Crazy In Love

Crazy In Love
Just Waiting


__ADS_3

Gladys menuruni setiap anak tangga di rumahnya, langkah kaki wanita yang baru saja dinikahi oleh pesohor bisnis Janaka Matila ini gontai menuju dapur di kediamannya.


"Bi ... Bibi nggak perlu nyiapin makan malam untuk saya, Bapak juga baru pulang besok! bibi siapkan saja makan malam untuk pegawai yang lain karena saya akan makan malam di luar," tutur nyonya rumah dengan sangat ramah pada asisten rumah tangganya.


Gladys telah merencanakan sebuah makan malam bersama Malena Silalahi dengan meminta ijin pada sang suami tentunya. Karena rencana kepulangan Naka lebih cepat, harus pria itu urungkan sebab Janaka harus terbang ke Lazarus malam ini juga tanpa Saka namun ditemani oleh asisten pribadinya Seno.


"Jangan pulang larut malam, Hon dan jangan ..." Sebelum Naka melanjutkan kalimatnya terlebih dahulu Gladys memotongnya.


"Clubbing? Yank ayolah, aku hanya dinner biasa!"


"Bukan, bukan itu maksud aku, Hon. Jangan kabur dari Mike dan Christ!" nasehat Naka pada sang istri agar wanita itu selalu ingat pesannya. Semenjak kejadian siang tadi, suami Gladys itu over protective terhadap istrinya. Terlebih lagi, melihat sisi nekat Gladys, sangat mudah wanita licik itu membodohi anak buah Naka.


"Iya, iya ... i just ingin dinner sama yang lainnya!"


Sebenarnya berat bagi Janaka untuk mengijinkan sang istri keluar dari rumah. Tapi, kebahagian Gladys juga menjadi prioritas utamanya. Kehidupan sosial Gladys juga penting untuk wanita dewasa itu, oleh karenanya Naka meminta adik iparnya untuk menemani sang istri.


Benar saja, selain pergi bersama Malena, Gladys juga ditemani Kanaya selaku mata-mata yang dikirimkan oleh sang suami. Selain mengawasi sang istri, Kanaya juga bisa menjadi teman berbagi keluh kesah selama Janaka tak di rumah.


"Mbak Gladys, udah beli apa yang Kanaya suruh?" celetuk Kanaya dari belakang kemudi mobil Malena. Memang Kanaya lah yang mengemudikan mobil putri dari pemilik bar itu.


"Nggak perlu, aku takut kecewa bila hasilnya tidak sesuai yang kami mau!"


"Emang apaan sih, Dys?" Malena yang duduk di belakang mau tak mau ingin tahu apa yang kedua wanita itu bicarakan.


"Mbak Gladys tuh! permintaannya aneh-aneh, Kanaya kira lagi hamil anak CEO kampret." jelas Kanaya menerangkan duduk permasalahan.


"Nih anak emang ngadi-ngadi, kalau pun iya! yang hamil dan menghamili kalah cepat sama Kanaya informasinya?" Gladys masih menyangka bila apa yang diucapkan oleh Kanaya tak beralasan.


Memang benar siklus haidnya belum lancar, bukan berarti semua itu menandakan dirinya hamil. Terlebih lagi, Kanaya merasa sok tahu.


**


Ketiganya lalu menikmati makan malam yang jarang bisa terlaksana. Selain karena sibuk dengan pekerjaan, baik itu Gladys dan Malena juga memiliki kehidupan masing-masing. Bila Malena tengah disibukkan berbisnis kuliner serta tempat hiburan malam, kini Gladys tengah sibuk menjadi wanita sosialita setelah dinikahi konglomerat muda Janaka Matila.

__ADS_1


"Mapuh .... " pekik dua orang bocah saling berlarian mendekat meja Gladys dan yang lainnya.


"Hei, anak-anak! kalian datang dengan siapa?" Gladys menoleh ke sana ke mari mencari orang tua si kembar Kin dan Ken atau mungkin pengasuhnya.


"Mbak Gladys ... " Aruni baru saja tiba dengan napas terengah-engah karena menjejak kedua putra putrinya yang berada dalam masa aktif pada tumbuhan kembangnya.


Kinan dan Kenan mengatakan bila keduanya merindukan mama sepuhnya, semenjak pertemuan terakhirnya di Singapura, Gladys belum bertemu lagi dengan si kembar.


"Gabung yuk!"


Aruni serta kedua anaknya dan tak lupa pengasuh si kembar ikut bergabung dalam makan malam dadakan ini. Adik Janaka Matila itu menyebutkan bahwa sedang menunggu sang suami yang baru akan tiba malam ini dari Batulicin.


"Ku kira ayahnya anak-anak pulang dengan Mas Naka!"


"Dia bilang ada yang ingin dibicarakan dengan ayah Sigit di Lazarus, Dek!"


"Dih, manten baru masa saling jauh-jauh mulu." goda Malena mengejek sang sahabat yang berubah ekspresi karena long distance sementara.


"Gue malah tenang nggak ada Janaka, bila dia di rumah ribet!" jawab Gladys dengan entengnya. Memang benar adanya, Naka tak segan-segan menggoda dan melakukan hal yang tak masuk akal bila di sampingnya.


