
Kedua anak manusia yang memiliki hati sama-sama keras saling tak mau mengalah satu sama lain. Yang satu masih tetap kekeuh dengan pendirian karena Naka telah menipunya, sedangkan yang satu lagi juga kekeuh melarang sang wanita memasuki tempat sialan seperti ini.
"Urus saja urusanmu sendiri, jangan ikut campur masalah aku!" Gladys masih berkacak pinggang karena pria itu telah merusak pesta ulang tahun Malena yang sengaja di selenggarakan di bar ini.
"Semua urusanmu menjadi tanggung jawabku Dear! tolong mengertilah!"
"Mulai sekarang, jangan ikut campur masalahku lagi! hubungan kita cukup sampai di sini," Gladys mencoba menguatkan hatinya saat wanita itu berusaha memutuskan tali cinta kasih yang telah mereka rajut.
Harapan untuk bersama telah pupus, angan yang diimpikan oleh Gladys juga telah kandas. Pun sama halnya dengan perasaannya, kini rasa itu layaknya sampan yang telah terombang-ambing dipermainkan oleh gelombang.
"Ada apa ini Hon? Tak biasanya kamu seperti ini!"
"Kamu cari saja wanita yang bisa dimanfaatkan, aku sungguh muak denganmu," Wajah Gladys memerah bukan karena efek dari mengkonsumsinya vodca ataupun whiskey. Namun, rona merah itu berasal dari hawa yang ia rasakan saat ini.
Tanpa mereka sadari, ada seorang yang tengah mengarahkan kemera ke arah mereka dan mungkin telah mengambil beberapa foto dari pertengkaran antara Gladys dan Naka. Siapapun orang itu, pastilah ada maksud tersembunyi yang bisa mengancam jati diri keduanya.
Untung saja, kedua netra Naka bisa menangkap si penguntit itu. Meski ia masih tampak shock dengan pernyataan Gladys yang ingin mengakhiri hubungan mereka. Pria yang telah terbiasa menghadapi masalah dadakan seperti ini langsung bisa menyelesaikannya dengan sebuah tindakan gentleman.
Tak ingin Gladys semakin menumpahkan isi hatinya dan berimbas bisa diabadikan sebagai santapan publik dalam tajuk utama besok pagi, dengan cekatan tanpa ba-bi-bu Naka langsung menutup mulut sang wanita menggunakan ciumannya.
Gladys yang tak bersiap terlebih dahulu sungguh terkejut dengan sikap Naka yang ia rasa kurang ajar karena telah menciumnya dalam tempat umum seperti di parkiran bar seperti ini. Kedua manik indahnya melotot seperti ingin tak menyangka bila Naka akan melakukan hal menjijikan di tempat umum ini.
Ingin meronta, kalau bisa. Tapi Naka tak akan diam saja sebelum Gladys mampu menenangkan dirinya dan bisa berpikir dengan jernih lagi. Naka hanya bisa melakukan hal ini untuk mencegah Gladys semakin histeris dan membuka semua hal yang telah terjadi.
__ADS_1
"Tenanglah Yank, ada yang mengikuti kita! kita bicarakan di dalam mobil!" ajak Naka setelah Gladys mampu menguasai kesadarannya karena serangan dadakan darinya tadi.
Tak ingin percaya begitu saja, Gladys bersikeras menolak permintaan Naka untuk pulang bersamanya. Wanita berpenampilan modis itu berdalih ingin menemui Kanaya sepupunya dan pulang bersama gadis itu.
"Percayalah padaku, dia aman bersama Seno."
"Aku lebih tak tenang bila Kanaya bersamanya, karena kalian semua itu mengerikan!"
"Ya udah, iya kita cari Kanaya. Ayo ikut dengan aku!" pinta Janaka Matila yang mulai merasakan ada titik terang karena Gladys telah mampu meredam emosinya akibat melihat orang yang sejak tadi mengikuti keduanya masih terus saja mengarahkan kamera miliknya.
Meski merasa kesal, tapi Gladys tak bisa berbuat apa-apa. Bila emosinya meledak di luar mobil, seperti kata Naka barusan besok pagi pasti seluruh berita baik itu cetak maupun akun gosip akan mengulik kehidupan pribadinya bersama sang konglomerat.
"Jangan sentuh aku!" Nada suara judes itu keluar lagi meski dahulu telah mampu ditekan oleh Naka dengan semua pesona pria itu. Namun, kini sikap Gladys yang jutek kembali terulang.
