
Senyum di bibir Janaka Matila semakin mengembang mana kala menyaksikan sang wanita pujaannya sedang sibuk menyeduh minuman yang bisa membuatnya lebih rileks lagi. Dari belakang, punggung Gladysnya cukup tampak menggairahkan bagi Naka. Apalagi sejak kejadian penuh g-a-i-r-a-h itu Naka kesulitan menyingkirkan pikiran nakalnya pada Gladys.
"Jangan ganggu aku Naka! aku sedang membuatkan teh hangat untukmu."
Gladysnya sedikit meronta karena diam-diam tanpa memberikan aba-aba Janaka Matila memeluknya dari belakang. Dan sialnya, Naka tak ingin melepaskan Gladys begitu saja malam ini. Ia telah bersumpah akan membuatnya menjadi wanita yang paling berharga di dunia ini.
"Don't go away, tonight am yours!"
"Tapi teh ini perlu diaduk! teh ini akan menjadi obat penawar mabukmu,"
"Obatku hanya kamu Hon, no more else!"
Kata-kata manis Naka semakin membingungkan Gladys. Jujur saja hingga detik ini ia masih belum mampu menjelaskan seperti apa perasaannya pada pria yang telah menerobos masuk rumah dan hatinya ini. Namun, bila ia melihatnya dari kaca mata realistis sungguh tak masuk akal.
Naka tak ingin sedetikpun berpisah dari Gladysnya. Yang ia inginkan hanya lah mencicip manisnya madu asmara bersama sang pujaannya. Meski Gladys menolak pada awalnya, tak menyurutkan semangat Naka untuk tetap menahan sang wanita. Naka dengan segala pesonanya membelai hati wanitanya.
Hati Gladys begitu merasa was-was pasalnya bukan sekali dua kali Naka memperlakukan dirinya seperti ini. Apalagi kini suasananya sangat mendukung CEO PT BMD tersebut. Menginap di kediaman hanya dengan memakai handuk seperti itu, orang mana yang tak berpikiran aneh-aneh.
"Kamu jangan macam-macam ... " Belum sempat Gladys melanjutkan kalimatnya, Janaka telah menutup mulut sang kekasih dengan mulutnya agar tak banyak alasan untuk menghindar.
Ciuman kali kedua ini bukan seperti pada pertama kali dulu. Bila dulu hanya sebuah permulaan atau peringatan saja, kini tarian kenikmatan itu telah Naka berikan hanya pada si Gladys. Meski cukup kaget pada awalnya, atas kepiawaian Naka dalam memainkan aksinya dalam menyapu bersih bibir milik calon nyonya ia tahu bahwa Gladys cukup menikmatinya. Hal itu tertanda dari pergerakan tubuh Gladys yang awalnya sangat kaku, namun kini berangsur-angsur mulai mengikuti ritme permainan Janaka Matila.
Keduanya kini telah larut dalam jeritan asmara yang memanggil untuk segera dituntaskan. Kini bukan hanya bibir sang Gladys saja yang menjadi santapan sang predator, namun leher mulus milik Gladys juga tak lepas dari terkaman liar serigala berbulu domba itu.
"Baby, start from now am your!"
Dengan bantuan sebuah meja yang mereka jadikan sebagai sandaran dalam usaha penuh gelora asmara ini, Naka telah memulai suatu usaha untuk menjadikan Gladys hanya miliknya. Begitupun sang wanita, penolakan pada awalnya kini telah berubah menjadi sebuah penerimaan pendatang yang akan menghuni relung hatinya. Hal itu bisa dilihat dari atasan baju tidur Gladys yang telah tersingkap ke atas dengan tangan kekar telah masuk ke dalam piyama tersebut. Bak kesetanan, Naka tak ingin melepas ikan yang telah terperangkap oleh umpannya.
Bayangan yang hanya mampu ia nikmati, kini telah bisa ia dapatkan. Bahkan penyebab rapat yang ia tunda tempo hari, telah nampu ia taklukkan malam ini. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Siapa sangka manusia dingin seperti Naka bisa melakukan hal di luar kebiasaannya seperti ini.
"Stop Naka!" Kesadaran Gladys mengingatkan dirinya bahwa ia belum resmi menjadi bagian hidup Naka. Statusnya yang masih abu-abu antara hitam dan putih membuatnya gamang untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Gladys tak ingin menjadi sebuah barang mainan Janaka.
