Crazy In Love

Crazy In Love
Sowan


__ADS_3

Geng dakocan rempong yang terdiri dari dua orang wanita galak dan dua orang pria yang mengaku tak mudah ditindas istri mereka kini telah tiba di sebuah rumah bergaya khas Jogja dengan bebagai ukir-ukiran Mataram kuno. Rumah yang dibangun di atas lahan dengan luas 1 Ha persegi ini menjadi tempat lahir Mama Mira dan juga Papi Ramli ayah Kanaya.


Pada parkir kediaman Eyang putri telah berjejer rapi beberapa mobil mewah yang menandakan anak serta cucu-cucu Eyang telah sampai termasuk anggota keluarga Hartono yang lainnya.


Dari dalam rumah, grup ibu-ibu rempong yang terdiri dari mama Gladys dan saudara yang lebih tua serta iparnya telah berkumpul menyambut kedatangan geng dakocan yang baru tiba.


"Telat ih, kalian!" sindir Grace, putri sulung Andung Hartono dengan perut tampak lebih besar dari beberapa waktu yang lalu.


"Sirik ih pengguguran sama wanita karir kaya kita, ya 'kan Kanaya?" Gladys membalas ledekan kakaknya dengan celotehan yang lebih sinis lagi.


Sudah menjadi hal lumrah dan sering terjadi pada kedua putri Hartono bila bertemu. Tak ubahnya kucing dan tikus, mereka berdua tak mau kalah satu sama lain. Termasuk kini kedua menantu Hartono.


"Hust diam anak-anak! jangan berisik di rumah Eyang putri, kalian telah ditunggu sejak tadi sama Eyang!" Mira mengajak masuk anggota keluarga ini bertemu Eyang Gandari.


Dan seperti biasanya, semua cucu Eyang Gandari saling berlarian menuju pangkuan eyangnya meski usia mereka kini tak muda lagi. Bahkan Kanaya juga telah menyiapkan ukuran kantongnya yang akan dijadikan tempat uang saku dari eyang.


"Eyang .... " seru ketiganya kompak seperti biasanya.


Tak lupa, para menantu Hartono juga bergantian menyalami ibu dari Mama Mira mereka. Urutan pertama adalah Janaka Matila. Pria dengan penampilan formalnya itu bersimpuh di depan eyang, untung saja ketika di dalam mobil tadi Gladys sempat merapikan penampilannya.


"Hmmm ... bau uang, kekuasaan dan ambisi! ini pasti suami Gladys?" selidik Eyang Gandari setelah Naka mencium tangan eyang.


Meski sedikit tersinggung, Naka tetap mengurungkan ledakan emosinya. Terlebih lagi, dengan cekatan Gladys menarik mundur dada bidangnya.


"Benar, Eyang! Eyang masih ingat Janaka?" rayu Naka pada nenek renta tersebut.

__ADS_1


"Tentu saja!"


Selanjutnya, kini giliran si bule yang mendapat kesempatan selanjutnya untuk menyalami eyang. Dengan sikap percaya diri yang tinggi, Zack maju ke depan eyang.


"Yang ini, bau kesombongan, kelicikan dan juga uang! pasti suami Grace." Eyang Gandari dengan mudah mengenali kedua pria yang kini menjadi cucunya itu.


Baik Zack atau pun Janaka tak satu pun di antara mereka yang berani melawan apa yang disebutkan oleh eyang. Hanya gelak tawa yang kini memenuhi ruang keluarga kediaman Eyang Gandari dengan kehadiran dua pria konglomerat suami dari Gladys dan Grace.


"Tapi ibu, mereka itu pilihan dari cucumu sendiri!" bujuk Mira memberi dukungan pada dua menantunya yang kini hanya bisa tersenyum kecut.


"Tentu saja, aku bahkan menyukai mereka berdua! Dan ini ... ?" sindir Eyang Gandari menatap Seno yang sejak tadi berdiri di samping cucu kesayangan yang lain.


"Saya ... " Seno menghentikan ucapannya karena eyang menggenggam tangannya.


"Bukan eyang, dia bukan pacar Kanaya!" Tak mau kalah, gadis yang sebut sebagai pacar Seno itu tak terima dengan ucapan eyang.


"Dia pria baik!" bisik eyang pada Kanaya sebelum mengikuti aja arahan keluarga untuk makan siang bersama.


**


Suasana intim sangat terasa oleh Naka di keluarga besarnya ini. Lewat Gladys lah ia kini merasakan keakraban sebuah keluarga yang tak pernah ia rasakan. Sejak kecil Naka dan Aruni bahkan belum pernah mengenyam kebersamaan dengan keluarga besar seperti ini.


Ayah Sigit selalu sibuk dengan pekerjaannya, hanya ibunya Erika lah yang selalu memberikan kasih sayang tiada henti pada Naka dan juga Aruni. Kini, Janaka menemukan indahnya kebersamaan dengan para anggota keluarganya yang baru. Pengusaha sukses itu merasa bahwa semua ini adalah berkah yang ia dapatkan atas kesediaannya selama ini.


Selain itu, sang istri Gladys juga telah memberinya sebuah keluarga kecil baru dengan calon bayi mereka sebagai pelengkap kebahagiaan tiada tara.

__ADS_1


Semua saling tertawa, saling mengejek serta bercanda satu sama lain. Inilah yang selama ini diharapkan oleh Naka dan itu tak pernah ia dapatkan di keluarganya sendiri. Apalagi, ibu kandungnya. Wanita itu bahkan tega meninggalkannya meski dengan suatu alasan yang besar.


"Berhenti makan pedas sayang!" Zack melarang sang istri yang gemar mengkonsumsi masakan dengan rasa pedas.


"Iya nih, Mbak Grace nggak kasihan apa sama calon anaknya. Noh liat tuh bumil satunya anteng banget kalau ada lakiknya." seloroh Kanaya, dan ucapan gadis itu diikuti semua tatapan menyelidik ke arah Gladys yang duduk bersebelahan dengan sang suami.


"Elu hamil, Til?" Bahkan Grace yang sedang mengunyah makanan hampir saja menyembur ke arah suaminya Zack.


"Benarkah? Kenapa tidak mengatakan pada mama? Sudah berapa lama?" Mira menatap lekat-lekat sang putri dengan intens kini agar Gladys memberitahukan kabar bahagia ini.


"Ma ... ini bukan masalah yang serius!"


"Siapa dokternya? Di rumah sakit mana kamu menjadwalkan Gladys? Bahkan tante juga tidak diberitahu Kanaya." tutur maminya Kanaya.


Gladys dan Naka saling pandang karena rasa penasaran semua keluarganya. Bagi mereka, yang penting kesehatan ibu dan calon bayi lah yang paling utama.


"Gladys mendaftar menjadi pasien dokter Isabella. Dokter spesialis kandungan di Mount Elizabeth!" Naka menjawab semua pertanyaan tantenya agar mereka semua tidak mengkhawatirkan keadaan sang istri.


Gladys kamu nggak boleh ini, Gladys kamu nggak boleh itu. Gladys kamu harus begini, Gladys kamu harus begitu. Semua anggota keluarga menasehati ibu hamil itu agar terus memperhatikan keadaan bayinya. Harapan semuanya adalah agar Grace dan Gladys sehat dan menjalani persalinan dengan lancar.


...****...



__ADS_1


__ADS_2