
Seorang wanita dengan senyum liciknya tampak puas begitu hasil karya dari tangan seorang ahli yang bisa mengubah apa yang telah ia rekam beberapa hari yang lalu. Ia kemudian tertawa dengan menampilkan barisan gigi rapinya karena rencana awalnya telah berhasil. Setelah ia sedikit meracuni otak wanita yang tengah dekat dengan musuhnya yaitu Janaka Matila, mantan model majalah seksi yang karirnya telah di hancurkan oleh Naka kini bisa tersenyum lega.
Apalagi, kabar baiknya ada seorang pria yang berjanji akan membantu Madona untuk membalas dendamnya pada pemilik PT BMD tersebut. Tendi Wiguna, sang pengusaha batubara juga salah satu saingan bisnis dari BBG telah mengulurkan tangannya pada Madona. Kebenciannya pada Naka dan keluarganya bukan tanpa alasan, pengusaha keturunannya Banjar ini merasa tersaingi dengan Sigit Brahmana dan sang putra.
Terlebih lagi, Janaka Matila dengan segala ide cemerlangnya akhir-akhir ini telah mengusik ketenangan bisnis Tendi. Karena Janaka dengan BMD-nya telah merencanakan akan membangun sebuah jembatan yang menghubungkan pulau Bawean dengan kabupaten Gresik. Lalu mengapa Tendi begitu menentang proyek itu?
Jawabannya adalah, karena Tendi salah satu pengusaha yang menguasai sektor penyeberangan ke pulau kecil yang berjarak 120 kilometer dari kabupaten Gresik tersebut.
Sudah menjadi hal umum, putra mahkota Brahmana memang gemar mengeksplorasi wilayah terpencil untuk dikeruk keuntungannya sebanyak mungkin. Bukan hanya Teluk Ijo, kini pulau Bawean akan menjadi salah satu target Mega proyek PT BMD.
Dengan bantuan wanita yang tengah mengesap segelas wine di tangan kanannya itulah, Tendi akan menyingkirkan batu sandungannya. Dari Madona lah, ia tahu seperti apa kelemahan sang maestro bisnis real estate itu. Dengan menjadikan Gladys Hartono sebagai umpan, pria yang berumur kurang lebih dari Naka itu akan menghancurkan bisnis Naka di Pulau Jawa ini.
Sedangkan manusia yang dijadikan target oleh Madona dan musuh dari musuh wanita itu kini sedang meninjau wilayah toll yang melintang di selatan pulau Jawa. Setelah terbang dari HPK dan landing sempurna di Adi Sumarmo Boyolali, Janaka serta asisten khususnya melanjutkan perjalanan ke Banyumas menggunakan heli seperti yang sering ia lakukan dalam inspeksi mendadaknya.
Tak lupa, Janaka juga mengirimkan kabar pada sang calon nyonya bahwa ia telah tiba dan mulai bekerja. Dalam pesan singkatnya, tak lupa ia membumbui dengan pose narsisnya tepat kala ia baru saja tiba di bumi tempe mendoan ini guna mengambil simpati Gladysnya.
Tak tanggung-tanggung, pria yang kini mulai bekerja dan tak malu mengenakan topi proyek berwarna oranye itupun langsung turun tangan memeriksa tahapan demi tahapan dalam proyek jalan bebas hambatan miliknya. Jiwa pemimpinnya memang telah melekat hingga mendarah daging pada dirinya.
"Sen, tolong ambil potret saya! sebagai laporan harian untuk nyonya."
"Hah?" ucap Seno, tak percaya dengan apa ya g ia dengar di telinganya.
Pasalnya sejak Seno bekerja bersama Naka, ia tak pernah sekalipun diminta oleh Janaka Matila untuk memotret sang bos. Kini setelah berhubungan dengan Gladysnya, Naka semakin berubah dari pribadi yang arogan menjadi lebih menyebalkan dan kekanak-kanakan meski kadang ia juga lebih ramah.
