Crazy In Love

Crazy In Love
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Berkali-kali Janaka menatap jam yang terpasang rapi pada dinding kamar yang bernuansa Skandinavia. Pria penyuka konsep dari negara di benua Eropa seperti Denmark dan Norwegia itu memang lebih memilih kamarnya di design fungsional daripada mengandung banyak unsur seni. Pria yang tengah berdiri tepat di sebelah jendela lebar yang ada di dalam kamar berwarna serba netral karena mengusung unsur logam itu sedang harap-harap cemas menunggu reaksi dari sang nyonya.


Hingga mendekati pukul 9 malam tak ada satupun pesan serta panggilan dari Gladysnya. Wanita itu benar-benar melupakan sosoknya saat ini. Kini Naka mulai memikirkan ide guna memaksa Gladys keluar dari persembunyiannya, karena bila dibiarkan begitu saja akan semakin berlarut-larut. Atau dengan kata lain Naka telah terbiasa berada di samping sang wanita dan tak ingin berpisah meski hanya sekejap saja.


Karena tak kuat menahan rasa ingin segera bertemu, Naka mencoba menghubungi sang wanita yang ternyata tak peduli padanya. Begitu telepon itu diangkat oleh Gladysnya, binar-binar di mata Naka tak bisa disembunyikan lagi. Ia sangat bahagia saat Gladys masih mau mengangkat telepon darinya.


"Katanya sakit? Kenapa masih belum tidur?" tutur Gladys di ujung telepon yang masih menyala.


"Kamu tega ya Hon, ngebiarin aku kaya gini? Ke mari lah aku butuh kamu."


"Suruh saja wanita itu yang datang Yank, sebagai ucapan terima kasih dari kamu?" Gladys masih tetap pada pendiriannya, yakni ia masih marah pada Naka.


"Ayolah Hon, hanya kamu yang ada di hatiku! tak ada wanita lain selain kamu."


"Hadeuh pintar sekali bersilat lidah! sekarang bagikan alamatmu."


Mendengar bahwa Gladys akan datang, raut wajah Naka semakin bersinar. Garis-garis kebahagiaan kini muncul di wajah tampannya. Jelas ia cukup bisa memainkan drama kecil ini untuk mencari simpati sang wanita. "Ah aku paling pintar mencari keuntungan darinya! buktinya dia tak bisa lepas dari pesonaku yang tampan ini," gumam Naka dengan sejuta senyum penuh kemenangan di bibirnya.


Karena Gladysnya sebentar pagi akan menuju ke arahnya, Naka tak mau tampak buruk di mata Gladys. Oleh karena itu ia ingin bersiap untuk merapikan penampilan serta kondisi kamar tidurnya untuk menampung sang calon nyonya rumah.


Naka bahkan meminta salah satu bibi pelayan di rumahnya untuk mengganti seprei yang paling indah dan premium dengan alasan untuk membahagiakan nyonya rumah yang akan segera hadir.


"Bi, bantu saya merapikan serapi mungkin kamar ini karena nyonya akan segera tiba!"


"Benarkah Pak? Itu bagus! lalu apa lagi yang perlu bibi bantu untuk Anda?" Bukan hanya Naka saja yang antusias menyambut Gladys, tapi bibi pelayan juga sangat bahagia karena sang bos sebentar lagi akan segera menemukan salah satu tulang rusuknya.


"Bantu dengan tidak menganggu saya bila dia datang, dan besok pagi jangan naik ke kamar untuk membersihkan ruangan itu sebelum nyonya turun!"


Sang bibi lalu mengangkat sedikit tangan yang membentuk sign oke untuk sang atasan pertanda ia akan menjalankan semua permintaan sang bos. Bukan hanya tempat tidurnya saja yang dirapikan, tapi Naka juga membersihkan tiap sudut kamarnya agar tak ada gangguan sama sekali untuk dia dan nyonya muda. Bau aromaterapi juga telah disetel khusus untuk menyambut tamu istimewa seperti bau favorit Gladys. Hanya jasa kurang lengkap karena tak ada bunga dan lilin, seperti kesan untuk malam pertama. Jelas saja Naka akan memainkan drama sedang sakit, mana mungkin ada kelopak mawar dan lilin.


"Beres! welcome to our home sweety! I can't wait to see you Honey, hahaha ... " Tawa renyah Naka mengakhiri kegiatannya dalam menyiapkan kedatangan sang wanita.

__ADS_1


**


Tak perlu menunggu waktu lama untuk Naka menunggu Gladysnya. Seperti yang telah direncanakan oleh pengusaha sukses tersebut, Gladys telah tiba di kediaman mewah yang Naka khususkan untuk rumah masa depannya bersama sang kekasih itu.


