Crazy In Love

Crazy In Love
Usaha Gladys 2


__ADS_3

Meski merasa terpaksa, Naka nyatanya mau saja menuruti kemauan Gladys untuk masuk ke dalam rumah yang pernah ia tinggali ketika kecil dulu. Rumah yang berciri khas adat Jawa yang kenal itu masih tak berubah sedikitpun. Lukisan yang dipajang di ruang tamu masih sama seperti tiga puluh tahun yang lalu, bahkan lampu gantung unik dan berumur tua juga masih menghiasi plafon ruang tamu. Bergeser ke ruang keluarga di mana tempat yang sering dipenuhi oleh anggota keluarga guna bercengkrama dan saling cerita ternyata masih sama tak berubah.


"Ibu telah memasakkan Naka makanan kesukaannya!" ujar Hana Darmanto dengan raut wajah sumringah karena Gladys sang menantu mampu menyeret anak sulungnya pulang ke rumah keluarganya.


"Anda tak perlu repot-repot, kami hanya sebentar!" Naka menggarisbawahi bahwa hubungan di antara kedua masih menyisakan jarak, hingga sebuah cubitan kecil mendarat ke pinggangnya.


Tak ingin membuat kedua ibu dan anak ini berselisih paham lagi, oleh karena itu Gladys buru-buru memberi kode pada Naka berupa cubitan kecil agar Naka tak berbicara sembarang yang bisa menyakiti hati ibunya.


"Oke, oke apa pun yang kamu mau Dear! aku ngikut," Naka telah mengibarkannya bendera putih tanda ia telah menyerah bila harus menghadapi sang istri. Bila Gladys murka, akan susah pria itu mendapatkan hak yang diinginkan Godzila miliknya.


"Ibu kini tak mengkhawatirkan kamu lagi sayang! ternyata selain tak mudah ditindas oleh Naka kamu juga bisa menjinakkan putra ibu," puji Hana pada sang putri yang telah lama ia tunggu kehadirannya.


Selain Hana, seorang pemuda tampan keluar dari ruang pribadinya dan menemui tamu yang telah diundang oleh sang ibu.


"Aditya Darmanto, putra kedua ibu." Hana mengenalkan pemuda gagah yang baru saja bergabung bersama mereka bertiga.


Jika Gladys lihat, baik Aditya ataupun Janaka tak jauh berbeda. 'Mungkin karena keduanya satu ibu,' pikir Gladys dalam hatinya karena tak berniat untuk menanyakan perihal hubungan mereka.


"Ini Gladys, istri dari Masmu Janaka Nak!" Hana mengenalkan Gladys pada putra bungsunya.


Keduanya lalu bersalaman seperti pada umumnya. Namun, siapa sangka ini bukan pertemuan kali pertama bagi Adit ataupun Gladys.


"Kita bertemu lagi Kakak, masih ingat?" tanya Adit dengan wajah penuh harap pada Gladys. Karena ia tahu bahwa Gladys tak mungkin akan melupakan dirinya.


"Apa maksudmu?" tegur Janaka dengan semburat tak suka saat Adit menatap sang istri dengan pandangan menelisik seperti pria pada umumnya bukan seperti pandangan adik ipar.

__ADS_1


"Tentu saja, kamu yang memberiku nomor urut kompetisi design karena aku terlambat hadir. Aku tak menyangka bila kamu adik dari suamiku, ah dunia ini begitu sempit!" Gladys masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Adit kala istri Naka itu datang mengambil nomor urut setelah mendaftar pada kompetisi design sebuah gedung kebudayaan beberapa hari yang lalu.


"Kebiasaanmu bangun siang telah mengusahakan dia Honey, lain kali jangan ulangi lagi." ucap Naka dengan tangan melingkari di pinggang Gladys seperti memberi isyarat bahwa wanita ini miliknya dan tak ada seorangpun yang bisa mengusiknya.


"Hei Bapak, kamu sendiri yang membuatku tak bisa bangun pagi. Ini semua salah kamu Yank!" Gladys tak terima bila Naka mengatakan kebiasaan buruknya bagun siang. Pasalnya semenjak Naka tinggal di apartemen atau keduanya menginap bersama, Naka akan melakukan hal bisa membuatnya mengelus dada. Selain ingin dipenuhi hasratnya, Naka juga sangat pandai menciptakan keintiman.


