Crazy In Love

Crazy In Love
Pujaanku


__ADS_3

Andaikan malam tiada pernah 'kan berakhir


Setiap 'ku bersamamu mungkin tak berujung


Betapa rindu ini tak pernah mati


Kekasih hatiku hanyalah engkau


Saat mulut manismu memanggil namaku


Hatiku pun bergetar bagai terserang rindu


Betapa aku menyanjungi dirimu


Buta mata dan hati untuk yang lain


Memetik gitar menyanyi syair yang tulus


Persembahan kalbuku


Nantikan dikau di tidur lelapku


Pujaanku


...***...


Gladys menoleh ke arah samping di mana seorang telah menegurnya. Kedua netra beningnya telah menangkap sosok lelaki dengan setelan jas yang terkesan rapi. Untuk sesaat, Gladys mencoba memutar kedua bola matanya seraya berpikir. "Bukankah dia orang tua yang anaknya telah kuselamatkan?" batin wanita berpenampilan casual itu.


"Ssssttttt diamlah! aku ngantuk dan ingin tidur!" jawab Gladys seraya menutup wajah cantiknya dengan sebuah topi berwarna putih yang sejak tadi menghiasi kepalanya.


"Jangan lengah saat critical eleven Nona,"


Gladys tampak menahan emosi di dadanya, pasalnya pagi buta tadi ia sudah harus bangun guna mengejar flight pagi. Dan kini pria di sampingnya ini telah mencoba menggagalkan usahanya untuk tidur.


"Terima kasih atas perhatiannya, ini bukan kali pertama saya terbang Pak!"


'Pak? Dia pikir aku bapaknya?'


Tanpa pikir panjang Naka lalu merebut topi yang menutupi wajah cantik wanita yang sejak tadi mengeluh karena kantuk tersebut. Bukan tanpa maksud lain, Naka melakukan itu semua agar Gladys tidak terlena ketika detik-detik critical eleven tiba seperti saat ini. Karena bila terjadi hal yang tidak diinginkan, Gladys bisa siap siaga karena tetap terjaga.


Sedangkan Gladys? Wanita yang cukup bersabar itupun terperanjat tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Naka. Pasalnya keduanya memang tidak saling kenal, seharusnya lelaki di sampingnya itu bisa menjaga sikapnya.


"Dosa apa yang pernah kulakukan padamu Tuan?" keluh Gladys dengan wajah terkesan jutek. Namun, dari pandangan Naka malah sebaliknya. Wajah kesal itu cukup menarik perhatiannya karena lucu dan ia tak pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.


"Sudah-sudah, tenang ini tempat umum!" celetuk Janaka mengingatkan Gladys agar tak bersuara lebih keras lagi karena mereka berdua berada dalam penerbangan komersial. Beda lagi ceritanya bila mereka berdua berada dalam pesawat pribadi, Gladys bebas melakukan apa saja sesuai maunya.


Barulah ketika pramugari cantik bersiap memberikan instruksi dan juga memeragakan gerakan pengamanan, Janaka meminta dua cangkir kopi untuk dirinya sendiri serta untuk dara cantik di sampingnya.

__ADS_1


"Tak perlu repot-repot Pak, saya sedang mengurangi kadar kafein untuk tubuh saya!"


"Wah suami perhatian gini jangan ditolak Kak, mubasir loh!" celetuk pramugari cantik yang telah menerima pesanan kopi dari Naka.


"Kami tak saling kenal!" bentak Gladys tak terima wanita kemayu itu menyebutkan bahwa pria yang duduk di kursi kelas utama bersama dengan dirinya adalah suaminya.


"Sudahlah kalau dia tak mau biar aku saja."


"Saya mau coklat hangat!" Gladys tak mau kalah menyuruh kru pesawat itu untuk menyajikan minuman bagi dirinya. Bukan tak terima kalah dari Naka, tapi apa kata Janaka ada baiknya untuk Gladys. Setidaknya, Gladys tak perlu menahan kantuknya karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kedua orang tua serat Nico yang merupakan teman lamanya.


"Nanti pesanan dia masukkan ke tagihan saya saja!"


Gladys jelas menolak kebaikan yang diberitakan oleh pria asing itu untuknya. Karena kebaikan hati orang asing itu cukup menyita perhatiannya. Apalagi akhir-akhir ini santer diberikan banyak orang memberikan perhatian lebih pada orang yang tak dikenal karena ingin menarik simpati untuk dirayu dan diperjualbelikan organ dalamnya.


"Tunggu dulu, kita tak saling kenal! kenapa Anda baik padaku? Jangan-jangan Anda salah satu dari sindikat penjualan organ manusia. Atau human trafficing?"


Seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani menyebutnya sebagai salah satu penjahat ham kelas dunia seperti yang telah Gladys sebutkan tadi. Wanita yang bernama lengkap Gladys Hartono itu sangatlah kejam menurut Janaka.


"Apa aku kekurangan uang hingga perlu menjualmu? Lagipula nilai jualmu tidaklah tinggi Nona!"


Tentu saja Gladys merasa tersinggung karena Naka telah menghina dirinya. Pasalnya selama ini Gladys merasa cukup menarik untuk ukuran wanita single. Meski belum menemukan jodoh bukan berarti dia tak laku, tapi memang Gladys belum berminat mencari pasangan.


