
Gladys serta Hana Darmanto tengah disibukkan oleh pembicaraan dari pertemuan yang telah lama mereka lewatkan. Sebagai salah satu mantan anak didik beliau, Gladys cukup hafal seperti apa kebiasaan dan juga makana favorit dosennya dulu. Oleh karena itu, Gladysnya Janaka membuatkan sebuah janji temu di salah satu restoran jepang yang menyajikan makanan khasnya yakni sushi.
"Mom, aku tinggal ke kamar mandi dulu ya?" Gladys meminta ijin mantan gurunya karena sudah tak bisa menahan hasrat rasa ingin pipisnya.
Ungkapan dari gadis polos seperti Gladys seperti ini cukup mempu menarik minat Hana untuk menarik kembali sang murid menjadi salah satu orang kepercayaannya.
"Iya, jangan lama-lama! waktuku tak banyak Nak."
Belum sampai semenit berlalu, ponsel milik Gladys yang tergeletak di atas meja restoran berbunyi. Bukan masalah bunyi dering itu yang mampu menarik kedua bola mata Hana untuk tak mengindahkannya. Hal yang tak pernah ia bayangkan kini ada di depan matanya. Wajah dari pemilik nama Si Songong itu nampu mengalihkan pandangan Hana hingga tak bisa berkata-kata lagi.
"Apa hubungan dia dan Gladys?" gumamnya pelan guna mengusir rasa gugupnya kini. Iya Hana cukup tampak gugup hingga wanita tua ini meremas rok yang ia kenakan dengan kedua jemarinya. Hana merasa terusik, mau tak mau ia harus memikirkannya.
Apalagi bunyi itu bukan sekali saja terdengar hingga mampu membuat aliran darah wanita berpenampilan modis itupun terperangah. Pandangannya juga tak bisa lepas dari layar ponsel milik mantan mahasiswinya dulu. Apalagi sebuah pesan masuk pada jendela apung pada ponsel tersebut.
(Honey sedang apa? Kenapa tak menjawab panggilanku?)
Hana semakin tak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Pasalnya tak ia tak pernah berpikir sekalipun akan berhubungan dengan orang di masa lalunya. Hana terlihat frustasi dengan kesulitan menelan air liurnya hingga ia perlu minum lebih banyak untuk mengaliri tenggorokannya yang kering.
"Telah 30 tahun ia meninggalkan anak itu, benarkah Gladys adalah pacarnya? Atau bahkan istrinya?" gumam Hana mulai menebak kemungkinan yang terjadi.
**
"Bos ini laporan berupa foto-foto yang di ambil Mike serta anak buahnya!" ujar Seno sambil menyerahkan sebuah ipad yang berisikan data serta foto-foto seorang wanita dari awal berada di Leiden hingga menginjakkan kaki di Jakarta.
"Mike masih mengawasinya bukan?" tanya Naka seakan tak percaya bahwa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu adalah orang yang telah tega meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Benar! dan beliau, maksud saya Hana Darmanto bertemu secara pribadi dengan Nyonya Anda!"
"Kau yang benar Seno? Mana mungkin Gladysku mengenalnya?" Janaka masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sesuai laporan Mike.
"Enam tahun yang lalu Ny Hana pernah mengajar di kampus nyonya Anda, saya telah menyelidiki informasi ini! dan saya pastikan data ini akurat!"
"Kini posisi keduanya di mana Sen? Aku mengkhawatirkan Gladys dari wanita jahat itu."
Naka tak bisa membohongi dirinya bahwa ia sangat takut bila ibu kandungnya yang telah meninggalkan ia dan ayahnya akan berbuat jahat dengan Gladys. Ia tak peduli meski sebentar lagi rapat pembahasan peletakan batu pertama proyek teluk Ijo akan segera dimulai.
"Sebentar lagi rapat pembahasan peletakan batu pertama kali Pak, saya yakin nyonya Anda aman dengan beberapa bodyguard yang telah Anda tugaskan untuk menjaga beliau." Usul Seno yang ini cukup benar, Hana tidak mungkin akan melukai Gladysnya Janaka dalam ruang publik seperti restoran tersebut, apalagi Gladys tidak sendirian. Wanita itu telah ditemani oleh dua orang bodyguard yang ditugaskan diam-diam oleh Naka untuk menjaganya. Serta ada Mike juga yang selalu standby mengamati wanita itu.
