Crazy In Love

Crazy In Love
Mrs Brahmana


__ADS_3

Akhirnya Gladys bisa bernapas dengan lega dan segera bersiap menuju mimpi indahnya. Bagaimana tidak, untuk reward yang ia dapatkan malam ini Gladys mendapatkan setidaknya sebelas deret angka yang akan masuk ke akun Brahmana Foundation. Kerja kerasnya selama ini telah membuahkan hasil yang maksimal. Setidaknya, ia ingin berguna bagi yayasan itu sebelum menyerahkan kepada pemimpin selanjutnya.


"Besok aku akan ke Batulicin Hon,"


"Benarkah? Berapa hari?" Dari nada suaranya Gladys terdengar sangat antusias ketika tahu Naka akan segera meninggalkannya.


"Kok kamu kayaknya seneng banget aku ke luar kota?" Ternyata Naka juga curiga mengapa sang istri begitu menggebu-gebu karena akan segera ditinggalkan.


'Tentu saja, aku tidak perlu melihatmu dan juga tak perlu melakukan apa saja untukmu!'


"Ah itu hanya perasaanmu saja Yank, kata orang bila kekasih berjauhan akan semakin sayang karena saling merindukan." Gladys tak boleh salah dalam berbicara sebelum sumber dana di depannya mengurungkan niat untuk membantu mengatasi masalah pendanaan.


Bukan Janaka Matila namanya bila akan merasa puas dengan ucapan manis dari sang istri. Pasalnya ia telah mengetahui bagaimana tabiat licik sang istri, selain pelit Gladys juga cukup banyak akal untuk mengelabuhi dirinya.


"Tenang saja, aku tak akan lama! setelah mengatasi permasalahan itu aku akan segera mengurungmu di kamar ini lagi!"


"Believe me, it wont work!"


...**...


Wajah Gladys pagi ini begitu bersungut-sungut. Bagaimana tidak, pemberitaan mengenai dirinya berada di mana-mana. Bahkan, Malena Silalahi salah satu temannya menyempatkan diri menelpon Gladys pagi buta karena teman menempuh pendidikan di NUS menjadi trending topik pagi ini. Nama Gladys berada di urutan pertama dalam pencarian di internet setelah rekaman interview-nya beredar di televisi dan beberapa surat kabar cetak maupun online.


Bukan hanya itu saja, ramainya pemberitaan akan Gladys berimbas pula ke perusahaan Brahmana Business Group. Janaka bahkan memuji sang istri karena dengan semalam mampu menjadi tajuk utama semua berita.

__ADS_1


"Terima kasih Hon, berkat kamu saham BBG melonjak pesat!" Janaka tak percaya karena kehebohan berita pergantian pemimpin serta di tambah eksistensi sang istri kini membuat BBG di atas awan.


"Jangan menyindir aku, wartawan itu ngadi-ngadi. Susah payah aku menjauhi hal seperti ini, kini akhirnya booming!"


Berkah dari kemunculan Gladys sebagi nyonya muda Brahmana sangat terasa. Saham BBG uptrend dari Rp 846 naik sebesar 70 persen atau 591.5 poin menjadi Rp 1.436.5/lembarnya.


Kenaikan pesat ini memengaruhi besar volume perdagangan harian dalam sepekan hingga di atas Rp 10.000.


Artinya dengan modal kurang dari 10 juta saja bisa digunakan untuk menggerakkan saham ini hingga menyentuh level auto reject atas (ara) berkali-kali. Tentu saja saham-saham seperti ini memiliki risiko tinggi, apalagi nilai kapitalisasi pasarnya sebelum digoreng kurang dari Rp 1 triliun.