Kembali Gladys menutup sebagian wajahnya dari topi yang ia rebut kembali dari tangan pria yang telah menghina dirinya. Mungkin saja, wajah serta penampilannya tidaklah menarik bagi pria itu. Padahal baru saja ia merasa lelaki di sampingnya itu ada benarnya, tapi Janaka telah menghempaskan harga dirinya hingga terperosok ke dalam tanah.


Hening ... tak ada satu patah katapun dari mulut masing-masing. Janaka ataupun Gladys sama-sama terdiam dalam angan serta pikiran sendiri-sendiri. Di samping mengantuk dan ingin istirahat, Gladys juga menjaga sikapnya pada orang yang tidak ia kenal sebelumnya. Hingga pria bernama Janaka Matila itu tak tahan dengan kesunyian di antara mereka berdua. Naka mulai membuka percakapan, "Terima kasih telah menyelamatkan Kinan!"


"Putri?" tanya Naka hingga mengernyitkan dahinya tatkala Gladys menganggap Kinan merupakan putrinya. Sedangkan anak dari Aruni itu adalah keponakannya.


"Bukankah gadis kecil itu putri Anda? Hingga membuat Anda begitu mengkhawatirkannya."


"Kinan Maheswari namanya, dia dan saudara kembarnya adalah anak dari adik perempuanku!" jawab Janaka penuh dengan penjelasan yang berarti. Karena Naka tak ingin wanita yang duduk bersebelahan dengannya salah paham.


"Oo .... " sahut Gladys ber-O ria.


Bukan Naka bila tak ingin memberi perhatian lebih pada Gladys, ia sendiri juga masih tak mengerti mengapa tak bisa menyingkirkan bayangan Gladys dari dalam hati serta pikirannya. Apalagi kemarin Gladys sempat terluka karena berhasil menyelamatkan keponakan Janaka.


"Bagaimana lukamu? Apakah masih sakit?" Janaka menyentuh paksa tangan Gladys yang terluka akibat menyelamatkan sang keponakan kemarin sore.


"Hanya luka kecil saja! lagi pula kenapa sih kamu perhatian banget sama aku? Karena merasa berterimakasih?" tebak Gladys menggambarkan tingkah lagu Naka yang cukup lain tak seperti orang pada umumnya.


Janaka juga masih enggan dan malu-malu kucing bila harus mengungkapkan apa yang ada di dalam sanubarinya. Sebelum bara api dari perasaan ini berkobar lebih besar lagi, lebih baik bagi Naka untuk segera melenyapkannya d dengan segera. Karena dalam logikanya, ia tak mungkin memilih Gladys menjadi pasangannya meski wanita itu memiliki hati seluas benua Asia.


Apalagi ketika melihat potret dirinya berada dalam layar ponsel Seno semalam, semua kekhwatiran yang menusuk relung hatinya lenyap begitu saja mana kala wajah itu tampak menghubungi sang asisten. Terlebih lagi dengan entengnya Gladys berkata akan mengembalikan uangnya, harga diri Naka terasa sakit mendengar itu. Uang senilai nominal tersebut tidak berarti bagi Janaka Matila, tapi keselamatan Gladys lah yang lebih penting dari segalanya.


Penerbangan ke kota Surabaya yang memakan waktu lebih kurang satu jam itu tak memuaskan hasrat keduanya. Tentu saja, selain cantik dan menarik, Gladys cukup menyenangkan bila diajak berbincang. Tak hanya membahas masalah bisnis yang sedang naik daun, wanita lulusan National University of Singapore (NUS) ini cukup banyak menyerap ilmu pengetahuan umum lainnya.


Namun yang masih mengganjal di hati Naka hingga kini ialah, mengapa Gladys belum menyadari identitasnya? Tidakkah ia cukup terkenal di dunia bisnis? Lalu mengapa Gladys tak menyadarinya? Janaka ingin sekali melihat ekspresi lucu Gladys bila wanita cantik itu mengetahui bahwa Janaka lah pria pemilik mobil yang telah menyerempet mobilnya serta pria yang telah mengolok-olok Madona.

__ADS_1


'Betapa lucu ekspresinya nanti?' Janaka tersenyum simpul memikirkan saat-saat itu tiba nantinya.


Lalu untuk masalah dengan Madona, bukan Janaka namanya bila tak mampu membereskan masalah kecil seperti itu. Sebelum pengacara Gladys datang menuntut balik Madona, Janaka terlebih dahulu mem-blacklist Madona dari dunia permodelan serta mencekal wanita nista itu untuk membintangi seluruh produk sponsor dari semua proyek Janaka.


Tentu saja semua ide itu datang dari putra Sigit Brahmana itu. Betapa baiknya Janaka hingga sudi melakukan hal receh dan sepele seperti ini demi Gladys dan perusahaannya.


...****...


Memetik gitar menyanyi syair yang tulus


Persembahan kalbuku


Nantikan dikau di tidur lelapku


Pujaanku


Burung berkicau tanda setia pada pagi


'Ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi


Jantungku kau minta pun 'kan kuberikan


Betapa dalamnya cinta untukmu


Memetik gitar menyanyi syair yang tulus


Persembahan kalbuku


Nantikan dikau di tidur lelapku


Pujaanku


Burung berkicau tanda setia pada pagi


'Ku dengan engkau tak bisa dipisahkan lagi


Jantungku kau minta pun 'kan kuberikan


Betapa dalamnya cinta untukmu


Memetik gitar menyanyi syair yang tulus


Persembahan kalbuku


Nantikan dikau di tidur lelapku


Pujaanku

__ADS_1



__ADS_2