
"Jangan pernah keliru tentang ilmu kebijaksanaan. Satu sisi membantu Anda untuk hidup, satunya lagi membantu Anda untuk membuat hidup."
...****...
Sedari tadi Gladys tak memedulikan sekelilingnya. Sesekali senyum manisnya mengambang seorang diri kala mengingat apa saja yang telah dilaporkan anak buah Naka padanya. Salah satunya Nora, gadis muda berumur kurang lebih Kanaya itu harus mendapatkan amukan dari sang atasan karena jawabannya tak memuaskan hati Janaka. Terlebih lagi Seno juga membahas bila Naka merasa sudah tak memiliki rasa percaya diri semenjak pagi tadi membahas Seok Jin BTS.
"Apa ada yang aneh di wajahku Honey? Mengapa kamu terus saja tersenyum aneh seperti itu?" tegur Naka yang kini duduk di samping Gladys.
Wanita yang tengah merasa gembira itu menatap sekilas pria yang sedang mengemudikan Jeep Renegade miliknya. Atas permintaan sang istri itulah, Naka bersedia tak menggunakan jasa Pak Parman sang supir kepercayaan selama ini.
"You're so cute!"
"Woh, me? Why do you say am cute Honey?"
"Lihatlah, imut sekali kamu yank!" goda Gladys sedikit mencubit pipi kiri sang suami. "Yank, kamu tak kalah oke dari Jin loh! lihat saja senyummu, its so cute!"
"Tapi aku takut kalah muda Hon, aku takut kamu meninggalkan aku!"
Huahahahaha ... Gladys tak kuat menahan tawanya kala Naka mengatakan bahwa ia takut bila suatu saat Gladys meninggalkannya. Tak pernah sekalipun istri Naka itu berpikir untuk pergi jauh darinya. Tak sedikitpun ada niat dari hati Gladys untuk meninggalkan sumber uangnya juga.
Mendengar bahwa Gladysnya tak akan pernah sekejap pun meninggalkan dirinya, Naka sedikit tenang hatinya pasalnya ia tak perlu repot-repot harus mengubah penampilan agar lebih muda lagi sesuai saran Seno selepas rapat anggaran tadi.
"But, i have to do something to change your style!" ucap Gladys sebelum ia melakukan sesuatu pada rambut pria yang ia minta mengemudi ke suatu alamat tersebut.
Tak perlu menunggu persetujuan dari sang suami, Gladys sedikit mengacak-acak rambut Naka yang tertata rapi seperti gaya khas eksekutif muda seperti ini. Gladys merubah gaya rambut sang suami menjadi messy hair serta menarik badan Naka mendekati dirinya.
"Honey, kamu nggak sabaran banget sih? Aku masih berkonsentrasi mengemudi loh! pulang dari sini aku janji akan memuaskan kamu," ucap Naka yang mengira bila Gladys akan menciumnya karena menarik tubuhnya lebih dekat dengan sang istri cantiknya.
__ADS_1
"Pede banget Pak, hei aku ingin melepas dasimu! acara kita siang ini kekeluargaan bukan mau bertemu investor!" ucap Gladys seraya melepas simpul dasi dengan kedua tangannya. Setelah itu wanita yang baru saja dinikahi oleh Naka tersebut melepas salah satu kancing kemeja Naka yang paling atas untuk memberi kesan macho pada sang suami.
"Taraaaa ... ini lebih baik, kalau kaya gini Christ Evans aja kalah Yank!"
Raut wajah Naka berubah cerah karena sejak tadi Gladys memujinya. Meski itu hal yang sangat jarang, walaupun hal yang jarang terjadi seperti saat ini mampu membuat kedua pipi Naka merona karena malu. Istrinya memang bisa sekali untuk mengambil hatinya, 'Ah pasti bini gue ada maunya!'
"Kita mau ke mana sih Hon, kayaknya kamu antusias banget deh?"
"Rahasia!" Gladys tak ingin memberi tahu Naka bila merencanakan untuk mempertemukan sang suami dengan ibu kandungnya. Pasalnya bila Janaka Matila sampai tahu, pria itu akan menolak dengan tegas idenya.
