Crazy In Love

Crazy In Love
Yeay Mobil Baru


__ADS_3

Menjalani hari baru sebagai seorang istri dari pesohor bisnis seperti saat ini membuat Gladys harus menjaga imagenya di depan khalayak. Namun, bila mendapati peristiwa seperti tadi itu menjadi hal yang diluar kendalinya. Tadinya Gladys ingin menyelesaikannya permasalahan itu dengan kekeluargaan, akan tetapi beberapa pria yang telah mengintimidasi penjual Gado-gado itu sangat keterlaluan. Oleh karena itu, satu-satunya cara hanyalah berlaku di atas lebih kejam dari preman itu.


Jangan ditanya mental mengintimidasi Gladys berasal dari mana? Pokoknya ia merasa tak suka ya bakal diungkapkan.


Seperti saat ini, Gladys bersama Kanaya sedang asyik mengunjungi pameran mobil di sebuah mall di kawasan Senayan. Siapa sangka dengan adanya sedikit goresan di bagian depan mobilnya, membuat Gladys menginginkan sebuah mobil baru. Oleh karena itu, istri Janaka Matila itu meminta sang adik untuk menemani dirinya melihat pameran mobil listrik yang sedang ramai diperbincangkan.


"Kurasa Mbak Gladys musti beli testpack, aku curiga keinganmu yang aneh-aneh ini karena hamil anak kakak ipar, karena bawaanya rese kaya Kakak Naka!"


"Hust jangan sembarangan, sebenarnya aku udah lama pengen beli sedan ini, Nay! hanya saja masih mikir-mikir,"


Perbincangan keduanya harus terhenti lantaran ponsel baru Gladys berbunyi. Nama sang suami terlihat jelas memenuhi layar benda pintar itu. Selain enggan berdebat dengan Naka bila ia terlalu lama mengangkat panggil dari pria itu, Gladys sebenarnya malas berbicaralah dengan sang suami.


"Kamu nggak apa-apa Hon? Apa ada yang terluka?" Terdengar Janaka sangat panik memberondong Gladys dengan banyak pertanyaan. Mungkin salah satu anak buahnya telah mengadu padanya.


"Aku baik-baik saja, bahkan masih sehat dan waras hingga kini!" jawab Gladys cuek secukupnya karena kesal pada Naka.


"Kok ngomongnya gitu? Aku khawatir Hon!"


"Yang tipe standar, akselerasinya 3,3s Bu!" Suara seorang pria yang merupakan sales promotion menjelaskan spesifikasi mobil pajangan mereka.


"Kamu sedang di mana Hon?" Tak bisa dibohongi lagi, selain khawatir Janaka juga merasa tak suka bila sang istri dekat dengan pria yang tidak ia kenal.


"Kami lagi di pameran mobil listrik ..."


"Mbak Gladys beli mobil udah kaya beli gorengan gocengan aja!" imbuh Kanaya dari arah belakang ketika salesman tadi menjelaskannya.

__ADS_1


"Honey, Gladys kamu mau beli mobil?" Naka memastikan apa yang ia dengar dari Kanaya bila Gladys menginginkan sebuah mobil baru untuknya.


"Iya, mobilmu tadi aku tabrakin! sekarang mau beli dulu yang baru, tapi tenang aja aku beli pakai duitku sendiri." ucap Gladys lalu mengakhiri panggilan dari Naka. Pasalnya dengan berbicara dengan Naka, bisa mengganggu transaksinya.


Sedangkan Naka? Pria yang merasa tak diajak berdiskusi dahulu sebelum sang istri melakukan apa-apa kini sedang tersulut emosi karena Gladys lebih memilih mematikan sambungan telepon darinya.


Ketidakpuasan itu menjadi jadi karena permasalahan di tubuh BME belum menemukan titik terang. Untung saja itu Gladys, mungkin bila yang berani mematikan telepon darinya orang lain entah apa yang akan dilakukan oleh Janaka Matila.


"Mas, pertemuan dengan penanggung jawab Brahmana Mega Energy sebentar lagi dimulai!" ajak Saka pada kakak iparnya yang baru saja tiba di kantor pusat BME.


Selama berada di Batulicin Kalimantan Selatan ini, Janaka akan membahas permasalahan yang berada di tubuh BME. Semenjak melonjakkan permintaan bahan bakar berupa batubara dari beberapa konsumen, membuat pemerintah menaikkan keinginannya dalam memasok bahan bakar untuk sumber energi kelistrikan.


Janaka Matila menyingkirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya tentang Gladys. Kini bukan waktunya untuk memberikan pemahaman untuk sang istri, karena Naka akan memimpin rapat internal di tubuh BME. BME adalah perusahaan terbesar yang mengeksploitasi wilayah Kalimantan Selatan. Sebagai anal cabang dari perusahaan Brahmana Business Group, membuat BME mudah menarik investor dan beberapa rekanan.


