
Kegiatan penuh gairah tersebut harus terhenti oleh bunyi nyaring dari bell yang terdengar hingga ke dapur Gladys. Mau tak mau, Naka harus menghentikan hal yang ia telah tahan sedari tadi siang. Meski merasa kesal, namun Naka harus menghargai perasaan sang wanita.
"Tetaplah di sini! jangan ke mana-mana!" Merasa Gladys tidak keberadaan dengan perilakunya, semakin membuat Naka menginginkan lebih dari hal yang pernah ia lakukan bersama dengan sang wanita.
"Kenapa?" tanya Naka seolah tak ingin si wanita mencoba menghindari dirinya.
"Ada yang datang, tetaplah di sini dan makan spaghettinya!"
Tak ingin menunggu lama lagi, Gladys segera menghampiri pintu masuk apartemen miliknya dan segera menyuruh masuk Malena. Karena memang keduanya telah membuat janji untuk melakukan kegiatan olah raga malam seperti yang sering mereka lakukan.
"Ya ampun Beb, elu baru dateng?" seru Gladys ketika melihat sang sahabat telah berada tepat di depan pintu masuk kediamannya.
Lain halnya dengan Janaka, sempat terdengar Gladys menyebut seorang yang ia tak ketahui identitasnya dengan sapaan Beb membuat rasa kepercayaan diri Naka terasa tercabik-cabik. Siapakah gerangan yang berani mendatangi rumah wanitanya dan sempat dipanggil Beb oleh Gladys?
Rasa jengkel dan kesal memenuhi hati Janaka hingga ia melupakan permintaan Gladys yang memintanya untuk tetap berada pada posisinya saat ini. Karena tingkat rasa keingintahuannya yang lebih tinggi dari pada harga dirinya, membuat Janaka dengan sangat percaya diri mendatangi siapa tamu Gladys yang sesungguhnya.
"Dys elo lagi sibuk? Maaf aku datang di waktu yang tak tepat!" seloroh Malena ketika melihat seorang pria tengah berdiri tegap menatapnya yang tepat berada di belakang sang sahabat.
"Apa maksudmu Lena?" Gladys yang tak menyadari kedatangan Janaka Matila merasa bingung dengan pertanyaan Malena.
Malena mengisyaratkan Gladys agar membalikkan badannya karena pandangan mata tajam dari lelaki yang kini berada di belakang Gladys cukup menakutkan.
"Ehem ... "
Suara deheman yang ia ketahui berasal dari sumber yang cukup Gladys kenali itu pun membuat pemilik Mizu Cupid menoleh serta membalik badannya kemudian. Gladys tak menyangka bila Naka akan keluar dan tak mengikuti kemauannya.
"Besok aja Dys, kita tunda dulu jogging malam ini! lagipula pacarmu datang bukan?"
Kedua telapak tangan Gladys menengadah seperti mengisyaratkan tak mengerti dengan jalan pikiran Malena. Bukankah wanita itu sendiri yang mengajak Gladys berolah raga karena ingin menguruskan berat badannya.
"Apa ada yang kamu butuhkan? Bukankah aku sudah mengatakan akan pergi sebentar untuk membuka pintu?" tegur Gladys pada Janaka yang masih mengikuti kedua wanita itu.
"Gue pulang aja deh Dys, takut ganggu kalian ehh!"
"Tenang saja, teman Gladys berarti temanku juga!" sahut Naka.
Sebelum pergi meninggalkan dua orang yang Malena rasa tengah dimabuk kepayang, teman Gladys itu sempat mengatakan sesuatu pada temannya.
"Oya Dys, kasus elu dengan Madona telah usai? Bagaimana kau bisa mengatasi hal itu hingga ia meminta maaf padamu secara live kemarin?" tegur Melena sebelum ia meninggalkan kediaman sang teman.
"Mungkin karena tekanan dari pengacaraku, lagipula baguslah aku tak perlu membayar ganti rugi untuk masalah yang tak kulakukan!"
__ADS_1
"Lo yakin tak ada backing-an mengenai masalah ini?"
"Ya nggak lah, orang bodoh mana yang mau membantuku Len? Buat apa susah-susah mengurusi masalah orang?"
Tak terima dan merasa dilecehkan oleh Gladys karena tak menghargai dirinya, membuat Janaka berjalan menghampiri kedua sahabat yang sedang menggosipkan dirinya. 'Apa aku seperti itu di matanya?'
"Ini sudah malam Nona, perlukah aku menyiapkan supir untuk mengantar Anda pulang?" tegur Janaka sedikit tersulut emosinya karena sang wanita.
"Oh tidak perlu! saya bisa pulang sendiri!"
Akhirnya Malena dengan berat hati meninggalkan apartemen sang sahabat. Pasalnya gagalnya acara jogging malam ini bukan disebabkan oleh ia dan temannya, melainkan karena kedatangan pacar Gladys.
"Ini juga udah malam, kenapa Anda masih di sini?" tukas Gladys ingin menegur Janaka karena masih di rumahnya.
"Sah-sah saja bila aku di sini! bahkan aku berencana untuk bermalam di sini."
Gladys memutar otaknya untuk mencari alasan bagaimana agar Naka segera enyah dari kediamannya. Pasalnya sangat tidak lah pantas bagi pria dan wanita yang belum terikat hubungan yang sah untuk tinggal bersama.
"Hei, apartemen ini tak cukup besar dan mewah untuk Anda!"
"Nggak masalah, karena aku orang bodoh di matamu Sayang," Naka mengingatkan kalimat dari Gladys untuknya tadi. Gambaran itu sedikit membuat Naka rendah diri.
"Janaka Matila! jangan bilang bahwa Anda lah orang yang membuat wanita itu berhenti menggangguku?"
"Lalu bagaimana caramu untuk berterima kasih padaku?" Naka kembali mendekati Gladys seperti ketika mereka berada di dapur tadi.
Dan hal itu membuat degup jantung Gladys semakin kencang seperti tadi. Wanita berambut panjang itupun merasa bahwa Naka akan melakukan hal yang di luar batas seperti tadi. Agar tak terulang kedua kalinya, Gladys buru-buru meninggalkan ruang tamu dan berjalan cepat menjauhi Naka.
'Ah dia mencoba kabur dariku! melihat rona merah di wajahnya aku yakin bahwa ia juga menaruh perasaan pasaku!' batin Naka dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
**
Pada akhirnya, Naka tak jadi menginap di apartemen sang wanita. Pasalnya selain belum sah secara hukum dan agama, Naka juga hanya menggoda Gladys saja, rasa sayangnya pada wanita itu membuatnya tak tega untuk merusak masa depan Gladys sebelum ia menikahinya. Meski itu sungguh sulit untuk ia lakukan, tapi Naka cukup waras untuk tidak menyakiti hati Gladys.
"Aku ada permintaan, besok temani aku makan malam di luar!" pinta Naka sebelum ia meninggalkan apartemen Gladys.
"Iya-iya, aku cukup tahu diri untuk membalas budimu Pak!"
"Nah memang begitu seharusnya, sebagai calon nyonya harus patuh padaku."
'Ih, ngarep banget!'
__ADS_1
"Aku pulang dulu, jangan bangun kesiangan! satu lagi jangan pernah meletakkan ponsel di samping tempatmu tidur supaya hal seperti tadi pagi tak terjadi lagi."
"Memangnya apa yang terjadi?" Gladys memang masih tak sadar telah mengaduk-aduk perasaan Naka pagi tadi. Dan karena ulahnya itulah, rapat penting yang Naka pimpin harus kalang kabut dibuatnya.
...####...
I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue
Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies
Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me
You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me
__ADS_1