"Tapi aku tak tenang dengan keselamatan Gladys, Sen! aku tak ingin ia kenapa-kenapa."
"Nyonya akan baik-baik saja, beliau adalah mantan muridnya."
"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tak segan membuatnya menderita hingga akhir hayatnya!" umpat anak kecil yang dulu selalu menunggu kepulangan sang ibu. Lalu Janaka kecil yang kini telah menjadi pemimpin ribuan harapan dari karyanya berjalan menuju ruang rapat untuk membahas proyek teluk Ijo.
Jujur saja, meski Gladysnya telah dilengkapi dengan beberapa orang yang menjaganya, Naka masih kesulitan menyingkirkan kekhawatirannya saat ini. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat memikirkan Gladysnya. Apalagi sejak tadi wanita itu belum juga memberinya kabar.
(Bos Naka, aku tadi sedang ke toilet.)
Sebaris pesan dari Gladys itu telah mampu membuat hati Naka begitu lega. Meski begitu, perasaannya masih tetap sama yakni memikirkan wanita yang telah ia cumbu tadi malam.
Sementara Gladys, di tempat makannya bersama sang guru wanita itu memilih mengikuti kata sang guru karena wanita tua itu mengatakan ponsel milik terus berbunyi mungkin kekasihnya sedang menunggu kabar darinya.
__ADS_1
Gladys masih memikirkan perkataan wanita yang kebetulan bertemu dengan dirinya di toilet tadi. Pertemuan dengan wanita yang pernah berseteru dengan Gladys itu tentu saja terlewatkan oleh kedua bodyguard yang Naka kirim untuk wanitanya.
Wanita yang tak sengaja bertemu dengan Gladys di toilet tersebut adalah Madona. Madona mengatakan bahwa Naka tak pernah tulus membantunya. Bahkan ia memiliki maksud dan tujuan lain demi mendapatkan simpati dari Gladys. Tentu saja Gladys tak bisa percaya sepenuhnya pada Madona dan Janaka. Bagaimanapun ia perlu bukti otentik untuk menguatkan argumentasi Madona.
Dari layar pusat pesan terlihat Janaka typing. Tentu saja Gladys menunggu balasan dari pesan yang ia kirimkan untuk Janaka.
"Apa dia kekasihmu Nak?" tanya Hana tiba-tiba hingga membuat Gladys menoleh tanpa ia sadari.
Dara cantik itu cukup tersenyum untuk membalas ibu dosen yang selalu mendidiknya dulu. Dan Hana juga merasakan bahwa wanita muda di depannya ini adalah wanita yang disukai oleh putranya. Bahkan ia cukup mengetahui bahwa putranya telah mengirimkan dua orang kepercayaannya untuk menjaga wanita yang Janaka cintai.
"Mom ikut senang bila Gladys menemukan orang yang mencintai Gladys dengan tulus, mungkin dia akan menghukum Mom lebih kejam lagi bila Mom membawamu ke Leiden!'
"Jangan pikirkan dia Mom, dia memang orangnya seperti itu. Mau menang sendiri dan childish."
Jujur saja Hana sangat bahagia mendengar kabar bahwa putranya tumbuh tanpa kurang satu apa pun. Memiliki keluarga yang lengkap serta menemukan pendamping yang tepat untuknya. Ia tak keberatan dan akan memberikan restunya untuk sang putra bila sewaktu-waktu menikah dengan mantan mahasiswinya. Karena Hana telah mengenal Gladys dengan baik.
"Mom ikut senang bila kamu bahagia Nak."
"Hei guruku, kita bertemu di sini untuk membahas kerjasama bukan? Mengapa merembet ke masalah pribadi?" Dengan tampang imutnya, Gladys memprotes mantan dosennya itu.
Meski Hana cukup bahagia mendengar kabar baik ini, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin bertemu dan memeluk putra yang selama ini ia tinggalkan. Bila ia mampu ia ingin mengatakan bahwa hingga detik ini, ia sungguh menyesal telah meninggalkan si kecil Janaka Matila.
Sedangkan Gladysnya Janaka? Hati wanita itu kini semakin bergelut pada kabar yang baru saja disebutkan oleh Madona tadi. Pasalnya apa yang dikatakan mantan musuhnya itu sedikit memiliki korelasi dengan apa yang Sigit Brahmana katakan malam itu. Bahwa ia adalah orang yang tepat untuk menjadi Nyonya muda Brahmana. Bukan sebagai istri dari putranya.
...****...
__ADS_1