Crazy In Love

Crazy In Love
Because Am Your Man


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Gladys tak banyak mengeluarkan kata-kata dari mulut criwisnya pada Naka. Tak seantusias ketika datang, Gladys lebih memilih memendam segala rasa yang berkecamuk di dadanya. Meski begitu, ia tak sekalipun membenci Naka dan keluarganya. Brahmana family yang tampak kokoh dan tinggi dari luar, nyatanya begitu rapuh di dalam. Tak ada kehangatan sama sekali di dalam klan Brahmana. Hanya Nyonya Erika lah yang menjadi penentu keharmonisan di keluarga sultan tersebut.


"Honey, apa yang membuatmu terdiam seperti ini?" Karena sudah tak tahan melihat sikap aneh Gladys sejak keduanya keluar dari kediaman orang tuanya, Naka sangat ingin tahu dan berusaha mencari sebab musabab mengapa sedari tadi wanita cantik itu hanya bergeming dalam kesunyian.


"Oh, aku hanya bahagia saja bisa makan malam bersama keluargamu."


"Hei, mulai saat ini keluargaku juga menjadi keluarga kamu Dys! kamu telah menjadi bagian Brahmana."


Sunyi ... suasana itu kembali hening. Hingga Naka merasa cukup frustasi mengapa calon Nyonyanya tak banyak bicara seperti ini.


'Apakah aku melakukan kesalahan padanya?' Naka mencoba mencari tahu mengapa Gladys seolah ingin sendiri.


"Honey, apa aku bersalah padamu?"


"Kamu ini bicara apa sih? Salah apa pula? Kamu begitu baik padaku, bahkan orang tuamu juga menerimaku. Aku merasa malam ini seperti seorang Cinderella yang tiba-tiba duniaku berubah dalam semalam." Gladys berusaha mencairkan suasana dengan guyonannya agar Naka tak berkecil hati. Bagaimanapun juga ia sungguh berterima kasih karena telah dijadikan seorang putri dari negeri dongeng olehnya.


"Bukan hanya semalam Sayang, posisimu sebagai nyonya tak 'kan mungkin tergantikan." Janaka juga tak mau kalah untuk meyakinkan sang kekasih agar bersedia menerima permintaannya.


"Menikah?" tanya Gladys lagi, ia mengingat bertapa mudahnya Naka menjawab pertanyaan ayahnya tentang rencana pernikahan yang ia rencanakan dengannya. Pasalnya hingga detik ini, Gladys belum sekalipun mendapatkan lamaran dari Naka.


"Tentu saja! Mau ya?"


"Pak Naka dengarkan saya, menikah itu bukanlah sebuah kesepakatan dagang ataupun bisnis! menikah itu perlu keseriusan dan keyakinan, sedangkan kita baru saja kenal!" Gladys menumpahkan segala isi hatinya pada Naka. Ia tak peduli meski keduanya kini berada dalam ketinggian langit Singapura.


"Jadi itu yang membuatmu mematung seperti bocah kecil Yang? Astaga Gladys, kamu pikir aku ini siapa? Tentu saja aku tak asal main comot calon istri, aku telah mengetahui semua latarbelakang kamu." Janaka lalu mencubit kedua pipi sang kekasih karena dinilai menggemaskan dan juga tampak manis baginya.


'Sialan, dasar lelaki sinting!'


"Lalu mengapa kamu nggak nyari wanita yang berasal dari background yang sama seperti kalian?" tanya Gladys merasa sakit hati karena Naka diam-diam telah mengulik semua informasinya. Gladys cukup takut bila semua ini hanya lah semu belaka, dan wanita itu menyangsikan semua keajaiban ini tiba-tiba berakhir begitu fajar tiba.


"Untuk apa? Hatiku sudah bermuara padamu Dys!" Seperti Janaka yang ia kenal sebelumnya, jika tak narsis ataupun percaya diri bukan Janaka namanya.


"Benarkah? Aku paling nggak suka kebohongan! so jangan coba-coba membodohi aku!"

__ADS_1


"Gladysnya Janaka, malam ini kamu begitu bawel! hingga membuatku ingin sekali menciummu sayang."


Betapa tidak tahu dirinya lelaki yang mengatakan akan menikahi Gladys? Naka bahkan tidak sungkan sedikitpun pada supir helikopter yang tengah membawa mereka meninggalkan pulau Lazarus menuju kota metropolitan Jakarta. Meski lebih lama daripada menggunakan jet pribadi, Naka lebih memilih menggunakan moda transportasi yang memakan waktu tiga jam untuk sampai ke Jakarta ini karena tidak perlu transit. Semua itu Naka lakukan demi sang wanita agar tak kecapekan karena sudah cukup larut malam. Tapi Janaka kesulitan menahan gemuruh di dadanya bila bersama dengan Gladys. Setidaknya, Janaka Matila harus bisa menahan hasratnya agar tak mengungkap hal yang bersifat pribadi seperti sekarang ini.