"Husss ... ngawur!" Gladys menginjak kaki Kanaya hanya dengan sekali serangan dan langsung kesakitan.


**


Begitu pulang dari pertemuan dadakannya, Gladys tak ingin melakukan hal lain lagi. Ia benar-benar lelah dan ingin segera membaringkan tubuh lemahnya di peraduan.


Kedua maniknya mengitari sekeliling tempat tidur di mana ia biasa berbaring dan berbagi keluh kesah bersama pria menyebalkan itu. Jauh dari Naka nyatanya menang meresahkan. Apalagi, sejak sore tadi Naka tak sekalipun memberinya kabar. Entah mengapa kini Gladys selalu saja berpikiran yang bukan-bukan pada Naka.


"Pak Janaka baru saja landing, Bu!"


Bahkan untuk memberinya kabar, Senolah yang mengirimkan pesan untuknya. 'Begitu sibuk kah Janaka?'


Bosan bergelut dengan sepi di atas ranjang Gladys lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah laci yang berada di bawah meja riasnya. Mengingat apa yang dikatakan oleh Kanaya, Gladys lalu membuka laci itu pelan-pelan dan menemukan dua buah strip yang biasa wanita gunakanlah untuk memeriksa kehamilan dengan mandiri.

__ADS_1


Gladys memikirkan ucapan Naka kala suaminya itu menemukan pil penunda kehamilan di dalam tasnya. Naka tak benar-benar marah pada Gladys, bahkan ia memohon agar Tuhan segera menitipkan buah hati untuk mereka. Janaka menginginkan hadirnya penerus serta teman Gladys di kala ia. tak berada bersama sang dirinya.


Lalu kedua tangan istri Janaka Matila itu meraih kedua alat berbeda jenis itu dan menggenggamnya dengan sepenuh hati. Sambil berdoa, air mata Gladys tak terasa jatuh ke pipinya. Doa agar sang suami baik-baik saja serta mendambakan apa yang diinginkan Naka ia panjatkan. Setidaknya, selain telah berusaha dan berdoa Gladys juga akan berpasrah pada Tuhan Yang Maha Pemurah.


"Aku akan segera tidur, besok kita bertemu di Airport karena mama meminta kita ke rumah Eyang." Tulis Gladys dalam pesan yang ia kirim untuk Janaka.


Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Gladys segera berlalu ke peraduannya kembali guna mengistirahatkan seluruh jiwa dan raganya.


Dan entah pukul berapa Janaka membaca pesan itu dan membalasnya dengan mengucapkan selamat malam dan memohon agar Tuhan selalu melindungi keluarga kecilnya.


Semenjak menjabat menjadi pemimpin BBG, kini Janaka tahu seperti apa tanggung jawab yang selama ini diemban oleh ayahnya. Bertahun-tahun ini, ayah Sigit selalu memendamnya dalam hati. Hingga malam tadi ketika Janaka membahas kebusukan di dalam tubuh BBG bersama sang ayah, Sigit hanya diam dan menyerahkan sepenuhnya pada dirinya.


"Akar yang busuk harus ditebas ayah, agar BBG tidak goyah!"


"Tapi akar itu telah bertahun-tahun menopang pohon, Naka."


"Aku akan mereformasi hingga ke akarnya."


**


Tepat pukul enam pagi, alarm yang telah ditugaskan untuk memanggil sang majikan terus saja berdering. Tak ingin mengacaukan jadwalnya karena kesiangan, membuat Gladys langsung membuka kedua maniknya. Terlebih lagi, musuh kali ini ibu dari mama Mira. Eyang putri yang tinggal di Yogyakarta itu bila sudah berkehendak, jangankan Gladys, Andung Hartono saja tak mampu mengubahnya.


Dengan tergesa-gesa, Gladys melangkahkan kaki dengan berlari kecil ke arah kamar mandi guna bersiap mengemas beberapa potong pakaian dirinya serta sang suami yang akan digunakan selama beberapa hari di kota gudeg.


Tak lupa, tangan terampil Gladys menyambar dua buah benda berwarna pink yang semalam ia impikan. Kedua benda itu akan menjadi tolak ukur nasibnya kedepan.


Gladys membaca instruksi yang tertera di balik kemasan indah benda pink tersebut. Lalu membuka serta mengeluarkan dua buah benda sebesar stick ice-cream itu dan mulai memasukkan ke dalam wadah berisi air seni yang telah dikumpulkannya.


Sambil menunggu waktu yang telah dituliskan pada instruksi, Gladys berjongkok tepat di depan closed sambil termenung memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Bila memang ia akan mengabdi buah hati Naka apa yang akan ia lakukan? Dan bila semua ini tidak terjadi, apa yang akan ia lakukan untuk menyenangkan hatinya?


Lima detik Gladys mengangkat stip plastik itu dan mendiamkan selama minimal 10 menit untuk hasil yang maksimal. Selama itu pula, wajah istri Janaka Matila itu pucat pasi.


"Sudah siapkah aku menjadi seorang ibu?" gumam Gladys pelan.

__ADS_1


...****...



__ADS_2