Crazy In Love

Crazy In Love
My Senorita


__ADS_3

Naka lalu mengangkat telepon dari Maria, nama wanita yang menjadi sumber masalah dengan Gladys malam ini. Pasalnya karena kebaikan wanita itu pulalah Gladys uring-uringan hingga membuatnya harus kelimpungan mencari ide untuk memaksanya ke rumah Naka.


Gladys masih bergeming di tempatnya, seolah-olah ia sedang mengadili sang kekasih. Tak lupa pula Gladys memberi perintah berupa kode agar Naka melantangkan panggilannya dengan Maria, sosok wanita penggoda suaminya.


"Hallo!" sapa Naka dengan suara baik-baik saja.


"Hai Pak Janaka, apa Anda suka dengan hadiahnya?" suara perempuan itu terdengar dibuat seseksi mungkin untuk menarik perhatian pria yang kini berada di ujung tanduk sang nyonya.


"Sayang ... kok belum tidur? Aku sudah menunggu kamu loh," ucap Gladys sengaja memanas-manasi wanita yang saat ini sedang menelepon Naka. Meski terdengar mesra, namun raut muka Gladys tak berubah sedikitpun. Masih tampak sangar untuk wanita secantik dirinya.


"Oh iya Hon," Naka membalas Gladys dengan lantang lalu berkata pada Maria, "Maaf Nona, istriku sedang menunggu aku!" ucap Janaka Matila sebelum ia menutup telepon dari Maria.


"Dear, jangan pergi dong! aku nggak ada maksud untuk membohongi kamu, hanya saja aku tak ingin membuatmu marah bila tahu seperti ini." Naka mencoba menahan kepedihan Gladys dari sisinya. Ia sungguh tak rela bila malam ini juga Gladys akan meninggalkan dirinya dengan keadaan marah seperti ini.


"Aku nggak marah, sudahlah kamu istirahat saja! sebaiknya aku tak mengganggu kamu untuk sementara waktu,"


Nah, ini yang paling Janaka Matila takutkan, ia sungguh tak bisa membiarkan Gladys menjauhinya. Terlebih dalam kondisi penuh emosi seperti saat ini.


"Yank aku bisa gila kalau kamu mengabaikan aku seperti ini, iya aku janji tak akan menerima apa pun itu bila bukan dari kamu seorang!" CEO dari perusahaannya BMD itupun sudah kepalang tanggung, jauh-jauh Gladysnya ke mari dan dia tak mungkin bisa membiarkannya Gladys pergi begitu saja.


"Sekarang katakan dengan jujur! kamu membohongiku aku juga bukan mengenai penyakit ini?" Gladys berkacak pinggang hingga keduanya bertatapan satu sama lain.


"Iya iya, aku mengaku salah Hon! tapi sumpah demi apa pun aku melakukan ini demi kamu Honey," jelas Naka tak ingin Gladysnya lebih marah lagi bila ia semakin bermain drama menjijikkan seperti ini.


"Aku 'kan sudah mengatakan padamu Yank, aku paling nggak suka dibohongi." Kata-kata daei Gladys cukup menyayat hati Naka. Dan untuk menenangkan wanitanya, Janaka berinisiatif untuk memeluk Gladys.


"Am so sorry baby, i can't do something to show what a big my love for you!"


"Enough Naka, please give me a little time alone,"


"Never! aku benar-benar crazy without you Dys!"


Meski Gladys mencoba memberontak untuk melepas diri dari Naka, tapi pria yang telah bersandiwara itu tak akan membiarkan Gladys meninggal Naka begitu saja. Meski harus mengerahkan sekuat tanaga, meski harus menghabiskan seluruh hartanya Naka tak 'kan pernah memburu Gladys jauh darinya.


"Menginap di sini ya? Please ... tonight!" Sorot maka Janaka Matila tampak berkilauan menahan rasa haru agar sang kekasih bersedia tinggal bersama dengannya malam ini.


"Aku memaafkan kamu untuk kali ini, tapi maaf aku nggak bisa menuruti permintaan kamu Naka. Mama melarang kita tinggal bersama, lagipula aku banyak urusan!"


"Never mind Honey, mama Mira sudah percaya sama aku kok!" Dengan bangga Naka pamer pada Gladys bahwa restu dari kedua calon mertuanya telah ia kantongi.


"Dasar ... " cibir Gladys diiringi dengan sebuah cubitan manja pada hidung mancung sang kekasih. Tapi, pertahankan Gladys tak tergoyahkan. Ia tak berniat untuk menginap di tempat yang telah di sediakan untuknya.


Bahkan ketika di dapur tadi, bibi pelayan juga mengatakan bahwa ia telah membantu Pak Naka untuk berbenah karena nyonya sebentar lagi akan tiba di rumah ini. Bila Gladys mengingat pembicaraan antara dirinya dengan sang bibi, itu sangat membuatnya tersipu. Pasalnya Naka cukup memprioritaskan dirinya hingga seperti ini.