__ADS_1
Tetapi, Naka tak mengindahkannya. Lelaki yang tengah berada di puncaknya itu masih tetap menggempur sang calon nyonya. Tak peduli apa pun yang akan terjadi, malam ini Gladys adalah miliknya.
"Jangan larang aku Honey, aku sungguh tak sanggup menahannya."
"We arent married yet!"
"Tomorrow Honey, lets married with me?"
'Ya Tuhan Naka, di saat seperti ini masih saja seenaknya. Mentang-mentang Janaka Matila lalu bisa melakukan apa saja?'
Karena tak mampu lagi menahan jiwa dan sesuatu yang terus meronta-ronta, Janaka lalu mengangkat tubuh Gladysnya menuju ruang pribadi wanita yang ia bawa. Janaka memang tak pernah main-main dengan ucapannya. Jangankan besok menikahi Gladys, membuat sebuah pesta perhelatan akbar dalam sekejap mata juga mampu ia lakukan.
Belum sempat kaki jenjangnya membawa Gladys menuju kamarnya, Naka merasa dipermainkan oleh bunyi nyaring ponsel yang ia letakkan di meja yang berdekatan dengan teh buatan Gladys. Ponsel sialan itu sungguh mengganggu momen indah yang telah ia rencanakan ini. Hingga Gladys menyuruhnya untuk segera mengangkat panggilan jam 2 dini hari itu.
"Siapa tahu penting!" bujuk Gladys agar Naka mengurungkan niatnya untuk menerkam Gladys.
Mau tak mau, Naka harus mengikuti kemauan wanitanya. Dan berpesan pada Gladys, "Pergilah dahulu, aku akan menyusul secepatnya Honey!"
Wajah Gladys tampak berseri, bukan karena tak sabar ingin segera menjalin hubungan intim dengan Naka, tetapi ia bisa bernapas lega karena ada sebuah kesempatan untuk meloloskan diri dari terkaman buaya.
'Ya Tuhan, siapa lagi manusia brengsek yang menganggu kesenanganku malam ini?' batin Naka sambil memijit pelipisnya setelah Gladys meninggalkan dirinya.
Pria bertubuh tinggi itupun langsung menyambar ponselnya dan segera menuntaskan gangguan ini sebelum Gladys berubah pikiran. Naka bersumpah akan menembak kepala siapa pun itu yang dengan sengaja mengganggu aktivitas malamnya bila tak ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Mike!" seru Naka mengerutkan keningnya kala membaca nama pria yang ia tugaskan di negara kincir angin. Mike adalah pria yang ditugaskan oleh Naka untuk mengawasi seseorang yang tinggal di kota Leiden Belanda. Pekerjakan yang Naka berikan ialah untuk mengawasi seseorang yang telah membuat putra Sigit Brahmana sakit hati.
"Ada apa? Bila tak ada yang penting jangan ganggu kesenanganku Mike!"
"Ini urgent Bos, saat ini saya masih mengikutinya hingga di Narita. Dia memesan penerbangan ke Indonesia!" jelas Mike pada Janaka seperti yang ia jalankan.
"Tetap awasi dia Mike, dan jangan sampai lepas!"
__ADS_1
"Siap Bos, maaf bila telah mengganggu waktu Anda malam-malam seperti ini!"
"Untung saja ini informasi penting, bila tidak aku bersumpah akan menembak kepalamu karena mengganggu waktuku!" ucap Naka sebelum ia mematikan sambungan teleponnya.
"Sayangku ... Gladys ... aku datang!"
...****...
I've been dancing on top of cars and stumbling out of bars
I follow you through the dark, can't get enough
You're the medicine and the pain, the tattoo inside my brain
And, baby, you know it's obvious
I'm a sucker for you
You say the word and I'll go anywhere blindly
I'm a sucker for you, yeah
Any road you take, you know that you'll find me
I'm a sucker for all the subliminal things
No one knows about you
And you're making the typical me break my typical rules
It's true, I'm a sucker for you, yeah
__ADS_1
☘️☘️☘️
Leiden : Leiden adalah sebuah gemeente Belanda yang terletak di provinsi Zuid Holland. Pada tahun 2003 daerah ini memiliki penduduk sekitar 110.000 jiwa. Leiden adalah salah satu kota terpenting di provinsi Zuid Holland maupun di Belanda secara umum, meski kota ini tidak terlalu besar. Wikipedia