Banyak diantara rekanan perusahaan lain uang menawarkan hasil tambang mereka untuk BME. Salah satunya adalah perusahaan tambang batubara milik Tendy Wiguna. Beberapa perusahaan tambang batubara lain saling berlomba-lomba untuk mendekati harumnya bau kerajaan bisnis Brahmama.


"Saya kurang setuju bila kita memasok bahan bakar dari tambang orang lain, bahkan saya memiliki niat untuk membuka lokasi tambang baru. Dan rencana ini telah saya pikirkan matang-matang jauh sebelum masalah ini muncul! saya akan mengumpulkan ahli geologi dan juga teknisi di lapangan."


Ide dari komisaris BBG ini memang dinilai cukup tepat sasaran. Selain bisa menekan biaya konsultasi, BME tak perlu membeli bahan batubara dari tambang lain. Namun, kekurangan dari ide Janaka ini adalah BME harus memulai menggarap lahan baru yang membutuhkannya biaya yang cukup besar pada awalnya. Selebihnya tentu saja keuntungan akan diambil sendiri oleh BME.


"Saya setuju dengan rencana Pak Naka, untuk lahannya kita bisa bernegosiasi dengan penduduk setempat setelah ahli geologi menemukan lokasi yang strategis!" Saka mendukung ide dari kakak iparnya. Selain berwawasan luas, Naka dinilai memiliki jam terbang yang cukup tinggi di bidang bisnis. Oleh sebab itu, sifat materialis yang ia miliki sangat kuat di waktu seperti ini.


"Pak Naka memang gemar mengambil tantangan!" ucap salah satu manager tambang yang lain.


"Bos setelah ini, Anda memiliki janji temu dengan Pak Tendy Wiguna!" bisik Seno yamg duduk di dekat Naka.

__ADS_1


Seorang wanita selaku notulen, kini sedang mencatat jalannya meeting kali ini. Mulai dari tahap awal rencana Janaka hingga pelaksanaan rencana tersebut. Selain mengumpulkan beberapa orang penting yang akan membantu BME dalam membuka tambang baru, pegawai BME juga tidak boleh melupakan relokasi lahan yang telah dihuni oleh penduduk.


Bahkan harga ganti rugi lahan dalam satu meter persegi telah mereka bicarakan. Janaka tak ingin menawar di bawah harga pasar dan menyebabkan kerugian yang mungkin bisa dialami oleh masyarakat sekitar.


"Kau atur saja masalah ganti rugi, karena aku tak bisa melihat kisaran harga lahan Saka," Janaka memberikan tugas untuk adik iparnya. Selain memikirkannya perusahaan di bawah naungan BBG, Janaka juga ingin memberi kesempatan Saka untuk mengelola perusahaannya ini.


"Baik, Mas!"


"Rapat selesai sampai di sini, kalian bisa menghubungi saya bila terjadi kendala!" Naka lalu meninggal ruang rapat setelah menutupnya terlebih dahulu.


"Istirahat dulu, Bos?" tawar Seno pada sang atasan ketika melihat tubuh letih Janaka. Selama tiba di Kalimantan Selatan ini, Naka belum sempat beristirahat sekalipun. Sebelum memimpin rapat tadi, ia terlebih dahulu mengumpulkan orang-orang kepercayaan untuk meminta laporan kerja.


Pukul 12.40 WITA ini ia akan berangkat menuju tempat yang telah disetujuinya untuk bertemu dengan Tendy Wiguna. Selain ingin membahas masalah batubara, Naka juga ingin menyapa salah satu rivalnya ini dan memberikan sedikit pukulan mental untuk pria itu.


Jadi, bila Gladys bersikap bar-bar, so pastilah menurun dari sang suami. Niat Naka itu ia lalukan karena kesal ingin membalas masalah yang terjadi di pulau Bawean. Sebelum bertemu dengan Tendy, Naka juga telah menghimpun amunisi untuk mengintimidasi Tendy siang ini.


"Hadeeeh ... wanita itu pasti sedang melakukan hal semaunya!" Naka membolak-balikkan ponselnya menunggu Gladys menghubungi dirinya karena Mike telah melaporkan bahwa Nyonyanya telah pulang dengan berkendaraan sendiri dari lokasi pameran.


"Anda terlalu memanjakannya, Pak!" balas Seno. Hanya Senolah yang mengerti isi hati Janaka.


"Do you know what he will do if I don't do what she wants?" Janaka menepuk jidatnya sesaat kemudian.


"Nggak dapat jatah malam?"


"Benar sekali!"

__ADS_1


...****...



__ADS_2