"Harus pas angle nya ya Sen, harus kelihatan tampan dan berkharisma!" ulang Naka memberikan perintah pada Seno agar mengambil foto dirinya yang tengah bekerja.
"Tanpa angle bagus pun, Anda sudah tampan Pak! bahkan uang Anda juga tak kalah tampan!"
__ADS_1
"Pokoknya buat Gladys terus merindukan aku setelah kamu mengirimkan foto itu untuknya."
'Ya elah, bos yang lagi kasmaran kenapa gue yang repot sih?'
Dan Seno tak mampu menolak permintaan Janaka Matila, ia telah mengambil beberapa pose candid dari sang atasan yang sedang bekerja. Tak bisa dipungkiri lagi, sebagai seorang pria yang menjadi impian para wanita, Naka memang terlihat menawan dari sudut manapun. Meski tak ada pose menghadap kamera, Janaka memiliki aura wibawa yang luar biasa. Hingga ketika Seno diam-diam mengambil fotonya saat berbincang dengan kepala pekerja, pria itupun terlihat sangat berkharisma.
"Pak, silakan Bapak pilih sendiri mana yang perlu dikirim ke nyonya!"
"Sini kulihat!"
Naka mulai memilah beberapa foto hasil jepretan fotografer dadakannya. Ia cukup puas dengan hasil kerja Seno.
"Yang ini bagus, ini tampan, ini familyman banget, ah pasti Gladysku akan terpesona!"
"Tentu saja, karena saya yang mengambil gambarnya."
Sembari memilah-milah, Naka dan Seno lalu mengunjungi tempat selanjutkan. Pulau Bawean menjadi tujuan Naka dan anak buahnya yang lain siang menuju sore ini. Sambil mengirim beberapa foto yang digadang-gadang akan membuat Gladys tak tahan untuk segera menghubungi dirinya, Naka dan rombongan akan singgah sejenak di sekitar Boyolali untuk makan siang telat mereka dan melanjutkan terbang lagi ke Jawa Timur.
Tebakan Naka tak meleset, begitu pria itu mengirimi sang wanita beberapa fotonya, wanita yang ia panggil Honey itupun langsung menelepon dirinya. Naka pikir Gladysnya sudah sangat merindukan dirinya setelah beberapa jam berpisah darinya.
"Hallo Honey!" sapa Naka dengan kata-kata manisnya. Ia tak malu lagi meski di depannya ada beberapa karyawan serta Seno bersama dengannya.
"Sudah jangan bermain lagi, bekerjalah dan hasilkan banyak harta untuk kuhabiskan sayang!" Gladys memperdaya lelakinya. Naka yang mendengar hal yang tak seperti sifat Gladys biasanya hanya bisa tersenyum manja.
"Darimana kamu belajar kalimat seperti itu sayangku? Apa kamu sedang bersama Ibuku?" tebak Naka dan jelas ia sangat tahu seperti apa ibunya Erika Gayatri, wanita yang telah tulus membesarkan dirinya.
"Kok kamu tahu?" Gladys tak percaya, dari mana Naka tahu kini ia sedang bersama ibunya dan juga Mama Mira. Pasalnya, kedua pengawalnya tak ada satupun yang berani melaporkannya pada Naka karena permintaan Erika Gayatri.
"Apa yang tak kutahu darimu Yank? Bahakan urukan serta bentuk tubuhmu aku tahu!" Pernyataan dari Naka itu mampu membuat Seno dan anak buah Naka yang lainnya hanya bisa cengo seperti menjadi obat nyamuk bagi atasannya.
__ADS_1
Pembicaraan tabu antara suami istri itu bisa membuat kecemburuannya sosial di antara para lelaki yang kini bersama Naka. Dan Janaka Matila dengan semua tingkah sombongnya tak memedulikan kegundahan anak buahnya.
"Kembalilah bekerja setelah makan siang, harusnya kamu lebih memerhatikan kesehatan Naka dengan tidak telat makan."
"Mau bagaimana lagi? Aku harus bekerja keras bagai kuda demi memenuhi kebutuhan anak istri."
...****...
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
__ADS_1