Crazy In Love

Crazy In Love
Bahasa Hati


__ADS_3

To my all dearest reader, saya harap kalian tetap setia pada novel ini. Saya berjanji akan bertanggungjawab sampai tamat meski dengan langkah tertatih. Karena mungkin kedepannya update sangat tidak sesuai jadwal seperti biasanya.


...****...


Sayup senja kini telah menyapa, membangunkan sosok wanita yang telah beristirahat lama. Kedua maniknya membuka dan mendapati pria yang masih tidur dengan nyenyaknya karena Janaka memilih menemani Gladys dari pada kembali ke kantornya. Benar sekali karena tak ingin meninggalkan sang istri, membuat Naka sebagi komisaris BMD harus mengurungkan niatnya pada rapat bersama para penanggung jawab pada proyek BMD. Begitu selesai menyelesaikan rapat virtual, nyatanya Janaka Matila lebih memilih berbaring di samping sang istri karena merasa sangat nyaman hingga tak kuasa menahan rasa kantuknya.


Gladys lalu beranjak dari tempat tidur sang suami dengan pelan-pelan agar tak membangunkan tidur nyenyak Naka. Sebagai seorang istri yang statusnya baru saja ia genggam, Gladys harus menunaikan tugasnya sebagai nyonya Janaka Matila Seperti menyiapkan sajian makan malam kali ini. Oleh karena itu, Gladys bangun dan mengenakan pakaian yang ia ambil dari koleksi pakaian untuknya dari Naka. Ah, sang suami memang sungguh perhatian, buktinya telah tersusun rapi puluhan potong busana yang sesuai selera dan juga pas untuk ukuran Gladys.


Langkah kaki jenjang itu kini menuruni anak tangga menuju dapur yang pernah ia singgahi beberapa waktu yang lalu saat Naka memintanya ke rumah ini. Dari jauh, Gladys telah melihat bibi pelayan yang dulu membantunya sedang sibuk berkutat menyiapkan sajian untuk sang bos yakni Naka. Bukan hanya Bi Ijah saja yang sibuk, tetapi beliau juga ditemani oleh asisten rumah tangga yang lainnya.


"Bu Gladys ... " sapa wanita paruh baya itu kala melihat istri dari sang bos memasuki dapur kediaman Janaka.


"Saya akan membantu Bi," ucap wanita yang mengenakan kaos sedikit longgar dan berbahan halus tersebut.


"Bu, ini tugas kami! jangan sampai kami merepotkan Anda, bisa abis kami dimarahi oleh Pak Naka!" ujar salah satu ART yang memperkenalkan namanya Siti kepada Gladys.


"Bibi kira siapa yang membuatkan makan untuk pria sialan itu bila di rumahku?" Gladys menaikkan sedikit nada suaranya karena ia memang telah sering melakukan hal seperti yang ia katakan barusan.


Bukan Gladys namanya bila tak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Jangankan merayu kedua bibi ini, merayu Naka saja hal yang sungguh mudah baginya. Hingga kedua ART yang bekerja di rumah sang suami tunduk padanya. Sebagai istri dari atasan, sudah sepatutnya mereka patuh dan melakukan yang Gladys inginkan.


Sebenarnya Janaka tak banyak menuntut setiap menu yang disajikan. Asal tak pedas saja, pria itu akan menelan semua yang telah dimasak oleh Gladys. Meski terbiasa makan makanan kelas atas, sejatinya selera Janaka tak muluk-muluk untuk soal makanan. Pria itu memang tak menyusahkan Gladys sejak dulu bila mengenai makanan, bila hal lain? Jangan ditanya!


Tepat setelah selesai menyiapkan makan malam untuk sang suami, Gladys naik ke lantai atas guna membangunkan pria yang tadi masih tidur pulas kala ia meninggal kamarnya. Dan baru kali ini Gladys mendapatkan informasi bahwa tidur siang ini merupakan kali pertama bagi Naka semenjak ia menggeluti profesi sebagai pengusaha.

