
Hadirmu sembuhkan lukaku
Kau hapus lelahku dengan senyummu
Ku percaya kamu
Kaulah cinta terakhirku
Seno mengantar nyonya BMD pulang ke apartemen milik wanita itu. Untung saja, dengan cekatan Naka telah menugaskan sang asisten untuk terus mengawasi setiap gerak-gerik Gladys. Tak ingin kecolongan adalah hal utama Janaka Matila terus saja mengikuti ke manapun sang wanita pergi.
"Terima kasih Pak Seno, selamat malam!" ucap Gladys dengan senyum tulus seperti biasanya.
Meski ia menahan amarah yang membara dalam dada, namun Gladys tak ingin meluapkan kekesalannya pada orang lain yang tak ada sangkut paut dengan masalah yang mereka berdua alami. Meskipun juga tak menutup kemungkinan terbesar bahwa Seno termasuk juga dalang dari semu hal menjengkelkan ini, Gladys tak ingin memarahi ataupun dendam pada asisten pribadi Janaka Matila.
"Selamat beristirahat Nyonya, bila ada sesuatu yang bisa saya bantu jangan sungkan untuk menyuruh saya!" ucap Seno karena ia merasa ada yang tak beres dengan wanita yang dicintai oleh bosnya.
Gladys tak tampak baik-baik saja sejak Seno mengantarkannya pulang. Dari belakang kemudi, Seno bisa melihat tatapan kosong dari nyonya BMD tersebut. Bahkan Gladys yang biasanya tampak periang, kini hanya terlihat sendu dan tak bersemangat.
'Pasti terlah terjadi sesuatu pada mereka, pasangan aneh itu mungkin sedang berantem?' Seno bertanya-tanya dalam hatinya. Karena tak mungkin ia untuk menanyakannya perihal apa yang membuat wanita bosnya ini tampak murung.
Tanpa ingin tahu lebih lanjut, sambil memasangkan sebuah earphone di salah satu telinganya Seno menghubungi sang atasan guna melaporkan bahwa ia baru saja mengantarkan nyonya BMD dengan selamat sampai tujuan.
Tapi, belum sempat Seno mengemudikannya mobilnya lebih jauh lagi, mantan kekasih Kanaya itu melihat Gladys masuk ke dalam mobil berwarna silver yang baru saja tiba di depan gedung apartemennya.
Bila Seno tak salah ingat, mobil tersebut merupakan milik Kanaya. Mantan pacar Seno yang ia tinggalkan karena ketahuan selingkuh.
"Wah ... ini pelanggaran!" ucap Seno beringas lalu tanpa dikomando segera menghubungi bosnya kembali untuk melaporkan apa yang baru saja ia lihat.
"Ikuti ke manapun mereka pergi Sen! tetap jaga jarak aman agar dia tak curiga kau ikuti." Dengan geram Janaka Matila menugaskan orang kepercayaannya untuk membuntuti wanita yang sejak tadi mengabaikannya.
Tak bisa di tahan lagi, Naka dengan wajah murka meninggalkan tempat acara begitu saja sejak Seno mengatakan bahwa Gladys diam-diam pergi tanpa sepengetahuannya. Mau itu ada masalah atau pun tidak, tidak pantas bagi seorang wanita berkeliaran malam-malam tanpa didampingi oleh pria dewasa yang bertanggung jawab seperti dirinya.
"Ada apa sih Hon? Kenapa kamu bertindak seperti ini di belakang aku!" umpat Janaka ketika masuk ke dalam mobil yang telah di siapkan oleh supir pribadinya.
Pak Parman hingga heran melihat tingkah Naka yang tak seperti biasanya. Sikap arogan dan sering marah sudah supir senior itu terima dari dulu, tapi sikap Janaka malam ini lebih seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
**
Seno tak berhenti memberikan laporan pada sang atasan. Hingga mobil yang membawa Gladys berhenti di sebuah bar mewah di kawasan Thamrin. Bar yang dilengkapi fasilitas PUB ini menjadi pilihan Gladys dan Kanaya setelah keduanya terlihat turun dari mobil.
__ADS_1
"Tunggu dulu, nyonya ganti baju bos! keduanya mengenakan pakaian minim sekali," lapor Seno tanpa sedikitpun ada yang ditutupi olehnya pada Naka.
"Aku akan menyeretnya dan mengurung agar tak bisa keluar besok pagi!" umpat Naka mendengar berita buruk dari Seno tentang sang wanita. Amarahnya tak bisa ia tahan bila membayangkan semua mata menelanjangi pakaian Gladys dan sepupunya.
Walaupun tak ada hubungannya dengan Gladys, tapi Naka juga tak tega melihat Kanaya pegawai sekaligus sepupu Gladys juga terjebak dalam tempat maksiat seperti itu.