"Sudah-sudah, ayo makan! kalian pasti lapar bukan? Ibu masak gudeg nangka muda campur kulit sapi kesukaan Naka."


"Ibu masih mengingat makanan kesukaanmu Yank?" bisik Gladys menggoda yang suami yang sejak tadi hanya menekuk wajahnya karena terpaksa datang ke rumah ini.


"Shut out! pulang dari sini jangan harap kamu bisa keluar dari kamar Hon,"


Gladys merasa sangat bahagia karena kedua orang yang memiliki hubungan darah itu akhirnya mampu satu meja kembali. Keinginannya tak muluk-muluk, meski ia tahu Hana tak bisa kembali pada keluarga Naka setidaknya hubungan di antara Kedua bisa akur lagi.


"Jangan samakan aku dengan Brahmana ibu, karena ayahnya telah membuang kita!"


Sontak kata-kata dari Adit barusan membuat Gladys menoleh ke arah Naka yang duduk di sampingnya. Sejak tadi pria itu telah menjaga emosinya agar tetap stabil, jangan sampai kalimat Adit barusan membuat Naka tersulut emosi.


Oleh karena itu, Gladys diam-diam menggenggam tangan sang suami yang berada di bawah meja. Tangan kekar itu sedang mengepal erat ketika Gladys akan menggenggamnya. Sebagai istri, Gladys akan selalu menemani Naka dalam keadaan apa pun.


"Mom, aku sudah tak sabar ingin mencicipi gudeg buatanmu! kira-kira akan lebih enak mana dari buatan mama?" Gladys mengalihkan pembicaraan yang mampu mengusik ketenangan Janaka Matila.


"Oya? Ibu lupa mama kamu asli Jogja bukan? Apa kabar Mira? Apa dia masih menyukai seni Sayang?"


"Mama masih mengajar Mom, dan masih aktif dalam kegiatan kebudayaannya."

__ADS_1


Sambil menikmati makan siang ini, Hana ingin meluruhkan masalah yang terjadi di antara ia dan Naka serta Sigit Brahmana. Bagaimanapun Janaka perlu tahu apa yang membuatnya pergi begitu saja dari kehidupan bocah lelaki yang kini berada di depan matanya.


"Naka, maafkan ibu!" pinta Hana yang membuat ketiga buah hatinya tertegun dan saling pandang. Pasalnya bagi Gladys, sebaiknya Naka dulu lah yang mengucap permisi maaf itu.


"Angin apa yang membuat Anda mengatakan hal konyol seperti ini pada saya?" Dengan lugasnya Naka seolah mencibir sang ibu kandung karena baru saja meminta maaf padanya.


"Ibu sudah banyak bersalah padamu Nak, gara-gara keegoisan ini kamu dan Adit lah yang harus menanggung semua ini!"


"Lalu mengapa hanya dia yang kau bawa? Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Apa kau tahu betapa sakitnya aku?"


Hana tak kuasa menumpahkan air matanya mendengar dakwaan dari Naka. Hati kecilnya terasa dihujam seribu sembilu bila mengingat tangisan putra kecilnya. Ia merasa berdosa pada malaikat kecil itu.


"Diam kau! ayahmu lah yang telah mengusir ibuku!" Adit tak tahan dengan sikap kasar Naka pada ibunya. Karena bagaimana juga Hana adalah ibu kandung kakaknya, sudah sepatutnya bila Naka bersikap sopan pada orang yang telah melahirkan dirinya.


"Tahu apa kau bocah? Bahkan kau belum bernapas di dunia ini ketika wanita ini meninggalkan aku."


Gladys terombang-ambing di antara kedua kubu yang saling mengaku benar ini. Jujur saja, tak ada hati yang terluka pada mereka bertiga. Masing-masing dari mereka telah menyimpan luka ini terlalu lama, dan harus diobati dengan segera.


"Hei, aku mengajak kita bertemu bukan untuk adu urat! Sayang aku tahu kamu sangat kecewa pada ibumu, tapi bagaimanapun dia wanita yang telah melahirkan kamu. Dan kamu Adit? Kecilkan suaramu, dia kakak kandung kamu di mana sopan santunmu?"


'Dia membela suaminya? Semua orang memihak Mas Naka bahkan ibu saja masih terus menyayanginya meski tak bertemu. Kenapa semua orang berpihak padanya?'


...****...


__ADS_1


__ADS_2