
Dua hari tak bertemu dan bermanja-manja dengan sang istri membuat Janaka tak ingin melepaskan Gladys begitu saja. Dan selama kurun waktu tersebut pula lah Naka telah menahan semua hasrat yang menggebu di dalam jiwanya. Oleh karena itu, pada pagi ini juga ia akan menagih stock keinginannya selama tak berjumpa.
"Yank, apa dua hari tak bertemu membuatmu menjadi manusia purba?" celetuk sang istri ketika Gladys mulai mencukur kumis tipis yang mulai memenuhi wajah tampannya.
Tentu saja Naka mulai kumat manjanya, setelah keduanya menjalani ritual yang bermuara pada kenikmatan yang hakiki, kini Naka tak malu meminta Gladys untuk menyingkirkan kumis tipis dan juga brewok di wajahnya.
"Abis aku harus tebar pesona ama siapa? Kamu aja nggak di rumah Hon!" Janaka memanyunkan bibirnya seperti tingkah si kecil Kin dan Ken sehingga membuat Gladys tanpa sadar mencubit pinggang sang suami.
"Yank ... jangan godain Mas dong ah! masa maj nambah lagi?" Rangsangan dadakan dari ulah Gladys itu tanpa ia sadari bisa membangkitkan baby Monster lagi. Apalagi ia dan Gladys masih sama-sama hanya mengenakan handuk saja. Yang membedakan hanya posisi mereka saja pagi ini.
Bila Gladys sedang duduk di wastafel guna mencukur kumis Naka, Naka hanya berdiri dan mendekatkan wajahnya tepat di depan Gladys duduk.
"Jangan banyak gerak, atau pisau cukur ini akan menyakiti kamu Yank!" sergah Gladys karena Janaka sudah mulai meraba bagian belakangnya. Tangan pria itu sungguh nakal sekali, Gladys saja masih tak habis pikir mengapa Janaka selalu saja berbuat seperti ini?
"After this we will do it again?"
"Ghost! aku saja ke kamar mandi tadi musti berjalan merangkak karena ulah kamu Yank!" Gladys tak tahu lagi bagaimana menghadapi tingkah polah sang suami.
**
Akibat injury time dari Janaka barusan, Gladys hanya mampu menyiapkan dua mangkuk sereal guna menyingkirkan rasa lapar serta menambah tenaga di pagi hari ini. Meski hanya menu simple seperti itu Naka tak memprotes sang istri, bagaimanapun dialah yang menyebabkan Gladys tak memiliki waktu untuk menyiapkan sarapan sehat untuknya.
"Huauuuwww berseri-seri Bos?" puji asisten pribadi yang selalu standby di manapun Janaka akan bekerja.
Saat ini juga Seno telah bersiap tepat di depan mobil yang akan membawa Janaka serta nyonya ke Mount Elizabeth untuk mendapatkan mandat dari sang ayah. Bukan hanya Janaka dan Gladys saja yang diperkirakan akan menghadiri acara dadakan tersebut. Disebutkan juga bahwa pagi tadi Aruni serta sang suami telah terlihat memasuki ruangan sang ayah atas pemberitahuan dari pegawai yang telah Naka pekerjaan untuk menjaga kedua orang tuanya.
Tak ingin menanggapi godaan Seno, Naka hanya melihatnya dengan cibiran karena tak bisa sebanding dengan kisah asmaranya. Meski ia lebih muda dari Naka, nyatanya untuk urusan seperti ini Seno masih kalah telak dari Janaka.
__ADS_1
"Silakan Bu Gladys," ucap Seno membukakan pintu Toyota Alphard Vellfire yang akan membawa sepasang petinggi BBG mengunjungi pendiri sekaligus penanggung jawab BBG Sigit Brahmana.
"Makasih!" jawab Gladys dengan nada ogah-ogahan. Bukan karena malas pada Seno, Gladys masih tak terima dengan perbuatan Naka yang telah menghabiskan 3 ronde untuk pagi ini mulai dari kamar tidur lalu di kamar mandi dan berakhir ke kamar tidur lagi setelah ia membantu pria itu mencukur kumisnya.
"Aku punya permintaan Hon!" bisik Naka sedikit lebih serius dari pada pagi tadi. Entah mengapa kini suami Gladys itu kembali menjadi sosok Naka yang seperti seharusnya. Yakni eksekutif muda yang memimpin BMD.
"Apa itu? Jangan permintaan yang keterlaluan!"
"Aku hanya minta satu saja, yakni kepercayaan untukku. Karena kedepannya akan lebih sulit setelah serah terima BBG!" pinta Janaka sambil menggenggam tangan sang istri. Naka teringat konflik kecil yang membuat Gladysnya salah paham hanya karena sebuah video. Yang Naka inginkan hanya sebuah kepercayaan untuknya saja. Selain itu ia tak menginginkan apa pun karena Gladysnya akan bersedia memberikan yang ia miliki untuknya.
"Maksud kamu Yank? Ada apa dengan BBG?" Gladys menoleh ke kanan tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas bagaimana penjelasan langsung dari sang suami.
"Ayah telah menyerahkan BBG padaku, nanti kuasa hukumnya akan menjelaskan lebih rinci dan juga mengenai pembagian aset serta saham milik ayah ketika kita tiba nantinya."
Mendengar bahwa ayah Sigit akan menyerahkan induk dari semua bidang bisnis milik keluarga Brahmana kepada sang suami membuat Gladys menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang terjadi di tubuh Brahmana family. Meski saat ini kedudukannya sebagai istri dari Naka, tak membuat Gladys berniat mencampuri urusan keluarga sang suami. Apalagi masalah pembagian seluruh aset ayah adalah hal yang paling sensitif untuk anak-anak dari Sigit Brahmana.
