
Bangun dari tidurnya Gladys mengumpat dengan sangat kesal karena Naka lagi-lagi melakukan hal yang semena-mena atas dirinya. Bagaimana tidak, bukan lagi seperti malam yang pernah mereka lalui bersama. Pria itu semalam cukup membuatnya tak berhenti merapalkan beberapa doa agar selamat dari terkaman buaya darat seperti Janaka.
Dalam pagi ini entah sudah berapa kali Gladys berbuat dosa dengan memaki serta menjek-jelekkan sang kekasih. Mulai dari berada di dalam kamar mandi hingga ketika Naka mencoba meneleponnya.
"Setelah ini bibi akan mengantarkan kamu sarapan Dear!"
"Nggak usah repot-repot Pak, aku akan segera turun dan pulang!"
"Never, you will never go home Dear! aku butuh kamu,"
"Dasar sialan, kau pikir aku ini simpananmu?" maki Gladys setelah ia memutuskan panggilan telepon dari Naka tadi. Ia bersumpah akan membalas perbuatan licik Naka karena membuatnya harus menutupi seluruh tanda kemerahan yang ditimbulkan pria sialan itu.
Selesai mandi dan berberes, Gladys tak sungkan membuka walk in closet milik pria sialan itu dan mencari sebuah pakaian yang mampu menutupi beberapa bercak kemerahan dari perbuatan ganjen Janaka Matila semalam.
Pandangan mata Gladys telah tertumpu pada sebuah coat pria berbahan suede setidaknya pakaian tertutup itu mampu menyembunyikan beberapa tanda cinta di pundak dan lengannya.
Namun, untuk memberikan kamuflase pada tanda di sekujur lehernya, Gladys masih memikirkan cara yang lebih tepat lagi untuk menyembunyikan tanda sialan itu.
Untung saja, Gladys melihat sebuah syal berbahan kain linen yang dari sebuah brand mahal tentunya. Untung saja kekasihnya memiliki outfit yang menunjang penampilan alakadarnya hari ini.
Tak ingin membuang-buang waktu, segera saja Gladys berjalan keluar dari kamar Naka dan segera memacu langkahnya untuk angkat kaki dari rumah mewah tersebut.
"Loh ... Nyonya, saya baru saja membawakan sarapan untuk Anda sesuai perintah Pak Janaka!"
'Ya Tuhan, pria ini sengaja ingin menunjukkan bahwa dia sangat perhatian kah?'
"Nggak usah repot-repot Bi, saya akan segera pulang saat ini juga!"
"Nyonya, nggak baik loh marahan hingga berlarut-larut! rumah tangga ada kalanya pasang surut. Percaya deh sama bibi, Pak Naka sangat mencintai Anda."
__ADS_1
"Bibi ini ngomong apa? Saya harus berangkat bekerja, ini sudah kesiangan karena saya harus ganti baju dahulu." Gladys benar-benar ingin segera meninggalkan kediaman sang pria saat ini juga.
"Ya sudah, tapi sarapan dulu! bibi sudah menyiapkan untuk Nyonya, kata Pak Naka bibi harus melayani Anda sebaik mungkin karena nyonya telah kehabisan tenaga."
"Dasar mesum, bisa-bisanya dia mengucapkan hal seperti itu pada Bibi?" keluh Gladys dengan tatapan seperti ingin menenggelamkan wajahnya pada outer Naka.
Wanita berparas ayu itu lalu mengikuti arahan bibi menuju ruang makan guna menjalankan apa yang diminta oleh Naka, kalau tidak bibi pasti akan kena amukan dari pria yang semalam telah mengerjai dirinya habis-habisan itu.
"Nyonya, bibi tinggal ya? Selamat menikmati!"
"Makasih Bi, maaf ngerepotin!"
'Ya Tuhan, Pak Naka nemu wanita berhati malaikat ini dari mana? Bahkan ia mengatakan merepotkan saya!' batin salah satu bibi pelayan di rumah Naka.
"Sudah tugas saya Nyonya."
**
Sayup-sayup Gladys mendengar suara seorang wanita yang telah ia kenal sebelumnya. Suara itu terdengar memanggil namanya, siapa lagi kalau bukan Erika. Ibu dari Janaka Matila, meski bukanlah ibu kandung dari Janaka tapi Erika sangat menyayangi sang putra.
