
"Adys kenapa Mam? Papa lihat sejak tadi gak keluar kamar?" tegur seorang pria berwibawa pada Mira Khoirudin.
Beliau adalah Andung Hartono, ayah dari Gladys Hartono. Andung dan sang istri sangat mengkhawatirkan putri bungsunya. Sepulang dari pertemuan dengan Nico, Gladys tampak tak bersemangat. Seharusnya momen kerinduan bersama teman dan keluarganya akan terlaksana tapi sepertinya kali ini tak berjalan dengan lancar.
Gladys lebih memilih mengubur harapan untuk hidup bersama Nico, wanita cantik itu tak ingin lagi berharap pada sang fotografer. Apalagi Nico menjelaskan sebentar lagi akan menikahi Amara. Dan baru juga Gladys ketahui bahwa Amara adalah mantan mahasiswi asuhan Mama Mira. Pertemuan pertama dari kedua orang itu yakni Nico dan Amara terjalin saat mahasiswi cantik itu sedang menghadap mamanya Gladys untuk bimbingan dalam menyusun skripsi. Kebetulan hari itu Nico sedang berkunjung ke rumah Gladys. Cinta pada pandangan pertama itupun tak terelakkan lagi.
Sepulang dari restoran tempat pertemuannya dengan Nico dan Amara, Gladys tak beranjak dari kamar yang dulu pernah ia tempati di masa kecilnya. Gladys tak ingin melakukan apa pun, yang ia inginkan hanyalah berdiam diri dan melupakan Nico hingga memupus habis perasaan itu.
Hingga mendekati jam makan malam, Gladys masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Getaran dari ponselnya menandakan sebuah panggilan masuk ke nomor kontak miliknya. Namun, kembali lagi Gladys enggan menjawab setiap telepon yang masuk.
Getaran dari ponsel yang Gladys senyapkan kembali terasa karena ponsel itu berada tak jauh dari tubuhnya. Nomor si Songong itu kembali menghubungi dirinya untuk kedua kalinya. Kesal karena telah mengganggu waktu istirahatnya, Gladys terpaksa mengangkat panggilan dari si Songong itu.
"Dari mana aja sih?" suara tanpa basa-basi dari si Songong cukup menyakiti gendang telinga wanita berdarah Jawa tersebut.
"Ada apa aku sedang istirahat!" sahut Gladys dengan suara yang terdengar ogah-ogahan. Karena Gladys merasa bahwa hari ini cukup menguras tenaga dan pikirannya.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Pertanyaan dari si Songong yang tak lain dan tak bukan adalah Naka cukup bisa meramalkan bahwa ia memang sedang sakit. Tebakan dari Naka tadi tak meleset, karena Gladys memang sakit yakni sakit hati.
"Nggak kok, hanya capek aja sih!" jawab Gladys berpura-pura menutupi kekesalannya agar Janaka segera menutup panggilan teleponnya.
"Udah makan malam?" Kembali Janaka melontarkan pertanyaan yang enggan Gladys jawab. Jujur saja, saat ini yang Gladys inginkan hanya tidur tidur dan tidur sesuai hobi sang dara cantik tersebut.
"Belom, entar lah masih belom kepengen!"
"Kenapa? Kalau sakit gimana? Kenapa kamu tak bisa menjaga diri sih Dys? Atau perlu aku bawakan restoran ke rumah kamu?"
"Kamu kenapa bisa selucu itu sih?" goda Gladys lalu memutus sambungan telepon itu.
Tak sampai berselang satu detik lamanya, nomor yang menghubungi Gladys tadi tampil di layar ponsel wanita beriris kecokelatan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Janaka Matila, pria itu masih belum terpuaskan rindunya itu.
"Kenapa dimatikan?"
__ADS_1
"Aku tak sengaja, kenapa marah-marah sih?"
"Hei aku mengkhawatirkan dirimu!"
Hening, setelah pernyataan Janaka tadi tak satu pun di antara keduanya yakni Gladys dan Janaka terlibat dalam sebuah percakapan berikutnya. Janaka merasa ada yang tak biasa pada wanita yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu ini. Tak seperti biasanya, sifat periang dan lugu Gladys tak terlihat.
"Kamu itu lucu sekali, untuk apa membawa restoran ke sini? Mau nyuruh aku ngelamar kerja?"
Janaka tak pernah memikirkan apa pun yang keluar dari mulutnya. Pasalnya apa saja yang ia ucapkan pasti bisa terlaksana. Jangankan membawa menu serta koki restoran ke rumah Gladys, membeli sebuah restoran detik inipun ia mampu. Tapi mengapa wanita yang memberi julukan si Songong itu menyebut dirinya lucu? Bukankah lucu itu seperti kedua ponakan kembarnya?
