Crazy In Love

Crazy In Love
Kita Berbeda


__ADS_3

Gladys tak menyangka bila Janaka Matila akan membawanya makan malam di suatu tempat terpencil yang jauh dari daratan Indonesia. Mungkin ada orang yang menyebutkan bahwa tidur di Hawai lalu makan di Korea hanya hal yang mustahil. Namun, kini nyatanya Gladys merasakannya. Bekerja di Jakarta lalu makan malam di wilayah negara Singapura bukan hal sulit dilakukan oleh Janaka.


Begitu keduanya menginjakkan kaki di Changi Internasional Airport, Janaka dan juga Gladys kemudian melanjutkan perjalanan darat mereka ke Marina South Pier guna berlayar menggunakan yacht menuju Lazarus Island. Selama perjalanan Gladys tak banyak menanyakan ke mana mereka akan menikmati acara dinner nantinya. Yang jelas acara ini sangat penting melebihi apa pun. Pentingnya acara ini bahkan melebihi pertemuan dengan para kolega bisnis Janaka.


"Kenapa feelnya serasa memasuki Met Gala," celoteh Gladys sengaja memancing emosi Janaka yang sejak tadi tak ingin memberi tahu tujuannya pada Gladys. Dan, wanita yang telah menahan rasa penasarannya itu semakin takjub mana kala yacht yang mereka naiki berlabuh di sebuah pulau eksotis di bagian selatan Singapura.


Keduanya lalu diantar menuju sebuah vila mewah yang dibangun tepat di tengah pulau yang hanya di huni oleh keluarga Brahmana serta karyawan mereka yang tinggal menetap di pulau ini.


"Selamat datang tuan muda beserta nona!" sapa salah seorang pengawal yang ditugaskan untuk menjemput Janaka dan calonnya.


"Apa kamu akan menjualku pada para taipan yang menghuni bangunan ini?" selidik Gladys dengan tangan kanannya menunjuk sebuah vila megah yang berada tak jauh dari posisi keduanya saat ini.


Janaka mengernyitkan dahinya mendengar tebakan bodoh dari Gladys, ia tak menyangka bila Gladys akan berpikir seperti itu padanya. Lagi pula buat apa ia menjual wanitanya pada penghuni rumah ini? Sedangkan Naka tuan muda di rumah ini. Pernyataan konyol ini cukup membuat Naka mencebik manja sang kekasih.


"Kepedean! Siapa juga yang mau nawar kamu? Yang tinggal di sini orang tuaku!"


"Kenapa kamu tak bilang dari awal Naka? Kalau tahu begitu setidaknya aku bersiap-siap!" Sebelum berjalan menuju pintu utama vila, Gladys sempat memukul punggung Naka dengan pelan karena kesal telah dipermainkan oleh Naka.


"Memangnya apa yang mau kamu siapkan untuk mereka?" Naka juga tak kuasa untuk tidak menggoda wanita yang menjadi pendampingnya kini. Pasalnya di samping lucu, Gladys juga tak sedikitpun menunjukkan rasa grogi yang ia miliki padanya.


"Nggak ada, aku hanya pengusaha kecil yang tak memiliki apa-apa!" jawab Gladys sekenanya, ia bahkan tak memikirkan lebih dahulu apa yang ia ucapkan barusan.


"Kini kamu memiliki aku!"


"Narsis!"


"Biarin!"

__ADS_1


**


"Selamat datang kembali tuan muda dan nyonya," begitu memasuki pintu utama setiap pegawai di vila pribadi keluarga Brahmana selalu menyapa keduanya dengan hormat. Hal seperti ini membuat Gladys sedikit keberatan. Selama ini di dalam keluarganya tidak pernah sekalipun mama serta papanya mengajarkan hal demikian. Meski mereka memiliki ART, keluarga mereka tak pernah membedakan jenjang sosial di antara majikan dan ART. Tapi baru pertama kali ini Gladys merasa sedikit tak puas pada keluarga Janaka.


"Apa Aruni dan Saka telah tiba mendahului kami?" tanya Janaka pada salah satu pelayan senior menurut penglihatan Gladys. Karena usia pegawai itu lebih tua dari yang lainnya.


"Tidak, Nona Aruni serta Tuan muda Saka dan kedua buah hatinya belum tiba Tuan!" pegawai itu lalu mempersilakan sepasang anggota keluarga yang baru saja tiba untuk segera bergabung dengan Tuan dan Nyonya besar.


"Gugup?" tanya Naka pada Gladys karena takut bila sang wanita grogi, agar ia juga bisa menggenggam erat tangan si calon nyonya.


"Bercanda padaku? Ini bukan yudisium!"