**


"Perlukah aku menemanimu agar kamu percaya padaku Honey?" bujuk seorang Janaka Matila pada sang calon nyonya di depan apartemen Gladys setelah ia mengantarkan wanita pujaannya.


"Ini udah larut loh, pukul 02.00 dini hari!" ucap Gladys setelah sebelumnya ia sempat melirik jam di ponselnya.


Tapi Naka bersikeras ingin menemani wanitanya, hingga membuat Gladys cukup kesulitan mencari ide untuk menolak permintaan Janaka. Bagaimanapun ia tak bisa menerima seorang lelaki sebagai tamunya pada larut malam seperti ini. Meski ia adalah komisaris BMD sekalipun, Gladys pasti akan menolaknya kalau bisa. Tapi Janaka Matila akan mengerahkan kemampuan yang ia miliki untuk merayu Gladys agar bersedia mengijinkannya tetap tinggal di apartemen saat ini.


"Yang, kelihatanya aku minum anggur terlalu banyak! Aku tak bisa pulang sendiri."


"Bukankah Pak Parman yang mengemudi? Atau aku buatkan teh chamomaile sebagai pereda pengar untukmu?" sang calon istri menawarinya teh chamomaile ekstrak untuk mengurangi alkohol yang berlebihan di tubuh Janaka.


"Tapi aku maunya istirahat di sini Honey!"


"Hon ... Honey Janaka, ini sudah larut malam! coba mengertilah keadaanku yah?"


"Jarang-jarang Yang aku ini bermalam di luar, lebih sering tidur di kantor malahan bila aku tak pulang." Demi mendapatkan simpati dari Gladys, Janaka rela menjual drama menjijikan seperti itu pada Gladys.


"Mengapa kamu tak memerhatikan kesehatanmu sendiri?" Kelihatannya, rencana Naka sukses menggeser pendirian teguh dari Gladys. Sangat kentara sekali meski mulutnya menolaknya namun sorot mata wanita itu sungguh mengkhawatirkan komisaris BMD tersebut.


Mungkin Gladys telah masuk jebakan cinta dari Naka. Atau ia memang dari awal sebenarnya menyukai pria yang duduk di sampingnya kini. Naka menyangka bila Gladys hanya pura-pura jual mahal saja padanya. Wanita mana yang tak tersentuh dengan semua yang telah Naka berikan padanya. Bahkan demi mendapatkan cinta Gladysnya, Janaka Matila bersedia repot-repot belajar menjinakkan wanita seperti Gladys dari berbagai guru. Salah satunya dari internet.


"Baiklah tapi hanya malam ini saja, dan kamu jangan coba macam-macam padaku!"


Lagipula sudah hampir pagi, tak tega juga rasanya hati Gladys membiarkan pria itu pulang setelat ini. Ia juga mengkhawatirkan keadaan Naka bila ia benar-benar kehilangan keseimbangannya karena mabuk.


"Yes .... " ucap Janaka pelan dan menahan euforianya agar Gladys tak curiga dengan sandiwara yang ia mainkan tadi.


"Aku tak memiliki busana lelaki, sebaiknya kamu ganti bajumu. Pasti tak nyaman dengan pakaian seperti itu."

__ADS_1


"Aman Yang!"


Keduanya lalu membersihkan diri mereka masing-masing dan mengganti baju yang mereka gunakan untuk menghadirkan acara makan malam di Lazarus Island.


Lalu dengan bangganya pemilik PT BMD itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sebuah bathrobe yang ia ambil dari susunan handuk yang tersimpan rapi di rak kamar mandi di kediaman Gladysnya Janaka.


...****...


Datanglah bila engkau menangis


Ceritakan semua yang engkau mau


Percaya padaku, aku lelakimu


Mungkin pelukku tak sehangat senja


Ucapku tak menghapus air mata


Tapi 'ku di sini sebagai lelakimu


Akulah yang tetap memelukmu erat


Saat kau berpikir mungkinkah berpaling


Akulah yang nanti menenangkan badai


Agar tetap tegar kau berjalan nanti


Sudah benarkah yang engkau putuskan


Garis hidup sudah engkau tentukan


Engkau memilih aku sebagai lelakimu

__ADS_1



__ADS_2