"Atau kalau mau makanan kaki lima, mau aku bawakan food court ke depan rumahmu Dys?" usul Janaka lagi. Memindahkan beberapa stand makanan kaki lima khas kota Surabaya ke rumah orang tua Gladys bukan hal yang mustahil bagi Naka. Hal kecil seperti itu tak sulit bagi putra Brahmana itu.
"Kamu itu lucu!" Gladys mengulang pujiannya pada Janaka.
"Lucu? Kenapa?" Janaka juga begitu tertarik dengan alasan mengapa Gladys menyebut lucu untuknya.
"Tentu saja lucu, sepenting apa aku hingga mendapatkan perlakuan khusus seperti itu? Siapa aku hingga kamu perlu memindahkan food court ke rumahku?" sindir Gladys dengan tawa renyahnya. Ia mengira bahwa Naka telah menggodanya. Bercanda seperti itu malah terlihat lucu bagi Gladys. Pasalnya candaan Naka terdengar sangat kaku di telinga Gladys.
"Kamu itu istimewa!" sahut Naka dan membuat Gladys tak berhenti tertawa lepas. Tawa renyah Gladys membuat wanita itu memiliki kebahagiaan tersendiri hingga melupakan masalahnya siang tadi.
"Hei aku serius Dys!"
"Ah aku lelah, aku tutup ya? Istirahat lah! kamu telah bekerja dengan keras seharian ini bukan?" Meski terkesan acuh tak acuh, Gladys masih bisa memberi sebuah perhatian khusus pada Janaka. Dan hal kecil seperti itu cukup mampu membuat hati pria yang selama ini jomlo tersentuh dan berbunga.
Hingga menggagalkan rencana dinner-nya dengan para tetua wilayah Teluk Ijo. Benar sekali, malam ini telah dijadwalkan oleh Naka dan juga masyarakat setempat akan mengelar makan malam guna menyambut kedatangan Janaka Matila dengan proyeknya di daerah Teluk Ijo. Akan tetapi, kata-kata Gladys tadi lah yang bisa mengubah rencana putra Brahmana untuk mengurungkan jadwalnya. Apalagi tadi Gladys menyebutkan bahwa ia tidak memiliki ***** makan, demi membahagiakan sang pujaannya Janaka rela meninggalkan Banyuwangi dan bertolak untuk terbang menuju langit kota pahlawan.
Untuk alamat sang wanita tentu saka Janaka dengan mudahnya mampu mendapatkan info secara lengkap dari kartu identitas yang Gladys gunakan dalam daftar manuver pesawat komersial tadi pagi. Cukup mudah bagi Naka untuk mendapatkan seluruh informasi dari wanita yang hilir mudik tak lelah bermain-main di dalam hati Naka.
"Ben, tentukan titik koordinat pendaratan heli terdekat dari Kertajaya Indah!" perintah Janaka pada Ben, sang pilot helikopter yang saat tengah standby di Bandara Juanda menunggunya landing dari Blimbingsari.
Demi menunjukkan keistimewaan wanita itu, Janaka rela menguras kantongnya dengan mengganti moda transportasi darat dari Bandara Juanda ke rumah sang wanita pujaannya. Tak ingin terjebak macet juga menjadi salah satu alasan mengapa Naka enggan menaiki mobil.
__ADS_1
Karena cintalah yang membuat Naka melakukan tindakan di luar nalar seperti ini. Cinta sejati bagaikan laksana aroma terapi, yang mampu menghadirkan suasana hati. Bahkan, tak pelik, mampu membuat suasana hati merasakan rindu dan cemburu. Cinta ini mengungkapkan sebuah rasa rindu yang sangat menggebu. Bahkan rindunya itu tak bisa hanya disampaikan melalui angin dan langit saja. Dan untuk menyampaikan rasa rindunya itu, Janaka harus menyampaikannya secara langsung.
Aku, hanyalah sebagai penikmat rindumu saja
Dan hanya anginnya yang membawa padaku
Menyebar bagaikan seluruh saraf di kepalaku
Yang memaki sanubari tentangmu
Pada awan yang selalu berdampingan dengan langit
Pada angin yang selalu bertiup setiap saat
Melalui rasa amat dingin yang telah tercipta
Sampaikanlah rasa ini untuknya
Mungkin langit yang terlalu membisu
Untuk mengungkapkan segala rasa tentang dirimu
Senyummu pun meracuni sebagian jiwaku
Sampai hatiku, serta benakku selalu
...****...
__ADS_1