"Kalau begitu, aku ikut kamu pulang Hon! dan tak ada penolakan lagi!"

__ADS_1


"Heh enak saja," begitu Janaka sedikit melonggarkan pelukannya, secepat itu pula Gladys berusaha meninggalkan pria dewasa yang kini masih tak menyangka bila kekasihnya cukup tega padanya.


"Dikit aja sih Hon, kamu nggak rugi sedikitpun menginap di sini! malah untung besar loh!" Meski harus mengerahkan seluruh tenaganya, Janaka rela bila Gladysnya bersedia tinggal semalam atau bahkan selamanya di rumah ini.


"Oya, ngomong-ngomong siapa Maria?" Gladys mencoba mengalihkan pembicaraan agar Naka tak melulu berpikir tentang selangkan**n.


"Dia adik dari rivalku Hon, kamu tahu sendiri bukan bahwa suamimu ini harus bisa memanfaatkan keadaan?"


Gladys mencebik karena Naka masih tampak percaya diri meski telah tertangkap basah olehnya. Hal seperti ini tak boleh terjadi untuk kali keduanya. Sangat menggelitik rasanya bila Gladys harus kalah dengan wanita seperti itu.


"Aku pulang dulu ya?"


Namun, belum sempat Gladys berjalan lebih jauh meninggalkan Naka dan kamarnya, lelaki dengan lengan kokoh itu menarik tubuh sang wanita dan kembali membawanya masuk ke dalam ruang pribadinya. Naka benar-benar tak 'kan membiarkan Gladys pulang malam ini.


"Yank ... hentikan! ini tindakan kriminal loh!" Gladys tak percaya bahwa Naka akan melakukan segala cara untuk mencegahnya.


Bahkan dengan cara seperti tadi, membawa tubuh sang nyonya dengan tak membiarkannya beranjak sedikitpun lagi. Naka benar-benar harus melakukan ini demi masa depannya. Pasalnya, kini sudah menjadi kebiasaannya bahwa ia tak bisa memejamkan mata bila tak di samping Gladys.


"Am Crazy without you!"


**


"Bi, nanti untuk sarapan nyonya bisa bibi antar ke atas setelah ada aba-aba dari saya! dia masih terlelap," ucap Naka pada salah satu pelayan yang menyiapkan keperluannya paginya.


"Siap Pak!"


Beberapa pelayan bahkan saling membicarakan kebiasaan baru sang majikan yang tak pernah mereka dapatkan. Sejak beberapa kali terakhir ini Pak Naka mereka cukup sering tersenyum. Dan menurut bibi pelayan senior yang semalam membantu nyonya di dapur, Pak Naka lagi berada di fase manja. Bahkan nyonya juga sampe malam-malam datang demi beliau, dan pagi ini belum ada tanda kehidupan di kamar Pak Janaka yang menandakan bahwa sang nyonya kelelahan menghadapi ganasnya Janaka Matila sang bos mereka.


Begitu Pak Parman supir Naka mengatakan mobil dan dirinya telah siap, Naka kemudinya bergegas pergi bekerja untuk mencari nafkah yang akan digunakan untuk menghidupi wanita yang kini masih sibuk mendengkur di kamarnya.


Meski pagi ini ia telah meninggalkan wanita itu, tapi ia cukup bahagia karena kini rasa lelahnya bekerja telah terbayarkan dengan status barunya.


Tubuh ku dan pikiran tak berhenti menginginkan mu.


Seolah aku anak kecil dan kau menggambil permen ku pergi,


Aku akan keluar dari pikiranku, ku bahkan tak bisa berkonsentrasi


Bagaimana aku bisa lakukan semuanya, ketika pikiran ku sebagian di tempat lain?


Apa yang sudah kau lakukan padaku?


Aku seharusnya tidak bertindak seperti ini.


Ketika kau melihatku, matamu membuatku gila,

__ADS_1


Bersamaan senyum misterius mu.


Kau memanggil namaku dan


terus membuat isyarat di mata.


kau memanggil namaku dan


mata kita saling menatap.


Sentuhan lembut mu


membawa nafasku pergi,


saat kau mengikat ku tinggi,


Meleleh Dari rambutku hingga leherku


Meleleh Dari rambutku hingga leherku


Janaka Matila Brahmana


...****...


Land in Miami


The air was hot from summer rain


Sweat dripping off me


Before I even knew her name, la-la-la


It felt like ooh, la-la-la


Yeah, no


Sapphire moonlight


We danced for hours in the sand


Tequila sunrise


Her body fit right in my hands, la-la-la


It felt like ooh, la-la-la, yeah

__ADS_1




__ADS_2