Mendengar bahwa Gladys melarang Janaka Matila menyentuhnya, niat ingin menggenggam tangan wanita yang sangat ia cintai pupus juga. Naka merasa sangat frustasi bila Gladys akan seperti ini terus. Sedangkan pria dewasa itu tak bisa memejamkan mata bila berjauhan dengan sang wanita.
"Kalian sedang bermusuhan Nyonya?" telisik Seno kala Gladys menggantikan dirinya untuk mengemudikan mobil Kanaya.
"Bukan urusanmu!" Singkat padat dan jelas terlebih lagi dengan aura hitam pekat, Seno tak bisa berkutik saat Gladys menjawab pertanyaannya. Pasti hubungan sang atasan sedang sulit saat ini.
'Tamat sudah Bos Naka, jangankan I Love U atau mungkin Saranghae tak 'kan mempan bila wanita sudah menjadi seperti saat ini,' batin Seno.
Asisten Naka lebih mengkhawatirkan hubungan sang bos daripada hubungannya sendiri. Selain karena memang Naya telah membencinya, ia juga tak berkesempatan memperbaiki kisah yang telah kandas itu.
__ADS_1
"Bos kalian sedang berperang? Sepertinya Bu Gladys lagi ngambek," tebak Seno saat pria itu masuk ke dalam mobil sang bos karena Gladys mengambil posisinya.
"Gladys telah mengetahui semuanya Sen, dia amat membenci aku!"
"Jelaskan padanya Pak, hibur beliau dengan segala yang Anda punya. Biasanya wanita itu perlu perhatian."
"Cih kaya kau ahli aja, buktinya hubunganmu juga nggak ada yang beres bukan?" cibir Naka pada asistennya.
Melihat Naka terus saja mengikuti mobil yang Gladys kendarai, semakin membuat wanita itu kesal. Pasalnya Naka hingga detik ini berani mengusik dirinya. Bila ia nekat kabur, pria itu pasti tak segan melalukan segala macam cara untuk menemukannya. Menemukan sumber dukungan baik secara sosial dan kekuasaan seperti yang dimiliki oleh keluarga Gladys. Karena itu tujuan awal Naka mendekati dirinya.
Pemikiran Gladys itu disinyalir dari sebuah barang bukti yang dikirim ke kantornya tadi siang. Sebuah rekaman yang berisi percakapan antara Naka dan Seno serta beberapa bukti akurat bila Naka sengaja merencanakan perjalanan keduanya beberapa waktu yang lalu. Bukan itu saja, Atas keinginan dari Naka juga lah yang membuat Erika mendekati Gladys serta mendaftar sebagi pelanggan jasa biro jodoh milik Gladys.
"Baru kali ini seorang seperti Mbak Gladys sampe dikejar-kejar ama CEO! udah kaya drama aja hidupmu Mbak," ejek Kanaya sambil terbahak-bahak menghina Gladys.
"Aku lagi nggak mood bahas dia, lagipula aku sudah memutuskan hubunganku dengannya!"
"Yah, 'kan udah Kanaya bilang Mbak! nggak bos nggak anak buah sama aja, sama sampahnya."
**
Setelah Gladys berkendara hingga sampai di apartemennya, Kanaya langsung tancap gas pulang menuju rumahnya juga. Dan seperti yang telah mereka ketahui, Naka bersama Seno juga tak sedikitpun melepaskan kedua wanita itu. Terlebih lagi Seno, setelah menurunkan sang atasan di depan apartemen Gladys, pegawai kepercayaan Janaka Matila tersebut kembali mengikuti kemanapun Kanaya pergi.
Sedangkan Janaka Matila, tak sulit bagi lelaki 35 tahun itu untuk masuk ke dalam apartemen sang kekasih yang telah mencampakkan dirinya karena Naka sendirilah yang menambahkan sensor sidik jari miliknya sebagai salah satu password yang lain selain kombinasi sandi dari Gladys.
__ADS_1
Sejak tadi wanita itu sulit didekati, bahkan Naka sampai tak bisa masuk ke dalam kamar Gladys karena wanita itu mengancam bila sejengkal saja Naka berani menginjakkan kaki di kamarnya, besok pagi juga ia tak bakal bisa bertemu dengan Gladys hingga kapanpun.
"Hon, kejam amat sih ..."