
Dilema di hati Gladys belum juga reda, dan kecamuk di dalam jiwanya semakin meronta mana kala ia mendengar dua orang sedang membicarakan dirinya. Sejak bertemu dengan Madona, Gladys telah banyak berpikir yang tidak-tidak. Apalagi sebelum ia sempat masuk ke dalam mobilnya, tanpa ada yang menyadari ia mendengar percakapan dua orang asing yang membahas dirinya.
"Wah ke mana beliau? Jangan sampai kita kehilangan jejaknya! bisa abis kita diamuk Pak Janaka!" ucap salah seorang pria dengan logat medoknya. Kedua orang itu berdiri membelakangi Gladys yang akan memasuki mobilnya. Untung saja ia sempat mendengar percakapan itu sebelum ia membuka mobil menggunakan remote alarmnya.
Kedua manik indahnya mulai berkaca-kaca ketika ia mendengar hal yang kini bisa mengaduk perasaannya. Meski Gladys ingin selalu percaya pada Janaka, tapi berita yang telah wanita itu dengar cukup membuatnya semakin yakin bahwa Naka tak pernah tulus sekalipun padanya.
Klik ... klik ... Gladys memencet tombol yang berada di genggaman tangan kanannya hingga membuat kedua pria yang diam-diam mengawasi Gladys berjingkrak kaget dan segera menetralkan keadaan. Pemilik Mizu Cupid itupun lalu masuk ke dalam kabin mobilnya. Tak cuma sekali Gladys tampak menyeka ari mata yang jatuh ke pipi merahnya. Meski ia baru beberapa hari ini mengenal pria songong itu, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya begitu sakit mendengar kabar ini.
Putri bungsu dari Andung Hartono itupun lalu memacu kendaraannya meninggalkan pelataran rumah makan bernuansa Jepang itu. Pikirannya berpetualang entah ke mana saja, yang ia rasakan selain kecewa juga sedih. Mengapa Janaka tega melakukan ini padanya? Ia tahu meski bukan orang penting, setidaknya Gladys juga memiliki hati dan perasaan.
"Aku tak boleh larut dalam kekecewaan ini, aku harus mempersiapkan kompetisi design yang diminta Bu Hana!" gumam Gladys ketika selesai membuang semua hal buruk yang ia pikirkan. Baginya, kini adalah waktu yang tepat untuk mengejar impian besarnya yakni menjadi interior designer seperti Bu Hana Darmanto idolanya.
**
Berkali-kali Naka mengirimkan pesan pada Gladys dan berakhir tak ia baca satupun. Jangankan membacanya, membukanya saja gadis itu enggan. Hingga Seno juga tak mau kalah meneleponnya untuk sekadar menanyakan kabar Gladys atas perintah bos Naka karena saat itu sang atasan sedang bertemu secara pribadi dengan pemilik perusahaan kontraktor dari pemenang tender.
"Aku baik-baik saja Pak Seno, jangan terlalu memikirkan saya!" ucap Gladys sungguh enggan berbicara dengan Naka ataupun Seno.
"Beliau, Pak Naka uring-uringan karena Anda tak kunjung membuka pesannya mirip anak perawan yang lagi PMS!" Seno sedikit menggoda Gladys untuk mencairkan suasana karena menurut pendapat Naka, Hana telah meracuni otak Gladys agar tak bersedia dekat dengannya setelah pertemuan itu.
__ADS_1
"I'm really busy right now Sen! I hope he can give me a little of time." Tentu saja bukan hanya sibuk membuat design, tapi Gladys ingin memiliki waktu untuk sendiri agar tak ada yang menggangu pikirannya lagi.
"Oke nanti akan saya sampaikan pada beliau!"
Seno menebak pasti telah terjadi sesuatu pada hubungan sang atasan. Lagipula tak seperti biasanya, Gladys tak pernah berlaku seperti ini sebelumnya. Setahu Seno, Gladys adalah wanita yang perhatian dan baik hati meski anak buahnya seperti Mak Lampir.