__ADS_1


**


Gladys mengamati wajah polos Janaka ketika masih pulas dalam dunia mimpi. Meski tak muda lagi, tapi aura ketampanannya tak berkurang sedikitpun. Bahkan istri Naka itu tak bosan hanya dengan memandanginya saja. "Mas, jangan lupa jaga kesehatanmu!" bisik Gladys seraya mengelus lembut pipi sang suami. Memandangi wajah rupawan Naka tak membuat bosan wanita yang baru saja Naka nikahi itu.


Belum sempat Gladys membangunkan Naka, lebih dulu ponsel Naka menyentakkan lamunan indah wanita itu. Istri Janaka Matila itu menyangka panggilan itu dari kantor, namun pikirannya salah. Nama ibu Erika Gayatri tertera pada layar ponsel pintar milik sang suami.


"Halo Ibu ... Mas Naka masih tidur! ada yang ingin ibu sampaikan?" sapa Gladys sekaligus menjelaskan kenapa dirinyalah yang mengangkat panggilan dari Erika.


"Sayang, Ayah ... penyakit ayah kambuh! dan saat ini ayah telah dilarikan ke Mount Elizabeth,"


"Astaga Ibu, semoga ayah baik-baik saja! Gladys akan segera memberi tahu Naka dan kami akan ke sana," ucap Gladys lalu mengakhiri panggilan itu dan segera membangun pemilik wajah rupawan yang sejak tadi ia kagumi.


"Yank, bangunlah ... gawat! ayah masuk rumah sakit." Tak ada reaksi apa pun dari sang suami. Hanya geliat manja serta tarikan napas saja yang menandakan bila pria itu masih di alam mimpi.


"Hon, apa? Mau nambah lagi?"


"Sayang, aku tak lagi bercanda! ayah Sigit masuk rumah sakit." Dengan sedikit histeris, Gladys membangunkan sang suami dari tidur nyenyaknya.


"Apa? Kumat lagi?" Meski kesadarannya masih belum sempurna, Naka langsung terbelalak ketika sang istri berteriak membangun dirinya.


"Ayo kita ke Mount Elizabeth yank, ibu bilang ayah dilarikan ke sana!" Gladys berinisiatif menawarkan diri ikut bersama sang suami menjenguk mertua lelakinya.


"Sudah hampir malam Hon, kamu di rumah aja biar aku yang pergi. Nanti kamu capek!"

__ADS_1


"Mas, ayah juga ayahku!" Gladys bersikukuh tak mau kalah, ia ingin menemani sang suami bertolak ke Singapura guna melihat keadaan ayah mertuanya.


"Baiklah!" Naka tak kuasa menolak keinginan kuat Gladysnya. Wanita itu memang dikenal memiliki sifat kepala batu, sudah bukan barang baru lagi bila Gladys tak bisa ia kalahkan.


Keduanya lalu bersiap untuk segera terbang ke Singapura. Tak lupa, dalam perjalanannya Naka menghubungi Seno dan juga para direktur penanggung jawab beberapa proyeknya untuk menghandle pekerjaan saat ia tak di tempat. Bila didengar dari histerisnya Erika Gayatri, kondisi Sigit Brahmana sedang tak baik-baik aja alias kritis, oleh karena itu kepergian Naka ke Singapura berpotensi menghambat kinerja para karyawannya.


Meski pikirannya sedang kalut, Naka masih bisa berpikir rasional untuk urusan pekerjaan. Bagaimanapun ia merupakan penanggung jawab BMD, dan setiap keputusannya adalah mutlak.


Sedangkan Gladys? Wanita itu terus menguatkan hati sang suami agar tenang. Karena Gladys akan terus bersamanya meski dalam keadaan apa pun itu.


"Thanks Hon, kamu mau menerima aku seperti ini!" ucap Naka dengan mencium tangan sang istri. Keduanya kini dalam perjalanan darat menuju Bandara untuk segera lepas landas meninggalkan Indonesia.


"Aku ini istrimu Pak, sudah sewajarnya seperti ini!"


"Aku benar-benar tak salah pilih Hon!'


...****...



"Setiap kegundahan hati adalah jiwa orang-orang yang memiliki cinta, maka ungkapkanlah dengan bahasa hati, bahasa yang merubah kegalauan menjadi indah,"


Gladys Hartono

__ADS_1


Ayo Hyung, semangat jangan kendor!


__ADS_2