
Gladys sudah tak bisa menahan rasa kesalnya pada pria yang masih bisa bersikap tak terjadi apa-apa sejak tadi. Menunggu hingga Janaka menjelaskan padanya seperti mengharapkan sebuah sumber air di gurun pasir.
"Ini maksudnya apa ya?" tanya Gladys sejenak sambil memerlihatkan sebuah pemberitahuan transfer ke akun bank miliknya. Tak lupa meski ia masih merasa kesal, sebagai orang yang memiliki hati wanita itu tak tega membiarkan calonnya kelaparan. Oleh karena itu meski dengan wajah ketus, Gladysnya masih sudi membagi makan malam untuk Naka.
"Oh itu, hanya uang kecil Hon! masa iya sebagai pria sejati aku nggak ngasih nafkah istri?"
"Ini uang bulanan? Uang segini banyaknya bisa untuk membeli seisi supermarket Bapak."
"Apa kamu mau aku buatkan supermarket? Katakan saja! tanah BBG tersebar di seluruh penjuru negeri."
"Aku serius Naka! jangan hamburkan uang untuk sesuatu yang nggak penting." Gladys masih saja berusaha meyakinkan Janaka agar tak perlu begitu repot memanjakan dirinya. Selain sifat pelitnya, Gladys juga merasa tak enak hati pada pria yang tengah makan itu.
"Sudah seharusnya Hon aku melakukan ini semua untukmu, karena kamu itu berharga di mataku."
"Baiklah kalau aku berharga, apa aku boleh membuka hadiah untukmu itu Yank?" tantang Gladys dengan mata tak pernah lepas dari bingkisan sialan itu. Kecurigaannya semakin menjadi mana kala Naka tak sedikitpun merasa bersalah padanya.
"Sure please baby!"
'Orang ini tak takut sedikitpun padaku?' batin Gladys dan tak menunggu berlama-lama untuk segera membuka bungkusan penuh prahara itu.
Tepat seperti yang dipikirkan oleh Gladys. Isi dari kado itu adalah sebuah dasi yang telah ia pilihkan siang itu pada seorang wanita. Berarti wanita itu telah memberikan hadiah itu untuk pria yang dicintainya yakni Janaka. Amarah Gladys tak tertahankan lagi, bukan hanya hatinya saja yang terbakar tapi wajahnya juga memerah akibat menahan emosi.
__ADS_1
"Siapa yang memberikan ini?" sindir Gladys pada Naka yang lagi-lagi masih bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Klien Hon, emang kenapa?"
Wajah yang tersulut emosi itu segera beranjak dari tempat duduknya tak lupa membawa bingkisan yang telah ia acak-acak tadi ke arah jendela apartemen miliknya. Tak menunggu waktu lama lagi Gladys melempar dasi mahal hadiah dari seorang wanita itu keluar jendela dengan ketinggian lebih dari seratus meter.
Sedangkan Janaka sendiri terbengong tak percaya dengan apa yang telah ia lihat malam ini. Pria sejati itu masih belum yakin bahwa Gladysnya telah melakukan hal ekstrim seperti tadi. Begitu mengerikannya sikap Gladys bila ia sedang marah padanya.
"Katakan kamu perlu berapa lusin dasi seperti ini? Hingga kamu sudi merima pemberian nista seperti ini, Ha?" Dari nada suara Gladys, Naka cukup tahu bila wanita itu sedang marah padanya.
Janaka juga masih bingung kenapa emosi Gladysnya meledak seperti ini? Bukankah tadi masih aman sentosa. Mengapa ia tiba-tiba kesetanan seperti ini.
"Kamu kenapa Hon? Lagi dapet ya?" Naka mencoba menggoda Gladysnya agar wanita itu segera berubah normal seperti biasanya.
Dan rayuan serta gombalan dari Naka nyatanya tak cukup mempan meyakinkan Gladys bahwa ia baik-baik saja. Malah tambah memperburuk keadaan. Hingga dengan kesal Gladys menyuruh Naka keluar dari apartemennya malam ini juga.