"Aku akan selalu mendukung semua keputusan kamu Yank, jangan ragu untuk meminta bantuanku!" ucap Gladys menyemangati sang suami. Lalu sengaja Gladys menyibak tirai di sampingnya agar sinar matahari bisa masuk guna memberikan secercah semangat bagi suami yang tampak murung itu.
"Why does it so bad?"
"Kamu tahu sendiri bukan, bagaimana konflik di antara kami?" Janaka enggan membuka kekhawatiran BMD pada sang istri karena tak ingin membuat Gladys kepikiran.
Tak terasa perbincangan mereka harus terjeda karena perjalanan yang disupiri oleh orang kepercayaan keluarga Brahmana telah mengantarkan sepasang suami istri tersebut dengan ditemani sang asisten ke rumah sakit terbesar di Singapura.
Gladys menemani sang suami mendengarkan wasiat dari sang ayah dan juga menjenguk kedua mertuanya dengan rutin. Dari depan kamar royal suite telah dijaga ketat oleh beberapa body guard yang telah dipekerjakannya oleh Janaka. Mungkin pertemuan antara keluarga Brahmana hari ini begitu penting hingga satu paviliun dijaga ketat.
Janaka masuk ke dalam ruang rawat inap mewah sang ayah ditemani olah Gladys yang tak pernah melepas genggaman tangannya. Di dalam ruangan serta mewah tersebut telah hadir Aruni dan Saka serta yang lebih mengejutkan bagi Naka adalah kehadiran ibu kandung serta saudara lelakinya.
__ADS_1
"Kalian sudah datang, kau telat Mas!" sindir Aruni dengan tatapan tak beralih dari Hana serta Adit. Meski ia berbicara pada kakak tertuanya, tapi kekesalan Aruni jelas terlihat untuk Hana dan juga Adit.
"Hmm ... " sahut Naka tanpa mengucap sepatah katapun.
Karena semua anggota keluarga Brahmana telah hadir, seperti yang telah dijadwalkan hari ini. Prabu Adiwiyata selaku kuasa hukum Sigit Brahmana dan juga seorang notaris untuk mengesahkan pembagian warisan akan segera menjalankan sesuai yang telah dijadwalkan.
Melalui kuasa hukumnya, Sigit Brahmana pria pendiri Brahmana Business Group telah menitahkan kepada putra sulungnya untuk mengambil alih semua tugas yang ia emban selama ini. Selain menunjuk Janaka Matila sang putra tertua untuk menggantikan dirinya, Sigit juga akan membagi rata saham BBG sebesar 20 % yang ia miliki kepada ketiga putranya. Dengan hal tersebut semakin mengukuhkan Janaka sebagai pemegang terbesar saham BBG dengan saham pribadinya 20 % dan ditambah lagi 6%. Sedangkan sisa pembagian saham untuk ketiga putra putrinya sebesar 2 % lagi akan Sigi Brahmana donasikan ke yayasan amal yang didirikan oleh Erika Gayatri yakni Brahmana Foundation. Sedangkan untuk pemilihan posisi direktur pada masing-masing perusahaan di bawah naungan BBG akan ia serahkan sepenuhnya pada Janaka.
"Aku setuju dengan keinginan pertama ayah, Saka akan menjabat direktur BME dan Adit yang akan menggantikan aku mengelola BMD!" ujar Naka sangat tenang tak seperti malam sebelumnya. Bahkan Aruni tak bisa mempercayai ucapan sang kakak. Setelah Erika mengatakan bahwa Naka sempat keberatan atas sikap ayah mereka.
"Tapi Mas, BMD adalah nyawamu! bagaimana bisa kau melepaskan begitu saja?" Aruni emosi mendengar bahwa Janaka akan menyerahkan posisinya pada Aditya Darmanto yang tak lain kakak tirinya juga.
"Sudah saatnya BMD forward ke arah yang lebih baik Aruni, dengan pemimpin cerdas dan berjiwa muda Mas mengharapakan perubahan yang lebih fresh tentunya!" Kata-kata Naka itu memang seperti legowo, tapi sebenernya berupa sindiran agar Adit tak macam-macam pada perusahaan yang telah ia besarkan sendiri.
"Baiklah kalau itu maumu!" ucap Aditya dengan seringai licik menatap kedua saudara sedarahnya.
Selain mendengarkan permintaan dari ayah mereka. Erika selaku nyonya Brahmana selama ini juga akan mundur dari segala tugasnya menemani sang suami. Apalagi saat ia mengetahui bahwa suaminya telah menyerahkan tahta pada putra sulungnya, Erika Gayatri akan menarik diri dan tak perlu lagi mendampingi founder BBG tersebut. Erika menyatakan akan mengurangi aktivitasnya di dunia sosial dan juga kegiatan amal. Ibu suri itu kini lebih memilih mengabdikan dirinya pada keluarga dengan tinggal di Lazarus. Apalagi kini istri pertama suaminya telah kembali, tak ada lagi alasan baginya untuk terus berada di samping Sigit.
"Aku ingin putriku Gladys yang akan menggantikan tugasku nantinya!" pinta Erika dengan suara yakin. Baginya ada atau tidak dirinya kini tak lagi penting.
"Ibu, jangan katakan bila ibu tak lagi penting! ibulah yang selama ini mengajarkan Adys!" Gladys yang paham betul seperti apa isi hati perempuan yang merasa menadi pengganti itu tak kuasa melihat bulir air mata jatuh ke pipi Erika.
"Sudah saatnya bagi figuran ini mundur sayang!"
...****...
Teman minta bantuannya untuk mendukung karya saya. Karena Chat Story ini saya ikutkan lomba. Makasih
__ADS_1