
Jangan ditanya sudah berapa kilometer jalan yang telah dilalui oleh Gladys dan rombongannya. Hingga menyebabkan bahan bakar di mobil milik nyonya muda Brahmana menipis. Alhasil, Pak Parman kudu segera mungkin mencari stasiun pengisian bahan bakar.
Kanaya mencoba meredakan kemauan menyantap Gado-gado yang Gladys incar. Sedang istri Janaka itu tengah cuek bebek mengutak-atik ponsel barunya. Terlebih lagi, sang suami belum juga menghubungi dirinya. 'Ke mana saja pria menyebalkan itu? Apa dia melupakan istrinya?'
Hingga Gladys mencoba keluar dari dalam mobil karena terlalu lama menunggu antrian membeli bahan bakar untuk mesin mobilnya.
"Pagi Kakak ipar ...." Suara seorang lelaki menyapa Gladys. Meski posisi Gladys saat ini sedang membelakangi pria itu, namun Gladys kenal betul siapa identitas yang memanggil namanya.
"Oh, hai! selamat pagi juga Adit!" balas Gladys dengan menunjukkan wajah cerah disertai senyum menawan. Karena biar bagaimanapun Aditya merupakan saudara kandung suaminya.
"Sendirian aja nih?" goda Adit begitu ia tak menemukan sosok pria yang merupakan saudara kandungnya.
"Nggak juga, ada Kanaya adikku!"
"Kak, to the point aja ya? Adit tahu Kakak mencintai suami Kakak, tapi sebaiknya Kakak jangan terlalu percaya padanya! Karena Janaka Matila tidak sebaik dan setulus yang Kakak kira,"
'Lho apa-apaan ini? Masa iya sesama saudara saling tak percaya seperti ini?' batin Gladys tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Adit.
"Aku tahu, Adit! segala keburukan Masmu aku sudah paham, bahkan aku bisa menyelami hatinya lebih dalam dari orang lainnya," Tentu saja Gladys cukup paham dengan watak serta sisi negatif Naka, karena Gladys adalah istrinya.
"Aku peringatkan agar Kakak hati-hati dengan pria licik itu!" imbuh Adit sebelum berjalan ke arah mobilnya.
"Makasih atas perhatiannya Adit!" balas Gladys dengan senyum manisnya.
Sepeninggalan Adit, Gladys kembali masuk ke dalam mobilnya tanpa berkata sepatah katapun dengan Kanaya yang masih sibuk melihat layar gawai guna mencari penjual Gado-gado seperti yang diingkan kakak sepupunya.
"Yank, I trust you!" ketik Gladys pada pesannya untuk sang suami. Setelah itu ia mengatur ponselnya dengan mode senyap karena tak ingin diganggu.
Persetan dengan pesan serta telepon yang masuk ke nomornya. Karena Gladys tak ingin membalas atau mengangkatnya. Gladys tak peduli, karena yang ia inginkan kini hanya menyantap kudapan khas Indonesia itu.
__ADS_1
"Ketemu ... !" pekik Kanaya dengan menunjuk ke arah depan mobil Gladys. Sesuai petunjuk dari Maps, daerah sini memang terdapat penjual gado-gado yang sering mangkal.
Namun, sepertinya terjadi sesuatu pada penjual gado-gado tersebut. Dari dalam mobil, Kanaya dan juga Gladys melihat penjual itu dikerubungi oleh beberapa orang berbadan tegap.
Tak ingin makannya berlalu begitu saja, Gladys segera mungkin mengamankan kudapan itu. Oleh karena itu, Gladys berjalan keluar diikuti oleh Kanaya dan juga Pak Parman yang telah ditugaskan oleh Janaka menjaga dan mengantar ke manapun istrinya. Selain Pak Parman, ada juga beberapa body guard yang juga dipekerjakan oleh bos BBG tersebut.
"Ada apa ini?" hardik Gladys menatap segerombolan pria berbadan tegap yang tengah berseteru dengan penjual gado-gado.
Mungkin orang-orang itu tak mau membayar atau ingin kasbon seperti yang ada di benak Gladys.
"Jangan ikut campur masalah kami!" ujar salah satu lelaki berkepala plontos yang tepat berada di depan Gladys.
"Tentu saja ini urusan aku, Aku sudah berputar-putar mencari Gado-gado. Jadi jangan bikin keributan hingga aku gagal makan gado-gado!" Gladys mulai tersulut emosi karena pria itu berencana menahan keinginannya menyantap Gado-gado.
