
"Sibuk banget sih!" seru wanita yang baru saja tiba di ruang tamu yang digunakan oleh Naka sebagai tempat kerjanya sementara pagi ini.
Bukan hanya menyapa dengan sebuah pertanyaan saja, tapi entah mengapa ia memberikan pelayanan khusus seperti yang telah Naka lakukan malam tadi padanya. Tepat di depan Naka telah tersedia secangkir kopi hitam buatan dari tangan wanita yang telah ia hancurkan amarahnya.
"Am so sorry Yank, hingga aku mengabaikan kamu pagi ini!"
"Tak masalah, aku bahkan sangat bersyukur kamu sibuk seperti ini Sayang," ucap Gladysnya Janaka sebelum wanita itu bangun dari tempat duduknya di sebelah Naka.
Namun, lagi-lagi lelaki itu menahan kepergian Gladys dengan menangkap tangan sang wanita agar tetap berada pada tempatnya. Meksi belum bisa menjamahnya, setidaknya Naka masih bisa menatap wajah cantik itu sebagai sumber semangat di pagi hari ini.
Bel apartemen Gladys berkali-kali berbunyi menandakan ada tamu yang datang pagi ini. Gladys bisa menduga bila Seno lah yang datang atas perintah sang atasan yang sejak tadi tak memindah pandangan matanya dari layar MacBook di depannya.
"Hon, bisa bukakan pintunya? Seno datang membawakan aku pakaian kerja!"
"Kerja? Ini bahkan weekend Pak?"
Bagaimana bisa Gladys percaya seorang pemilik perusahaan lembur hingga akhir pekan seperti ini harus bekerja.
"Atau kamu berkeinginan suamimu ini tetap tinggal dan melanjutkan kegiatan tadi pagi hingga seharian ini?" Naka sedikit menggodanya Gladys dengan ancaman ingin menjamah wanita itu. Sesuai rencananya, ia memang akan pergi ke perusahaan hingga setengah hari saja dan langsung pulang setelah itu untuk menggempurnya.
"Bukan begitu, aku telah merencanakan mengajak kamu lunch bersama dengan orang yang ku undang Yang. Jadi kosongkan jadwalmu siang nanti!" ancam Gladys tak kalah sadis dari Naka seraya berjalan keluar guna membukakan pintu untuk Seno.
"Boleh saja, asal nanti malam boleh nambah!" sahut Naka sedikit nakal pada sang wanita. Namun, ia tak memerhatikan ada hati yang terluka mendengar keintiman keduanya. Bagi pria lajang seperti Seno, mendengar hal sedikit vulgar sepagi ini cukup membuat Seno merasa ciut kepercayaan dirinya.
"Apa kalian tak kasihan pada saya?" ejek sang asisten karena bosnya tak memiliki rasa malu membahas hal pribadi seperti itu.
__ADS_1
"Pak Seno, jangan pulang dulu! ikut sarapan saja."
Sebenarnya bukan niat Gladys ingin menguatkan hati Seno, hanya saja ia tak tega membiarkan pegawai Naka itu pulang dengan perut kosong. Lagipula tak ada salahnya berbaik hati pada orang yang sering membantu Naka. Setidaknya hanya hal kecil seperti ini yang bisa ia lakukan.
"Saya siap! selalu siapa Bu!"
**
Gladys meninggalkan kedua lelaki yang kini sedang membahas pekerjaan di depan. Meski tak ingin ikut campur dengan urusan Naka, namun tanpa sengaja Gladys mendengar bahwa ada seseorang yang telah mengunggah percekcokan antara dirinya dan Naka ke akun media sosial hingga menjadi bakan gosip beberapa akun gosip.
Mau tak mau Gladys ikut mendengar pembicaraan keduanya kala wanita itu menyuguhkan dua piring berisi masing-masing dua buah sandwich berisi aneka buah.
"Memangnya kenapa bila diberitakan seperti itu? Apa berimbas ke perusahaan?" selidik wanita beriris kecokelatan itu pada Naka, lalu duduk di sampingan pria tersebut.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena sejatinya hubungan kita tak ada yang salah bukan?" Naka tak menampik jika ia sungguh khawatir bila Gladys akan mempermasalahkan hal ini karena meresahkan nama baiknya. Namun, wanita itu kelihatan lebih cuek dari yang ia bayangkan.
