Crazy In Love

Crazy In Love
Daddy Jangan Galak Please!


__ADS_3

"Pak, mereka telah datang ke BBG!" ucap Seno melaporkan berita terbaru dari informasi yang telah ia himpun.


"Aku sudah menunggunya, mereka datang lebih awal dari perkiraanku," Naka lalu memutus panggilan telepon yang ia terima dari Seno.


Air mukanya kini lebih serius dari sebelumnya, kedua alisnya bertaut menandakan telah terjadi masalah yang serius di tubuh Brahmana Business Group.


Segera setelah menyelesaikan sarapan paginya, suami Gladys itu pun beranjak dari tempat duduk dan segera pergi ke kantor untuk melihat semua yang telah dilaporkan oleh Seno dengan mata kepalanya.


"Tunggu, sarapannya sudah? Kenapa buru-buru sekali Bapak?" sindir Gladys dari arah belakang dan. mengekori Janaka matila sebelum pria itu pergi bekerja.


"Am done, Yank! dan i have to do something!"


"You get forgot it, Naka! kamu lupa belum pamit to your baby, Now,"


Kehamilan membuat perubahan besar pada Gladysnya, bila dulu Gladys dikenal sebagai wanita cuek. Kini, Gladys tak malu lagi bertingkah manja dan merajuk bila sesuatu yang diinginkannya tak ia dapatkan.


Pernah sekali hanya karena lapar dan pilih-pilih restoran bisa tantrum semalaman. Untung saja selain kaya harta, Janaka juga kaya sifat sabar.


" Daddy have to to work, remember to always take care of your mom. Don't let him cry and get angry for Daddy," Naka berbicara layaknya bayi dalam perut sang istri dapat mendengarnya.


"Apa ada sesuatu yang urgent, Yank? Kulihat kamu banyak pikiran akhir-akhir ini," Gladys menyela percakapan antara ayah dan anak itu sebelum bekerja.


Naka kemudian bangkit dari berjongkok setelah sebelumnya sempat mencium sang calon buah hati terlebih dahulu. Masalah di perusahaan BBG memang Gladys berhak mengetahuinya, pasalnya Gladys juga salah satu pemenang saham setelah Naka membelikannya dari pemegang saham yang lain.

__ADS_1


"Badan Audit Keuangan pagi tadi telah menyisir BBG dan keluar membawa beberapa dokumen!" jelas Naka dalam kalimat yang cukup jelas.


Dari tarikan napas yang berat itulah, Gladys bisa menyimpulkan bahwa BBG mungkin berada dalam suatu masalah. Setelah sang suami menjabat sebagai pimpinan BBG yang baru, perusahaan itu tumbuh sedemikian rupa. Bahkan harga sahamnya melonjak drastis dibanding yang dulu.


"Lalu apa masalahnya? Apa ada pelanggaran, Yank?"


Gladys bertanya seraya membenarkan posisi dasi sang suami. Menurutnya, ia bisa menjadi pendengar yang baik bila Naka perlu menemukan seseorang yang ingin ia ajak berbicara.


"Tenang saja, aku tak akan bangkrut, Yank! Namun, bila aku bankrut, apa aku boleh mendaftar jadi idol seperti idolamu Seok Jin?"


Karena gemas, sengaja Gladys menarik dasi itu hingga membuat Naka terlonjak karena merasa tercekik.


"Inget umur, lagi pula kamu nggak cocok jadi artis,"


"Cocoknya jadi diri sendiri, udah sana pergi ntar telat loh!" segera setelah beres memasangkan dasi yang lebih rapi, tak lupa calon ibu itu mengantar kepergian sang suami bekerja.


"Jangan aneh-aneh saat nggak ada aku, Dear! terakhir kamu kabur bersama dua saudaramu ke Jepang saat aku Bawean," Naka mengingatkan kembali agar Gladys menjaga kesehatannya dan jangan mengulangi kesalahan kemarin.


Tak merasa bersalah, karena sudah terlanjur membeli tiket. Mau tak mau Gladys, Kanaya serta Grace harus mengikuti konser BTS di Jepang Minggu lalu. Meski tak mendapatkan ijin dari sang suami, Gladys tetap nekat pergi bertiga bersama saudaranya tersebut. Alhasil, hukuman tak boleh keluar seperti saat ini lah yang diberikan oleh Naka padanya.


Sudah hampir semingguan ini Gladys hanya menjadi penghuni rumahan yang tak bisa merasakan indahnya dunia luar. Bahkan semua pekerjaannya di Brahmana Foundation ia kerjakan lewat media daring. Janaka benar-benar kejam padanya.


.

__ADS_1


Tapi Gladys tak berani melawan Naka, ia takut bila pria itu akan semakin marah padanya. Pernah suatu ketika Gladys nekat kabur keluar, setelah ketahuan Naka ia berdalih ingin perawatan di salon langganannya. Alhasil, kini bila wanita itu ingin ke salon, salon itu bisa dipindahkan ke rumah mereka dengan mudah.


"Hmm baiklah, sebelum pergi aku belum menciummu! atau kita bercinta dulu untuk mengatasi kekesalanku pada pegawai BBG?"


Sialan benar Naka, bagi Gladys mulut mesum suaminya itu masih belum bisa berubah. Sebagai hukumannya, Naka mendapatkan jeweran bukan seperti yang ia inginkan.


Pria itu hanya bisa mengecup lembut bibir sang istri saja. Masalah intern perusahaannya membuat Naka tak bisa berlama-lama memanjakan sang istri. Oleh karena itu, Naka segera meninggalkan rumahnya menuju kantor BBG.


"Pria itu semakin menjadi-jadi, di usianya yang tak muda lagi apa hanya hal seperti itu yang berada di otaknya!" gerutu Gladys kala berjalan masuk ke dalan rumah setelah ia mengantar kepergian Janaka.


**


Di kantor, Janaka telah disambut oleh semua stafnya. Pagi ini juga Janaka akan mengadakan rapat dadakan guna membahas masalah Badan Audit. Bahkan ruangan Om Robert menjadi sasaran empuk dan disegel sementara oleh Badan Audit.


Naka mengingatkan pada semua staf untuk tidak bertindak sembarang. "Ikuti semua perintah hukum, dan bila suatu saat ada yang datang untuk meminta kesaksian, katakan saja apa yang sebenarnya!"


"Dari awal aku sudah curiga, kenapa BBG memiliki masalah intern seperti ini, dana yang kita kelola juga jauh dari cukup mengingat laba perusahaan yang semakin besar, lalu ke mana sumber dana itu lari? Apa kalian semua bermain api di belakang pemimpin lama?" dengan emosi Naka sempat melempar sebuah dokumen ke meja rapat.


Bukan hanya peserta rapat saja yang ketakutan, bahkan Om Robert tak berani menatap putra Sigit Brahmana yang saat ini sedang naik pitam. Bom telah meledak, dan sesuai penyelidikan Naka dengan dibantu anak buahnya menemukan banyak pelanggaran pajak dan juga tindak pidana pencucian uang. Namun, Naka belum mengungkapkan pada semua stafnya.


"Aku tunggu 2x24 jam selesaikan masalah ini sebelum aku turun tangan!" ancam Janaka sebelum ia meninggalkan ruang rapat dengan wajah merah padam.


Seno saja tak berani mengusik ataupun berbicara sesuatu pada Naka, Meski Seno telah lama ikut dengan Naka, ia tahu situasi dan kondisi di mana ada baiknya ia diam dan di mana ia harus berbicara.

__ADS_1


__ADS_2