Tiga puluh menit selanjutnya, Seno menyampaikan apa yang dikatakan oleh wanita sang atasan sewaktu ia menelpon menggunakan ponsel Naka. Mendengar penjelasan dari Seno, kedua alis pria itu bertaut dan menampakkan wajah yang sangat masam. Sepertinya kecurigaan kini nyata bahwa Hana telah mencampuri masalahnya. Pasti ia telah menemukan informasi mengenai siapa orang yang kini dekat dengan Gladysnya.
Oleh karena itu, Janaka tak ingin duduk diam dan tanpa melakukan apa pun. Pria berwajah tampan itupun mengepalkan tangan kanannya lalu mencari informasi di mana ibu kandungnya itu menginap dan memberikan perhitungan karena telah berani menyentuh sang wanita. Janaka Matila, sang pemilik beberapa bisnis real estate di Indonesia tak 'kan tinggal diam, ia akan melakukan apa pun agar Gladys berada dalam genggamannya.
"Urusan dengan wanita itu biar aku saja yang turun tangan Sen, kau jangan ikut campur!" titahnya pada Seno sebelum ia mengambil jas dan segera pergi menuju alamat yang dia dapatkan.
"Kau pikir aku akan kalah hah? Meski ia wanita ataupun wanita yang melahirkan aku, aku tak bisa dikalahkan olehnya." Naka segera pergi meninggalkan ruangannya dan berlalu menuju parkir khusus mobilnya.
Dalam hati Janaka Matila ia sungguh mengutuk wanita yang tega membuangnya. Bahkan kini dengan tak sadar diri berani muncul di wilayah kekuasaan dirinya dan mencoba mendekati Gladys. Naka tak 'kan segan-segan untuk menyakiti wanita itu bila berani macam-macam.
**
Bertempat di salah satu hotel mewah di Jakarta Selatan, derap kaki jenjang Janaka Matila bersaut-sautan di sepanjang lorong menuju salah satu kamar yang telah dibooking oleh orang yang kini ia cari. Menurut sumber yang ia dapatkan, di sini lah wanita yang telah melahirkannya bermalam. Bukan Janaka bila tak kesetanan, emosi yang meledak-ledak membuatnya tak kuat untuk segera memaki wanita itu. Karena sudah menjadi hal umum putra dari Sigit Brahmana ini memiliki sifat dan karakter yang cukup buruk selain dengan wanitanya.
__ADS_1
Berkali-kali Naka memencet tombol di pintu kamar 1207 yang tepat berada di depannya. Naka sudah tak sabar ingin segera memarahi wanita tua itu karena telah berhasil membujuk Gladysnya untuk menjauhi Naka.
Cklek ... suara pintu hotel dibuka, dan pandangan kedua sorot mata kembar itu jatuh bersamaan. Sepasang ibu dan anak yang tak pernah bertemu itu saling diam membisu. Bahkan sejenak Naka melupakan niatnya untuk memaki wanita itu begitu bertatapan dengan ibu yang telah mengandung dirinya selama 9 bulan itu.
Semenit berlalu tanpa kata, hening dan sunyi. Hingga sang wanita berparas keibuan itu mulai membuka mulutnya yakni dengan menyebut nama sang putra, "Janaka Matila!"
"Aku di sini bukan ingin menemuimu sebagai Janaka, tapi aku hanya akan mengingatkan sebagai pria yang wanitanya kau racuni otaknya."
"Apa maksudmu Nak? Ibu tak tahu!"
"Jangan panggil aku Anakmu, dan kau pun bukanlah ibuku! Aku tekankan sekali lagi, jauhi Gladys."
'Begitu bencikah ia padaku?'
"Aku tak melakukan apa-apa Janaka, ibu tahu ibu salah padamu. Tapi percayalah ibu tak mungkin menyakiti anak serta calon menantu ibu."
"Jangan sebut aku anakmu, sudah kukatakan bahwa aku bukan lah anakmu! sekali lagi aku tekankan jangan campuri urusanku dengan dia," ancam Naka pada ibu yang telah melahirkannya. Sejujurnya, jauh di dalam hati Naka tak sampai hati mengatakan apa yang telah ia katakan barusan. Tapi bila ia mengingat seperti apa masa lalunya, Naka sangat membenci ibunya.
...****...
__ADS_1