Pak Parman memacu kendaraan Janaka secepat mungkin seperti apa yang diperintahkan oleh sang atasan. Sedangkan Seno? Pria itu tetap berjaga di depan Bar tersebut sembari menunggu instruksi selanjutnya dari Naka. Ia tetap bergeming mengamankan tempat ini dari serangan mata buaya lain yang bisa memangsa kedua wanita cantik itu.
"Masih di dalam?" tanya Naka dengan suara terengah-engah sembari berlari menuju ke arah Seno.
Seno mengangguk dan segera mengajak Naka untuk menciduk tanpa perlawanan dua wanita yang cukup membuat kalang kabut dirinya dan bos Naka.
"Maaf Tuan-tuan, tempat ini telah dibooking?! jadi kami tak menerima tamu dari luar."
"Apa katamu? Kau belum tahu dia siapa?" maki Seno dengan wajah pucat karena membayangkan bila Kanaya dan Gladys menjadi salah satu temu acara maksiat ini.
"Sekali lagi maaf, kami hanya menjalankan perintah Tuan!"
"Biarkan aku masuk! sebelum tempat ini rata dengan tanah!" ancam Naka dengan aura jauh lebih mengerikan daripada Seno di sampingnya.
"Maaf Tuan!" Sekali lagi penjaga tak membiarkan keduanya masuk.
Tak ingin membuat keributan, Naka lalu mengeluarkan sebuah kartu nama untuk menunjukkan indentitas dirinya. Kartu nama yang berisikan data diri dan juga perusahaannya.
Mendengar sang pemilik bar dan juga merupakan bos mereka, kedua pegawai bagian keamanan bar yang Naka datangi dengan berat hati mengijinkan orang penting itu masuk dan segera menghubungi manager mereka setelah Naka dan juga Seno berjalan masuk ke tempat yang biasa digunakan oleh para kawula muda untuk bersenang-senang menikmati berbagai minuman keras.
Kedua pria dewasa yang begitu kesal itu langsung menyisir area bar guna menarik pulang dua wanita yang begitu nakal di mata keduanya. Bukan hanya tak suka Gladys pergi ke tempat seperti ini, tapi bila memikirkan efek buruk yang lebih besar daripada manfaatnya, Naka jelas melarang Gladys.
"Bos, itu mereka!" tunjuk Seno kala melihat kedua wanita tengah asik berjoget dengan beberapa teman wanita yang lainnya.
Gladys dengan T-shirt ketat yang dipadukan dengan celana hotpants sobek-sobek tampak begitu menikmati alunan musik, seperti halnya dengan Kanaya. Sepupu dan juga pegawai Gladys itu mengenakan kemeja dengan dua kancing atas terbuka dan juga di sesuaikan dengan celana panjang serba pres body.
"Aku bisa gila melihat istriku seperti ini!"
"Saya juga Pak!"
Kedua pria yang tak bisa menahan amarahnya langsung menggelandang Gladys dan Kanaya yang sibuk bergoyang dengan membawa gelas pada masing-masing tangan mereka. Tak hanya itu saja, keduanya juga saling mengikuti lagu dari penyanyi lawas Reza Artamevia yang berjudul berharap tak berpisah yang telah diaransemen oleh disc jockey.
Gladys dan Kanaya terperanjat kala tangan mereka ditarik dan dengan sengaja diseret keluar dari tempat indah mereka.
__ADS_1
"Lepaskan!" Kanya meronta ingin melepaskan tangannya dari seretan Seno.
"Honey, sekali lagi kamu bertingkah seperti ini aku tak segan mengurung kamu!" Dengan kesal Naka memeringatkan Gladys untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.
"Lepaskan! kamu menyakiti aku!"
"Apa kamu tak merasa juga menyakiti aku Hon? Dengan berpenampilan kurang bahan seperti ini?" Emosi Naka juga tak bisa ditangani lagi karena Gladys masih juga memberontak.
Sedangkan, Kanaya? Gadis itu pasti sudah ditangani oleh Seno. Entah pria itu sudah membawa mantan pacarnya ke mana.
"Pakaian kurang bahan? Hello kalau mau ke PUB masa musti pakai mukena?" Masih tak mau kalah lagi, Gladys juga dengan sekuat tenaga berusaha mencoba melepaskan kuatnya tangan Naka menariknya keluar.
...****...
Seakan tak ada lagi
Manusia yang ada di bumi
Kamulah cinta sejati
Kamulah yang ada di hati
Saat ku terjatuh dalam sendu
Pelukmu menenangkanku
Kau tunjukkan semua rasa
Mewarnai duniaku
Takkan pernah ku keliru
'Tuk melukaimu
Percaya aku
Ku 'kan menjagamu
__ADS_1
Preview next chapter