"Tuh 'kan! sengaja banget godain suami sendiri, awas aja tar malem Hon!"
Tak terasa perbincangan keduanya telah meleburkan jarak menuju rumah Hana Darmanto yang disinggahinya selama di Indonesia. Rumah sederhana yang dulu pernah menjadi tempat bernaung dan juga tempat menyimpan banyak kenangan manis tempo dulu.
Janaka Matila, seorang putra yang telah lama ditinggalkan oleh sang ibu masih mengingat kenangan manis di rumah ini. Karena di tempat ini seorang bocah lelaki masih mendapatkan kucuran kasih sayang dari orang tua lengkapnya.
"Dys Honey, kamu nggak bilang kita akan ke sini!"
"Ssssttttt ... aku rindu ibumu, beliau juga ibuku Yank!" Gladys menggenggam tangan sang suami guna memberikan semangat serta dorongan agar Naka bisa bertemu dengan sang ibu kandung untuk menyelesaikan masalah yang masih belum kelar ini.
"Oh, Honey! i cant do it!"
"No, you should be winner Yank! aku bersamamu."
Gladys segera mengetuk pintu berbahan kayu yang memiliki ukiran khas Jepara itu. Tak lama terdengar langkah kaki menuju pintu guna menyambut kedatangan mereka berdua.
Napas Naka memburu bersamaan dengan detak jantungnya. Kedua organ tubuh itu saling berlomba siapa yang lebih cepat bekerja. Tak pernah pria tampan itu bayangkan bila ia akan bertamu ke rumah ibu kandungnya. Selain karena permintaan dari Gladys, mungkin Janaka ogah untuk menginjakkan kaki di rumah ini.
__ADS_1
Bila bukan demi sang istri yang ia sayangi, Naka juga tak sudi bila harus bersimpuh ke kaki orang yang telah membuangnya. Di mana letak hati nurani wanita yang telah melahirkan dirinya dulu? Sungguh tega sekali bukan?
"Aku tak ingin ada salah paham lagi di antara kalian Mas!"
"What? Please repeat again what you call me Hon?" pinta Naka pada Gladys. Pasalnya ia tak mungkin salah dengar saat sang istri menyebut dirinya Mas tadi.
"Nggak ada siaran ulang!"
Begitu Gladys menjawab keinginan Naka, seorang wanita yang sudah berusia lanjut menyapa keduanya saat membukakan pintu untuk mereka. Hana Darmanto mengembangkan senyum manisnya pada anak dan menantunya yang baru saja tiba di rumah keluarganya.
"Hi, Mom! did you know i really miss you?" Gladys lalu berhambur menuju pelukan mantan dosen yang kini menjadi ibunya.
Sambil memeluk sang putri, Hana menatap Naka yang berada tepat di belakang punggung istrinya Gladys. Tatapan manik hitam itu masih sama, masih seperti dulu saat keduanya bertemu di hotel tempat Hana menginap.
"Ayo masuk anak-anak, ibu telah menyiapkan makan siang untuk kalian!" ucap Hana Darmanto mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.
Wajah sinis Naka masih saja tak berubah, hingga Gladys berdehem untuk mengingatkan sang suami agar tak berlaku macam-macam di rumah ibu mereka.
"Iya-iya Hon, iya aku nurut!" sahut Naka dengan setengah hati karena enggan mengikuti kemauan sang istri.
...****...
Salah paham dapat dialami siapa saja dan terjadi dalam berbagai hal. Namun tidak bisa dipungkiri, kesalahpahaman seringkali memicu masalah cukup besar. Untuk itulah saling berbicara dari hati ke hati diperlukan supaya menjadi pelajaran berharga untuk kita agar lebih bijak menyikapi persoalan tertentu sebelum bertindak atau mengambil keputusan.
Bapak mukanya santai aja sih yak, kaya ketemu saingan bisnis aja sinis gitu.
__ADS_1