"Aku mengkhawatirkan kamu Hon, aku tahu seperti apa kamu. Bagaimana meledaknya emosimu tadi malam!"
Gladys menjelaskan bahwa ia sama sekali tak ambil pusing masalah sepele seperti ini. Baginya bila tak menyudutkan posisinya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Menjadi orang yang diberitakan bukan sekali ini ia rasakan. Bahkan untuk menghindari pemberitaan yang terus-menerus mengulik keluarga Andung Hartono membuat dirinya harus meninggalkan Indonesia untuk menimba ilmu dan juga menghindari para awak media yang selalu ingin mengorek kehidupan para keluarga pejabat seperti papanya Andung Hartono.
Setelah ia lulus dari SMA Internasionalnya, ia hijrah ke Singapura. Sedangkan Grace lebih memilih pindah ke New York karena ingin mengejar kehidupan kebule-annya. Sebenarnya Gladys ingin melanjutkan pendidikannya ke Benua Biru Eropa, namun sang mama tak ingin melepaskan putri semata wayangnya jauh darinya.
"Keluarga nyonya lebih gokil ternyata!" puji Seno sembari memuji sandwich buatan Gladys.
"Gokil gila kepalamu, kami dipaksa meninggalkan rumah demi menghindari pemberitaan. Sejak SMA gue numpang di rumah Kanaya, lalu kuliah di NUS."
__ADS_1
Tak terasa obrolan mereka harus terhenti lantaran ada tamu yang tak diundang. Suara bel di apartemen Gladys terus saja berbunyi. Bila itu sang mama, pasti sudah tak sabar dan berusaha menghubungi dirinya karena password apartemen telah dirubah oleh Naka, namun ini lain. Tak ada tanda-tanda Mira datang ke apartemen ini.
"Gantian dong, kamu yang bukain Yank!" perintah Gladys pada sang kekasih yang masih menelan sandwich buatannya tersebut.
Tapi Naka malah menugaskan Seno untuk membukakan pintu apartemennya Gladys. Sebagai seorang Bos sudah seharusnya ia memberitahu perintah pada anak buahnya.
"Tapi aku nyuruhnya kamu Pak, punya tangan dan kaki bukan? Kenapa nyuruh orang lain?"
Seumur hidup Seno, baru kali ini ada yang berani memarahi bosnya yaitu sang nyonya BMD. Pasalnya Naka merupakan atasan yang setiap perintahnya harus dilakukan dan tak boleh dilanggar satu orang pun. Dan kini, pengusaha sukses itu mendapatkan sebuah perintah dari sang istri. 'Sungguh hebat sekali Bu Gladys ilmunya!' batin Seno mengapresiasi Gladys.
"Tapi Yank ... " Kalimat itu terpotong karena melihat wajah sinis dan juga menakutkan dari Gladysnya. Bisa bahaya bila Gladys ngambek, hal seperti ini beresiko buruk malam nanti. Bisa-bisa Gladys tak 'kan memberi sebuah jatah makan seperti tadi malam.
Langkah gontai pria itu membuatnya mengeluh dan mengumpat dalam hatinya. Bila bukan Gladys, mungkin sudah Naka patahkan lehernya. Apalagi kini, kartu as-nya telah dipegang oleh wanita jahat itu.
"Sekali-kali dikerjain Sen, biar dia tak semena-mena."
Seno tak berani menambahkan perkataan Gladys, ia hanya memberikan sign sebuah tanda bagus dari ibu jarinya agar tak didengar oleh bos Naka. Bisa berabe bila Naka sampai mendengarkan ia bersekongkol dengan Gladys untuk mengerjai CEO dan juga pemilik saham terbesar BMD tersebut.
"Kanaya?"
"Loh, apa aku salah waktu?"
Keduanya saling bertanya bersamaan kala Naka membukakan pintu apartemen untuk tamu yang ternyata adik sepupu Gladys.
...****...
__ADS_1
Tinggal jejak ya, agar kita bisa saling bersilaturahmi.