Crazy In Love

Crazy In Love
Pregnancy


__ADS_3

Dua buah strip plastik dengan dua garis yang menandakan adanya perubahan pada tubuh Gladys, membuat wanita muda itu terdiam saat itu juga. Gladys masih tak menyangka bila Tuhan telah menitipkan sebuah amanah untuknya dan Naka.


Masih dalam keadaan berjongkok di depan closed dengan kedua tangan berada di atas lututnya, Gladys termangu memandangi dua benda berwarna pink itu. Untuk sesaat, Gladys lalu mengusap perutnya yang masih rata kemudian bergumam, "Sehat-sehat ya, Nak! kamu telah menjadi calon penerus papamu."


Berbicara masalah Janaka, Gladys bahkan belum memberitahukan kehamilannya ini pada suami konglomeratnya. Karena Gladys tak ingin menambah kepanikan pria itu, istri Naka yang cukup bawel itu berencana mengungkap kehilangannya pada waktu yang tepat nanti.


"Nak, asal kamu tahu ... mama single belum bersama papamu saja, udah benyak melarang ini itu, apalagi dia tahu ada kamu?" Gladys menceritakan apa yang ada di kepalanya dengan calon buah hatinya.


Sejam lebih Gladys menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, hingga ia tak mengetahui bila sang suami berkali-kali menelponnya karena merindukan sang istri.


Layar ponsel baru itu kembali berpendar, dan nama "Bojoku" kembali terlihat dengan foto narsisnya seperti biasa. Tak ingin membuat Naka semakin mencemaskan dirinya, Gladys lalu menggeser tombol hijau ke atas dan mulai terhubung dengan pengusaha sukses itu.


"Morning ... " sapa Gladys dengan suara terdengar lesu tak bersemangat.


"Honey, ada apa? Kamu ke mana aja? Bibi bilang sejak tadi kamu belum keluar kamar dan tak mengangkat panggilanku sama sekali!" Janaka mengeluh atas sikap sang istri yang ia nilai mengabaikan dirinya.


Meski Naka sungguh menyesal tak bisa pulang dengan segera, karena ada yang harus ia bahas dengan sang ayah. Dan hal itu menyangkut masa depan BBG, hingga membuatnya harus mengabaikan sang istri yang jauh darinya.


"Aku baru saja mandi, Mas!" jawab Gladys lalu mengubah panggilan itu menjadi videocall demi meyakinkan sang suami.


Wanita yang masih mengenakan bathrobe berwarna putih itu segera menyingkirkan dua buah benda yang menjadi alasan lamanya di kamar mandi agar Naka tak segera melihatnya. Namun, usaha Gladys sia-sia. Janaka Matila dengan tingkat kefokusan tinggi dan juga ketajaman matanya menangkap pergerakannya tangan Gladys.


"Apa yang kamu sembunyi dariku, Dear?" selidik Bos Naka dengan memicingkan kedua matanya.


'Yah, gagal ... pria itu lebih cepat dari yang kukira, bahkan penciumannya tajam melebihi herder jantan!'' gumam Gladys dalam hatinya.


"Yank, dengerin ya? Aku akan mengatakan sesuatu, tapi kamu janji nggak boleh histeris atau berlebihan ya?" pinta sang istri yang telah ketahuan terlebih dahulu.


"Katkanlah, Honey! aku akan mengikuti kemauanmu ... janji!"


Dengan berat hati, Gladys mengambil dua buah testpack lengkap dengan hasil dua garisnya untuk ia perlihatkanlah pada sang suami. Meski enggan, Gladys lebih memilih memberitahu Naka dahulu karena sudah terlanjur ketahuan.

__ADS_1


Tara ... Gladys mendekatkan dua buah benda itu tepat di depan layar hingga memenuhi bagian depan ponselnya.


Dan, "Oh my God, honey! I am surprised, this is really amazing, didt you know?" Janaka mengikuti kemauan Gladys agar tak histeris. Pria itu hanya terkesima dengan apa yang ia lihat.


Naka sungguh tak kuasa meluapkan kebahagiaannya, hingga tanpa sadar menitihkan air matanya. Sedangkan Gladys terbengong melihat reaksi Naka yang ternyata di luar dugaannya. Karena Gladys mengira sang suami akan bertindak euforia dan histeris seperti para suami pada umumnya. Namun, Naka tampaknya lain. Pria itu bahagia dengan air matanya.


"Yank, kenapa kamu menangis?"


"Ini air mata kebahagiaan, Hon! thanks baby, you have given me a perfect family,"


"No, not me! This is because of your efforts and the prayers of everyone who loves us,"


"Aku merasa pagi ini kamu begitu menggemaskan Hon, apalagi bila handuk itu terlepas dari tempatnya!" Untuk memberikan apresiasi pada sang istri, Janaka lebih memilih untuk menggoda Gladys.


