasang pria dan wanita itu kini tampak saling pandang dengan sebuah perseteruan dan cukup kompleks. Bila Gladys kekeh menginginkan sebuah perjanjian pernikahan, sedangkan Naka merasa kurang setuju dengan permintaan dari Gladys. Pasalnya keinginan Gladys terlalu berlebihan dan tak masuk akal. Seperti yang sedang Janaka pikirkan, ia ingin menjadikan Gladys istrinya kini hingga kapanpun dan tak ada secuilpun dalam hatinya untuk menceraikan wanita itu.


"Tunggu dulu! biar Kanaya yang menengahi!" pinta adik Gladys sebelum kedua orang itu saling adu otak dan otot.


Setidaknya dengan menenangkan Gladys dan Naka bisa menghilangkan aura negatif di tempat ini. Dan bagaimanapun juga kedua anak cucu Adam yang sedang berseteru itu adalah keluarga Kanaya juga.


Kanaya tahu seperti apa yang diingkan kakaknya Gladys, wanita itu ingin menyelamatkan harga masing-masing yang diperoleh sebelum menikah bila suatu saat terjadi perpisahan. Dan gadis muda itu juga paham seperti apa yang Bos Naka inginkan, yakni tak menginginkan perpisahan.


"Kamu lihat, Kanaya yang masih bocah aja tahu maksud aku! lagi pula bukankah bagus bila aku tak meminta hak dari harta sebelum menikah?" Gladys masih kukuh dalam pendiriannya.


Dan Janaka Matila mau tak mau harus mengikuti semua yang diminta nyonya BMD sebelum emosi Gladys semakin meledak lagi. Sebenarnya ia juga tak keberatan bila harus membagi semua yang ia miliki pada wanita itu kini. Seperti halnya perasaan, Naka rela membagi seluruh hartanya untuk istri dan anaknya.


Dan ... Bos PT BMD itupun akhirnya mengibarkan bendera putih menandakan ia telah meletakkan senjatanya dan menuruti kemauan nyonyanya.


Kini Naka mulai membuka beberapa folder perusahaan yang berisikan seluruh asetnya baik itu perusahaan yang dipimpinnya serta beberapa usaha lain yang masih satu lingkup dengan BBG. Selain itu harta bawaan itu juga meliputi beberapa properti milik Janaka Matila serta koleksi mobilnya.


Perjanjian itu akan keduanya tanda tangani di atas meterai dan akan segera disahkan di kantor notaris yang ditunjuk. Hal ini bisa menyelamatkan harta keduanya, jangan ditanya ide ini muncul dari mana. Karena sejatinya Gladys adalah wanita paling pelit yang pernah Naka temui. Hingga memberikan cintanya saja perlu berbagai cara untuk merampasnya.


"Ajegile Kakak ipar, bahkan Kakak Zack saja tak sekaya dirimu!" pekik Kanaya ketika wanita itu akan membubuhkan parafnya sebagai saksi. Kanaya tak percaya dengan daftar yang diketik oleh Seno, list tersebut terdiri dari 30 halaman yang menyebutkan seluruh kekayaan Janaka Matila putra Sigit Brahmana.


...****...



__ADS_1


__ADS_2