Crazy In Love

Crazy In Love
All About Money


__ADS_3

Wanita yang baru saja masuk dan mengalihkan perhatian Janaka itu kini tampak serius meski ia sedang duduk di depan sang suami.


"Aku serius Yank! coba cek deh, kalau ada yang salah nanti aku perbaiki." Gladys mendekatkan dirinya dengan duduk tepat di samping sang suami.


Mendapatkan serangan dadakan seperti ini lelaki mana yang bisa tahan? Apalagi harum dari sabun serta aroma shampoo Gladys menambah gairah pria dewasa itu hingga tak mampu berpikir dengan sehat.


"Yank?" Gladys mengulangi panggilannya untuk Janaka karena ia merasa pria itu memikirkan hal lain. Dan tebakan Gladys adalah Naka sedang memikirkan masalah pekerjaannya karena sebelum ia masuk tadi, Gladys sempat mengamati sang suami sedang sibuk mengamati beberapa file di depannya.


"Iya Hon, ada apa?"


"Sayang, kamu dengerin aku nggak sih?" Dengan wajah ditekuk sempurna, Gladys mulai memasang tampang masamnya.


"Denger kok, jadi kamu berencana ingin meraup dana dengan cara seperti ini?" Tak ingin terlewatkan begitu saja, sebelum Gladys semakin merajuk dan berakibat fatal malam ini. Naka menarik sang istri agar duduk di atas pangkuannya.


"He'em, menurutmu bagaimana?"


Tanpa curiga dengan gerak-gerik Naka, Gladys tak keberatan bila Naka memintanya lebih dekat dan intim dengannya. Semua itu juga ia lakukan demi meminta saran dari seniornya.


"Kurasa dana untuk menarik simpati para pelaku bisnis lokal seperti UMKM bisa kamu alihkan menjadi sebuah seminar atau pelatihan bagi pemula Hon, selain lebih murah merekrut pebisnis baru kamu juga bisa melatih mereka dari step dasar!"


Usul dari Janaka tidak ada salahnya, selain menghemat upah pekerja, Gladys juga bisa memantau dari awal pekerjaan mereka. Karena merekrut pemula lebih sedikit menguras kantong daripada membayar para ahli.

__ADS_1


"Benar juga! kini masalahnya tinggal satu Yank," Gladys masih mengingat betapa berantakannya pembukuan serta pemasukan yayasan amal warisan ibu Erika padanya.


"Apa itu?" Sudah bukan hal aneh lagi mengapa semua orang bisa tunduk pada Janaka. Selain memiliki ide brilian dalam bisnis, suami Gladys itu bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tingkat konsentrasinya bisa terpecah dalam dua pekerjaan sekaligus. Seperti saat ini, selain membaca dan menganalisis proposal Gladys, pria itu juga mampu menjamah tubuh wanita yang berada di pangkuannya itu.


"Aku butuh kamu!"


"Aku juga butuh kamu Hon, more than anything!" bisik Janaka mesra dengan tangan telah berada di balik bathrobe yang Gladys kenakan.


"Aku akan mendekati sumber uang dulu, karena aku butuh kucuran dana dari kamu Yank!" Bahkan niat untuk meminta saran atau pendapat dari Janaka ia kesampingkan demi cairnya dana dari Janaka untuknya.


"Semua itu tergantung servis yang kamu berikan malam ini Hon, semakin lama durasinya digitnya akan semakin banyak!" Janaka juga sudah tak sabar ingin sekali menerkam mangsa yang ada di depannya.


'Digit kepalamu! enak di elu nggak enak di gue sialan!' di dalam hatinya, Gladys ngedumel kesal. Pasalnya sudah pasti pria itu akan minta yang aneh-aneh padanya. Selain matre, Janaka juga sungguh mesum.


Dan wanita itu tanpa merasa berdoa sedikitpun meninggalkan Janaka dan iPad yang ia bawa dengan seribu langkah keluar dari ruangan Janaka. Kini yang tersisa hanyalah seonggok tubuh pria yang merasa dicampakkan begitu saja.


"Bagus sekali, setelah menggoda suaminya dia kabur begitu saja?" gerutu Janaka karena ia merasa Gladys telah mempermainkan perasaannya.


Pria mana yang tak kesal karena setelah berada di atas awan lalu dijatuhkan begitu saja? Dan kini Janaka merasakannya. Jangankan untuk mendapatkan kucuran dana, kini Naka ingin segera menghukum Gladys karena berani menggodanya.


"Udah dibikin mupeng kaya gini, bisa-bisanya kabur begitu saja!" Naka berjalan tergesa-gesa menuju tempat pribadi mereka berdua. Tempat di mana keduanya melepas penat dan menjadi sarana menyalurkan gairah.

__ADS_1


**


Tak salah memang, Gladys memang meninggalkan hairdryer dalam keadaan on begitu saja. Hingga membuat istri Janaka itu melanjutkan kegiatan yang sempat ia tunda tadi yakni mengeringkan rambutnya yang masih basah.


"Mau dibantuin?" tanya Janaka menawarkan diri dengan berada tepat di belakang sang istri yang tengah bercermin sambil mengeringkan rambutnya.


"Nggak usahlah Yank, ini mudah!" tolak Gladys tak ingin merepotkan sang suami yang telah ia tinggalkan begitu saja tadi. Meski ia merasa kasihan, tapi mau bagaimana lagi Gladys menang benar-benar melupakan hal tersebut.


"Okay, kalau gitu aku nggak akan sungkan lagi!" Sebelum Gladys memiliki ide untuk meninggalkan dirinya lagi, lebih dahulu Janaka melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri.


Bukan hanya memeluk Gladys saja, pria yang belum sempat tersalurkan hasratnya itu mulai menciumi pundak sang istri dan tak merasa keberatan dengan hawa hairdryer yang lumayan panas.


Sedangkan Gladys yang mendapatkan serangan susulan seperti ini membuatnya tak berkonsentrasi dalam mengeringkan rambutnya. Sepertinya Janaka ingin menagih biaya konsultasi dan juga syarat kucuran dana. Hingga membuat wanita itu pasrah dan ingin meraup keuntungan halal dari suaminya itu.


"Penawarannya masih berlaku? Catet durasinya ya! jangan sampai kurang atau lebih!" balas Gladys setelah membalikkan tubuhnya setelah terlebih dahulu mencabut kabel dari stop kontak di dekat meja.


"Variasi gaya juga menambah deretan angka Hon!"


'Nih orang nantangin gue banget! awas aja dia nipu gue, gue tebas abis tuh Godzilla!'


...****...

__ADS_1



__ADS_2