Hingga membuat wanita itu sengaja menutup panggilannya karena Naka sungguh keterlaluan. Sedang bahagia seperti ini bisa-bisanya Naka membahas masalah ranjang. "Dasar pria mesum! apa dia tak sadar juga? Aku seperti ini gara-gara dia dan Godzila miliknya!" keluh Gladys lalu bersiap-siap.


Meski Gladys menutup panggilannya dengan sepihak, hal itu tak menyurutkan kebahagiaan Janaka Matila. Hingga dengan bangganya ia mempublikasikan berita bahagia ini di depan ibunya Erika.


Hingga sang ayah Sigit Brahmana juga memberikan selamat untuk putra sulungnya dan mendoakan agar ibu dan calon bayi senantiasa diberi keselamatan.


"Terima kasih, Ayah dan Ibu!"


**


Bila Naka tengah beriang gembira, Gladys oun demikian. Senyum mengembang di bibirnya. Hingga semua pegawai di rumahnya saling mengucapkan selamat untuk sang nyonya rumah itu. Gladys menyadari bahwa Janaka telah memproklamirkan kabar kehamilan pada semua pegawai di rumah mereka.


Janaka berpesan dalam teleponnya, "Apa pun yang diminta Gladys, tolong dituruti dan perhatian makanan Bu Gladys," ucap asisten rumah tangga Gladys pagi ini.


Bahkan untuk urusan makanan saja, Gladys harus memperhatikan dengan seksama. Sebelum ia meminum susu yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin, terlebih dahulu ART Gladys melarangnya karena susu itu bukan ditujukan untuk ibu hamil.


"Bu, tamu Anda datang!" Suara Pak Parman baru saja tiba dan mengabarkan ada beberapa tamu yang telah datang di rumahnya.

__ADS_1


Gladys lalu mengekori ke manapun Pak Parman pergi. Pandangan matanya tertuju pada beberapa mobil yang telah terparkir rapi atas arahan beliau. Tamu yang terdiri 5 orang pria berbaju rapi dengan setelan jas dan juga diikuti beberapa anak buahnya saling menyapa Gladys sang nyonya rumah.


Kelima pria itu memperkenalkan diri mereka sebagai manager produk dari masing-masing perusahaan yang memproduksi susu untuk ibu hamil.


"Kami datang atas undangan Pak Janaka Matila, dan kami akan mempresentasikan produk kami!" jelas salah satu pria yang menyebutkan dari perusahaan merek Anm*m.


"Hah?" Kedua manik Gladys membuka tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.


"Tunggu Bapak-bapak sekalian! saya mohon maaf sekali bila membuat Anda sekalian harus datang ke rumah ini, silakan Anda sekalian meninggalkan masing-masing produk andalan dari setiap varian untuk saya coba. Setelah saya merasa cocok, saya akan membayarnya!" Gladys tak ingin menolak kebaikan dari para pegawai itu, baginya mempermudah urusan beberapa pria itu sangat membantu mereka.


"Oh tidak, Bu! untuk itulah kami datang ke mari, kami akan menjelaskan produk terbaik kami untuk Anda." sahut pria yang mengaku dari perusahaan merek L*vamil.


"Tapi itu semua akan membuang waktu Anda, jangan sampai kalian susah karena kami!" bujuk Gladys menengarai hal ini.


"Oleh karena itu kami ke mari Bu, karena pilihan yang Anda adalah penentu nasib kami semua!" sahut pria yang mengatakan berasal dari perusahaan merek pr*nagen.


"Maksudnya?" tanya Gladys dengan mengernyitkan dahinya.


"Pilihan dari Anda adalah penentu dari investasi yang akan digelontorkan oleh Pak Janaka untuk kami, produk yang Anda pilih akan mendapatkan dana investasi langsung di bawah Brahmama Business Group." ucap pria terakhir yang berasal dari merek S*M Bunda.


Gladys hanya bisa melongo mendengar jawaban dari beberapa manager perusahaan susu ibu hamil itu. Mungkin otak sang suami sedang terputus salah satu syarafnya. Hingga tanpa diminta, Gladys langung menghubungkan Naka dan segera memarahinya. Karena kehamilannya bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan.


"Dear, selain aku akan berinvetasi, aku juga akan terlibat dalam produksi susu yang dipilih calon anak kita! demi menjaga nilai gizi dan juga nutrisi yang dikandung," Naka bersikeras ingin tetap melanjutkannya.


"Yank, ini bukan masalah besar! anakmu saja belum lahir,"


"Honey, anak kita harus diajari bisnis sejak dini!"


Susah sekali bila harus bersitegang dengan Janaka, bila Gladys masih menganggap ini semua terlalu berlebihan. Sangat berbeda dengan Naka, pria itu ingin terbaik untuk calon penerusnya mulai dari asupan yang dia dapatkan sejak dini. Seperti asupan bisnis dari sang papa Janaka Matila.


...****...

__ADS_1



__ADS_2