"Yank aku salah apa sih?" keluh Naka tak terima dengan perlakuan Gladys, pasalnya ia takut Gladys akan membatalkan kedatangannya ke pesta peresmian besok malam.
"Kamu tanyakan sendiri pada dirimu dan wanita yang memberikan dasi sialan tadi!" ucap Gladys lalu menutup rapat pintu rumahnya agat Naka tak bisa masuk ke dalam.
Sedangkan Naka, lelaki itu berjalan meninggalkan apartemen Gladys dengan perasaan bercampur aduk. Ada kesal karena sikap Gladys yang seenaknya saja, apa pula ia merasa sangat senang setidaknya ia tahu bahwa wanita itu telah cemburu padanya. Kini ia tinggal menyusun sebuah rencana saja agar Gladys tak marah lagi padanya. Benar kata Zack, makhluk yang bernama wanita itu cukup mengerikan bila sedang ngambek dan marah. Bisa gagal malam ini bermesraan dengan Gladys halau Naka tak segera memikirkan cara.
Jika Naka sedang menyusun strategi untuk menaklukkan hati Gladys lagi, berbanding terbalik dengan Gladys yang kini telah merebahkan tubuhnya di kasus empuk miliknya. Memikirkan masalah ini cukup mampu menyita waktu Gladys, waktu mepet yang seharusnya ia gunakan untuk mendesign beberapa gambar harus ia tunda karena Naka. Belum lagi masalah Naka yang seenak udelnya memberi Gladys dengan uang yang nominalnya bikin mupeng para wanita, kini ia terpaksa harus menerima bahwa sang kekasih memiliki fans yang begitu mencintai Naka.
__ADS_1
"Aku tak menyangka ada yang menyukai pria brengsek seperti Naka!" Gladys meluapkan kekesalannya pada Malena dengan berbincang di telepon.
"Hei Buk, sadarlah laki elu itu tajeer melintir! meski otaknya gesrek tapi wanita mana yang tak ngiler liat duitnye?" ejek Malena pada sang sahabat yang tengah gundah itu.
"Terus gue kudu gimana dong? Masa iya gue kalah Len?"
"Eh? Tunjukkin dong kalau elu nyonya Matila." Sedikit saran dari Malena malah makin membuat Gladys harus berpikir dengan keras. Bagaimana ia bisa menunjukkan pada semua orang bahwa ia lah wanita Naka.
"Gue ada ide, pria itu perlu dikasih pelajaran agar tak sembarang menerima barang dari wanita lain!"
Setelah berbincang dengan Malena, setidaknya Gladys bisa meluapkan kekesalannya dan berusaha menjadi yang terbaik dari yang paling baik untuk komisaris BMD tersebut. Ia tak 'kan menyerahkan posisinya begitu saja pada wanita lain.
Sepasang kekasih yang berjauhan itu saling merencanakan cara untuk menaklukkan pasangannya masing-masing. Gladys dengan sikap dinginnya dan Naka masih dengan seribu cara untuk merengkuh tubuh sang wanita.
**
"Kamu di mana?" tulis Gladys pada pesan singkatnya untuk Naka.
Lama Naka sengaja belum membalas pesan itu agar Gladys terus memikirkan dirinya. Namun, Gladysnya tak kunjung mengirimi pesan atau menelpon Naka. Alhasil dengan sedih Naka membalas sang kekasih tak sesuai rencana semula.
"Aku di rumah, lagi nggak enak badan Hon." Merencanakan seolah-olah sakit, Naka sengaja mengirimkan voice message pada sang kekasih lengkap dengan suara yang telah ia setting seperti sedang menderita penyakit parah.
Di layar ponsel yang berpendar itu tertulis Gladys typing setidaknya rencana Naka cukup efektif membuat wanita itu peduli padanya. Betapa girangnya Naka menunggu balasan dari Gladys. Namun, balasan dari sang wanita nyatanya cukup kejam, "Oke, istirahatlah!" hanya itu saja.
__ADS_1
"Honey, aku benar-benar sakit!" tulis Naka pasan untuk Gladysnya.