Crazy In Love

Crazy In Love
All About this Morning


__ADS_3

Terus-menerus dihujani oleh ribuan rayuan serta sentuhan cinta dari Naka membuat hati wanita mana yang tak melayang. Selain tampan dan memesona, pria kaya itu juga tahu seperti apa caranya menyenangkan hati wanitanya. Hingga tanpa Gladys sadari ini posisinya bukan lagi berada di dapur, melainkan Naka telah membawanya ke dalam kamar tidurnya.


Dirinya begitu terbuai dan hanyut dalam jeratan jebakan asmara yang ditebar oleh Janaka Matila. 'Sialan! orang ini pasti akan melakukan hal semaunya lagi,'


"Apa harus sekarang?" tegur Gladys ketika lelaki itu memberinya kesempatan untuk mengambil nafas selama dalam terkaman pesona Naka.


"Of course!" Janaka yang tengah kesetanan sudah tak ingin kesempatan emas ini berlalu begitu saja. Pokoknya pagi ini hasratnya harus dituntaskan tidak boleh seperti sebelum-sebelumnya.


Gladys tak bisa mengelak lagi, kini posisinya telah terdesak oleh Naka. Pria itu seakan ingin menelan bulat-bulat dirinya. Belum menjadi suaminya saja sudah berani seperti ini, apalagi nanti setelah keduanya menikah?


Dan Gladys juga tak mampu membebaskan dirinya karena Naka semakin menekan dan menindihnya. Bahkan pria itu telah menanggalkan kemejanya hingga tersisa penampakan otot-otot perut yang berbentuk kotak persegi seperti idola para wanita manja masa kini.


Bukan Naka namanya bila tak mampu mengalahkan Gladysnya begitu saja. Tangan yang awalnya menari-nari indah menelusuri bagian atas sang kekasih, kini berusaha menerobos dan menyingkirkan baju atas sang wanita. Kedua manik Gladys terbelakang begitu tangan Naka berusaha melepas tali tank top sang wanita.


Namun, belum sempat Naka melepas pelindung tubuh sang wanitanya, bunyi bel dari apartemen Gladys berbunyi nyaring memanggil penghuni griya tawang itu untuk segera membuka pintu dan mempersilakan masuk tamunya.


'Kumohon jangan kali ini!' keluh Naka dengan gusar. Ingin sekai ia mengurung sang wanita agar tak ada lagi yang bisa mengganggu kesenangan pemilik PT BMD tersebut.


"Ada tamu!" bisik Gladys dengan semburat sinar di balik wajahnya. Ia ingin menggunakan kesempatan ini semaksimal mungkin untuk menghindari kebrutalan Naka. Dan wanita itu sungguh bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan bala bantuan untuknya.


"Actually, aku telah meminta Seno mengirimkan baju ganti nanti agak siangan Hon, bukan saat ini!" seloroh Naka dengan kesal sekali ingin menghajar anak buahnya karena sudah merusak kebahagiaan bos Naka pagi ini.


"Mungkin ada yang penting Yang, coba lihat dulu."


"Sure baby, aku akan mematahkan lehernya karena mengganggu waktu kita! aku janji tidak akan lama, jangan beranjak dari sini," ucap Janaka Matila sebelum bangun guna menghajar habis Seno karena telah berani mengusik dirinya.


"Wait Pak Bos, sebelum pergi itunya dibenerin dulu!" ucap Gladys seraya menunjuk resleting celana panjang Naka yang tak sengaja turun sebagian. Bisa bahaya bila sampai orang lain melihat pusaka itu meski hanya memandang benda itu dari luar.


"Damn! i don't believe it," gumam Naka seolah merasa paling dirugikan pagi ini. Bagaimana tidak, pagi indahnya harus terganggu oleh ulah sang tamu tak diundang. Beraninya tamu itu mengusik kesenangan Janaka Matila Brahmana.


"Take care Honey," Tentu saja Gladys mengejeknya karena melihat Naka begitu kesal menahan emosinya dan juga perpanjangan muka mupengnya.


'Oh God, Naka did you know? You're so cute?'


"Setelah ini, aku bersumpah akan membuatmu tak bisa bangun dari tempat tidur Hon!" ucap Naka lebih kesal lagi mendengar Gladys telah menggoda dirinya. Ulah Gladys itu bukannya memadamkan api hasrat, namun semakin menambah bara api tersebut.


Janaka keluar dari kamar sang wanita dengan wajah merah padam karena menahan amarah. Ingin sekali ia mencekik leher Seno saat bertatap dengan pria itu nanti. Jarak dari kamar menuju pintu dilalui oleh Naka lebih cepat dari biasanya karena ia tak ingin membuang waktu lama lagi untuk segera mencicipi sarapan paginya yakni bermain cinta dengan sang wanita.