Meski sang calon tidak menunjukkan rasa grogi sedikitpun, Naka tetap menggandeng Gladys agar kedua orang tuanya bisa menilai bahwa hubungan mereka murni atas dasar cinta dan kasih. Karena inilah yang telah Janaka persiapkan sebelumnya. Agar sang ayah tak mengakuisisi BMD seperti ancamannya tempo hari. Apalagi, Sigit juga mendesak Naka agar segera mencari pendamping, bila tidak Saka lah yang akan menggantikan dirinya meng-handle BMD. BMD adalah nyawa Naka, karena Janaka sendiri lah yang telah membesarkan perusahaan itu hingga menjadi diperhitungkan oleh mata nasional serta mata dunia.


Begitu memasuki aula utama, keduanya lalu menyapa orang tua Janaka yang telah menunggu pasangan yang baru saja tiba.


"Hallo nak Gladys, gadis manisnya ibu ..." Nyonya Erika yang telah mengenal Gladys dari urusan perjodohan sebelumnya mengapa sang calon putrinya dengan sangat ramah.


"Malam Tante ... Om ... apa kabar?"


"Loh kalian sudah kenal ternyata?" Sigit Brahmana tercengang karena sang istri telah mengenal calon sang anak sebelumnya.


"Sudah!" jawab keduanya dengan kompak.


"Dasar wanita!" keluh Naka pelan karena menyadari telah ditemukan sedikit kesamaan di antara ibu dan sang calon istri.


"Sudah-sudah, sambil menunggu Aruni kita ke ruang makan dulu!" ajak Nyonya Erika pada tamu istimewa yang dibawa oleh sang putra ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


Sebenarnya ibu Janaka cukup baik dan hangat, namun kedekatan di antara Naka dan keluarganya lah yang sedikit membuat Gladys mengernyitkan dahinya. Tak ada yang mampu mencairkan suasana di keluarga Brahmana. Apalagi hubungan ayah dan putra lelakinya, sungguh bukan seperti ayah dan anak. Melainkan, seperti seorang rival bisnis yang bertemu untuk membahas pekerjaan.


"Gladys, makasih ya sudah bersedia menerima putra ibu!"


'Menerima? Aku bahkan belum menjalin hubungan apa-apa dengan putranya! Janaka Matila tak lebih hanya seorang pria tua pemaksa dan akan marah bila tidak dituruti kemauannya.'


Seorang pegawai keluarga Brahmana menuangkan anggur pada masing-masing gelas anggota yang hadir, termasuk Gladys.


Menjadi putri dari politisi partai seperti Gladys, menjadi hal yang umum bila harus menghadiri jamuan makan malam, attitude serta manner di meja makan telah ia serap dari kecil.


"Lalu kapan kalian akan menikah?" Tiba-tiba ayah Janaka menanyakan perihal jenjang yang lebih serius dari hubungan keduanya


Gladys yang terperanjat tak menyangka bila Om Sigit akan menanyakan hal yang serius seperti ini. Tatapan mata Gladys pada Naka seperti mengisyaratkan sebuah penantian jawaban atas kesalahpahaman ini.


"Secepatnya!" sahut Naka memberikan jawaban atas pertanyaan sang ayah yang begitu menusuk hati Gladys tadi. Bahkan Naka sengaja menggenggam tangan Gladys agar kedua orang tuanya puas atas jawaban yang ia lontarkan.


"Syukurlah, sebagai putri dari anggota parlemen daerah dan juga lulusan National University of Singapore ayah mengijinkan Gladys untuk meneruskan nama Brahmana."


Kalimat terakhir dari ayah Janaka itu sedikit menyakiti Gladys. Bukan karena sikap angkuh dari ayah Naka. Melainkan ia merasa dipermainkan karena mereka telah sengaja mengorek informasi atas dirinya. Tentu saja Gladys merasa harga dirinya diinjak-injak oleh keluarga ini. Dan hal itu menyebabkan ia tidak fokus menikmati gala dinner mewah yang adakan oleh keluarga Brahmana. Apalagi, Aruni yang notabenenya adik Janaka juga berhalangan hadir. Hal tersebut membuat dara berdarah Jawa itu merasa keluarga ini tak cukup harmonis.


Apalagi pada akhir acara, ayah Naka menyebutkan bahwa Gladys harus siap menjadi Nyonya muda Brahmana yang mana nama itu telah memiliki derajat yang cukup tinggi. Dan baru juga Gladys ketahui bahwa Janaka Matila adalah pemilik sah PT Brahmana Mega Development yang ia kunjungi beberapa waktu yang lalu. Semua kenyataan yang baru saja terungkap membuat Gladys semakin enggan untuk lebih dekat lagi dengan Naka.


'Pantas saja ia begitu mudah melakukan sesuatu, semua akan tersedia dengan sekejap mata! bahkan kasus Madona juga telah ia tangani dengan mudahnya.'


'Tapi maaf Naka, kita berbeda!'


...***"...

__ADS_1



__ADS_2