Crazy In Love

Crazy In Love
I am Back


__ADS_3

Menjadi dewasa bukan semudah membalik telapak tangan. Semua orang pasti menua, tapi tidak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia. Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.


Seperti halnya Janaka Matila, pria yang telah berumur matang itu sesekali menatap wajahnya lewat pantulan ponsel miliknya. Semenjak pagi tadi, Gladys dan adiknya terus membahas kehidupan para pria muda yang tergabung dalam grup yang bernama BTS mau tak mau telah membuat Naka panggilan akrab sang CEO tersebut memikirkan usianya yang telah tak muda lagi.


Tanda-tanda penuaan yang berupa garis halus di sekitar matanya, nyatanya kini membuat Naka cemas. Bila dulu pria kekar itu tak pernah memikirkannya, kini Naka tak boleh mengabaikan salah satu tanda penuaan yamg ia miliki.


Bahkan sejak tiba di kantor BMD pagi ini Naka terlihat uring-uringan tak jelas dan berimbas pada semua karyawan di kantornya. Para pegawai Janaka yang beberapa kali ini terbebas dari auman sang bos, kini kembali mendapatkan amukan dari sang atasan meski tanpa sebab apa pun.


Seperti saat ini ia mendatangi Nora di lantai tiga yang berarti pria berusia matang itu harus turun empat lantai dari ruang kerjanya demi bertanya pada Nora secara objektif.


"Nora apa kamu ada waktu berbincang dengan saya?" tanya Janaka dengan suara hampir tertahan lantaran dipenuhi perasaan jengah.


"Tentu saja Pak, silakan!"


"Kamu kenal Jin BTS? Bagaimana menurut kamu?"


"Sangat tahu Pak, saya salah satu army dan menurut saya Seok Jin Oppa sungguh luar biasa," ucap Nora sang sekretaris tiga yang biasa merapikan seluruh jadwal Pak Janaka Matila.


'Apa semua wanita akan tergila-gila pada Jin?' gumam Naka sambil mengepalkan tangan kanannya yang berada dalam saku jasnya.


"Kalau begitu menurut kamu, lebih tampan siapa? Jin or Me?"


Baru kali ini Nora mendapatkan pertanyaan mengerikan selama ia bekerja di BMD ini. Bahkan beratnya pertanyaan ini melebihi pertanyaan dari HRD sewaktu ia melamar kerja dahulu. Bila Nora menjawab lebih ganteng Seok Jin, hal itu pasti akan berpengaruh dengan gaji serta bonusnya. Dan bila ia menjawab lebih ganteng Bos Naka, Nora akan berdosa pada Tuhan karena telah berkata tak jujur dari dalam hatinya.

__ADS_1


"Berat Pak, Tapi karena Anda nyata saya menjawab lebih oke Bapak!" jawab Nora sepelan mungkin agar Janaka sang atasan tidak emosi padanya serta berkaki pada potongan bonus bulanannya.


"Jangan coba-coba menggoda saya! ibu negara tak 'kan tinggal diam Nora, keganasannya saja bisa meruntuhkan benteng pertahanan."


'Bos nggak waras, tadi tanya apa dijawab yang paling aman eh malah ngejekin aku!' gumam Nora dalam hatinya.


Untung saja, Seno datang dan mengajak sang atasan segera memasuki aula rapat guna membahas anggaran dari proyek pulau Bawean yang rencananya akan segera di realisasikan.


**


Bila Naka sibuk dengan rencananya untuk menambah pundi-pundi rupiah dalam akun perusahaannya, Gladys juga tak kalah sibuk pagi menjelang siang ini. Setelah kepulauan Kanaya, wanita yang baru saja dinikahi Naka itu segera bersiap guna menemui seorang yang akan ia jadwalkan makan siang bersama dengan Naka.


Gladys telah memilih pakaian yang cukup sesuai dengan tema pertemuan kali ini. Tak terkesan glamor dan juga tidak terlalu santai. Karena Gladys akan mengajak Janaka yang telah resmi menjadi suaminya bertemu wanita yang telah membersihkan pria itu.


"Pria itu pasti akan kaget setengah mati, aku harap hubungan keduanya nanti akan membaik!" tutur Gladys begitu masuk ke dalam mobil sambil membawa satu buket besar berisi bunga tulip seperti kesukaan mantan dosennya.


Telah diketahui sejak lama, bila Hana Darmanto sangat menyukai bunga tulip. Oleh karena itu wanita paruh baya yang masih cukup modis itupun memilih tinggal di Leiden Belanda. Negara yang mendapatkan julukan negeri seribu tulip itu.


Tak berselang lama, Pak Parman telah membawa nyonya Matila ke perusahaan BMD yang menjadi milik sang penguasa muda tersebut. Karena tak ingin membuang waktunya, Gladys segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju kantor yang telah disambut oleh resepsionis yang dulu pernah ketus padanya.


"Kali ini aku belum memiliki janji juga, tapi bos kamu yang meminta aku datang ke sini!" ujar Gladys sebelum salah satu resepsionis yang dulu jahat padanya bertanya yang aneh-aneh.


"Mari saya antar nyonya, saya minta maaf bila dulu sempat berbuat tak sopan pada Anda!" ucap wanita yang mengenakan rok selutut itu pada Gladys dengan nada penuh penyesalan.

__ADS_1


"Never mind, saya akan tunggu di sana saja!" balas Gladys sambil menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari meja informasi. Bila Gladys bisa menebak, ruangan itu seperti sebuah ruang tunggu untuk tamu umum seperti dirinya.


"Waduh, bisa tambah kena masalah saya Bu! ayo saya antar ke lantai 12 sebelum saya kena marah." Dengan gemetaran, wanita muda itu memaksa untuk mengantarkan Gladys ke lantai di mana ruangan kerja Naka berada. Wanita itu tak ingin kena amukan sang atasan yang sejak tadi marah-marah seperti anak gadis yang sedang patah hati.


"Aku nggak lama kok," keluh Gladys karena sejak tadi resepsionis itu terus mengatakan akan mendapatkan hukuman bila ia menolak mengikutinya.


"Sejahat apa sih bos kalian?"


"Amukannya seperti tsunami 12 skala Richter!" bisik resepsionis tersebut pelan takut di dengar oleh pegawai yang lainnya karena ia tak ingin membahas seperti apa kejamnya bos Naka bila sedang inspeksi mendadak dan memungut sebuah masalah yang sangat fatal.


Dan Gladys? Istri Janaka Matila itu tak bisa menahan tawanya ketika mendengar langsung dari mulut karyawan Naka bila sang suami sangat galak seperti kata wanita muda itu. Buktinya pagi tadi, emosi seperti apa juga Naka tak berani memarahi dirinya.


Berarti Janaka belum dewasa?


Jawabannya ada pada readers ya 🤭


...****...


Kita bisa mengendalikan diri saat menyikapi suatu hal. Dan manusia seperti kita akan berpikir mengenai solusi yang terbaik dan logis untuk dilakukan, yang tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.


Karena umur tidak menjadi patokan untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Bisa jadi kita akan bertemu dengan orang yang lebih muda dari kita, namun pemikirannya lebih dewasa dibandingkan orang yang berusia 30 atau 40 tahun.


Kedewasaan tidak datang secara instan, tapi juga tidak bisa sekadar ditunggu begitu saja. Kita harus melatih pola pikir dan sikap dewasa lewat berbagai proses kehidupan. Kuncinya adalah kemampuan dan keinginan untuk terus berproses memperbaiki diri menjadi lebih baik, dan open minded serta berkeinginan untuk belajar dalam setiap prosesnya.

__ADS_1



__ADS_2