Tentu saja hal baik seperti itu harus disyukuri. Tuhan memberikan reward dari kerja keras keduanya. Bahkan tanpa sepengetahuan Gladys, pria itu diam-diam mendekati salah satu pemegang saham di BBG dan berencana membelinya. Janaka akan menghadiahkan saham BBG sebesar 12 persen itu untuk sang istri sebagai kado kecil pernikahan mereka.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi Yank? Apa terjadi sesuatu?" Tentu saja Gladys merasa bersalah akibat perbuatannya. Bila saja, para jurnalis itu tak mengepungnya kejadian penuh emosi itu tak 'kan terjadi dan BBG tidak mungkin mendapatkan imbas yang sedemikian rupa.


Sebelum Naka berangkat ke luar kota, terlebih dahulu pengusaha sukses itu menyempatkan diri bermesraan dengan sang istri seperti saat ini. Meski dalam lubuk hatinya masih enggan meninggalkan Gladys dengan pergi jauh darinya, tapi apa mau dikata? Brahmama Mega Energy membutuhkan bantuannya sebagai pemimpin induk dari beberapa bisnis keluarga Brahmana.


"Apa tadi itu sebuah pernyataan cinta, Yank?" Dan Gladys juga sangat hapal seperti apa sikap Naka, pria itu jarang dan hampir tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada sang istri.


Janaka Matila adalah pria yang berpikir rasional dan logis, oleh karena itu Naka lebih suka mengungkapkan dengan sebuah tindakan daripada janji manis. Bagi Janaka Matila, cinta itu bukanlah sebuah gombalan belaka. Namun, cinta bagi Janaka adalah sebuah komitmen menjaga perasaan dan membuat pasangannya bahagia.


Mendapatkan perhatian dan kemewahannya serta kemudahan baik itu moril dan materil hanyalah bonus yang didapat oleh Gladys karena telah tulus dan bersedia menerima Janaka dengan sepenuh hati.


"Cinta? Hal itu tak perlu kamu tanyakan padaku Hon, karena kamu tahu jawabannya!"

__ADS_1


Cup ... Gladys menghadiahkan sang suami berupa ciuman manis di pipi kanan Naka.


"Aku mencintaimu!" ucap Gladys sesaat kemudian.


Tak ingin mendengar apa pun dari istri cerewetnya, Janaka lebih memilih menyumpal mulut Gladys menggunakan ciumannya agar wanita yang kerap kali berbicara tanpa jeda itu tak banyak bicara. Bahkan kata Janaka cara berbicara Gladys saat marah, seperti seorang berbicara tanpa bernapas.


"Kabari aku bila sudah landing, Mas," pinta Gladys sambil bergelayutan manja di lengan sang suami sebelum Naka berangkat.


"Serius deh, I mean kamu kayaknya seneng banget aku pergi Hon!" Tanpa diberitahu pun Janaka juga tahu seperti apa isi hati sang istri.


"Tentu saja, Yank! aku bisa bebas ke manapun, belanja apa pun, dugem pulang malam sekalipun," jawab Gladys dengan terkekeh puas seperti ABG yang baru saja mendapatkan kebebasan dari kedua orang tuanya.


"Sudah kuduga dari awal, untung saja aku sudah meletakkan pion mata-mata untuk kamu Hon!"


Seperti yang telah Janaka prediksi, Gladys begitu mencurigakan setiap kali jauh dari dirinya. Pria dewasa itu tak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya. Bila sampai Gladys melangkahkan kakinya ke tempat hiburan malam seperti dahulu, Janaka tak segan akan menyeret sang istri pulang. Bila perlu ia akan mengerahkan segala tenaganya untuk mengurung sang istri lagi.


"Hahahah ... aku hanya becanda sayang, mana mungkin aku berani macam-macam di belakang kamu? Apalagi kini aku menyandang gelar dan posisi baru," Gladys meyakinkan sang suami bahwa ia tak mungkin bisa kembali seperti masa mudanya dulu.


Padahal Janaka tidak tahu seperti apa rencana sang istri dengan kakak serta adik iparnya dibelakang para suami. Mudah saja bagi Gladys untuk mencari ide, jangan panggil dia Gladys bila tak bisa memperdayai orang lain termasuk juga sang suami.


...****...


__ADS_1


__ADS_2