"Iya Tante?" sapa Gladys beranjak dari kursinya ingin menghampiri sang mertua.
"Adys sedang makan? Lanjutkan Nak!" seru Erika, namun mata wanita tua itu tidak sedikitpun lepas dari penampilan Gladys pagi ini.
Gladys cukup ketar-ketir bila Erika menyadari perubahan pada style-nya pagi ini. Pasalnya untuk hal mendetail seperti ini para wanita cukup bisa membedakannya.
"Kamu sedang nggak enak badan Nak?" tanya ibu Naka pada calon dari sang putra. Tak lupa wanita paruh baya itupun menempelkannya telapak tangannya pada dahi Gladys.
"Ah enggak Tante!"
__ADS_1
"Stop call me Tante, am your mother Sayang!"
'Nggak anak, nggak emak kok semuanya pemaksa sih?'
Gladys mencoba tetap menyembunyikan sesuatu yang tak pantas ia ungkap pada ibunda Janaka. Pasalnya sangat tak etis bila wanita ini mengetahui apa yang telah mereka lalukan selama ini.
"kamu kalau sakit, istirahat aja! ibu datang ke sini atas permintaannya untuk menyiapkan segala sesuatu yang kamu butuhkan nanti malam."
Gladys hanya terkesiap dan tak menyangka bila Naka menggunakan senjata yakni sang ibu untuk menghalangi rencananya pulang ke rumah. Cara ampuh pun akan dilakukan oleh Naka, dan secara kebetulan sang ibu telah berada di Indonesia dari kemarin untuk bersikap menyambut peluncuran nanti malam.
"Malam ini Adys akan keluar untuk pertama kalinya sebagai keluarga Brahmana, jadi jangan sampai tidak fit ya Sayang?"
"Adys baik-baik saja Ibu, Adys cukup sehat untuk menjitak kepala Naka," ucap Gladys jujur sejujur-jujurnya, dan hal itu malah membuat sang ibu terpingkal karena kepolosan dari celotehan menatunya.
"Warna syal ini nggak mach Nak, coat coklat tua Syalnya kok marun?"
"Nggak papa ibu, hanya ini yang Adys bisa temukan di tumpukan barang Naka."
Erika mencoba ingin melepas syal mahal yang melilit leher sang putri, namun dengan cekatan Gladys mencoba menahan apa yang dilakukan mertuanya itu. Gladys tak mungkin akan membiarkan sang ibu mengetahui apa yang telah keduanya perbuat.
"Ibu panggilkan dokter keluarga Brahmana dulu kalau begitu, jangan sampai penyakit kamu makin parah Sayang!"
Erika berulang kali meminta Gladys untuk bersedia diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Brahmana. Namun, lagi-lagi Gladys menolak dan bersikeras tak ingin menjalani pemeriksaan karena hasilnya pasti sama, ia tak sakit. Yang sakit yaitu Janaka Matila, sakit jiwa akut.
"Ibu, percayalah Adys nggak sakit!" jelas Gladys dengan suara memohon agar sang ibu tidak terus memaksanya.
"Itu, buktinya kamu kedinginan hingga menggunakan pakaian tebal!" tunjuk Erika lagi-lagi bersikeras agar Gladys mau menjalani pengobatannya.
"Ibu ... Adys nggak sakit, ini semua karena ulah Naka!" Gladys tak kuasa menahan pilu karena Erika tak henti-hentinya memaksa ia untuk berobat. Oleh karena itu Gladys membuka syalnya dan menunjukkan pada sang ibu bahwa ia tak sakit sama sekali, hanya saja ... Naka ... ah sudah lah. Ribet jelasinnya.
__ADS_1
"Anak itu kurang ajar sekali! bisa-bisanya dia membuat putri ibu seperti ini? Mana yang sakit Sayang? Apa ini sakit?" Pernyataan Erika yang begitu mengkhawatirkan Gladys tak ubahnya seperti sebuah pukulan berat untuk Gladys. Wanita itu bahkan tak bisa menjelaskan mulai dari mana cerita ini.
"Ibu ... dia keterlaluan! semalam tak membiarkan aku pulang ke rumah!" Dasar Gladys, jiwa bungsunya menjadi-jadi tatkala mendapatkan perhatiannya lebih dari Erika. Bahkan ia tak segan menumpahkan keluh kesahnya pada ibu barunya itu.