Crazy In Love

Crazy In Love
Heels and Jeans


__ADS_3

Ingin heran pada semua ini. Namun, suaminya adalah Janaka Matila. Alhasil, Gladys hanya mampu menahan keresahan hatinya dengan diam tanpa melakukan apa pun. Sekiranya tak merugikan dirinya, Gladys tak maslah. Toh pada dasarnya wanita itu memang memiliki sifat yang pelit bukan main.


Bila Gladysnya tengah disibukkan dengan pilihan beberapa varian serta merek susu kehamilan, pagi hari Naka yang kini bergelimang berkat harus ternodai oleh sebuah laporan dari anak buahnya.


Salah satu anak buah Janaka mengatakan ada transaksi mencurigakan di akun perusahaan BBG. Dan aliran dana itu telah dimutasi ke dalam beberapa akun rekening dengan beberapa nama. Dari prakiraan Naka, semua itu dilakukan untuk mencuci transaksi agar tak terlihat oleh badan audit perusahaan.


Janaka tampak tersulut emosi hingga melampiaskan pada semua anak buahnya yang telah melaporkan hasil penyelidikan. Bahkan, Seno sang asisten juga tak luput dari amarahnya. Untung saja, berita kehamilan Gladys sedikit menahan bara emosi Janaka. Setidaknya, suami Gladys itu tak ingin merusak hari bahagianya.


Rencananya, sepasang suami istri itu akan ketemuan di Bandara untuk sama-sama melanjutkan perjalanan mereka ke kota gudeg demi menghadiri undangan eyang putri.


"Pagi, Mbak Gladys ... " sapa Kanaya mendatangi rumah kakak sepupunya itu.


"Berisik banget sih anak perawan orang!" Ketika Kanaya tiba di rumah Gladys, semua tamu tak diundang Gladys telah meninggalkan rumahnya. Oleh karena itu, Kanya masih belum mengetahui kabar baik dari kakak sepupunya itu.


Dan kini, Kanaya menyaksikan Gladys tengah menikmati croissant sebagai makan paginya ditemani oleh segelas susu yang telah melewati seleksi dari si jabang bayi.


"Mbak Gladys pagi-pagi udah bikin croissant aja, bagi Kanaya dong?" Air liur Kanaya langsung tak tertahankan ketika melihat roti khas Perancis itu.


"Emang, Om Ramli nggak ngasih makan? Aku nggak bikin, Nay ... Naka yang membelikannya!" Bukan hal yang mustahil bagi Gladys mendapatkan roti fresh di pagi hari.


Jangankan roti fresh, beli susu hamil langsung dari manager perusahaan saja bisa. Hal apa yang tak bisa Naka lakukan demi sang calon buah hati. Sialnya ketika ditanya sang suami ingin makan apa, Gladys menjawab pastry dari benua biru ini. Oleh karena itu, demi memenuhi permintaan sang istri, Naka memesankan croissant langsung dari toko roti yang menjual kudapan berbentuk bulan sabit itu.


"Ngapain pagi-pagi udah ke sini? Aku mau berangkat ke Jogja nih!" tegur Gladys pada gadis yang tengah memakan roti yang disediakan untuknya itu.


"Kanaya mau nebeng kalian, tadi udah ngomong sama kakak ipar, kok!"


"Kamu ih, nggak modal banget ... makan numpang, pergi ke Jogja numpang!"

__ADS_1


Lama-lama Gladys merasa bila Kanaya semakin mirip dengannya. Entah sifat pelit itu telah menjalar ke otak gadis muda itu kini. Bahkan saking pelitnya, ia enggan menggunakan uangnya.


"Mbak, Airport style Mbak Gladys kece badai sih? Tumben banget begaya? Biasanya cuek bebek karena kesiangan?" Kanaya menggoda kakak sepupunya karena penampilan Gladys dinilai lain dari yang lain.


Bukan terkesan mewah, tapi cukup stylish dengan mengusung tema deep in black. Gladys memadukan blazer hitam dengan inner putih dan kaca mata senada warna blazer ia gunakan untuk mengkamuflase mata suntuknya. Selama ini ia memang gemar menggunakan warna netral, entah itu efek kehamilan atau memang sedang keranjingan.


"Biar keren aja!" sahut Gladys lalu membereskan bekas makan paginya dan bersiap untuk menuju Bandara seperti rencana semula.


Kanaya, gadis muda itu mengikuti ke manapun istri bosnya itu pergi. Setidaknya dengan menumpang kakak Janakanya, ia bisa menghemat biaya tiket pesawat. Apalagi diketahui bila Kakak iparnya gemar berpergian menggunakan private jet, sangat beruntung bagi Kanaya bisa mencicipi kehidupan glamor kakak sepupunya itu.