"Pria ini berhutang 10 juta dan batas waktunya telah habis! jadi kami ingin menagih hutang pada perusahaan kami," Salah satu pria yang sedikit berpapasan rapi menjelaskan pada Gladys duduk permasalahannya.
"Tapi aku benar-benar belum ada uang, uang itu aku gunakan untuk membayar pengobatan istriku!" jawab penjual gado-gado dengan isak tangisnya.
Namun, Istri bos BBG tidak sendiri. Masih ada Kanaya dan juga bodyguard di belakangnya. Jangankan menyakiti Gladys, menatap sinis saja bisa dicongkel oleh Mike.
"Stop Mike ... berikan aku kunci mobilku Pak Parman!" Gladys meminta kuncinya.
Mungkinkah Gladys akan pergi begitu saja dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja? Demi mematuhi istri atasanku, Pak Parman kemudian memberikan benda yang diingkan oleh nyonya muda Brahmana tersebut.
Gladys segera masuk ke dalam Toyota Fortuner diesel silver itu dan mulai menghidupkan kendaraan dari Janaka Matila tersebut. Janaka menang gemar mengkoleksi mobil berjenis SUV dan juga jeep karena tampak lebih gagah bila dikendarai.
Brum ... Brum ... Wanita itu sengaja memanasi mesin mobilnya. Selain itu Gladys mengarahkan mobil silver itu tepat ke arah kerumunan.
Dengan tatapan mengejeknya, Gladys menjalankan mobil itu ke arah gerobak dan juga kelompok yang sedang berseteru. Persneling telah ditarik, mobil dijalankan Gladys dengan kecepatan tinggi. Sekalian menghidupkan skill mengemudinya.
__ADS_1
"Mbak Gladys ... Nyonya ...." pekik Kanaya dan juga anak buah Janaka ketika nyonya Brahmana itu menabrak gerobak penjual gado-gado karena semua orang yang tengah bergerombol lari kocar-kacir.
Puas telah menghancurkan gerobak itu, kini Gladys keluar dengan langkah sombongnya. Selain hanya menabrak gerobak, mobil Gladys juga menjadi imbasnya.
"Wanita gila," umpat preman itu mengancam Gladys. Namun, sebelum pria jahat itu mampu menyentuh istri Janaka terlebih dahulu Mike meninju wajahnya hingga tersungkur.
"Siapa kalian? Dan apa hubungan kalian dengan dia?" ketua yang berpakaian rapi menunjukan penjual gado-gado.
"Aku penabrak gerobak, dan akan memberi ganti rugi. Sebutkan Anda minta berapa? Atau, Kanaya coba transfer ke orang-orang bodoh ini 15 juta!"
"Ha???" semua pria yang berpenampilan jahat itu terkesiap.
"Kurang? 20 juta? Silakan itung bersama bunga selama jatuh tempo ini!" imbuh Gladys dengan kedua manik membuat sempurna. Siapa yang bisa menandingi sifat sinis Gladys? Bahkan Janaka saja belum mampu meredakan Gladys bila wanita itu sedang marah.
Kanaya sukses mentransfer sejumlah uang yang disepakati oleh ketua dept collector. Hingga kelompok orang jahat itu pergi begitu saja setelah mendapat uang.
"Terima kasih Nyonya!" ucap penjual gado-gado itu dengan tangisan haru serta berusaha bersimpuh di kaki Gladys. Namun, istri Janaka itu menolaknya. Gladys tak ingin dipuja ataupun dihormati seperti itu.
"Bangunlah Pak, bila bapak tak keberatan besok datanglah ke sini!" ucap Gladys lalu memberikan alamat kantor Brahmana Foundation. Karena Gladys ingin menghadiahi penjual itu dengan bantuan sosial, tak lupa Gladys ingin dibuatkan satu porsi gado-gado untuknya karena hari ini keinginan itu hilang seketika.
"Tapi maaf beribu maaf, karena saya mobil Anda mengalami kendala seperti ini!" Tak bisa dikesampingkan, Mobil mewah itu lecet bagaian depan setelah mencium gerobak penjual gado-gado.
"Itu hal kecil untuk saya, bahkan saya berterima kasih karena bapak adalah alasan agar saya bisa ganti mobil baru!" ucap Gladys dengan nada santainya.
Sedangkan Kanaya dan juga para anak buah Naka hanya bisa melongo melihat ulah nyonya muda Brahmana itu. Bahkan Kanaya yang notabenenya mengenal kakaknya lama, baru kali ini melihat sikap arogansi Gladys.
"Jangan-jangan Mbak Gladys ketularan gila seperti kakak ipar?"
"Jangan ngadi-ngadi!"
__ADS_1
...****...