"Akhirnya kamu ingat bahwa masih memiliki aku Dear?" gerutu Naka dengan suara beratnya seolah merasakan sakit tiada tara kala melihat sang wanita membuka pintu kamarnya.


"Oya? Jangan GR dulu aku ke sini membawa barang-barang kamu Yank!" ujar Gladys sambil menarik sebuah koper yang diyakini milik pengusaha muda penuh pesona tersebut.


Gladys benar-benar sengaja membuat Naka seperti di neraka. Ia sudah bersumpah akan membalas perbuatan Naka yang seenaknya telah menerima barang pemberian wanita lain. Dengan seribu langkah pasti, Gladys menarik koper itu dan membawa masuk mendekati pria yang berbaring dengan wajah pucat itu.


Belum sampai itu saja, dengan bangga Gladys mematikan pendingin ruangan di kamar Janaka Matila. Ia sengaja melakukan itu karena curiga bahwa Naka telah menipu dirinya.


"Kok dimatikan Hon?"


"Kan kamu lagi atit Yank? Nanti menggigil loh pakai AC."


Bukan hanya mematikan power pendingin ruangan saja. Namun, Gladys juga menutup rapat badan pria yang tengah berbaring lemah di atas kasur tersebut. Hal tersebut ia lakukan karena tak ingin penyakit semakin parah.


"Jangan tinggalkan aku Dys," Naka menahan kepergian Gladysnya dengan menggenggam tangan wanita itu.


"Kalau mau sembuh nurut ya, aku nggak akan lama kok! kamu istirahat saja!" Gladys mencoba melepaskan pegangan tangan mesra itu. Sebelum emosinya lepas kendali, sebaiknya ia tak melihat Naka terlebih dahulu.


Kekasih dari Janaka Matila tersebut lalu turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sesuatu. Meski ia sungguh sungkan berada di rumah Naka, tapi Gladys harus melakukan ini semua demi memberi Naka sebuah pelajaran yang tak 'kan ia lupakan nantinya.


Bibi pelayan pun juga dengan sigap membantu Gladys. Bahkan wanita tua itu tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan karena telah mengirimkan seorang wanita ke rumah ini. Dari ucapan bibi pelayan lah Gladys tahu bahwa Naka memang jarang terlihat dan sama sekali belum pernah membawa pulang gadis.


"Terima kasih Nyonya, Anda telah bersedia menerima Bapak dengan tulus," ucap wanita tua itu hingga tak kuasa menitihkan air mata.


"Ah Anda jangan berlebihan Bi, saya hanya seseorang yang kecil di mata Naka." ucap Gladys sambil menyiapkan segelas minuman hangat untuk meredakan demam Naka.


"Pak Naka sangat mencintai Anda."

__ADS_1


"I hope so!" balas Gladys dengan senyum manis lalu melangkah naik ke lantai atas kediaman mewah Naka.


Gladys tentu saja mengulas senyum kemenangan untuknya kala masuk ke dalam kamar Naka kembali dan mendapati pria itu masih bersembunyi di dalam selimut tebalnya.


Tak lupa ia menyodorkan minuman hangat berbahan dari jahe merah yang ia siapkan tadi. Ia sengaja ingin menguji kejujuran diri Naka.


"Ayo bangun Bos Naka, minumlah selagi hangat! aku begitu perhatian loh, so jangan diabaikan ya?"


Janaka terperanjat, kedua matanya membulat sempurna melihat sikap Gladys yang bertindak sejauh ini. Niatnya mengundang Gladys ke sini hanya ingin bermanja-manja bukan untuk mendapatkan hukuman seperti ini.


Untung saja sebuah panggilan menyelamatkan dirinya. Tapi kedua netra Naka kembali terbelalak mana kala membaca nama yang menelepon dirinya. Perang dingin pasti tak bisa terhindarkan lagi saat ini. Begitu Gladys menyadari perubahan sikap Naka, wanita itu lalu merebut ponsel sang kekasih dan melihat profil si penelepon.


"Bukankah wanita ini yang memberimu hadiah Bos?"


"Bukan Yank, kamu tahu darimana?"


"Jangan mencoba menipuku! aku bertemu dengannya karena ia kesulitan memilih hadiah untuk pria yang ia cintai dan kami sempat berbincang di butik!"


"Alamak, pantas saja dia bersikap seperti singa betina!"


...****...




Karena yang inbox masih minim, periode GA aku tambahin ya hingga tanggal 15 November 2021.


Untuk info lengkapnya, silakan lihat deskripsi Grup Chat saya.


Terima kasih sudah mengikuti cerita halu ini.

__ADS_1


__ADS_2