**


Bila Gladys masih sangat santai dengan pembawaannya, lain lagi dengan Janaka. Calon ayah itu tengah sibuk melihat sekeliling interior pesawatnya sebelum landing.


Janaka sejenak berpikir, bila ia menggunakan jet pribadi dengan interior terbatas seperti ini apakah Gladys akan merasa nyaman. Kini ia harus memikirkan calon buah hati mereka juga. Apalagi moda transportasi yang diklaim bisa mempercepat waktu tempuh ini, memiliki tingkat kebisingan yang lebih besar dari pada pesawat berjenis Boeing ataupun Airbus.


"Bos ingin bikin maskapai sendiri? Apa karena nyonya gemar berpergian?" Seno menebak bila Naka ingin membuka sebuah perusahaan penerbangan demi sang istri.


"Jet ini sangat kecil, dengan kapasitas seperti ini tidaklah mampu membuat nyonya nyaman. Apalagi tangganya cukup curam!"


Padahal yang ia gunakan saat ini adalah jet berjenis Bombardier Global 7000. Global 7000 dirancang untuk menjadi jet pribadi jarak jauh yang dibuat khusus. Pesawat senilai US$ 73 juta itu memiliki Kabin dapat dikonfigurasi dalam berbagai cara, termasuk dengan ruang makan lengkap dan teater multimedia. Dan Janaka merasa bila jet miliknya itu terlalu kecil untuk sang istri yang memerlukan kenyamanan.


"Apa aja yang mau dibawa, Pak hingga perlu pesawat besar?" Seno tak menyangka ide aneh dari bosnya. Pasalnya bila dilihat dari segi manapun, pesawat ini cukup luas bila digunakan untuknya dan sang istri. Atau bahkan untuk semua keluarga Brahmana.


Begitu roda-roda pesawat yang telah membawa Naka dari Singapura berhenti sempurna, pria tampan itu kemudian turun guna menunggu sang istri yang kabarnya telah on the way ke tempatnya bersama Kanaya.


Capt Roni, pilot utama dalam penerbangan ini menyebutkan kondisi fisik pesawat sangat prima. Sebelum melanjutkan penerbangan ke kota gudeg, Capt Roni diminta mengabarkan pada Naka.

__ADS_1


"Besok aku minta kalian mengganti tangga ini agar lebih landai, dan kamu Capt tolong perhatikan kemampuan terbang Anda!" ucap Naka sembari menunggu kedatangan sang istri di parkiran jet pribadi miliknya.


"Ini bukan pengalaman terbang pertama kali Anda dengan saya, Pak?" tutur Capt Roni pada Janaka yang terkesan cukup aneh-aneh.


"Benar ini bukan pengalaman pertama saya, tapi ini pengalaman pertama anak saya dengan Anda!" jawab Naka sejelas mungkin agar Capt serta kru pesawat pribadi Naka bersikap profesional dalam bekerja. Terlebih lagi, saat ini sang istri tengah mengandung buah hatinya. Naka meminta agar semua kru pesawat harus memberikan pelayanan ekstra eksklusif pada Gladys dan calon anaknya.


"Bu Gladys hamil?" Sontak Seno terkejut atas berita yang ia dengar barusan dari mulut Naka.


Sebelum sang bos menjawab pertanyaan darinya, dua orang wanita yang tak lepas dari wajah yang penuh tawa berjalan mendekat ke arah Janaka dan Seno. Wajah kedua wanita itu cukup berseri menandakan kepastian jawaban yang seharusnya ia dapatkan.


Berbeda dengan Gladys dan Kanaya, wajah Naka tampak pucat pasi. Pria itu langsung sigap menghampiri sang istri tanpa diminta.


"Pagi, Kakak ipar?" ucap Kanaya kala Naka lebih dekat dengannya dan Gladys.


"Heels? Jeans?" tanya Naka pada Gladys dengan berkacak pinggang.


"Why? Any problem?" Kanya yang tiba-tiba kaget melihat perbedaan di raut wajah Janaka cukup ketakutan.


"Honey, tak seharusnya kamu menggunakan heels seperti ini apalagi ... ah jeans!"


"Apaan sih, Yank? Ini baru trimester pertama, kamu jangan parno deh! lagipula aku merasa nyaman kok!"


Kanaya hadir dalam perdebatan dua orang kakaknya itu. Sedang yang dibahas keduanya adalah trimester, heels, jeans, parno, serta nyaman. Kanaya bisa menebak pasti di dalam perut kakak sepupunya telah hadir bibit CEO arogan seperti novel yang seiring ia baca.


...****...


__ADS_1



__ADS_2