Naka bahkan tanpa mengintip ke apartment intercom system sedikitpun dan lebih memilih langsung membuka pintu hunian sang wanita agar segera memaki Seno. Namun, bukan kepuasan untuk memarahi asisten pribadinya yang ia dapatkan. Melainkan tatapan dari sepasang mata meminta jawaban dari Mira Khoirudin.


"Naka!" "Mama!" ucap keduanya bersamaan dengan kompaknya.

__ADS_1


Kini Naka telah tertangkap basah oleh calon mertuanya, jangan panggil Janaka Matila bula tak mampu menguasai suasana. Keahliannya sebagai pebisnis ulung membuatnya mampu survive meski ia berada dalam sebuah tekanan ataupun ancaman. Namun, kali ini feelnya melebihi rasa gugup dari pada memimpin rapat bagi hasil dengan beberapa pemenang saham. Bahakan pemilihan tender untuk beberapa proyek lebih mudah untuk diatasi daripada menghadapi mama Gladys ini.


"Kalian sudah tinggal bersama?" tegur Mira Khoirudin pada kekasih dari putri bungsunya itu. Tentu saja sebagai orang tua, siapa yang tak mengkhawatirkan sang putri karena ada lelaki yang membukakan pintu rumahnya yang hanya mengenakan celana panjang saja.


"Pak Naka, saya datang membawakan barang yang Anda butuhkan!" ucap asisten pribadinya yang kebetulan baru saja tiba di belakang sang calon mertua.


"Good morning Mam, welcome to our sweet home!" ucap Janaka menyapa mama Gladys dengan sangat manis agar mertuanya tak murka pada Naka dan Gladysnya.


"Mana anak nakal itu, Nak?"


Mira dan Seno dipersilakan masuk ke dalam apartemen panas ini. Mira menatap sekeliling hunian sang putri, sangat rapi sesuai kepribadian Gladys. Meski Mira berpikir anaknya dan Naka telah tinggal bersama, tapi tak ada sesuatu yang berantakan sejauh ia memandang sekeliling apartemen pasangan ini.


"Gladys masih tidur Ma, Naka panggilkan sebentar?" bujuk Naka sedikit berbohong agar ia bisa memberikan informasi pada Gladys yang kini masih setia menunggu kedatangannya di dalam kamar.


'Tentu saja, pasti semalaman kalian telah ngelembur untuk mencicil hidung cucu mama!" tebak Mira dengan wajah ia seolah sangat kesal pada Naka.


Seno yang mendengar pembicaraan antara menantu dan mertua itupun tak kuasa menahan tawanya. Ia segera menutup rapat mulutnya sebelum ketahuan Naka sedang menertawakan sang atasan.


"Nggak ada sistem kredit Mam, yang ada cash tempo," jawab Naka dengan percaya diri seolah mamanya pasti akan memberikan restu dan doa untuknya.


Dua orang tamu tak diundang itu tak tahan untuk tak terpingkal melihat sikap penuh percaya diri Janaka Matila. Bahkan Mira dan Seno sepakat untuk tertawa bersama karena ulah si Songgong seperti yang Gladys tulis di ponselnya.


"Sejak tinggal di sini, Pak Naka bilang bisa tidur nyenyak!" puji Seno pada bosnya yang keras kepala itu.


**


"Hon, mama ada di depan!" ucap Naka begitu ia masuk ke dalam kamar. Namun, ia mendapati Gladysnya tengah menukar pakaian seksinya tadi dengan sebuah Hoodie sweater tebal. Sepertinya Gladys telah merencanakan sesuatu untuk mengelabuhi dirinya.


Akan tetapi wanita itu tak menyangka bahwa tamu tak diundang seperti yang Naka katakan tadi adalah sang mama, Mira Khoirudin.


"Benarkah? Waduh gawat Pak!"


Gladys tak bisa menutupi wajah paniknya. Ia tak ingin sang mama memikirkan hal yang bukan-bukan bila melihat dirinya dan Naka dalam apartemen ini.


"Jangan katakan kamu berencana kabur dari aku Honey?"


"Husst jangan bicara sembarang! saat ini bagaimana kita memberikan alasan pada mama?"


"Kita katakan saja yang sebenarnya, bukankah kita memang tinggal bersama?" celoteh Janaka memikirkan sebuah jebakan untuk kelinci kecil yang berani kabur darinya.


To be continued

__ADS_1


...****...


When I'm up late and lonely


And I'm just down to hoping


Know what I want to hear from you


When the doubt pulls me under


And I need to recover


Know what I want to hear from you


Say baby, say to me


The words that keep me goin'


Yeah, I know you know 'em


Say baby, say to me


The words to make me heal


I love the way they feel


You give me some of that, some of that


Sweet, sweet talk


You give me some of that, some of that


Sweet, sweet talk


Say it again 'cause I need it


Sounding so good, know you mean it


Some of that, some of that


Sweet, sweet talk to me

__ADS_1



__ADS_2